Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 71


__ADS_3

Penerangan malam itu sudah padam, tidak tersedia lagi tanda-tanda kehidupan dengan bersandar pada kemajuan teknologi di wilayah Flores tempat di mana Nadia dan Chandra menetap di sana. Chandra kemudian mengajak Nadia yang keadaannya sudah cukup membaik untuk menaiki bukit yang tidak jauh dari belakang rumah mereka.


Bukit itu hanya ditanami ilalang liar yang tingginya hampir setengah tubuh jangkung Chandra. Pria itu juga membawa benda cukup besar yang dipikul di punggungnya yang tegap. Nadia mencengkeram erat tangan besar suaminya saat satu demi satu langkahnya semakin dekat menuju puncak bukit.


"Kamu sudah baikan, sekarang?" tanya Chandra perhatian.


Nadia mengangguk kecil, tentunya disertai senyuman.


Sekeliling tempatnya berpijak sangat gelap, hanya cahaya rembulan yang sebagiannya tertutup awan malam yang menjadi satu-satunya sumber penerangan.


"Mungkin, lima puluh tahun lagi tempat ini akan menjadi kota. Coba, kamu hirup udara dalam-dalam dari atas bukit ini, perasaan kamu pasti akan jauh lebih baik dibandingkan menenangkan diri di dalam rumah." Beritahu Chandra pada Nadia.


Nadia terkikik, ucapan Chandra sedikit membuatnya lucu. "Kayak lagu ... sekarang atau 50 tahun lagi, kuakan tetap mencintaimu ...," balas Nadia sambil bernyanyi sepenggal lagu lama.


Chandra ikut tertawa, dia tidak tahu lagu apa yang dinyanyikan Nadia, tetapi terdengar sangat menyenangkan karena berisi kalimat tentang cinta.


"Hmm, saya coba deh saran kamu," ujar Nadia dengan lembut.


Nadia kemudian memejamkan matanya yang masih sembab, lalu mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam dari tempat tinggi itu, ia dapat merasakan angin lembut meniup wajahnya, menerbangkan helaian rambut panjangnya yang terjuntai di kedua sisi wajahnya hingga makin tak beraturan. Nadia tersenyum, lalu mengulang kembali tarikan napasnya hingga seluruh rongga dadanya terisi dengan udara yang sejuk.


Chandra tersenyum amat lebar, dia lalu menjatuhkan kecupan di bibir kecil istrinya dengan lembut. Nadia membuka mata dan terkekeh.


"Maaf ... saya gemas," ucap Chandra polos saat melihat kedua mata itu terbuka lebarlebar, berpura-pura marah dengan Chandra.


Chandra lalu menaruh barang bawaannya di atas tanah yang sudah dia bersihkan dari ilalang.


Pria itu dengan cepat mengumpulkan daun ilalang kering dan ranting pohon yang ada di sekitar sana. Membuat Nadia takjub sekaligus kagum karena Chandra sangat pandai membuat api menggunakan batu.


"Wah ... fire maker nih ceritanya," puji Nadia sembari bertepuk tangan kecil ketika percikan api mulai menyalakan api unggun kecil yang dibuat suaminya.


Chandra terkekeh. "Baru pertama kalinya untuk kamu melihat seorang pria membuat api? Sudah sering sih, tapi biasanya mereka pakai korek, hehe ...."


"Ya, karena hanya saya yang istimewa. Betul, 'kan? Kamu jadi makin berdebar-debar lihat saya begini? Hehe ...," balas Chandra percaya diri sambil menaikkan sebelah alisnya untuk meyakinkan diri pada Nadia.


Ah, suaminya ini ternyata makin menunjukkan wataknya setelah beberapa bulan menikah. Membuat Nadia semakin bebas berekspresi tanpa harus merasa canggung atau malu.


"Ih, jadi sifat kamu itu percaya diri banget, ya? Hahaha ...." Nadia tertawa, sampai tidak sadar kalau dismenoreanya sudah benar-benar hilang sebab Chandra mengajaknya terus mengobrol seperti ini.


"Hm, jadi prinsip TNI itu memang harus percaya diri dan berani," jawab Chandra sembari mengumpulkan lagi ranting-ranting ilalang yang kering.


Ranting itu mudah terbakar karena tipis dan teksturnya semi konduktor, api semakin menunjukkan hangat dan terangnya di tempat indah dengan pemandangan cakrawala yang luar biasa menakjubkan.

__ADS_1


"Oh, iya? Apa sih, mottonya?" tanya Nadia iseng.


"Mottonya?"


Nadia mengangguk, masih dengan mengulum senyum menggemaskan.


"Berani lanjutkan. Tidak berani, silakan balik kanan," ujar Chandra serius mengenai moto hidup TNI.


"Hahaha ...." tawa Nadia pecah dengan jawaban Chandra. Menggelikan, tetapi memang ada benarnya juga. Pria itu ikut tertawa, meski tidak paham di mana letak kelucuan dari kalimatnya.


Chandra lalu menyimpan papan, dan meminta Nadia untuk duduk di papan yang cukup bersih itu. Nadia menuruti kemauan suaminya.


"Kamu mau ngapain, sih?" tanya Nadia bingung.


Chandra terlihat sedang merangkai sebuah benda terbuat dari stainlees steel warna hitam, dan menempelkan sebuah benda seperti teropong di atasnya.


"Saya mau menunjukkan bintang untuk kamu. Ini hobi lama saya yang sudah tidak pernah saya lakukan lagi," jawab Chandra dengan senyum puas di bibir. Pria itu selesai memasang teleskop pada penyangga.


Nadia membuka mulutnya takjub. "Woaah, serius?"


"Hemm... sini, siapa tahu kita mendapatkan spot bagus untuk melihat bintang. Biasanya setelah hujan, langit menjadi bersih. Kalau siang hari ada pelangi, malam hari pasti bintangnya juga sangat bagus untuk dilihat."


Chandra merangkul tubuh mungil kesukaannya itu. Nadia mengintip teleskop yang sudah Chandra pasang sedemikian rupa hingga menunjukkan angle yang pas untuk melihat bintang.


"Ini bagus banget. Bintangnya kecil-kecil, saya mau pegang satu," komentar Nadia dengan pemandangan yang baru saja disaksikan olehnya.


"Kamu suka?"


"Hemm, banget ...!" jawab Nadia dengan wajah takjub.


"Saya pernah pegang satu bintang paling terang," kata Chandra dengan sedikit ekspresi angkuh.


"Bohong! Bintangkan panas," elak Nadia bak anak kecil.


"Hahaha ... tidak tuh, bintang yang saya pegang sejuk banget, empuk lagi."


"Ih, jangan-jangan bintangnya saya?" tebak Nadia dengan wajah curiga.


"Hehe iya, kau bintang yang saya maksud." Chandra kemudian menjatuhkan cubitan pelan di kedua pipi Nadia.


"Ih, malu. Kenapa sih, gombal." Kedua pipi Nadia bersemburat merah karena perlakuan kecil itu.

__ADS_1


Setelah meneropong bintang menggunakan teleskop lama milik Chandra, kini mereka berdua menikmati camilan kecil yang sengaja Chandra bawa sebagai teman di atas bukit. Ditemani sebuah api unggun yang mulai menghasilkan abu dan bara, terjadi obrolan yang mengungkapkan kisah-kisah lama, seperti masa remaja Chandra yang sedikit nakal dan tukang melanggar aturan, sampai awal mula Nadia berkarier di industri hiburan.


Chandra mengeluarkan ponsel miliknya yang diberikan oleh Nadia sebagai hadiah ketika mereka awal menikah dulu. Sementara itu Nadia mengintip layar bening tersebut dengan senyum di bibir. Nadia makin mengeratkan pelukannya pada lengan Chandra ketika suaminya itu cukup banyak bergerak karena sibuk dengan ponsel.


"Coba kamu tebak ini lagu apa," ujar Chandra ketika dia berhasil untuk membuka aplikasi digital piano pada ponselnya yang canggih itu.


Nadia mengerutkan dahi. "Lagu? Hm, kamu nantangin saya?"


Chandra terkikik. "Tidak, saya mau memainkan instrumen piano menggunakan aplikasi lewat ponsel. Coba kamu dengarkan."


Nadia mengangguk, gadis itu jujur saja merasa penasaran dan terkesan dengan lantunan digital piano yang hendak Chandra mainkan lewat aplikasi tersebut.


Jemari panjang Chandra lalu menekan tuts-tuts hitam dan putih piano digital dalam layar itu, hanya dengan menggunakan tangan kanannya pria itu mulai menghasilkan melodi yang ramah dan indah didengar oleh telinga. Nadia membuka matanya dan tersenyum hangat.


"Ah, ini lagu kesukaan saya, river flows in you... Yiruma," ucap Nadia dengan kedua mata tampak berkaca-kaca.


"Hehe, betul!" Chandra menyudahi permainan singkat pianonya, ternyata meskipun nyaris belasan tahun dia tidak bermain piano, kemampuannya masih bisa diandalkan. Meskipun ada beberapa not yang fals karena Chandra tidak memainkan nada-nada di luar kepalanya itu pada piano sungguhan.


Nadia memiringkan kepala dan menatap suaminya itu dengan pandangan penuh kasih sayang. Membuat Chandra balas menatapnya tak kalah hangat, bahkan mengalahkan nyala api unggun yang ada di depan mereka.


"Kamu ini, beneran tentara?" tanya Nadia serius, terdengar agak bergumam karena gadis itu bergelayut di lengan kiri Chandra, tetapi Chandra masih dapat dengan jelas mendengarnya.


"Hmm, kamu masih tidak percaya?" tanya Chandra.


Nadia tertawa kecil. "Hmm, kalau kamu nggak jadi tentara. Kamu mau jadi apa?"


Chandra terlihat berpikir. "Mungkin astronaut."


"Ih, jauh kerjanya. Yang lain?" tolak Nadia tak terima.


"Apa ya ... mungkin, atlet basket atau guru olahraga."


Nadia terkikik. "Hm, itu kedengarannya paling cocok sih. Saya mau diajari sama kamu."


"Haha ... kamu jadi tim cheerleaders saja, bawa minuman untuk saya sambil pegang handuk di samping lapangan."


"Ide bagus, hehe ... ah, pasti seru punya pacar anak basket."


"Oh, jadi, punya suami tentara tidak seru?"


"Seru, kok. Soalnya kamu aneka rasa, ehehe."

__ADS_1


Bersambung ....


Aargh ... jadi gemes sendiri 😂


__ADS_2