
Setelah melaksanakan apel pagi di kantor dinas utama Flores, seluruh pasukan keamanan perbatasan tampak disibukkan membantu beberapa tim kesehatan yang akan melakukan pembagian vitamin serta konsumsi MP-ASI untuk balita yang akan dilaksanakannya program imunisasi di puskesmas. Karena tidak adanya posyandu dan tenaga medis yang kurang, tentu saja semua kegiatan yang menyangkut kesehatan masyarakat akan di laksanakan seluruhnya di puskesmas. Tempat di mana Nellie berada sebagai kepala dokter di sana.
Chandra mengangkat satu kardus besar alat-alat suntikan, sementara yang lainnya membawa kardus-kardus lain seperti obat-obatan, multivitamin dan juga cairan infus. Chandra menaruhnya di bagian dalam puskesmas yang tampak sudah dipenuhi oleh ibu-ibu yang mengantre sambil menggendong anak-anak mereka.
Nellie tampak tersenyum menyapa satu persatu calon pasiennya, ditemani dua bidan dan dua orang perawat. Pekerjaan Nellie hari ini akan terasa semakin berat.
Terlihat Ong dan Dio berbisik-bisik saat melihat Chandra dan Nellie tampak berdiri berdampingan. Si wanita tampak cantik dengan jas dokter, dan si laki-laki nampak tampan dan gagah dengan seragam perwira yang dikenakannya.
"Nadia marah nggak ya, kalau lihat adegan begini?" Ong bergumam sambil terus memperhatikan kelakuan jenderalnya.
Dio yang tidak sengaja menguping gumaman Ong hanya dapat tersenyum sinis. "Perempuan ya, pasti cemburu."
"Ck, kalau cemburu sih kayaknya enggak. Ini marahnya, loh! Nadia 'kan selama ini baik."
"Kenapa kamu mikirnya Nadia nggak bakal cemburu?"
Ong tersenyum kecut. "Emang Kak Dio nggak tahu kalau mantan pacarnya Nadia kemarin datang ke rumah? Kayaknya, Nadia sama jenderal itu sama-sama kena zona CLBK."
"Yang benar kamu?!" tanya Dio kaget.
"Iya, zona cinta lama belum kelar, hehe," jawab Ong polos ditambah cengiran.
Chandra itu sangat suka dengan anak kecil, terutama bayi dan balita-balita seperti ini. Di saat pekerjaan petugas medis keteteran dan banyak anak yang menangis maka Chandra dengan senang hati memangku salah satu balita berusia dua tahun di sana, balita laki-laki yang tampak menangis dan menjerit-jerit saat Nellie hendak memberikan suntikan imunisasi itu sedikit agak tenang saat Chandra menggendongnya.
"Coba, kamu turunkan sedikit," pinta Nellie tanpa segan pada Chandra.
Chandra menurunkan sedikit tubuhnya sehingga bayi dalam gendongan itu terjangkau oleh Nellie. "Tidak sakit, kok." beritahu Chandra pada balita dengan kaku.
Nellie tersenyum kecil mendapati sikap manis Chandra pada anak-anak.
"Meski, kubukan yang pertama ... dihatimu tapi cintaku terbaik untukmu ...." sepenggal lagu yang Ong nyanyikan pada saat perjalanan pulang menuju base camp membuat Chandra seketika menghentikan langkahnya.
Chandra tampak menoleh ke arah Ong yang ada di sampingnya, Ong nyengir. "Hehe, itu lagu, Dan!" jelas Ong.
Chandra susah payah menyembunyikan kegelisahannya sejak ditinggalkan Nadia, tapi apa lebih baik kalau dia cerita sedikit ya, pada Ong.
"Ong, apa sebaiknya saya cerita pada Nadia, ya?"
Ong yang sudah tahu, pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Cerita tentang apa memangnya, Dan?"
Chandra menarik napasnya. "Cerita, kalau saya dan dokter Nellie itu ... pernah punya hubungan khusus."
__ADS_1
Ong tampak berpikir, kenapa juga Ong jadi ikut bingung begini ya, dihadapkan pada rahasia jenderalnya.
"Saya, tidak mau memperkeruh suasana hubungan saya dengan Nadia. Beberapa hari setelah menikah, sepertinya mantan pacar Nadia masih sering menghubungi Nadia, dan rasanya tidak pantas kalau saya juga mendadak mendatangkan dokter ke dalam biduk rumah tangga saya."
"Hm, Dan. Biasanya, perempuan itu tidak suka rahasia-rahasiaan," celetuk Ong dengan sok bijak.
"Tapi, yang sedang kalian hadapi bukan rahasia, sih. Toh, sudah tidak ada hubungan apa-apa. Jadi, sebaiknya nggak perlu cerita kalau Nadia nggak nanya duluan."
Chandra manggut-manggut. "Oke, kalau Nadia tidak bertanya duluan tentang saya, maka, saya tidak perlu cerita, ya?"
"Iya!" jawab Ong dengan tegas. "Saya dan kawan yang lain juga nggak akan Comal ke
Nadia, kok. Soal Jenderal dan dokter Nellie."
"Saya baru tahu, kalau perempuan tidak suka main rahasia. Kehidupan Nadia dengan saya saja, rasanya masih berbentuk misteri yang sangat sulit untuk kami pecahkan."
Ong tersenyum kecil. "Tapi, saya dukung, kok. Hubungan Jenderal sama Nadia. Saya penumpang kapal kalian!"
•••
Chandra menempelkan handphone ke telinganya saat nada panggilan berhasil tersambung pada Nadia. Setelah memiliki pasangan, bukan lagi orang tua yang pertama kali Chandra hubungi, melainkan Nadia. Tidak butuh waktu lama untuk Nadia mengangkat panggilan itu, di hitungan kelima Chandra sudah bisa mendengar suara Assalamualaikum yang manis.
"Wa'alaikumussalam. Kamu, sudah makan?" tanya Chandra.
"Sudah," jawab Nadia singkat.
Chandra mengernyitkan dahi, bingung mau membahas apa lagi, selain ingin mengucapkan rindu dan mendengar suara Nadia.
"Makan dengan apa?"
Nadia terkikik, ia menjauhkan handphone darinya agar Chandra tidak dengar kalau ia tertawa. "Hm, rendang."
"O-oh, pasti enak."
"Iya," jawab Nadia singkat tentu dengan maksud sengaja.
"Nasinya, berapa butir?"
"Hahaha ...." pecah sudah tawa Nadia, dan Chandra malah mengulum senyum saat mendengar tawa itu. Chandra pun menertawakan leluconnya sendiri.
Nadia mengusap air matanya yang menetes karena tawanya yang benar-benar lepas barusan, setelah agak reda akhirnya Chandra kembali bicara.
__ADS_1
"Saya, bingung mau bicara apa malam ini. Saya pikir, kalau tidak bertatapan, saya tidak bingung. Tapi, sama saja."
Nadia menggigit bibir bawahnya. "Gimana kerjaannya? Lancar?"
"Hm, di sini masih sama seperti beberapa hari lalu. Kami bergantian jadwal dan mengajar."
"Syukurlah, Dio masak apa hari ini?"
"Oh, hari ini kita tidak makan di rumah. Kami makan bersama di kantor, kebetulan staf kesehatan mengadakan makan bersama dan kami diundang karena sudah membantu."
"Hm, syukur deh. Kamu makan banyak?" "Ya, banyak," jawab Chandra datar.
Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia juga jadi bingung mau bicara apa lagi pada suaminya. Ketika banyak hal yang ingin diungkapkan, justru menjadi sempit saat semuanya terpendam dalam-dalam.
"Hmm, kamu sudah ngantuk?" tanya Chandra.
"Belum kok. Masih sore."
"Kalau begitu, saya mau temani kamu sampai kamu tidur handphone saya kebetulan baterainya masih 98 persen."
Nadia tersenyum. "Jangan bercanda, jam sembilan malam kamu harus tidur."
"Hehe ... ya, saya hanya basa-basi."
"Oh, iya, untuk acara award itu satu minggu lagi. Jadi, saya mulai besok harus ke Jakarta. Karena harus melakukan rahersal. Tidak apa-apa kalau saya di Jakarta?"
"Dengan siapa kamu tinggal di sana?" tanya Chandra khawatir, membuat Nadia tertawa kecil.
"Ah, aman kok. Saya tinggal di apartemen milik saya."
"Bukan itu. Kamu sendirian?"
"Iya, sudah biasa kok. Lagi pula, lingkungannya aman. Banyak orang yang sudah saya kenal."
"Hm, kalau bisa, kamu ajak saja Joy untuk tinggal sementara bersama kamu. Saya tidak tenang kalau kamu tinggal sendirian di luar kota. Joy juga bisa izin sementara dari kantornya."
"Tapi, Jakarta Bandung itu dekat banget."
"Nad," potong Chandra dengan lembut namun penuh penekanan. Nadia akhirnya mengalah juga.
"Bukannya saya tidak percaya dengan kamu. Namun, alangkah lebih baik kamu memiliki teman. Saya juga tahu, kamu sudah terbiasa hidup mandiri. Namun, keadaan sekarang tentu sangat berbeda. Ya, meskipun ... saya tidak menjaga kamu secara langsung. Namun, saya akan lebih tenang kalau ada seseorang yang bersama kamu, dan saya mengenal orang tersebut."
__ADS_1
"Makasih," balas Nadia lembut. Nadia sangat terharu dengan kekhawatiran Chandra yang sederhana. Meski Chandra hanya bisa menitipkannya pada orang lain, namun terdengar sekali ketulusan pria itu dalam setiap kalimatnya.
BERSAMBUNG ....