Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 2


__ADS_3

Renatta yang baru saja datang menjadi fokus perhatian kedua temannya, Flora dan Anin.


"Oh ****! Gila kau, Re. Sudah tahu ada kelas pagi, kau masih sempat-sempatnya bercinta tadi malam?!" Anin menggelengkan kepalanya.


"Apa aku terlalu kentara?" tanya Renatta. Dengan rona wajah yang merah.


"Tentu! kau berjalan seperti gadis yang baru saja kehilangan mahkotanya. Padahal itu bukan yang pertama kalinya bagimu, kau kan wanita ******!" kekeh Anin.


Perkataan Anin hanya direspon oleh tawaan Renatta.


Berbeda dengan Flora yang tiba-tiba diam, saat mendengar perkataan terakhir Anin. Yang membuat pikirannya melayang ke masa lalu.


"Apa dia terlalu kasar padamu, Re?" bisik Anin.


Renatta tidak langsung menjawab. la sedang mengingat kembali kegiatan panasnya kemarin malam bersama Charles. Rasanya sangat luar biasa. Itu adalah pertama kalinya ia melakukannya dengan Charles. Dan pertama kalinya juga Charles tidak menolak permintaannya.


Renatta benar-benar puas dengan apa yang sudah ia lakukan dengan Charles. Walaupun pria itu sungguh sangat kasar kepada Renatta saat melakukannya. Namun, Renatta tidak mempermasalahkannya, karena hal itulah yang membuat kegiatan mereka semakin bergairah.


"Iya, semalam dia benar-benar kasar. Sekarang pun masih tera—"


"Bisakah kalian berhenti menceritakan hal menjijikkan seperti itu?" potong Flora, dengan penuh penekanan.


Sontak membuat Renatta dan Anin tertawa lepas, ketika melihat ekspresi geli Flora. Diantara mereka bertiga, memang hanya Flora lah yang masih merasa tabu dengan hal-hal yang vulgar seperti itu.


***


Perkuliahan baru saja selesai, Flora baru saja keluar dari kelas bersiap untuk pulang. Namun, langkahnya terpaksa harus terhenti ketika ia mendengar seseorang yang memanggil namanya.


"Flora, tunggu!" teriak Renatta dan Anin yang berlari ke arahnya.


Flora membalikkan tubuhnya untuk menghadap kedua temannya itu. Ia hanya mengangkat kedua alisnya karena bingung.


"Flo, jangan pulang dulu! Ayo kita shopping terlebih dahulu!" ucap Anin antusias.


"Tidak, aku sedang menghemat uang. Kalian pergi berdua saja."


"Kau tidak perlu memikirkan soal uang, karena itu semua akan ditanggung oleh Charles," jelas Renatta tersenyum bahagia.


"Kenapa harus dengan kita?“ Flora menunjuk dirinya dan Anin.


Anin menyenggol lengan Flora, tetapi hal itu diabaikan oleh Flora. Ia hanya ingin tahu, kenapa dirinya dan Anin harus ikut.

__ADS_1


"Dia meminta maaf kepadaku karena telah meninggalkan aku tadi pagi tanpa sepengetahuanku. Sebagai gantinya, dia akan membelikan apa pun yang aku inginkan. Dan dia juga yang berkata padaku, untuk mengajak kalian, karena dia hanya akan mengantar dan menungguku saja, dia tidak suka jika harus berkeliling untuk mengikutiku," jelas Renatta yang diangguki oleh Flora.


"Ayolah Flo, kapan lagi kita memiliki kesempatan untuk menggunakan black card milik Charles Alamo?!" Anin menarik-narik lengan Flora dengan wajah memelas.


Awalnya Flora hanya terdiam, ia tidak merespon apa pun. Namun, karena kedua temannya ini terus memaksa, pada akhirnya ia menyerah dan mengikuti kedua temannya itu.


Sebenarnya Flora itu wanita yang langka, sebab dia tidak suka shopping. Bahkan bisa terhitung oleh jari berapa kali ia berbelanja baju dalam setahun. Bukan karena Flora tidak punya uang atau pelit, tetapi ia itu sangat tidak menyukai jika harus berkeliling ke sana-kemari. Itu akan membuat Flora pusing. Oleh karena itu, Flora selalu saja menolak jika kedua temannya mengajak ia shopping, karena Flora tahu, ia akan menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menemani mereka berbelanja.


"Oh my god Renatta! Aku iri padamu. Kau memiliki tunangan yang sangat seksi dan tampan seperti dia." Anin membulatkan matanya, menatap kagum sosok yang ada di hadapannya yang baru saja keluar dari mobil sport merah. Terlihat dia sedang berbicara dengan seseorang di balik ponsel.


Flora yang sejak dari tadi sibuk dengan ponselnya pun mendongakkan wajahnya, karena ia merasa risih dengan ucapan Anin yang terus-menerus memuja pria itu.


Namun setelah itu, tatapan Raline mulai fokus kembali kepada ponsel yang sedang ia genggam tanpa memberi reaksi apa pun.


"SAYANG!" teriak Renatta, menghambur memeluk prianya.


Charles yang baru saja selesai menelpon pun, memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya, sebelum membalas pelukan Renatta.


"Hallo, Mr.Alamo," sapa Anin. Tersenyum ramah.


"Oh hai, Anin."


"Ayo kita berangkat!" teriak Renatta antusias. la sudah tidak sabar untuk berbelanja. Karena sebelumnya, ia sudah menuliskan banyak list barang yang akan ia beli nanti.


Anin segera menarik tangan Flora yang membuat gadis itu tersentak. Anin membawa Flora ke arah mobilnya yang berada tidak jauh dari tempat mobil Charles terparkir.


***


Renatta dan Anin sibuk dengan barang-barang yang akan mereka beli. Sedangkan Flora masih merasa bingung dengan apa yang harus ia beli. Walaupun ini kesempatan baginya untuk membeli apa pun yang ia mau, karena semua biaya akan ditanggung oleh kekasih temannya itu. Namun tetap saja, Flora hanya akan membeli barang yang ia butuhkan bukan yang ia inginkan.


Saat ini Flora terpisah dengan kedua temannya, ia memilih ke tempat sepatu karena Flora menyukai sneakers.


Matanya menyapu setiap rak-rak yang berada di hadapannya. Sesekali ia melihat harga ketika ia menemukan model sepatu yang sesuai dengan keinginannya. Namun, lagi dan lagi Flora enggan untuk membeli sepatu dengan harga yang mahal, karena ia merasa tidak enak pada Charles yang akan membayarnya.


"Bukan kah ini limited edition? Kau tidak mau membeli ini?" tanya seorang pria, yang berada di belakang Flora. Hal itu sontak membuat wanita itu menoleh. Charles.


"Kenapa Anda bisa di sini?"


"Oh, aku baru tahu jika kau adalah karyawanku. Sejak kapan kau bekerja bersamaku?"


Flora mengerutkan keningnya, tidak mengerti.

__ADS_1


"Hanya rekan bisnis, orang asing dan karyawanku saja yang harus bersikap formal kepadaku. Bukankah kau adalah temannya Renatta? Jadi kau tidak perlu bersikap formal kepadaku. Mengerti?" jelas Charles. Menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.


Flora tidak berkata sepatah kata pun, ketika Charles secara tiba-tiba pergi dari hadapannya. Flora masih setia mematung di tempat. Jantungnya terasa berdetak dengan sangat cepat, entah kenapa ia merasa takut pada pria itu. Hingga ia tidak sadar jika Charles sudah kembali berdiri tepat di hadapannya.


"Ambil." Charles tiba-tiba muncul di hadapannya dan memberikan sebuah paper bag kepada Flora.


Flora mengerjapkan matanya. “Apa ini?“ Flora menatap paper bag yang berada di tangannya.


Charles hanya mengangkat kedua bahunya. Karena penasaran, Flora pun membuka paper bag itu dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat sepatu yang sempat ia pakai tadi. Namun, Flora enggan untuk membelinya karena harga sepatu itu sangat mahal baginya. Walaupun ia sangat menyukai modelnya.


"I-ini untuk siapa?" tanya Flora gugup.


"Bukankah kau menyukainya? Ambil saja, itu untukmu." Charles melangkahkan kakinya keluar dari toko sepatu itu, meninggalkan Flora yang masih diam.


Tanpa sepengetahuan Flora ternyata pria itu telah memperhatikannya semenjak pertama dia masuk ke dalam toko tersebut.


Flora pun berlari mengejar Charles yang sudah jauh darinya.


"Stopp!" cegat Flora, merentangkan kedua tangannya tepat di hadapan Charles, dengan napasnya yang memburu.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima ini. Ini sangat mahal, dan aku pun tidak terlalu menyukainya. Ambillah kembali," ucap Flora mengulurkan paper bag berisi sepatu itu.


"Harga sepatu itu sangat kecil bagiku. Bahkan untuk membeli 100 pasang model sepatu seperti itupun, tidak akan membuatku miskin." Charles menyeringai angkuh.


Flora tersenyum miris mendengar ucapan pria di hadapannya itu. Ia memutar kedua bola matanya, karena merasa kesal.


"Tiba-tiba aku lupa, jika kau adalah seorang pengusaha kaya raya. Berbeda denganku yang hanya mahasiswa rantauan, tetapi memiliki keberuntungan yang bagus untuk bisa mendapatkan beasiswa di kampus bergengsi di New York. Aku harus berhemat terlebih dahulu sebelum membeli suatu barang yang aku butuhkan! Tidak sepertimu!" sarkas Flora, sebelum pergi meninggalkan Charles yang masih terdiam menatap punggung Flora yang semakin menjauh.


"Flora Ruby Negara. Sial. Dia sangat menarik." Charles tersenyum lebar.


BERSAMBUNG ....


Barang yang diinginkan dan dibutuhkan itu beda, ya, guys.



...La Charles Alamo...



...Flora Ruby Negara...

__ADS_1


__ADS_2