
Flora tersontak kaget dengan ucapan Charles, ia hanya bisa diam tidak membuka mulutnya.
"Menikahlah denganku, Flora," pinta Charles dengan tegas. Seraya menatap wajah terkejut Flora.
"Tidak, ini tidak benar." Flora bangun dari tidurnya dan memilih untuk duduk bersandarkan pada kepala ranjang.
"Yang kau katakan itu salah, Charles. Kau seharusnya tidak berbicara seperti itu,“ lanjutnya.
"Aku menginginkanmu, Flo." Charles duduk berhadapan dengan Flora.
"Kau itu tunangan Renatta. Temanku! Aku mohon kepadamu, jangan membuat hubunganku dengannya menjadi berantakan hanya karena seorang pria. Aku tidak ingin kejadian yang menimpaku waktu itu dirasakan juga oleh Renatta. Sudah cukup Charles."
Charles tersenyum miring dengan tatapan yang tidak sedetik pun beralih dari Flora.
"Aku tidak mencintainya. Aku bertunangan dengannya karena paksaan, mana mungkin aku bisa menikah dengannya? Jika itu terjadi, aku pastikan Renatta tidak akan bahagia bersamaku," ucap Charles dengan tenang.
"Paksaan? Tapi kau pernah tidur dengannya. Apa kau gila? Apa kau sadar dengan ucapanmu?" tanya Flora dengan nada yang meninggi.
"Benar, aku memang pernah tidur dengannya. Dan juga dengan beberapa wanita lain, aku memang pria yang berengsek. Namun aku bersumpah tidak akan lagi menyentuh wanita lain selain dirimu," ungkap Charles. Tidak ada kebohongan.
Flora tersenyum miris. "Hentikan omong kosongmu, Charles!"
Flora merasakan hatinya serasa diremas ketika mendengarkan ungkapan Charles. Dia benci pria itu. Sungguh. Namun hal itu tidak bisa menghilangkan perasaan Flora terhadap Charles. Hal itu membuat Flora semakin tersiksa.
"Ingat perkataanku, aku benar-benar akan menikahimu Flo. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan peduli." Tegas Charles.
"Jangan bermimpi! Aku tidak akan pernah menikah denganmu. Banyak pria lain yang lebih baik darimu, yang lebih bisa mencintaiku dan menghargaiku. Tidak sepertimu yang hanya menginginkan tubuhku," kata Flora dengan sinis.
Rahang Charles menegang. "Lihatlah suatu saat nanti, kau akan tahu apa yang kau rasakan. Dan kau akan menyadari jika kau sebenarnya mencintaiku. Bahkan aku bisa membuat kau mencintaiku dengan sangat mudah."
"Terserah apa katamu, pergilah dari sini, aku ingin beristirahat."
Charles menatap lekat wajah Flora beberapa saat sebelum ia benar-benar pergi dari apartemen Flora. Selepas Charles pergi, tidak terasa air mata Flora turun membasahi kedua pipinya. Namun, Flora bergegas untuk menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
***
Sudah 3 hari dari kejadian malam itu, Charles menghilang. Pria itu tidak lagi mendatangi apartment Flora atau hanya sekedar memberi kabarpun tidak dia lakukan. Hal itu membuat Flora sedikit kecewa dan dia merasa seperti ada yang hilang, setidaknya ia ingin melihat wajah Charles walaupun hanya untuk beberapa detikpun tidak masalah. Namun kenyataannya Flora sama sekali tidak bertemu dengan Charles. Bahkan sudah 3 hari ini Thomas tidak mengantar-jemput Flora, oleh karena itu terpaksa Flora harus menggunakan Transportasi Umum.
"Flora."
"Flora!"
Flora terkesiap dan mencari sumber suara yang memanggil namanya itu.
"I-iya, Glen. Ada apa?"
__ADS_1
Glen yang sedang berdiri di ambang pintu ruang karyawan pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Flora yang sedang duduk disalah satu kursi.
"Kau tidak makan? Ini sudah jam istirahat, tapi kau hanya melamun. Ada apa sebenarnya? Apa ada masalah?" tanya Glen penasaran yang saat ini duduk berhadapan dengan Flora.
"Aku tidak lapar. Aku juga tidak apa-apa Glen," jawab Flora tersenyum manis.
"Apakah ini tentang Charles? Kau memiliki masalah dengannya?" tebak Glen.
"Oh my God tidak ada hubungannya dengan dia. Memangnya dia siapa?" Flora memutar kedua bola matanya.
"Aku mengenali Charles, Flo. Dan aku tahu jika Charles memiliki perasaan terhadapmu."
"Are you crazy? Dia itu tunangannya temanku, mana mungkin kau berpikiran seperti itu!" Flora tidak habis pikir terhadap Glen.
"Yeah, I know. Dia memang telah bertunangan dengan temanmu, tapi aku yakin jika dia memiliki perasaan terhadapmu," goda Glen.
"Sudah cukup Glen, aku tidak habis pikir olehmu." kesal Flora, sedangkan Glen hanya tertawa melihat reaksi dari Flora.
"Oke oke, aku pergi!" pamit Glen keluar dari ruang karyawan.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam, Flora baru saja selesai membereskan restaurant. Ia pun bergegas untuk pulang, tetapi ketika ia baru saja keluar dari restaurant, ada seseorang yang mencegahnya.
"Flora!"
"Flora aku mohon dengarkan aku terlebih dahulu."
"Lepaskan! Aku tidak ingin berbicara denganmu!" sentak Flora.
"Aku benar-benar minta maaf atas perilakuku terhadapmu waktu itu, aku tahu aku salah. Aku tidak bisa mengontrol nafsuku waktu itu, aku mohon dengarkan aku Flo," mohon Morgan yang masih saja menahan lengan Flora. Sedangkan Flora memberanikan diri untuk menatap wajah Morgan tanpa mengatakan sesuatu.
"Aku akan mengantarmu pulang," tawar Morgan.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," sahut Flora dengan sinis.
"Aku bersumpah tidak akan melakukan hal yang macam-macam terhadapmu, Flo. Percaya padaku, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Ini sudah malam." Morgan menatap Flora dengan penuh harap. Sedangkan Flora terdiam, apakah dia harus percaya atau tidak kepada lelaki itu.
"Ayo, Flo." Morgan menuntun Flora untuk masuk ke dalam mobilnya, Flora pun menurut dan tidak protes.
Suasana di dalam mobilpun menjadi hening, tidak ada yang berbicara. Yang terdengar hanya suara mesin, sebelum Morgan memulai pembicaraan.
"Di mana kau tinggal? Beberapa hari yang lalu aku datang ke asrama, tapi yang tinggal di kamarmu itu adalah orang lain."
"Aku sudah tidak tinggal lagi di sana. Aku tinggal di use Apartment," jawab Flora dingin.
__ADS_1
Morgan hanya menganggukkan kepalanya, suasana pun menjadi hening kembali.
Setelah sampai di apartment Flora bergegas untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Sesuai dengan perkataannya, Morgan tidak melakukan hal yang macam-macam kepada Flora. Namun, Flora merasakan jika dirinya dan Morgan tadi bersikap canggung, dan itu sungguh membuatnya tidak nyaman.
Saat ini Flora sedang duduk di sofa dekat jendela kaca, sudah menjadi kebiasaanya ketika dia pulang bekerja Flora selalu duduk di sofa itu untuk melihat pemandangan di luar jendela tersebut.
Beberapa kali Flora mengecek ponselnya, tetapi masih saja tidak ada pesan ataupun telepon dari Charles. Flora akui saat ini dia merindukan pria itu, bahkan dia sedikit menyesal karena sebelumnya ia sempat adu mulut dengan Charles, karena Flora yakin, jika saat ini Charles sedang marah kepadanya akibat kejadian pada malam itu.
Karena merasa kesal, Flora membuka social media miliknya. Flora melihat-lihat story milik orang lain, terkadang ia merasa iri terhadap orang lain yang terlihat selalu bahagia, sedangkan dirinya? Bukannya tidak mensyukuri atas kehidupannya, tetapi Flora ingin merasakan kebahagiaan yang sudah lama menghilang dalam hidupnya. Sehingga ia lupa bagaimana rasanya bahagia itu, karena selama ini ia hanya selalu menampilkan kebahagiaan yang palsu. Tentunya kebahagiaan Flora menghilang dari beberapa tahun yang lalu, tepatnya setelah ia tahu tentang hubungan gelap Morgan dan sahabatnya, Renatta.
Tiba-tiba Flora terdiam, ia melihat salah satu story yang membuat hatinya serasa diremas. Story milik Renatta, di mana isi story itu Renatta sedang berada di salah satu club bersama dengan Charles yang terlihat sedang meminum alcohol, selain itu Renatta tidak henti-hentinya menghujani wajah Charles dengan ciuman. Mata Flora berkaca-kaca, rasanya sangat sakit dan tidak terima melihat Charles dan Renatta, rasanya Flora ingin sekali menjadi orang jahat yang ingin merusak hubungan Charles dan Renatta. Namun, apa daya, Flora tidak bisa melakukan hal tersebut.
Setelah melihat story Renatta, Flora menyingkirkan ponselnya yang ia lempar ke meja, Flora sangat kecewa kepada Charles yang hanya mempermainkannya.
***
"Flo, kau terlihat pucat. Apa kau sedang sakit?" tanya Anin.
"Tidak, mungkin karena warna lipstikku yang berbeda," sahut Flora.
"Benarkah? Syukurlah jika kau baik-baik saj-"
"Good morning!"
"Waw, kau terlihat sangat segar dan bahagia pagi hari ini," ucap Anin.
"Good morning Re," balas Flora tersenyum.
Renatta duduk berhadapan dengan Flora dan Anin. Terlihat dari raut wajah Renatta, jika dirinya sedang bahagia. Sangat berbeda dari biasanya yang selalu terlihat murung.
"Kau tahu, sudah beberapa hari ini Charles selalu meluangkan banyak waktu untukku. Bahkan tadi dia mengantarku ke kampus, dia juga menyuruhku untuk mengabarinya ketika aku akan pulang. Aku benar-benar sangat bahagia sekali, akhirnya Charles bisa berubah dan lebih memperhatikan aku," ungkap Renatta bahagia.
"Benarkah?" tanya Anin dengan sesekali melirik ke arah Flora. Sedangkan Flora hanya menatap kosong ke arah Renatta dengan sedikit senyuman yang terhias di wajah cantiknya.
"Benar! Mana mungkin aku berbohong kepada kalian. Bahkan nanti malam aku dan keluargaku akan pergi ke Brooklyn untuk makan malam bersama dan membicarakan soal pernikahan kita."
Deg.
Rasanya Flora sangat tidak rela mendengar kabar bahagia itu, bahkan ia menganggap jika itu adalah kabar buruk baginya. Di saat dia sudah mulai mencintai Charles, lelaki itu malah menjauhinya dan sekarang ia akan benar-benar menikah dengan Renatta, Temannya sendiri. Sungguh sangat menyakitkan.
"Syukurlah, aku ikut bahagia Re," kata Flora tersenyum manis. Walaupun di balik senyuman itu ia menyimpan kesakitan yang teramat dalam.
"Terimakasih Flo, aku sudah tidak sabar untuk melihat kalian menjadi bridesmaidku nanti," ungkap Renatta.
Anin tidak sedikitpun berbicara, ia fokus memperhatikan Flora. Karena ia tahu apa yang sedang Flora rasakan saat ini, walaupun Flora tidak bercerita apa pun kepadanya. Namun Anin mengetahui semuanya, karena ia tahu jika Flora tidak bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Hanya melihat dari mimik wajahnya pun Anin sudah tahu jika Flora sedang memiliki masalah dan juga dia sedang berusaha menutupi kesedihannya.
__ADS_1