
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, bulan pun berganti menjadi tahun yang kembali mengawali harapan baru bagi setiap manusia di muka bumi. Pagi itu, Jenderal tengah menikmati sarapannya bersama Nadjen si kucing manis miliknya dan Nadia yang harus kembali ke Flores.
"Makan yang banyak, Nadjen ...," kata Chandra lembut.
Chandra menghela napasnya, dia juga memeriksa layar telepon dan Nadia belum menghubunginya lagi sejak semalam. Nadia tidak ikut dengan Chandra ke Flores karena masih terikat kontrak kerja dengan agensi yang menaunginya selama ini. Oh iya, ada kabar baik sekarang, Flores memiliki tower internet pribadi karena Nadia menyumbangkan penghasilan konsernya untuk pembangunan sekolah dan juga fasilitas murid agar lebih maksimal dalam mendapatkan ilmu pengetahuan lewat daring.
Flores begitu banyak berubah, meski begitu keindahannya tetaplah menjadi nomor satu bagi Nadia dan juga suaminya Chandra.
"Hayo! Ngelamun aja!" Ong tiba-tiba datang ke dapur, berhasil mengagetkan Jenderal yang jelas cukup terkejut dengan kedatangan anak buahnya itu.
Ong cekikikan saat melihat raut kusut Jenderal menatap jengkel ke arahnya.
"Hehe, maaf Jenderal ... hai, Nadjen!" sapa Ong pada kucing, dan duduk di hadapan Jenderal.
"Ada apa kamu sepagi ini kemari?"
"Mau main aja. Nggak boleh, ya?"
Chandra mendengkus. "Ong, saya mau marah sebenarnya sama kamu. Tapi Nadia melarang saya melakukan itu."
Ong cemberut. "Marah kenapa?"
"Ramuan khasiat keluarga kamu itu ...."
"Oh, itu saran ayah saya, Dan. Hehe, katanya hadiah karena Komandan sudah menjaga saya dengan baik. Makanya ayah saya memberikan itu sebagai hadiah untuk Komandan dan juga Nadia yang menanti momongan."
__ADS_1
Chandra tersenyum karena mendengar penjelasan Ong. Akhirnya Komandan itu tidak jadi marah. "Terima kasih banyak, obatnya sangat manjur. Sampai dua hari saya sama Nadia tidak keluar kamar."
Pipi Ong menggembung menahan tawa, karena dia takut menggoda Jenderalnya yang akan membuat Jenderal kembali marah.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Dan. Saya mau periksa kantor!" Ong kemudian ngibirit dari rumah Jenderal setelah menyampaikan sikap jahilnya itu.
***
Nadia bersama Vidi telah tiba di bandara Labuan Bajo tepatnya siang hari, dua orang yang merupakan mantan kekasih ini membuat geger jagat hiburan dengan kepergian keduanya menuju Flores untuk tujuan syuting. Sebenarnya ada puluhan kru yang datang bersama Vidi untuk menemani pria itu ke Flores, hanya saja Nadia dan Vidi tetap menjadi sorotan karena mereka kembali bekerja sama dan menjalin hubungan dekat seperti dulu.
"Nad, kamu mau aku temani nggak?"
Nadia menarik napasnya dalam-dalam, meskipun ia lelah setelah empat jam melakukan perjalanan, tetapi ia masih bisa tersenyum pada Vidi dan juga kru yang menemani Vidi. "Nggak perlu Vid, aku udah punya tumpangan dari sini. Ada anak buah suamiku yang jemput."
"Katanya ... kamu mau bikin kejutan. Terakhir kalinya Nad. Kamu mau aku anterin, ya?" bujuk Vidi dengan bibir mengerucut.
Vidi tersenyum. "Enggak lah. Yaudah, yuk!" seru Vidi, cowok itu pun menuntun Nadia menuju mobil yang disiapkan oleh kru di wilayah bandara. Meskipun Vidi masih sangat menyukai Nadia, pada akhirnya dia hanya bisa memendam perasaan itu sampai dia menemukan tambatan hati yang baru.
Di perjalanan, Nadia dan Vidi mengobrol layaknya teman lama yang dulu sangat akrab. Nadia yang dewasa dan Vidi yang sudah sadar akan perilaku buruknya dulu semasa berpacaran dengan Nadia, begitu serasi meski hanya dipersatukan dalam ikatan sahabat.
Vidi sesekali memandang Nadia yang tampak bahagia akan menemui suaminya lagi setelah hampir sebulan dipisahkan.
"Segitu senangnya ya, Nad, mau ketemu si cendol?" ejek Vidi.
Nadia melirik Vidi tidak suka. "Kok cendol sih?" tanya Nadia tak terima.
__ADS_1
"Hahaha ... iya cendol, pakai ijo mulu, terus namanya juga mirip-mirip sama cendol. Hahaha ...."
"Oh iya, Dokter Nellie masih tugas di Flores juga?"
Nadia tersenyum kecil. "Setahu aku dia tugas di Flores dua tahun Vid. Mungkin, dia masih ada di Flores."
"Hm, syukur deh. Aku belum sempat bilang makasih sama dokter Nellie. Dia pernah tolong aku waktu kambuh."
"Ya, Nellie emang baik banget. Dia satu-satunya teman aku selama tinggal di sini," kenang Nadia dengan sedih. Walaupun Nadia sudah lama tidak berkomunikasi lagi dengan Nellie, tetapi Nadia yakin kalau Nellie adalah orang yang sangat baik dan tulus padanya.
"Kamu beruntung Nad, dikelilingi sama orang-orang baik. Semoga kamu selalu bahagia, ya," ucap Vidi sembari tersenyum. Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah halaman rumah yang lumayan luas, rumah dinas milik Chandra yang tampak tak banyak berubah.
Nadia turun dari mobil diikuti oleh Vidi yang membawakan barang bawaan gadis itu. Nadia tersenyum lebar sekali ketika ia menyaksikan pekarangan rumah sudah dipenuhi dengan beragam macam tanaman bunga yang ia tanam dulu, kini halaman rumah tampak seperti toko bunga. Vidi juga mengikuti arah pandang Nadia, rumah itu sangat cantik meskipun berada di kawasan pedalaman dan berukuran kecil.
"Mau aku bawain ke dalam, Nad?" tanya Vidi lagi, menawarkan bantuannya pada Nadia yang membawa koper.
"Nggak perlu. Vid, maaf, ya. Aku nggak bisa tawarin kamu buat minum dulu. Aku mau langsung pergi."
"Loh, ke mana? Kamu harusnya istirahat, Nad."
"Hehe ... ada deh. Ngomong-ngomong, makasih banyak ya, udah mau anterin!" Nadia pergi begitu saja, padahal Vidi belum sempat membalas ucapan terima kasih wanita itu.
Vidi melihat Nadia pergi dengan semangat menuju bukit yang tak jauh dari rumah dinas. Nadia membawa tas ransel kecil, mengenakan sepatu dan juga celana pendek selutut dilengkapi dengan kaos pas badan. Semakin lama bayangan Nadia semakin jauh menaiki bukit tersebut.
Vidi menghela napasnya dengan lega, senyum tersungging di bibirnya. Memang benar, bahwa ikatan mencintai paling tinggi adalah dengan tidak harus memiliki seseorang yang kita cintai, melainkan membuat mereka bahagia dengan apa yang menjadi pilihannya. Inilah yang sedang coba Vidi lakukan.
__ADS_1
Bersambung ....
Hai, jangan lupa like, komen, dan beri hadiah ya.