
Charles terlihat sedang menahan amarah, wajahnya tegang dengan rahang mengeras dan sorotan matanya yang tajam.
Pria itu melangkahkan kakinya menghampiri Flora, yang tiba-tiba ketakutan melihat sikap Charles
"Kau sedang apa?" Charles menatap Flora secara datar. Tidak ada sedikitpun senyuman di wajah pria itu.
Flora terdiam menatap pria yang sedang berdiri di hadapannya, ia merasa jika Charles sedikit berbeda.
Wanita itupun bangkit dari duduknya dan melewati Charles begitu saja. Namun, pria itu mencengkeram kuat lengan kiri Flora yang membuat wanita itu meringis.
"Mau ke mana? Ini sudah malam, tidurlah!" Lagi-lagi Charles menunjukkan wajahnya yang menyeramkan, membuat Flora ketakutan. Terlebih saat ia menatap kedua bola mata Charles yang sedang menatapnya tajam seperti elang.
"Aku akan tidur di luar," sahut Flora dingin.
Charles menghela napasnya. Ia menarik Flora dan menghempaskannya pada tempat tidur king sizenya. Charles segera naik ke ranjang dan merengkuh tubuh Flora ke dalam pelukannya.
Tentu saja hal itu membuat Flora memberontak. Namun, pria itu tidak sedikitpun melepaskan pelukannya.
"Lepaskan!" teriak Flora.
"Sudah kukatakan tidurlah, Flo," lirih Charles.
"Kau itu selalu mengaturku! Kau tidak punya hak untuk melakukan hal tersebut." Flora meluapkan kekesalannya yang ditanggapi biasa saja oleh Charles.
Secara kasar Flora melepaskan diri dari pelukan Charles, dan ia beranjak dari ranjang berniat untuk keluar dari kamar.
"Stop, Flora!" teriak Charles.
Flora hanya terdiam dan terus melangkahkan kakinya hingga di ambang pintu kamar.
Charles menghela napas secara kasar, lalu bangun dari tidurnya.
"Kau memang keras kepala, Flora!" Charles berjalan menghampiri Flora.
"Aku yang akan keluar, kau tetap di sini," ucap Charles rendah, tetapi terdengar menyeramkan.
Brakkkk!
Lagi-lagi Flora terkesiap oleh dentuman pintu yang sangat keras. Ia tahu jika saat ini Charles sedang marah kepadanya. Tapi ia tidak peduli, karena Flora tidak ingin tunduk kepada semua perintah pria itu.
Flora melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, entah kenapa tiba-tiba ia mengeluarkan air mata berharganya.
***
Setelah Charles mengantar Flora ke kampus, pria itu segera pergi ke kantornya. Tentu saja awalnya Flora sangat menolak saat ia tahu jika Charles akan mengantarnya, tetapi lagi-lagi ia kalah oleh pria itu. Maka Flora terpaksa diantar olehnya.
Flora sudah memutuskan ia tidak akan kembali ke tempat pria itu. Ia sudah membawa barang penting dan beberapa pasang baju untuknya yang ia masukkan ke dalam tas kuliahnya. Sedangkan ia meninggalkan sisa pakaian dan barangnya di penthouse, ia sudah tidak peduli. Yang penting ia bisa keluar dari tempat itu.
"Flora!" teriak Anin yang membuat Flora kembali ke kesadarannya.
"Renatta mana?" tanya Flora saat menyadari jika temannya itu sudah tidak ada.
"Kau sedang memikirkan apa? Renatta tadi sudah berpamitan untuk pergi menemui tunangannya, karena tunangannya itu belakang ini susah untuk dihubungi," jelas Anin yang dibalas oleh anggukkan Flora.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau melamun? Dihubungi pun selalu susah," ujar Anin.
Flora menatap Anin dengan sendu. Yang membuat Anin semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada temannya itu.
"Beasiswaku dicabut," kata Flora lirih.
"What? Kenapa bisa?" teriak Anin.
Flora pun menjelaskan semuanya kepada Anin, kecuali tentang dirinya yang tinggal di tempat Charles.
"Kenapa kau tidak minta bantuan saja kepada Renatta?" tanya Anin.
Flora mengernyit tidak mengerti.
__ADS_1
"Dengar, Muse Scholarship Fund itu berada di bawah naungan Muse enterprises Holdings. Dimana, itu adalah perusahaan milik tunangannya Renatta, La Charles Alamo adalah CEO dari perusahaan itu. Jika kau meminta bantuan kepada Renatta bisa saja dia berbicara kepada Charles dan mengembalikan beasiswamu Flo," usul Anin.
Berbeda dengan Flora, ia begitu bodoh hingga baru menyadari jika beasiswanya memang sengaja dicabut oleh Charles, setelah mengingat perkataan Charles.
"Kau tidak bisa tinggal lagi di sana, karena kau bukan lagi mahasiswi yang memenuhi kriteria untuk tinggal di asrama itu." Charles menatap Flora dengan seringai di wajahnya.
"Maksudmu?" tanya Flora penasaran.
"Coba cek ponselmu.“
Pria itu memang sudah merencanakan ini semua, dan hal itu membuat Flora semakin yakin untuk pergi dari tempat pria licik itu. Ia tidak akan mau kembali ke penthouse milik Charles.
"Flora? Bagaimana? Kau mau minta bantuan kepada Renatta?" tanya Anin.
"Tidak perlu, Mrs. Monica sedang mencari yayasan penyumbang beasiswa lain untukku.“
"Lalu kau tinggal di mana sekarang? Kau tinggal bersamaku saja, ya?" tawar Anin.
"Bolehkah? Hanya untuk sementara waktu," tanya Flora karena saat ini ia memang sedang tidak memiliki uang yang cukup untuk menyewa tempat.
"Tentu Flo, bahkan sampai kita lulus pun tidak masalah, bukankah orang tuaku pun sudah menyuruhmu untuk tinggal denganku?" kata Anin yang diangguki oleh Flora.
Memang benar, orang tua Anin sering menyuruhnya untuk tinggal bersama Anin, tetapi selalu Flora tolak. Namun, saat ini ia memang sedang membutuhkan tempat tinggal.
"Nin, sepertinya aku membutuhkan pekerjaan untuk bisa membiayai kuliahku," ucap Flora.
"Haruskah? Jika kau mau aku memiliki teman yang mempunyai sebuah restoran. Aku bisa berbicara kepadanya," kata Anin.
"Iya, aku mau, Nin. Terima kasih, kau benar-benar sahabat terbaikku." Flora memeluk erat temannya yang dibalas juga oleh Anin.
"Inilah gunanya seorang sahabat!" seru Anin yang diangguki oleh Flora.
***
Charles sedang membaca beberapa berkas di mejanya sebelum Cathrina mengetuk pintu.
"Suruh dia masuk," pinta Charles tanpa mengalihkan fokusnya dari berkas yang sedang ia pegang.
Cathrina pun mempersilahkan Renatta untuk memasuki ruangan tuannya.
"Sayang, kau ke mana saja sih?" Renatta menghampiri Charles dan mencoba untuk mencium bibirnya, tetapi Charles menghindarinya.
"Belakangan ini aku sedang sibuk mengurusi anak perusahaan yang sedang ada masalah, jadi aku tidak ada waktu untuk mengabarimu," ujar Charles berbohong.
Renatta pun duduk di pangkuan Charles memainkan jambang milik pria itu.
"Kau tahu, aku merindukanmu Charles," kata Renatta dengan suara yang dibuat seksi.
Charles tidak membalas ucapan Renatta.
"Kapan kau akan menikahiku?" tanya Renatta.
"Kau masih kuliah." Charles memejamkan mata seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesaran miliknya.
"Tidak masalah bukan? Aku masih tetap bisa kuliah. Bukankah Mom dan Daddymu ingin cepat-cepat kita menikah?" Renatta mengecup rahang keras Charles.
"Tapi aku tidak, aku belum siap," sahut Charles.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Sam." Renatta menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.
"Kembalilah ke kampus, bukankah kau ada kelas saat ini?" Alih pria itu menatap wajah Renatta.
"Dosennya berhalangan hadir, jadi aku bisa bersamamu."
"Setelah itu, apa masih ada kelas lagi?" tanya Charles.
"Iya ada nanti pukul satu," jawab Renatta, yang kini sedang menyandarkan kepalanya pada dada bidang Charles.
__ADS_1
***
"Hallo Anindya," sapa seorang pria muda.
"Oh hei, Glen." Anin memeluk Glen.
Sedangkan Flora hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Glen perkenalkan dia Flora, orang yang aku ceritakan di telpon tadi," ucap Anin.
"Oh hei Flora, saya Glen." Pria itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Flora.
"Nice to meet you Glen, Anin banyak bercerita tentangmu," kata Flora.
"Benarkah? Apa dia menceritakan hal yang buruk tentangku?"
Flora dan Anin hanya terkekeh yang disusul oleh Glen dengan tawaannya.
"Bagaimana Flora, apa kau serius ingin bekerja di sini?" tanya Glen meyakinkan dan duduk berseberangan dengan Flora dan Anin.
"Tentu Glen, aku membutuhkan pekerjaan ini."
"Kapan kau siap bekerja? Apakah besok kau sudah siap?" tanya Glen. "Iya aku siap Glen." Flora menatap Glen dengan penuh binar.
"Baiklah besok kau mulai bekerja di sini." Glen tersenyum manis.
"Terima kasih Glen, aku akan bekerja dengan sangat baik," ujar Flora semangat dengan senyum lebar.
Glen dan Anin terkekeh melihat semangat Flora.
Mereka pun melanjutkan dengan berbicara segala hal. Belum satu jam Flora dan Glen bertemu, tetapi mereka berdua sudah terlihat sangat akrab.
***
"Flora kenapa kau tidak ingin memberitahukan masalah ini kepada Renatta? Termasuk tentang kau yang saat ini tinggal bersamaku?" tanya Anin penasaran.
"Untuk saat ini jangan sampai dia tahu dulu, aku mohon kau dengarkan aku!" jawab Flora mamohon.
"Baiklah, tapi aku masih belum mengerti kenapa kau melakukan semua ini." Anin menatap tajam Flora mencari sesuatu.
"Akan ada waktunya kau tahu semuanya, tapi bukan saat ini," kata Flora.
"Lalu kenapa kau tidak menjawab telponmu dari tadi dan memilih untuk mematikan ponselmu?! Memang siapa yang menelponmu?"
Charles. Dia sudah beberapa kali meneleponnya, tetapi Flora tidak sama sekali menjawabnya, ia marah dan kesal kepada pria itu.
"Bukan siapa-siapa. Sudahlah, aku lelah!" Alih Flora.
"Ya sudah beristirahatlah, aku akan membersihkan diri dulu." Anin beranjak dari tempat tidurnya untuk menuju kamar mandi.
Sedangkan Flora merebahkan tubuhnya seraya menatap langit kamar, ia memikirkan nasib studinya. Apakah ia bisa membayar semua biaya studinya? Owhh... Flora sangat merindukan keluarganya, ia tidak ingin mengecewakan mereka. Flora akan berusaha untuk bisa menyelesaikan studinya dan membuat keluarganya bangga.
Beberapa menit kemudian Flora mulai mengantuk dan tertidur.
Drrill... Drrit... Drrt....
Flora terbangun dari tidurnya, ia terganggu oleh getaran ponsel Anin, yang berada di samping tubuhnya.
"Anin, ada yang meneleponmu!" teriak Flora.
"Sebentar!" Anin keluar dari kamar mandinya dengan rambut yang basah dan tubuh yang dilingkari oleh handuk. "Siapa, ya? Kok tidak ada namanya." Anin menatap bingung ponselnya.
"Jawablah, siapa tahu penting."
Anin pun menjawab panggilannya.
"Hallo."
__ADS_1
"Mr.Alamo?"