Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 63


__ADS_3

Karena perasaan bahagia juga gemas terhadap perubahan yang ditunjukkan Chandra padanya. Di dalam perjalanan menuju ke rumah dinas Nadia tidak berhenti tersenyum, bahkan beberapa kali melakukan konser dadakan bersama Ong. Tentu hal tersebut membuat Ong beruntung karena bisa bernyanyi dengan idolanya sejak dalam pelatihan AKMIL dulu.


"Kelihatannya kamu senang banget ya, Nad, habis digombalin sama jenderal?" tanya Ong pada Nadia, yang kini sudah seperti sahabatnya sendiri.


Nadia terkikik, "Wah, emang kelihatan ya, Ong?" tanya Nadia dengan wajah bersemburat merah.


Ong mengangguk. "Bukan kelihatan lagi sih, Nad ... kelihatan banget malah."


"Hehehe ... ya, meskipun gombalannya agak norak sih. Tapi saya senang bisa buat Chandra nggak kaku kayak dulu."


"Emang jenderal itu kaku banget. Robot buatan Jepang aja kalah kakinya sama jenderal," ejek Ong tidak henti, memang Ong selalu semangat kalau sudah menemukan teman satu servernya dalam mengejek Chandra.


"Tapi, sejak dia nikah sama kamu nih, ya. Dia jadi gampang banget Nad, dibohongi hehe ...," tambah Ong dengan tawa kecil di bibirnya.


Nadia membulatkan kedua matanya. "Wah, yang benar? Hihi ... emang kamu bohongin apa? Emang biasanya nggak bisa?"


Ong mencebikkan bibirnya. "Dia itu kayak ... maaf ya Nad, kayak anjing pelacak. Pasti tahu aja sesuatu apa pun yang kita umpetin sampai hal kecil sedikit pun. Waktu itu, Yuta lupa cuci kaos aja, jenderal tahu."


Nadia tertawa mendengarkan cerita Ong tentang suaminya itu.


"Intinya, jenderal itu tukang ngatur, sampai jadwal cuci kaus kaki dan ****** ***** harus dibikin bagan."


"Haha ... yang benar kamu, Ong?"


"Iya, serius ... memangnya kamu nggak nemu kertas jadwal cuci gitu, di rumah?"


Nadia menggelengkan kepalanya dengan polos. "Enggak tuh."

__ADS_1


"Wah, pasti sudah dimusnahin sih, sama jenderal. Dia kebagian hari Selasa soalnya cuci-cuci begituan."


Nadia lagi-lagi tertawa mendengar dan melihat ekspresi wajah Ong yang kelihatan jengkel sekali karena jadwal cuci tersebut.


"Jenderal itu senior saya di AKMIL Nad, dan dia itu mentor saya. Bisa dibilang guru yang ngebikin saya jadi begini. Hmm ... saya juga yang paling lama tugas bareng dengan jenderal, sama kak Dio."


"Saya tuh tahu banget gimana jenderal, kamu kalau mau nanya apa-apa tentang jenderal, lewat saya aja Nad," tambah Ong dengan percaya diri.


Nadia tersenyum kecil, tiba-tiba rasa penasaran mengenai sesuatu muncul dalam kepala Nadia begitu saja. "Oh iya, Chandra itu... pernah punya pacar, nggak?"


Ong yang lagi enak-enakan nyetir tiba-tiba berekspresi kaku saat pertanyaan itu keluar dari mulut Nadia. Ong memaksakan senyumnya dengan kaku.


"Pernah sih, kayaknya," jawab Ong.


"Oh, mantannya itu ... gimana sih?" tanya Nadia lagi, gadis itu sangat penasaran soalnya. Kenapa juga Nadia ingin tahu masa lalu suaminya. Entahlah, tiba-tiba terlintas perasaan ingin tahu mengenai hal itu. Bukannya Chandra pernah mengatakan bahwa sebagai sepasang suami istri, mereka semua harus tahu latar belakang masing-masing.


"Mantannya itu perempuan Nad, hehe ...."


-jungnya. Cukup tahu aja, kalau mantannya Chandra itu perempuan. Iya, 'kan?"


"Hehehe, iya!"


Nadia dengan malas melangkah memasuki pekarangan rumah dinasnya seorang diri, yang membuatnya malas bukan karena Nadia lelah, melainkan karena ada Vidi yang menunggunya dengan setia di teras rumah.


Vidi tersenyum, melambaikan tangannya pada Nadia. "Hai, Nad?" kata Vidi dengan ramah.


Nadia menghela napasnya dengan kasar. "Vid, kamu tahu ini di mana?"

__ADS_1


"Tahulah, ini di Flores, kompleks perumnas TNI AD," jawab Vidi cuek.


Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan isi kepala Vidi.


"Lama banget sih, Nad. Habis dari mana kamu?" tanya Vidi lagi penasaran.


Nadia mencari kunci rumah di dalam tasnya, dan kembali mendongak ke arah Vidi yang terus memperhatikannya sejak tadi tanpa kedip.


"Apa sih, Vid! Kamu tuh nggak pantes tahu nggak, nyamperin istri orang seenaknya!"


Vidi terkekeh, tetapi raut wajahnya tidak berubah, masih memelas dan berharap Nadia sekali saja melihat ke arahnya seperti dulu. Seperti saat mereka pacaran.


"Kamu bisa Nad, ngomong kayak gitu sama aku? Apa kamu juga pantes dengan status calon istri aku, justru menikah sama laki-laki lain? Pantes?!" bentak Vidi pada Nadia.


Nadia terdiam dan menatap Vidi dengan pandangan sangat terluka. Kedua mata Nadia kini berkaca-kaca, siap-siap air mata meluncur deras membuat Vidi mengangkat tangannya untuk mengusap bulir bening itu.


Nadia menepis tangan Vidi dengan kasar, dan Vidi patah hati untuk ke sekian kali serta diliputi rasa bersalah.


"Bisa Vid! Sangat bisa!" tekan Nadia dengan suaranya yang tertahan untuk tidak meledak.


Nadia mendapatkan kunci rumahnya dan segera membuka pintu rumah tersebut dengan buru-buru. Lalu menutup serta menguncinya rapat-rapat agar Vidi tidak mengganggunya.


Vidi menggedor pintu, memohon-mohon di luar dengan kata-kata maaf yang sama sekali tidak berguna sebenarnya.


"Nad, aku mohon balik ke Bandung, Nad ... kita ulang semuanya dari awal. Kita bilang kalau selama ini kamu setingan doang sama tentara itu! Nad! Bisa gila aku, Nad!"


Nadia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, menangis karena jengkel dengan kata-kata menyakitkan yang Vidi berikan untuknya. Nadia sebenarnya tidak tega melihat Vidi memohonmohon padanya. Sebab, pada dasarnya Vidi adalah orang baik dan selalu memperlakukan Nadia dengan penuh perhatian selama mereka menjalin hubungan dulu. Akan tetapi, rasa kecewa yang Vidi berikan tentu tidak akan pernah ter maafkan dan akan tetap membekas bagi Nadia dan keluarganya.

__ADS_1


Bersambung ....


850+ kata, segitu dulu ya, besok aku usahain aku double up. Jangan lupa like, komen, dan votenya.


__ADS_2