
***
Setelah merapikan koper yang banyak dengan ukuran yang besar, Nadia akhirnya bisa merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang ukurannya cukup untuk dua orang. Tempat tidur itu berseprai polos tanpa corak berwarna krem. Nadia memejamkan kedua matanya dan merenggangkan kedua tangannya, mengelus halus tempat tidur itu untuk merasakan nyaman. Kasur itu cukup nyaman meski tidak seempuk tempat tidur Nadia dan Chandra yang mereka miliki di Bandung.
Kamar itu juga tidak begitu luas, hanya cukup untuk menyimpan satu tempat tidur, lemari pakaian dan meja kecil yang fungsinya masih Nadia belum tahu untuk apa. Ada satu cermin yang menempel pada lemari pakaian. Klasik sekali, persis seperti isi rumah-rumah dinas yang pernah Nadia tinggali dulu saat kakeknya masih hidup.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, dan Chandra baru selesai melakukan pindahan darurat untuk Ong dan Dio yang mulai malam itu tidak akan tinggal di rumahnya lagi, melainkan harus pindah ke asrama bersama kawan-kawan yang lain.
Sebenarnya, baik Nadia maupun Chandra tidak masalah jika Ong dan Dio masih berada di rumah mereka, tetapi mereka sendiri yang meminta untuk pindah agar Nadia bisa merasa nyaman menjalani kehidupan barunya di Flores.
Ceklek!
Pintu terbuka dari luar saat Nadia sedang asyik menikmati gummy jelly bear kesukaannya di atas tempat tidur, karena Nadia belum makan sejak kedatangannya ke rumah dinas gadis itu setidaknya membutuhkan camilan manis sebelum makan malam, dan gummy jelly ini adalah makanan yang tepat untuk mengganjal perut kosongnya.
Chandra melonggokkan kepalanya ke dalam kamar, dan tersenyum kecil saat tatapannya bertemu dengan Nadia yang menatap polos ke arahnya.
"Hei," sapa Nadia dengan gugup, lalu perlahan bangkit untuk duduk.
"Kamu sudah selesai pindahan Ong sama Dio?"
__ADS_1
"Ya, barang-barang mereka sebagian masih ada di sini. Mungkin diselesaikan besok saja." Chandra duduk di samping Nadia dan masih memperhatikan istrinya itu dengan wajahnya yang non ekspresif.
Nadia mengangguk-anggukkan kepalanya, buntu sekali pikiran Nadia setiap melihat Chandra mengubah penampilannya. Tadi siang sampai sore Chandra mengenakan seragamnya yang gagah, dan malam ini suaminya itu mengenakan setelah tidur kasual yang membuatnya tampak keren, otot dada dan lengan Chandra pun tampak menyembul dibalik kaos hitam yang dikenakannya.
"Oh, iya, kamu mau?" tawar Nadia sambil menyerahkan bungkus jelly ke arah Chandra.
"Apa ini?" tanya Chandra sambil mencomot gummy jelly itu dengan jarinya.
"Gummy bear, ini jelly rasa buah-buahan. Gimana, enak?"
Chandra mengunyahnya dan tersenyum. "Hum, seperti makanan anak-anak," ujar Chandra dan mengambil lagi gummy bear lain.
Nadia terkikik.
Nadia menghela napasnya. "Seminggu lalu, saya diundang ke acara Persit Kartika Chandra Kirana. Di sana, saya diminta untuk tampil bernyanyi. Dan kamu tahu nggak? Sepulang dari sana, ada surat permohonan agar saya ikut bersama suami untuk tinggal di rumah dinas. Pihak Persit juga memberikan saya tiket dan surat tugas agar saya segera kemari. Karena waktu cuti kamu tidak bisa diambil lagi untuk tahun ini. Maka dari itu, saya diharuskan tinggal bersama kamu selama masa-masa pengantin baru. Oh, kartu keluarga juga sudah selesai di proses, tinggal kamu tanda tangani sebagai kepala keluarga," jelas Nadia dengan rinci pada Chandra yang menikmati gummy bear dengan senyum.
"Hm, jadi begitu? Harusnya kamu mengabari saya sebelum pergi ke sini. Bandung ke
Flores itu jauh."
__ADS_1
Nadia tertawa kecil. "Ah, nggak usah dipikirin. Saya udah biasa kok, pergi ke manamana sendiri."
"Tapi ... kamu sama sekali tidak keberatan harus berada di sini bersama saya? Kita belum membicarakan perihal ini sebelumnya."
Nadia menggelengkan kepalanya dan meraih tangan kanan Chandra. "Saya baik-baik saja kok. Memang, pada awalnya saya mau menemui kamu, papa dan nenek saya juga meminta hal yang sama. Saya juga tidak enak karena harus berpisah dengan suami saya sendiri," jelas Nadia lagi.
Chandra tertegun, wajah datarnya benar-benar tak bisa ditebak setelah senyumnya sirna.
"Dan ... saya juga kangen sama kamu," tambah Nadia dengan ceria. Chandra menoleh ke arahnya, senyumannya kembali lagi dan membuat Nadia gugup. Senyum suaminya yang tidak berlebihan tapi cukup untuk membuat Nadia merasakan jantungnya berdetak amat kencang.
"Nadia, boleh saya minta lagi?" tanya Chandra pelan.
Nadia menyerahkan gummy bear ditangannya kepada Chandra. "Ambil saja, kenapa
minta izin sih."
Namun, Chandra menepis bungkus menggemaskan itu dan tersenyum pada Nadia.
"Bukan itu ...."
__ADS_1
"Hm, terus ... minta apa?" ujar Nadia dengan ekspresi linglung.
Belum sempat Nadia mendapatkan jawaban dari Chandra, suaminya itu dengan cepat meraih wajah mungil Nadia sebelah tangannya, dan mendekatkan wajah mereka hingga Nadia langsung memejamkan matanya dengan gugup. Chandra tersenyum tipis saat merasakan betapa hangatnya permukaan bibir Nadia yang kini menempel dengan bibirnya, Nadia merasakan kecupan kecil yang mengirimkan banyak kehangatan untuk tubuhnya yang benarbenar tidak bergerak sama sekali di atas tempat tidur.