Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 59


__ADS_3

Nadia mengajak dua orang pasien dan tiga orang perawat yang mengalami shock ringan untuk tinggal di rumah dinas sementara waktu. Sementara Danil dan bidan ikut menyiapkan minuman dan perlengkapan tidur agar pasien bisa beristirahat setidaknya sampai kondisi mereka membaik.


Setelah selesai dengan hal tersebut, Nadia keluar dari dalam rumah dan diam di teras. Nadia sendiri pun masih belum bisa menghilangkan rasa takut yang menguasai dirinya. Nadia melihat tangannya begitu putih dan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Keadaannya sendiri pun sangat kacau, tetapi Nadia malah membiarkan Chandra pergi begitu saja ke rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Nadia memejamkan matanya dan mencoba mengikuti saran dokter yang sempat memberikannya konsultasi kejiwaan.


"Nad ...," panggil seseorang dengan suaranya yang serak.


Nadia kembali membuka matanya dan mendapati Vidi ada di hadapannya dengan wajah pucat. Vidi tersenyum kecut padanya.


"Vidi ...," balas Nadia tak percaya. Vidi sangat menyedihkan, tubuhnya jadi lebih kurus dibandingkan sebelumnya.


Vidi terkekeh dan duduk di samping Nadia, sementara Nadia berusaha menghindari Vidi karena ia tidak mau menimbulkan omongan orang terhadap hubungan keduanya yang sudah kandas sejak lama.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nad? Kamu nggak luka? Tadi ... aku lihat kamu nggak pakai sendal Nad, kaki kamu baik-baik saja, 'kan? Kamu pucat Nad... kamu sakit, ya?" tanya Vidi tanpa jeda. Nadia tertegun, Vidi masih sama seperti dulu, perhatian dan cerewet. Namun, semua hal itu tidak ada gunanya lagi.


"Vid, aku baik-baik saja. Kamu kenapa masih ada di sini?" ujar Nadia dengan nada lemah. Nadia tidak mau berdebat, tenaganya sudah terkuras karena shock.


Vidi tersenyum lega, dan lelaki cengeng itu mulai menitikkan air mata penyesalannya lagi di hadapan Nadia. Vidi meraih tangan Nadia dan menggenggamnya. Nadia menepisnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Tangan kamu dingin Nad, kamu pasti panik, ya? Kamu shock Nad... kita pulang Nad ke Jakarta, jangan diam di sini. Ini bukan tempat kamu."


"Jangan bohong Nad. Aku lihat kamu nggak baik-baik saja," tambah Vidi lagi dengan yakin.


Dan memang betul perkataan Vidi, Nadia tidak baik-baik saja, tetapi Nadia juga tidak mau ke mana-mana. Nadia ingin tinggal di sini bersama suaminya.

__ADS_1


Seperti Nadia, Vidi pun memperhatikan wajah dan tubuh Nadia dengan saksama. Betapa terkejutnya Vidi saat melihat luka lebam di pergelangan tangan Nadia dan lengan bagian atas Nadia. Diperhatikan begitu, Nadia tentu tidak nyaman apalagi situasi sekarang sudah jelas, bahwa Nadia sudah berstatus istri orang.


"Nad, suami kamu itu pasti temperamental. Dia kasar sama kamu?! Kamu dipukul Nad, sama dia? Kenapa tangan kamu lebam-lebam?"


"Vid, kamu mabuk ya?! Kamu masih kena pengaruh obat-obatan?!" bentak Nadia pelan, tetapi penuh penekanan.


Vidi malah terkekeh. "Aku nggak mabuk, aku sepenuhnya sadar Nad! Jujur sama aku. Jangan dipendam," ujar Vidi lagi tidak menyerah.


Nadia sampai tidak habis pikir dengan Vidi. Gara-gara barang haram itu, Vidi jadi seperti ini. Sejujurnya, Nadia sedih dan kecewa dengan apa yang menimpa Vidi, Nadia juga prihatin atas keadaannya. Namun, Nadia juga marah kenapa Vidi masih terus memiliki perasaan yang tidak seharusnya padanya!


"Vid, aku sungguh baik-baik saja. Lebih baik dari setahun atau dua tahun yang lalu. Kamu jangan melihat dari sudut pandang kamu terus, Vid. Kita sudah pilih jalan hidup masingmasing, kamu dengan pergaulan yang salah itu, dan aku dengan pilihan untuk menikahi lakilaki yang bisa aku percaya," jelas Nadia dengan susah payah.


Vidi menundukkan wajahnya, terisak-isak dan berlutut di hadapan Nadia.


Nadia mendecih, ucapan Vidi terdengar sangat lucu di situasi genting sekarang ini.


"Kenapa ... kenapa gampang banget kamu nikah sama laki-laki itu!" ucap Vidi tak terima. "Susah Vid, jelasin sesuatu sama orang yang logikanya nggak dipakai kayak kamu."


•••


Nellie sudah selesai mendapatkan pertolongan UGD. Ia mengalami luka bakar di bagian kaki yang lumayan parah serta luka bakar di bagian bahu kanan. Sementara luka di kepala, disebabkan oleh reruntuhan atap yang menimpa Nellie ketika ia berusaha menyelamatkan diri. Nellie mendapatkan jahitan pada luka di kepalanya itu dan juga pengobatan cepat pada luka-luka bakarnya.


Kini Nellie masih dalam pengaruh obat bius. Namun, ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan umum hingga kesadarannya kembali. Chandra sebagai wali beberapa pasien yang menjadi korban kebakaran berkunjung ke tempat Nellie dirawat, pria itu melirik jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Kepalanya berat sekali, seperti mau pecah setelah dua hari dua malam berturut-turut tidak tidur.

__ADS_1


Chandra melihat Nellie dengan rasa iba tersirat di wajahnya yang dingin, gadis itu tertidur dengan damai dan tenang, wajahnya masih menyisakan kotoran asap dan juga debu. Saat Chandra hendak berbalik, Nellie justru menarik tangan pria itu, seketika tubuh Chandra terdiam di sana.


Nellie tersenyum dipaksakan, ia tidak peduli rasa perih dan luka bakar yang dideritanya. Dengan keadaan seperti ini, justru ia bisa merasakan kehadiran Chandra yang berusaha melindunginya.


Chandra berbalik ke arah Nellie dan menepis tangan gadis itu.


"Terima kasih...," ucap Nellie dengan nada lembut.


Chandra tidak menanggapinya sama sekali.


"Saya tahu, kamu akan menyelamatkan saya," tambah Nellie dengan suara serak, ia takut Chandra buru-buru pergi meninggalkannya. Chandra masih menatapnya dengan datar tanpa ekspresi yang berarti.


"Tadi ... kamu membentak saya, wajah lama itu muncul lagi. Chandra, apa benar kamu sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap saya?"


Saat Nellie masih menunggu ucapan Chandra, seorang dokter dan perawat memasuki ruang rawat inap tersebut, sehingga Chandra segera menyingkir dari sisi tempat tidur untuk memberikan jalan bagi para petugas medis.


"Mohon maaf, Pak. Pasien harus istirahat. Bapak juga silakan untuk menandatangani dan memeriksa data pasien di bagian administrasi," jelas dokter pada Chandra.


Chandra mengangguk, dia segera menuju bagian administrasi untuk memeriksa kembali data milik Nellie. Pria itu dengan mudah mengisi formulir tentang Nellie di atas kertas, Chandra juga sangat mengenal Nellie bahkan sampai pada tinggi dan berat badan wanita itu. Bahkan Chandra juga mengisi pertanyaan kolom alergi yang dialami Nellie yang semula dibiarkan kosong. Dia juga menambahkan penyakit sesak napas Nellie yang sering kambuh bila di tempat terlalu panas atau dingin.


Hati mungkin melupakan dan bisa tergantikan, tetapi nyatanya tubuh Chandra tidak semudah itu membantah untuk menghilangkan Nellie di antara kenang-kenangan. Kini, Chandra merasa bersalah dengan duduk di kursi kedai rumah sakit yang sudah tutup. Hanya ada penjual kopi yang masih melayani pembeli yang sudah mulai sepi. Chandra memesan segelas kopi dan termenung di tempatnya. Pakaiannya benar-benar kotor karena dia belum sempat membersihkan diri, tangan dan kedua kakinya pun demikian. Chandra menutup wajah dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja rasa bersalah itu berubah menjadi tetesan air mata.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2