
Beberapa waktu kemudian ....
Nadia telah selesai merias dirinya di belakang panggung konser. Ia menatap pantulan tubuhnya dalam cermin, make up natural yang tetap berhasil memancarkan kecantikannya yang lembut sore itu. Sebuah gaun rancangan khusus dari desainer ternama Indonesia itu sangat cocok dengan tema konser kali ini. Nadia menampilkan konsep warm and soft seperti yang pernah Chandra katakan padanya, bahwa kekuatan terbesar seseorang adalah kehangatan dan kelembutannya, hal itu biasa menjadi senjata paling ampuh dalam menghadapi musuh apa pun.
Tiga orang masuk ke dalam ruang rias setelah ditunjukkan oleh Liza si manajer yang sangat sibuk saat itu, dan tiga orang yang datang terlihat berbeda penampilannya hari ini, mengenakan pakaian non-formal yang membuat mereka tampak berbeda dari biasanya.
Ong, memangku seekor kucing yang tampak manja dalam gendongannya. Alif terlihat menggemaskan dengan mengenakan kemeja berwarna cerah, dan Dio dengan setelan jas dilengkapi bow tie hitam berpenampilan sangat rapi yang mencerminkan dirinya.
"Hei, kalian kapan datang?" Nadia menyapa dengan ceria ketiga rekan kerja suaminya itu. Tiga tentara Ad yang kini disulap seperti lelaki metropolitan.
Ong tersenyum kecil dan Alif tampaknya masih terkesima bisa bertemu dengan Nadia lagi yang berpenampilan selayaknya artis yang muncul di TV. Sementara Dio terlihat kaku.
"Nad, kamu cantik banget," puji Ong yang masih belum berkedip sejak melihat Nadia.
"Iya, beneran. Kak Nadia bikin pangling. Coba kalau Kakak berpenampilan begini kalau di Flores. Kita nggak akan berani numpang makan," ujar Alif dengan takjub, tetapi terkesan malu-malu pada Nadia.
Nadia tersenyum mendengarnya.
"Kami datang ke Jakarta kemarin malam, Nad. Setelah mendapatkan persetujuan cuti dari pusat," jawab Dio tenang.
"Ih, ya ampun. Kalian manis banget tahu nggak? Yang lain di mana?" Nadia mengambil alih kucing dalam pangkuan Ong dan menimangnya.
"Saya nggak nyangka kalian bisa datang ke konser saya. Saya senang banget," tambah Nadia dengan ceria.
"Ada yang nggak ikut Nad, Danil sama Yuta serta Ardi di sana. Kalau Johnny ada di ballroom Nad, gabung sama keluarga kamu. Kita jadi perwakilan di sini."
__ADS_1
"Sedih, coba saja kalian bisa datang ke sini semua," balas Nadia dengan bibir mengerucut.
"Padahal kan Ardi fans besar kamu." Kikik Ong puas. Karena saingannya tidak ada di sana. "Oh iya, kalian nginap di mana? Di hotel?"
Alif menggeleng kecil. "Enggak kok, Komandan Dio sama yang lain nginap di rumahku. Kan aku tinggal di Jakarta, hehe."
"Hah, syukurlah, kalau kalian butuh hotel atau mau jalan-jalan, kalian bisa hubungi
Liza. Nanti ia yang urus keperluan kalian."
"Tidak perlu, Nad. Kami akan kembali hari Senin pagi ke Flores," jawab Dio tegas. Membuat Alif dan Ong seketika cemberut.
Nadia tertawa kecil. "Kak Dio jangan gitu. Anggap saja ini balasan buat kebaikan kalian, karena selama aku di Flores kalian selalu nemenin dan jadi teman baru aku di sana."
"Sama-sama, Nad, hehe," timpal Ong manis seraya mengambil Nadjen dalam pangkuan Nadia.
"Selama di sana, NadJen ini betah banget tidur sama aku, Nad. Jadi kayaknya dia masih jetlag Nad, baru turun pesawat."
"Hahaha... makasih ya, Ong, udah merawat kucingnya. Nanti aku ganti biaya makan
Nadjen."
"Nggak usah, kayak ke siapa aja, sih. Aku kan fans kamu, senang banget bisa ngurus kucing kamu."
***
__ADS_1
Nadia naik ke atas panggung setelah VCR konser tunggal miliknya itu selesai diputar di sebuah latar belakang besar. Konser itu diadakan di sebuah ballroom gedung serbaguna yang cukup luas, dan Nadia hanya menetapkan 1000 penonton dalam konsernya, agar suasananya terkesan tenang dan tentunya privat.
Dalam VCR kebanyakan diperlihatkan foto-foto suaminya dan sedikit cuplikan tentang kehidupan pribadi Nadia setelah menikah yang lebih tertutup pada publik, sehingga pembukaan konser terasa begitu mengharu biru.
Vidi yang duduk di jajaran paling depan tersenyum kecil melihat Nadia duduk manis di atas kursi menghadap piano, Nadia sangat cantik dengan sebuah gaun tertutup seperti ini.
"Lupain, Vid, kalau lu masih terus bayangin hidup Nadia. Kalian berdua nggak akan pernah bisa hidup bahagia." Liza menyindir Vidi yang sedang bernostalgia itu. Kebetulan, Liza duduk di sisi Vidi.
Vidi menurunkan pandangannya.
"Dia istri orang sekarang," tambah Liza ketus.
"Lu berbakat, Vid, ganteng, kaya. Masa mau lu merusak hidup lu lagi demam ganggu pernikahan mantan lu sendiri."
"Iya, Liz, iya, bawel banget lu. Gue cuma kagum aja sama Nadia. Ia, banyak banget berubah setelah putus dari gue. Liz, kalau nyesel mah masih boleh, 'kan?"
"Dari dulu juga Nadia begitu Vid. Lu nya kali yang berubah sekarang. Karena lu sudah sehat," kekeh Liza.
Vidi tersenyum kecut. "Emang gue dulu sakit jiwa?"
"Lah, emang kan. Hahaha."
Nadia melambaikan tangannya ke arah ayah dan ibu mertuanya, kepada Joy, kedua nenek dan papanya yang tersenyum bangga di bangku penonton. Nadia juga melihat sekumpulan kawannya dari Flores yang mendapatkan kursi paling strategis di ballroom itu yang menikmati konser dengan wajah cerah.
Namun, di penghujung konser ini Nadia kembali merasakan kekosongan teramat sangat, satu orang yang ia tunggu setelah sekian lama tak kunjung datang. Chandra ingkar janji untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak muncul sama sekali dan memilih untuk membuat Nadia kesepian di tengah keramaian.
__ADS_1
Bersambung ....
Besok Ahad, baru bisa crazy up, minimal 4 BAB LAH maksimal sampai tamat.