Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 33


__ADS_3

Apa yang terjadi semalam sepertinya berhasil membuat Flora bahagia. Terbukti di saat dirinya masih tertidur pulas seperti ini pun ia tidak henti-hentinya mengumbar senyuman manisnya.


Hal itupun tidak lepas dari perhatian seseorang yang sedang menatapnya saat ini.


Tiba-tiba Flora menggeliat ketika ia merasa pipinya dibelai. Perlahan Flora membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah seseorang yang sedang menatapnya dengan senyuman.


"Good morning sweety," sapa seseorang itu. Sangat lembut.


Flora mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Good morning" balas Flora. Dengan matanya yang kembali tertutup.


Tidak lama kemudian ia terperanjat, bangun dari tidurnya. Dan saat ini ia sedang dalam posisi duduk di tempat tidur. Ia melihat ke sekeliling kamar, dan sialnya ini bukan kamarnya.


"Ada apa, Sayang?"


Flora tersadar jika di hadapannya ada seseorang yang sedang menatapnya bingung.


"A-a-aku minta maaf Mrs.Alam-" ucapan Flora terpotong. Karena secara cepat Marline menempatkan jari telunjuknya di bibir Flora.


"Panggil aku Mommy! Mom-my!" pinta Marline penuh tekanan pada setiap katanya.


Flora mengerutkan keningnya. "Tap-"


"Kamu sebentar lagi akan menikah dengan Charles. Berarti kamu harus memanggilku Mommy, mengerti?" ucap Marline.


Oh ya, mengingat hal itu ia menjadi mengingat kejadian semalam. Charles sama sekali tidak melepaskan Flora dari dekapannya, pria itu terus saja mendekap Flora dan memberikan banyak ciuman pada gadis itu. Flora tidak bisa menolak. Karena ia juga memang mendambakan sentuhan Charles yang selama ini ia rindukan.


Semalam mereka berdua tidak banyak berbicara, mereka hanya terdiam dalam keheningan malam dengan posisi Charles yang terus memeluk Flora secara posesif. Hingga membuat gadis itu tidak bisa lagi menahan kantuknya dan tertidur dalam dekapan pria itu. Namun, di manakah Charles berada saat ini? Kenapa Flora tidak melihatnya. Hal itu disadari oleh Marline yang sedang memperhatikan Flora.


"Charles sudah berangkat kerja, awalnya dia memilih untuk tidak bekerja. Tapi secara tiba-tiba ada meeting penting yang tidak bisa ditunda. Oleh karena itu terpaksa Charles harus berangkat ke kantor. Dia tidak tega untuk membangunkanmu, tapi dia sempat membuatkanmu sarapan. Katanya, Mommy harus memastikan kamu memakan sarapannya itu. Jika tidak, Charles akan memberimu hukuman!" ungkap Marline. Dengan dagunya yang menunjuk ke arah nakas.


"Charles yang membuatnya?" tanya Flora yang diangguki oleh Marline dengan senyuman.


Jujur, saat ini Flora sangat terenyuh. Rasanya ia sudah sangat merindukan pria itu. Flora ingin memeluknya, bahkan ia ingin sekali mengurung Charles untuk terus bersamanya seharian ini. Sungguh liar pemikiran Flora. Ini semua gara-gara Charles!


"Mommy dengar Renatta itu teman dekatmu. Apakah itu benar?" tanya Marline. Membuat senyuman yang terhias di bibir Flora secara tiba-tiba sirna begitu saja.


Flora menatap Marline sejenak. Sebelum dia menganggukkan kepalanya.


Terdengar Marline menghela napasnya.


Sebelum ia menggenggam tangan Flora.


"Aku sudah tahu semuanya, Charles sudah menceritakan semuanya kepadaku. Satu hal yang harus kau tahu, jika Charles benar-benar mencintaimu!" ungkap Marline.


"Tapi, bagaimana dengan Renatta?" tanya Flora takut. Menatap ragu Marline.


"Biarkan itu menjadi urusan Charles dan Renatta. Mereka berdua sudah dewasa, dan sudah dipastikan mereka bisa menyelesaikan masalah ini," jawab Marline.


Flora menundukkan kepalanya. "Tapi dia teman dekatku, aku tidak ingin membuat Renatta merasa tersakiti." Flora berbicara dengan lirih.


"Bukankah dulu Renatta pernah melakukan hal yang sama terhadapmu?" tanya Marline. Yang membuat Flora mendongakkan wajahnya, untuk menatap wanita yang ada di hadapannya.


Pasti Charles yang memberitahu Marline tentang masa lalunya.


"Hukum alam itu sangat nyata Sayang, tidak ada yang bisa menebak dan mencegah hal itu. Seseorang akan mendapatkan hal yang sama dengan apa yang telah dia perbuat kepada orang lain, ini bukan salahmu Flora. Kamu jangan merasa bersalah kepada Renatta. Memang sudah dari awal Charles sangat menolak perjodohan ini, tapi Ayah Charles sangat keras kepala untuk menjodohkan Charles dengan Renatta. Charles dan ayahnya itu memiliki sifat yang sama persis, sama-sama keras kepala dan tidak pernah mempedulikan perasaan orang lain. Mereka selalu berbuat apa pun yang mereka inginkan." Marline membelai kepala Flora dengan begitu lembut. Penuh kasih sayang.


"Lalu bagaimana reaksi Ayah Charles ketika mengetahui jika Charles akan menikah denganku?" tanya Flora takut dan penasaran.


Marline mengembuskan napasnya secara kasar. Dia pun teringat dengan Frans waktu itu ....


***


"Apa yang sebenarnya akan kau katakan Charles? Tidak biasanya kau datang ke mansion tanpa permintaanku ataupun Marline!" kata Frans menatap anaknya yang sedang duduk di seberangnya.


"Aku akan menikah!" sahut Charles tanpa basa-basi, Marline yang sedang duduk di samping Frans pun terlihat sangat bahagia. Karena akhirnya, putranya itu akan menikah. Dia sudah tidak sabar untuk menggendong cucu.


"Baguslah. Itu yang aku tunggu. Kapan kau akan menikahi Renatta? Sudah ditentukan tanggalnya?" tanya Frans antusias.


"9 hari lagi dari sekarang!" jawab Charles tenang.


"Ternyata kau sudah mempersiapkan semuanya Charles? Aku sangat senang mendengar hal itu! Apa kau sudah berbicara kepada keluarga Renatta?" tanya Frans kembali, dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia. Tidak kalah juga dengan Marline.


"Belum." Charles menatap Frans dingin.


"Why? Seharusnya kau sudah bilang kepada mereka. Ya sudah biar aku saja yang menghubungi mereka." Frans meraih ponselnya yang berada di atas meja. Lalu dia segera mencari kontak Arland.


"Karena aku tidak akan menikah dengan Renatta. Melainkan dengan kekasihku!" ucap Charles lantang.


Hal itu berhasil menghentikan jemari Frans yang akan segera menekan tombol telepon pada Arland.


"Apa maksudmu Charles?" tanya Marline tidak mengerti.


"Aku tidak akan menikah dengan Renatta Mom, aku akan menikah dengan kekasihku. Flora. Dia adalah gadis yang aku cintai. Sangat!" ungkap Charles dengan tenang.


Frans menggenggam ponselnya dengan sangat erat. Rahangnya mengeras, tatapannya yang sangat menusuk dia arahkan kepada putranya itu.

__ADS_1


"Bajingan kau, Charles, APA YANG KAU KATAKAN BRENGSEK!" bentak Frans beranjak dari duduknya. Dan meraih kerah baju Charles, sehingga membuat Charles harus beranjak dari duduknya.


"Frans stop! kumohon hentikan!" ucap Marline panik. Mencekal lengan Frans.


"Diamlah, Marline! Aku hanya ingin mendengar jawaban dari anak sialan ini!" bentak Frans, yang membuat Marline terkejut. Hal itu membuat Charles geram, dia tidak terima ibunya dibentak


"Bisakah kau tidak membentaknya? Dia tidak salah apa pun!" geram Charles menatap tajam Frans.


"Tutup mulutmu! Sekarang jawab pertanyaanku, apa maksudmu dengan mengatakan jika kau akan menikah dengan wanita lain, hah?!" teriak Frans.


"Apa aku harus mengatakannya lagi? kau masih butuh jawaban atas pertanyaanmu itu?"


Plak!


Frans menampar Charles dengan sangat keras, sebelum ia melepaskan cekalan pada kerah baju Charles. Frans memutari meja untuk menghampiri anaknya itu, kemudian ia menendang perut Charles yang membuat sang anak tersungkur ke lantai karena serangan yang secara tiba-tiba.


Tidak berhenti di situ, Frans mendekati Charles dan menarik anak itu agar berdiri sebelum ia memberikan pukulan yang sangat keras pada rahang putranya.


"FRANS HENTIKAN! STOP, FRANS!" teriak Marline menangis melihat kedua lelaki yang dicintainya itu bertengkar di hadapannya.


"Apa kau masih berani untuk berbicara, jika kau akan menikahi jala*g itu, hah?!" geram Frans.


Charles tersenyum miring. Dengan tangannya yang sudah mengepal.


"Silakan pukuli aku semaumu. Tapi keputusanku sudah bulat, aku akan menikah dengannya. Aku tidak perlu izinmu untuk itu, aku ke sini hanya memberi tahumu jika aku akan menikah. Datang atau tidak datang, itu terserahmu. Aku tidak akan memaksa!" ujar Sam.


"DASAR ANAK STALAN!"


BUGHH!


"FRANSSS!" teriak Marline. Berlari ke arah sang suami. Dan menahan pria itu yang akan melayangkan pukulannya kembali kepada Charles.


"Aku tidak sudi untuk menghadiri pernikahan sampah itu!" teriak Frans dengan amarah yang masih memuncak.


Charles hanya tersenyum miring untuk merespon perkataan Frans.


***


Lagi-lagi Flora meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka jika Charles akan sekeras itu untuk menikahinya. Pria itu benar-benar bersedia melakukan apa pun demi untuk menikah dengannya. Mengingat apa yang pernah Chandra ucapkan kepadanya, jika Charles pun pernah dihajar habis-habisan oleh Chandra. Hal itu membuat Flora semakin sakit, membayangkan Charles yang dihajar oleh kedua pria yang sudah dia kecewakan. Itu pasti sangat menyakitkan baginya.


"Oleh karena itu, aku mohon kepadamu. Jangan pernah melepaskan Charles, karena dia benar-benar mencintaimu. Ini pertama kalinya Charles mempertahankan suatu hubungannya dengan seorang wanita. Dan kamu lah orangnya. kamu tidak perlu memikirkan Renatta ataupun Frans, biar aku dan Charles yang mengurus semuanya. Mengerti?" kata Marline. Menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Flora.


Dengan pasti Flora menganggukkan kepalanya. Dia sudah bulat dengan keputusannya, jika dirinya tidak ingin kehilangan Charles. Sungguh. Flora sangat mencintai pria itu. Dia tidak rela jika Charles harus menjadi milik orang lain. Biarkan dirinya untuk kali ini saja bersikap egois dan jahat. Karena ia pun memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dan kebahagiaan Flora adalah Charles. Pria keras kepala itu.


Marline memeluk tubuh Flora penuh dengan kasih sayang.


"Kenapa kamu harus minta maaf? Memang apa kesalahan yang kamu perbuat?" tanya Marline yang sedang mengelus punggung Flora.


"Karena aku telah menghancurkan harapan kalian untuk menikahkan Charles dengan Renatta," isak Flora.


"Kamu salah. Itu bukan harapan aku dan Charles. Harapan Charles adalah menikah denganmu. Dan harapan aku, hanya ingin melihat Charles bahagia. Aku tidak sedih ketika Charles mengatakan jika dirinya tidak ingin menikah dengan Renatta, tapi yang membuatku sedih adalah ketika harapanku yang lainnya itu hampir saja hancur karenanya!" ucap Marline.


"Apa itu?" tanya Flora.


Marline menjauhkan tubuhnya dari Flora, untuk menatap gadis di hadapannya itu.


"Harapanku untuk segera menggendong cucu. Karena itulah alasanku menginginkan Charles untuk segera menikah, awalnya aku tidak peduli dia akan menikah dengan wanita manapun. Yang penting dia bisa memberiku seorang cucu. Tapi setelah aku tahu semuanya, dan setelah aku bertemu denganmu. Aku hanya ingin memiliki cucu dari rahimmu. Bukan dari gadis manapun, karena aku menyukaimu dan menyayangimu. Pantas saja Charles sangat tergila-gila padamu, karena hal itu juga terjadi padaku. Padahal baru kemarin aku bertemu denganmu, tapi aku sudah sangat menyayangimu, kamu benar-benar anak yang baik, Sayang. Tidak salah, Charles ingin menikah denganmu!" ungkap Marline, yang membuat Flora kembali terenyuh.


"Mommy" lirih Flora. Menghambur ke arah Marline untuk memeluk tubuh wanita itu.


Marline tersenyum bahagia. "Aku bahagia sekali mendengar kamu memanggilku seperti itu!" Marline memeluk erat tubuh Flora.


***


"Sayang, istirahatlah. Biar Mommy yang menyiapkan semuanya!" ucap Marline.


"Tidak Mom, aku ingin membantumu!" balas Flora. Mereka saat ini sedang berada di dapur,


Marline sedang membuat kue cookies kesukaan Charles. Oleh karena itu Flora ingin membantu, ia ingin tahu makanan apa yang disukai oleh Charles.


"Ya ampun!" teriak Flora. Ia tersentak karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kamu sedang apa?"


Ya Tuhan, suara itu terdengar sangat seksi ditelinganya. Ditambah dengan kecupan-kecupan yang orang itu berikan di bahu Flora.


"Charles, bisakah kamu tidak mengejutkanku? Lepas pelukanmu! Di sini ada Mommy!" geram Flora sambil berbisik.


Namun, bukannya mendengar permintaan Flora, Charles malah memutar tubuh mungil wanita itu agar berhadapan dengannya. Lalu Charles melingkarkan tangannya di pinggang Flora, menarik tubuh itu agar berdekatan dengannya.


"Charles! Aku bilang lepas!" Flora mencoba untuk mendorong tubuh Charles. Namun, itu semua hanya sia-sia.


"I love you," ucap Charles tenang. Hal itu membuat Flora menghentikan pergerakannya.


Flora menatap manik mata Charles yang terlihat sangat indah, rasanya dia tidak akan pernah bosan untuk melihat mata itu.


Hingga lamunannya buyar ketika secara tiba-tiba Charles memagut bibirnya. Dengan sekuat tenaga, Flora mendorong tubuh Charles.

__ADS_1


"Di sini ada ibumu, Charles!" geram Flora. Dengan mata yang meneliti keadaan sekitar. Namun kosong. Hanya ada mereka berdua di dapur itu.


"Tidak masalah!" sahut Charles. Sebelum ia memagut kembali bibir Flora, kali ini tidak ada pemberontakan dari Flora. Ia sangat menikmati cumbuan pria di hadapannya ini. Rasanya ia tidak mau mengakhiri semuanya.


Flora melingkarkan tangannya pada leher Charles saat pria itu mengangkat tubuhnya, hingga Flora harus melingkarkan kakinya pada pinggang pria itu. Mereka benar-benar terhanyut oleh nafsu dan gairah yang membara.


"Maafkan aku papa Chandra, karena lagi-lagi aku kehilangan kontrol untuk menyentuhnya!" lirih Charles ketika ciuman itu terlepas. Ia menatap bibir Flora yang membengkak.


Flora terkekeh geli mendengar perkataan pria itu. la semakin mengeratkan pelukannya pada leher Charles. Dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.


"Apa kita akan tetap menikah Charles?" tanya Flora dengan lembut.


"Tentu Sayang, pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Dan kamu akan menjadi milikku seutuhnya." Charles tidak henti-hentinya mengecup bahu Flora.


"Lalu, nanti apakah kamu benar-benar akan menceraikanku?"


Charles mendudukkan Flora di meja dapur. Ia sedikit mendorong tubuh Flora agar bisa menatap wajah cantik gadis itu.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Flora. Saat itu aku hanya bingung harus berkata apa. Aku bersumpah tidak berniat sedikitpun bercerai denganmu. Apa jadinya aku jika kamu pergi dari hidupku?" ungkap Charles begitu tulus.


Flora membelai rahang Charles dengan lembut. Lalu ia menurunkan jarinya untuk membelai dada bidang Charles dengan cara naik-turun. Hal itu berhasil membuat Charles melenguh dengan memejamkan kedua matanya.


"Jadi, kita benar-benar akan menikah minggu besok?" tanya Flora kembali. Namun suara wanita itu terdengar menggoda.


Charles menghela napas. Dan membuka matanya untuk menatap gadis yang telah berhasil membangkitkan gairahnya.


"Iya Sayang. Apa kamu sudah tidak sabar?" Charles menyeringai.


Sedangkan Flora menggelengkan kepalanya. "Apa kah kita tidak bisa memundurkan tanggal pernikahan itu?"


Charles menatap Flora dengan sorotan mata yang sudah dipenuhi oleh gairah. "Tidak!" jawab Charles singkat, padat dan jelas.


"Tap-" ucapan Flora terpotong. Karena lagi-lagi Charles memangut bibirnya dengan kasar. Namun, Flora sangat menikmati perlakuan itu. Dia sudah benar-benar tenggelam oleh cintanya.


"I love you too, Charles!" lirih Flora dengan napas tersengal ketika terlepas dari cumbuan Charles.


***


"Ada urusan penting apa, sehingga memaksaku untuk bertemu?" tanya Charles. Menatap seseorang yang berada di seberangnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Charles? Kenapa belakangan ini kamu selalu menghindar dariku?" tanya Renatta. Menatap Charles dengan sendu.


Charles menghela napasnya. Rasanya malas sekali menjawab pertanyaan wanitu itu.


"Charles!" gertak Renatta. Menggoyangkan tangan Charles.


"Apa aku perlu mengatakannya lagi?" ucap Charles dingin.


Mata Renatta tiba-tiba berkaca. Ia menahan tangisannya agar tidak terjatuh lagi di hadapan Charles.


"Jadi, kamu benar-benar tidak bisa mencintaiku? Apa usahaku selama ini tidak membuat kamu cinta padaku?" Renatta berbicara dengan nada bergetar. Hatinya sangat sakit sekali.


"Aku sudah memberitahumu dari awal, jika aku tidak akan pernah bisa mencintaimu. Dan kamu tahu itu. Pertunangan ini bukanlah keinginanku! Namun kamu bertingkah seolah-olah tidak tahu apa-apa dan memilih untuk melanjutkan pertunangan ini. Padahal dari awal aku sudah mengatakan jika pertunangan ini diteruskan, maka kamu harus siap menerima akibatnya!" jelas Charles tegas.


"Aku pikir di saat kita bercinta waktu itu, artinya kamu sudah mencintaiku, Charles."


Renatta tidak bisa lagi menahan air matanya, lagi-lagi ia menangis di hadapan Charles. Seakan-akan ia terlihat sedang mengemis cinta Charles.


"Tapi aku benar-benar mencintaimu, Charles. Kenapa tidak ada sedikitpun rasa cinta itu di hatimu untukku?! Apa kurangnya aku? Aku selalu melakukan apa pun untukmu. Aku sudah banyak berkorban untukmu, Charles. Aku selalu bersikap seolah hubunganku denganmu baik-baik saja di hadapan teman-temanku. Bahkan aku harus berbohong kepada Flora dan Anin, jika kamu mengajakku liburan ke Hongkong waktu itu. Namun faktanya, kamu menolak secara mentah permintaanku itu. Aku harus berpura-pura jika aku benar-benar telah menghabiskan banyak waktu denganmu. Padahal faktanya, kita selalu bertengkar di saat kita bertemu seperti ini. Tapi bodohnya, aku tetap saja mencintaimu Charles. Aku tidak mau kehilanganmu!" isak Renatta menggenggam tangan Charles.


Namun Charles hanya terdiam dan bersikap tidak peduli.


"Apa ada wanita lain yang kamu cintai Charles?" tebak Renatta.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Charles sinis.


Renatta memejamkan matanya sejenak, sebenarnya dia lelah sekali harus berpura-pura kuat dan bahagia di hadapan orang lain.


"Kamu harus ingat Charles, kita akan menikah! Dan itu pasti akan terjadi. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku!" ucap wanita itu.


"Lakukan apa pun yang kamu inginkan Re, tapi itu semua tidak akan membuatku jatuh cinta padamu!" Charles menarik secara kasar tangannya yang sedang di genggam oleh Renatta.


"Jika tidak ada lagi yang dibicarakan maka aku akan pergi!"


Renatta terdiam. Dia bingung harus dengan cara apa untuk menahan Charles agar tetap bersamanya.


"Aku akan mempercepat pernikahan kita Charles, aku akan berbicara kepada Daddy-ku untuk segera menikahkan kita! Dan aku pastikan, kamu tidak bisa menolak itu!" ancam Renatta.


Charles sama sekali tidak peduli dengan perkataan wanita di hadapannya. Ia lebih memilih untuk beranjak dari duduknya, dan berniat untuk pergi dari restaurant itu.


Renatta menjatuhkan lagi air matanya. Rasanya air mata itu tidak ada habis-habisnya untuk menangisi Charles. Tidak terhitung berapa kali dirinya menangis karena pria itu.


Renatta berpikir jika dirinya akan bisa menaklukkan hati Charles, tetapi kenyataannya sampai saat ini pria itu tidak bisa mencintainya. Hal itu sangat mengiris hatinya, sungguh menyakitkan.


Bersambung ....


Maaf ya, kemarin malam aku ketiduran, padahal aku mau up. Besok Ahad, aku usahain triple up.

__ADS_1


__ADS_2