
Waktupun berjalan dengan sangat cepat. Tidak terasa, lusa Flora akan melaksanakan pernikahannya dengan Charles. Sudah dari beberapa hari yang lalu, Flora memang sudah tidak kuliah. Karena itu permintaan dari Charles. Dia tidak ingin Flora merasa terbebani oleh tugas kuliahnya saat menjelang acara pernikahannya.
"Flo, mau ke mana?" tanya Nadia.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Flora yang sudah rapi dengan pakaiannya berniat untuk keluar dari apartemennya untuk bertemu dengan Anin dan Renatta. Walaupun ia sudah dilarang oleh Anin, tetapi Flora tidak peduli. Ia memaksa Anin untuk bertemu. Ia ingin bertemu dengan temannya sebelum hari pernikahannya.
"Aku akan bertemu dengan Anin dan Renatta, Ma."
"Lebih baik kamu di rumah saja, Flo. Biarkan Anin dan Renatta yang datang ke sini."
Flora mengembuskan napasnya secara kasar. "Anin sedang dalam perjalanan untuk menjemputku, Ma!"
Nadia terlihat sedang berpikir sejenak. "Baiklah jika begitu, berhati-hatilah. Jangan pulang terlalu malam!" ucap Nadia.
"Okay." Flora mengecup pipi kanan Nadia sebelum keluar dari apartemen.
Flora dengan semangatnya melangkahkan kaki menuju lantai dasar apartemen. Ia akan menunggu Anin di depan loby.
Gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum hanya karena membaca pesan dari Charles. Pria itu ternyata memiliki sisi yang humoris dibalik ketegasannya itu. Sesekali Flora mendongakkan kepalanya untuk memastikan jika temannya itu sudah datang atau belum. Namun, temannya itu belum saja datang. Sehingga Flora kembali fokus untuk memainkan ponselnya kembali.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang berhenti di hadapannya, Flora segera mendongakkan kepalanya dengan senyuman manis yang terhias di wajah cantiknya.
***
Charles baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Dengan bertelanjang dada, ia menghampiri nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Ia meraih ponselnya.
"Yang benar saja, dia hanya membaca pesanku? Awas saja kamu Flora!"
Dia segera menelepon gadis itu, Charles akan memarahinya karena telah berani mengabaikan pesannya.
Terdengar suara nada sambung. Namun, Flora tidak kunjung mengangkatnya. Lagi-lagi Charles meneleponnya, ia semakin kesal kepada Flora. Masih tidak ada jawaban dari gadis itu. Charles pun masih keras kepala untuk menelepon Flora, tetapi kali ini dia merasa gelisah. Entah apa yang membuat pria itu amat gelisah seperti ini.
Baru saja nada sambung terdengar satu kali, terdengar ada yang menjawab panggilan itu.
"Flora! Kamu ke man-"
"Mr.Alamo," sapa seseorang di seberang sana. Terdengar sangat lirih.
"Anin?" gumam Charles. Mengernyit.
__ADS_1
la semakin merasa gelisah, masih belum menemukan jawaban dari kegelisahannya ini.
"Di mana Flora? Kenapa kau yang mengangkat telpon dariku?" tanya Charles.
Hanya terdengar suara napas Anin di seberang sana. Beserta... isakan. Isakan?!
"Anin! Jawab pertanyaanku! Di mana Flora?!" bentak Charles tidak sabar.
"F-flora menghilang, Charles!" jawab Anin dengan suara yang bergetar menahan isakannya.
Charles mencengkeram ponselnya dengan sangat erat. Matanya memerah dengan sorotan mata yang sangat mematikan.
"Apa maksudmu? katakan sekali lagi!" geram Charles menahan amarahnya.
"TIDAK, PA! INI SALAH MAMA! SEHARUSNYA MAMA TIDAK MENGIZINKAN DIA KELUAR!" jerit Nadia menangis.
Hal itu membuat Charles semakin yakin, jika yang dikatakan oleh Anin adalah benar. Ia segera berlari ke walk in closet untuk memakai pakaiannya. Setelah ia menutup panggilannya.
Tubuhnya bergetar, kakinya terasa lemas, detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Ia tidak kuasa, dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi kepada Flora. Secepat kilat, Charles sudah memakai pakaiannya. Ia hanya memakai kaus putih polos dan celana jeans hitam. Charles segera berlari keluar dari kamarnya.
Ken yang melihat kondisi Charles yang berantakan pun mencoba untuk bertanya pada pria itu.
Charles menatap tajam wajah Ken. "Suruh semua orang berpencar untuk mencari Flora! Cari di setiap sudut kota, aku tidak ingin mendengar hal buruk terjadi padanya! Jika tidak satupun di antara kalian yang bisa menemukan Flora, aku akan membunuh kalian semua! Mengerti?!" teriak Charles hilang kendali. Ia segera berjalan melewati Ken.
"Biar saya saja yang mengantarmu Tuan. Tidak baik jika Anda harus mengendarai mobil dengan keadaan kalut seperti ini. Saya akan segera memberi perintah kepada semua orang!" ucap Ken. Untungnya Charles mau menurut kepada Ken. la segera berjalan dengan tergesa. Napasnya kembang kempis, saat ini tujuannya adalah dia harus ke apartemen Flora.
"Bisakah kamu lebih cepat, hah?!" bentak Charles kepada Ken. Ken sudah tidak aneh dengan sikap Charles yang sering membentaknya. Namun, kali ini Charles berbeda, ia seperti bukan dirinya. Pria itu terlihat sangat hancur dan berantakan, dan itu semua hanya karena wanita. Ken terenyuh dengan kekuatan cinta yang dimiliki oleh tuannya itu. Dia tidak menyangka jika seorang Charles, bisa hancur juga karena cinta.
Ken semakin menaikan kecepatan mobilnya, ia sudah memberi perintah kepada anak buahnya untuk mencari Flora. Ken sangat mengetahui jika saat ini Charles benar-benar sangat frustrasi. Bagaimana tidak, lusa dia akan menikah, dan wanita yang dicintainya malah menghilang. Itu pasti menjadi pukulan yang keras bagi Charles.
15 menit kemudian mobil Charles sudah terparkir di halaman apartemen Flora.
Pria itu segera keluar dari mobil, dan berlari masuk ke dalam apartemen, yang tentu saja dibuntuti oleh Ken, yang selalu setia ada di belakangnya.
Sesampainya di depan pintu apartemen Flora yang terbuka, Charles segera masuk ke dalam apartemen itu. la bisa melihat, di sana terdapat Nadia yang sedang menangis beserta Chandra dan Anin yang mencoba untuk menenangkannya. Dan juga... Renatta yang sedang menatapnya dengan penuh keterkejutan. Namun, Charles tidak mempedulikan wanita itu.
"Charles," lirih Nadia sambil terisak. Saat melihat kedatangan Charles.
Charles segera menghampiri Nadia yang sedang duduk di sofa, pria itu bersimpuh di hadapan Nadia. Charles menggenggam tangan Nadia dengan sangat erat.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, Dad? Apa yang terjadi?" tanya Charles dengan nada yang rendah.
"Flora hilang Charles, kami hanya menemukan ponsel miliknya saja!" jawab Chandra.
Charles semakin erat menggenggam tangan Nadia.
"Ini salahku Charles! Seharusnya aku tidak membiarkan dia keluar. Ini salahku!" Nadia semakin menangis. Ia sangat menyesal karena telah mengizinkan Flora keluar dari apartemennya.
"Tidak Mom. Ini bukan salahmu. Mommy tenang saja, aku pasti akan segera menemukannya. Bersabarlah Mom, Flora pasti baik-baik saja!" Charles mengelus pipi Nadia yang penuh dengan air mata. Ia mencoba untuk menenangkan wanita itu, walaupun sebenarnya dirinyalah yang sangat merasa tidak tenang. Dia berjanji akan menghancurkan siapapun orang yang telah menculik Flora.
Berbeda dengan Anin, dia mencuri pandang kepada Renatta yang duduk di seberangnya. Dia bisa melihat keterkejutan di wajah Renatta. Wanita itu terlihat bingung dan shock. Renatta terus saja menatap punggung Charles dengan banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.
"Flora hilang di mana?" tanya Charles.
"Di depan loby, Charles. Dia sedang menungguku dan Renatta. Padahal aku sudah melarangnya, tapi dia keras kepala ingin bertemu dengan kita!" sahut Anin.
"Apa sudah melihat cctv, Dad?" tanya Charles. Menatap Chandra.
Chandra menggelengkan kepalanya. "Tadi aku sempat ke sana, tapi mereka tidak membiarkan kami untuk melihat cctv. Mereka mengatakan jika hal itu sangat privasi. Yang boleh melihat, hanyalah petinggi atau pun orang yang memiliki wewenang di apartemen ini. Atau polisi. Sedangkan kita belum bisa melapor ke kantor polisi, karena kehilangannya belum 24 jam!" jelas Chandra.
Hal itu berhasil membuat Charles semakin murka. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras. "Berengsek!" umpat Charles.
"Mom, Dad, ayo! kita lihat cctv, agar kita bisa dengan mudah menemukan Flora." Charles menarik tangan Nadia untuk berdiri.
"Percuma Charles, kita tidak bisa masuk!" kata Chandra.
Charles tersenyum kecil. "Tenang saja Dad. Sekarang, ikutlah denganku!"
Chandra dan Nadia pun menuruti apa yang dikatakan oleh Charles. Anin pun berniat untuk mengikuti mereka. Namun, ketika ia akan keluar, Renatta segera mencekal lengannya.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Renatta tanpa basa-basi. Menatap Anin dengan tajam.
"Apa maksudmu?"
"Aku bertanya! Apa yang kalian sembunyikan dariku?!" teriak Renatta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mencoba untuk menepis segala pikiran negatif tentang Charles dan Flora.
Anin mengembuskan napasnya secara kasar.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal seperti itu!" kata Anin, sebelum menghempaskan cekalan Renatta. Setelah itu ia berlari untuk menyusul Charles dan orang tua Flora.
__ADS_1
Renatta yang terkejut dengan respon Anin, ia terdiam sesaat. Sebelum memutuskan untuk mengikuti mereka semua. Ia semakin merasa ada yang disembunyikan darinya.