
Wajah Nadia pucat pasi, sudah lima menit dia sudah bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan sesuatu yang sama sekali tidak keluar dari mulutnya. Sesi pemotretan keluarga pun sedikit tertunda akibat Nadia yang tengah hamil muda. Chandra sang suami sangat panik, dan hanya bisa menunggu di luar pintu toilet wanita tanpa bisa masuk ke dalam.
Flora dalam gendongan Chandra sesekali melirik ke dalam toilet untuk memeriksa keadaan mamanya yang belakangan ini sering menangis karena mual muntah.
"Papa ... Mama sakit apa?"
Chandra memaksakan senyumnya. "Mama sedang sakit perut."
"Kasian Mama."
"Adik bayinya nakal, ya?"
"Tidak kok, adik bayinya tidak nakal. Tapi lagi main di dalam perutnya mama, jadi mamanya sakit perut."
"Kalo adik bayi sudah keluar, Flora ajak main boleh?"
"Boleh dong Sayang."
"Asiik!"
"Papa, dulu waktu Flora dalam perut mama... Flora nakal juga enggak?" tanya Flora.
Chandra terkikik dan menjatuhkan kecupan kecil di pipi tembam putrinya. "Sedikit."
"Kasian Mama," keluh Flora.
Nadia memandangi kedekatan putrinya dengan Chandra, ia mendekat setelah sedikit membaik karena mual yang dideritanya. Wajah Nadia yang pucat juga sudah dipoles sedikit make up untuk diperbaiki.
"Masih mual?" tanya Chandra ketika menyadari kalau Nadia sudah keluar dari toilet.
Nadia mengangguk. "Masih, maaf ya, Flora sama Papa jadi nunggu."
"Mama jangan nangis." Tangan Flora terulur untuk mengusap wajah Nadia yang agak berkeringat, Nadia tersenyum menanggapi ucapan Flora padanya.
"Enggak, mama enggak nangis sayang. Ayo masuk lagi ke studio, sini mama gendong."
"Gamau ... Fola mau sama Papa."
Nadia cemberut.
"Fola kan berat. Kasian Mama sama adik bayi."
__ADS_1
"Pinternya anak papa. Ya sudah, kita lanjutkan fotonya ya."
Keluarga Jenderal itu berpose sangat hangat sekali, Chandra merangkul Nadia dari belakang dan Flora duduk di kursi tinggi tersenyum menatap kedua orang tuanya. Pose berikutnya adalah Flora yang berada dalam gendongan Chandra sementara Nadia menyandarkan kepala di punggung putrinya. Dipose lainnya hanya Nadia dan Chandra saja yang berfoto, Nadia Mengenakan kebaya sementara Chandra mengenakan seragam kebanggaannya.
Sepulang dari foto keluarga, Nadia dan Chandra memeriksakan kandungan ke dokter, sedangkan Flora untuk sementara dititipkan di rumah kakek dan neneknya, sebab Flora sering rewel jika telat tidur siang.
Keadaan Nadia juga jauh lebih buruk untuk kehamilannya yang kedua ini, selain mual muntah Nadia juga mengalami ngidam dengan banyak makanan di tengah malam. Untung saja Chandra sedang tidak ada tugas keluar kota atau luar pulau, sehingga ada yang menuruti kemauan istrinya. Di usia kandungan yang menginjak tiga bulan ini tanda-tanda mengidam masih setia bersama Nadia, tak jarang Nadia juga seharian hanya bermalas-malasan dan tidur sampai sore.
"Bagaimana Dokter keadaan istri saya, kehamilannya sekarang ini mengidamnya jauh lebih parah, apa ada kaitannya dengan penyakit lambung?"
Dokter tersenyum setelah melakukan serangkaian pemeriksaan pada Nadia, si artis cantik yang kini telah vakum dari dunia hiburan.
"Tidak ada Pak, setelah pemeriksaan menyeluruh tidak ada gejala timbul atau kambuhnya penyakit lambung. Dan ibu Nadia juga sehat, mual muntah yang dialami ini memang murni karena bawaan bayi. Gejalanya akan hilang setelah usia kandungan lima bulan."
"Oh, syukurlah, apa ada obatnya Bu?" tanya Nadia lega, Chandra juga ikut lega mendengarnya.
"Untuk obat mualnya tidak ada, tapi saya berikan multivitamin saja ya agar tidak lemas."
"Oh iya, omong-omong selamat ya Bu Jenderal dan Pak Jenderal."
Nadia dan Chandra saling beradu pandang, mengapa dokter ini mengucapkan selamat?
Dokter itu tersenyum lebar sekali, tatapan mata di balik kacamata yang dikenakannya tampak berbinar. "Bayi yang dikandungnya kembar. Ini, foto USG yang kami sudah cetak, silakan dilihat!"
Dokter menyerahkan secarik foto empat dimensi yang merupakan gambaran dua janin kecil yang berada dalam kandungan Nadia. Chandra menangis sejadi-jadinya di ruangan sejuk itu, dan Nadia hanya bisa menatap takjub pada hasil yang ia dapatkan.
"Wajar ya Bu kalau hamilnya lebih rewel, karena bayinya kembar. Hormon juga menjadi tidak stabil."
"Sayang, terima kasih banyak!"
Tangisan Chandra terlihat lucu bercampur menggemaskan. Nadia memeluk suaminya di depan dokter dan tak bisa melepas senyum yang tergambar di wajahnya. Ia senang sekali, bahagia, haru, dan tentu saja tidak menyangka bahwa karunia Tuhan begitu melimpah pada dirinya dan keluarga.
Nadia mengusap kedua pipi Chandra yang basah, pria itu masih terisak pelan dan sulit menghentikan tangisannya. Nadia telah memberikan segalanya, mulai dari cintanya, pengorbanan, melahirkan Flora, dan kini dua bayi kembar yang akan hadir di tengah kebahagiaannya.
***
Flora bermain bersama Mona dan Moni, sementara Nadia sedang menyantap buah-buahan yang dipotong sendiri oleh suaminya. Perut Nadia membuncit meski usia kandungannya baru menginjak usia empat bulan, hal ini dikarenakan bayi kembar di dalam sana tumbuh dengan sehat dan kuat.
"Mau lagi?"
"Engga, sudah kenyang," tolak Nadia halus, dia sudah menghabiskan hampir satu sisir pisang, dua potong besar semangka, satu buah mangga, dua apel, dan dua bear Bangkok.
__ADS_1
Chandra terkekeh saat melihat sampah buah-buahan hampir memenuhi isi meja.
Chandra merapikan meja dan kembali menyandarkan kepala Nadia di dadanya, rebahan di atas sofa sambil menonton tayangan televisi. Iklan yang diperankan Flora tampil selama lima belas detik, Chandra selalu membanggakan dirinya dan memamerkan itu di grup TNI AD, di acara kumpul keluargaŘ bahkan mengunggahnya di laman media sosialnya. Siapa pula yang tidak bangga menjadi papanya Flora Ruby Negara, si balita cantik yang memiliki perpaduan wajah papa dan mamanya, cerdas dan tentu saja menawan seperti mamanya yang merupakan seorang selebriti.
"Kamu nggak bosan nonton iklan Flora terus?"
"Tidak lah ... sebelum tidur saya nonton iklan Flora dulu."
"Haha ... jadi, udah beralih nih, nggak ngefans sama Nadia lagi?"
"Um... kalau sama kamu sudah tidak ngefans."
"Jahat...." Nadia menyebik, dan Chandra mengecup pipinya.
"Kalau sama kamu sudah taraf mencintai tanpa batas!"
"Gombal ... Jenderal gombal!" ejek Nadia pura-pura kesal.
"Biarin ... siapa suruh kamu jadi istri saya, terima resikonya ya. Dikasih gombalan, candaan, sama kata-kata norak, hehe ...."
"Terus ... harus terima resiko tugas."
Wajah Nadia menjadi datar, memikirkan tugas suaminya yang kadang membuat Nadia sangat cemas dan takut sekali.
"Iya cintaku ... kamu ke manapun saya harus ikut ya. Kalau kamu ada tugas keluar daerah bawa saya juga sama anak-anak," pinta Nadia dengan nada memaksa.
"Iya sayang."
"Jangan ditinggal lagi kayak dulu."
"Iya ...."
Chandra mengusap-usap puncak perut Nadia, hingga Nadia terpejam nyaman dalam dekapannya. Flora sudah tertidur dalam pelukan Nadia dan mengambil salah satu jemari besar Chandra yang berada di atas perut Nadia. Satu kata untuk saat ini adalah, bahagia.
"Semoga bertahan sampai maut memisahkan, tanpa duka yang mendalam karena tiba-tiba kehilangan."
Satu kalimat singkat tersebut adalah doa Nadia untuk keluarganya, terutama untuk suaminya yang seorang perwira negara.
Tamat ....
Oiya, hamil kembar itu nggak harus ada keturunan ya, walaupun mustahil, tapi bisa.
__ADS_1