
Perlengkapan mandi berupa air hangat di bak mandi kecil, sabun cair yang khusus diperuntukkan bagi bayi berkulit sensitif, serta handuk berwarna merah muda yang sangat lembut telah Chandra siapkan untuk Ola yang pagi itu sudah bangun.
Nadia mengikat rambut panjangnya sebelum memandikan Ola yang kini merengek karena kedinginan.
"Aduh aduh Sayang ... Sebentar ya, mamanya mau siap-siap dulu," kata Chandra bicara pada putri kecilnya. Nadia hanya tersenyum tipis melihat adegan itu.
"Nad, cepat ... Kasihan Ola kedinginan."
"Iya sebentar, cek dulu suhu airnya. Lagian bagus loh kalau bayi nangis, sekalian olahraga," beritahu Nadia, Chandra tak terima itu dan langsung membawa Ola ke dalam gendongannya untuk segera dibawa ke teras dan dimandikan oleh Nadia.
Nadia menghela napasnya ketika tangisan Ola berhenti saat papanya yang menggendong.
"Mamanya lama ya, Sayang? Lama ya? Ola dingin nih Mama ... Sini papa peluk ya Olanya ... Gemesh ...." Chandra bermain, mengobrol dengan Flora yang menatap kedua mata sang papa dengan berbinar dan penuh senyum. Nadia jadi cemburu memperhatikannya. Chandra juga bicara dengan nada yang dibuat sangat lembut sehingga terlihat sekali perubahan besar yang menimpa jenderal bintang tiga itu.
"Huuuuueeeee!"
"Yaaah, yaaah, kok nangis lagi ...."
Crrr
Hangat dan basah, Chandra merasakan lengan kekarnya dan kaus pada bagian dadanya basah kuyup, Ola tampak menangis dan tersenyum lega, bayi itu mengompol dalam gendongan papanya yang baru saja selesai mandi lima belas menit lalu.
"Yaahhh ...," lenguh Chandra saat menyadari Ola ngompol.
"Kenapa? Ngompol ya? Udah dikasih tahu biarin dulu Ola nya. Ola itu belum pipis ... Rasain tuh, harus ganti baju lagi kan?" tegur Nadia sembari mengambil alih Ola ke dalam gendongannya. Chandra cengengesan walau pakaiannya basah.
__ADS_1
Nadia memandikan Ola dengan sangat telaten, walaupun ia tidak memiliki pengalaman mengurus bayi, tetapi Nadia memiliki naluri seorang ibu yang sangat kuat pada dirinya. Chandra menonton hal itu setiap pagi sebelum dia berangkat kerja, kegiatan Nadia menjadi seorang ibu terlihat sangat menyenangkan dan menghibur bagi Chandra.
Pria itu bahkan memangku dagu dengan kedua tangannya bak anak kecil yang polos.
"Segar ya, Nak? Airnya wangi, ya? Ola keramas nih Papa ... Ola wangi nih sekarang," kata Nadia bicara pada Ola dan Chandra. Ola cekikikan seolah memahami perkataan mamanya, sesekali kedua tangan Flora menggapai bibir Nadia untuk disentuh.
"Handuknya Sayang," pinta Nadia pada Chandra. Pria itu langsung dengan sigap menyerahkan handuk merah muda ke tangan Nadia, dan Nadia membalut tubuh Ola menggunakan handuk tersebut.
Pipi Flora yang tembem dan berwarna agak kemerahan terlihat begitu menggemaskan, sampai Chandra tak pernah bosan untuk menciumnya dan menjatuhkan gigitan gemas setiap Ola sudah dimandikan seperti ini.
Ola kalau sudah mandi pagi biasanya diberi ASI dan berjemur di teras rumah bersama Nadia, tetapi karena ini hari Sabtu kegiatan rutin Ola bertambah menjadi main dengan papanya.
Nadia membuka dua kancing paling atas pakaian yang dikenakannya dan menyusui Ola di teras, Chandra buru-buru menutupi dada istrinya dengan sapu tangan tipis.
Nadia hanya terkikik melihat kelakuan suaminya. "Nggak akan ada yang lihat Sayang."
Chandra menghela napasnya, pak Jenderal agak cemberut mendengar penjelasan Nadia barusan.
"Kalau begitu, kita tidak pernah quality time bertiga? Saya kan mau pamerkan Ola sama kamu ke semua orang."
"Uhhh ... Mau pamer Ola aja nih kayaknya? Kamu kan bosan sama aku, udah hampir tiga tahun loh."
"Haha. Tidaklah, kalau sama kamu cinta dan sayang itu everlasting."
"Kalau saya pamerkan kamu ke orang-orang saya tidak tahan cemburu."
__ADS_1
Nadia menyebikkan bibirnya. "Masa sih? Belakangan ini aku cemburu loh Pak Jenderal."
"Saya tidak pernah dekat dengan perempuan lain selama di sini loh, kecuali kamu dan mbak Tina."
Mbak Tina adalah IRT yang sekarang bekerja di kediaman Nadia dan Chandra, tugas Mbak Tina hanya membersihkan rumah atau menghandle pekerjaan rumah yang tidak sempat Nadia kerjakan sendiri, seperti mencuci pakaian atau menyetrika, sedangkan masalah memasak atau menyiapkan makanan itu tetap menjadi tugas utama Nadia, sebab Chandra tidak berselera makan kalau bukan istrinya yang masak.
Nadia tersenyum tipis, Ola sudah terlelap dalam dekapannya dan bayi itu sudah mulai menghisap dengan pelan karena mungkin sudah kenyang.
"Kamu ... Cemburu dengan mbak Tina?"
"Haha ... Enggak! Cemburunya sama Ola."
Chandra terkekeh, ia mendekat dan merangkul bahu Nadia dengan lembut. "Ola mirip kamu ... Jadinya saya jatuh cinta terus."
"Tapi kan saya kangen kamu juga Chan, kangen kamu omelin, kangen kamu bawelin tiap bikin salah, kangen juga kamu perhatiin tiap hari, kangen kamu cium tiap udah mandi. Sekarang kamu fokusnya ke Ola terus."
"Loh ... Kamu sudah tidak pernah buat salah. Saya sampai bingung mau mengomeli apalagi. Kalau urusan cium mencium, setiap tidur kan kita selalu sempatkan," kata Chandra dengan alis naik turun bermaksud genit. Kalau mereka memang selalu mesra kapanpun apalagi menjelang tidur saat si bayi Flora sudah terlelap di atas box-nya.
Nadia lagi-lagi terkikik melihatnya. "Tuh kan Ola tidur ...saya mandi dulu ya, kamu jagain Ola tidur."
"Siap, laksanakan!" ujar Chandra dengan hormat, ditutup dengan senyum manis miliknya.
BERSAMBUNG
Sebenarnya Bab 14 kemarin itu seharusnya udah tamat, tapi setelah aku baca ulang kayak ngegantung aja gitu kalau langsung ditamatin, jadi aku nambah beberapa Bab lagi. namun, aku nggak bisa rajin up kayak dulu karena nggak ada stok Bab yang mau di up apalagi sekarang aku ini masih sekolah jam 7 berangkat paling lambat pulang jam 3 sore dan yang paling nggak ada waktu untuk menulis karena aku nggak diizinin juga bawa HP ke sekolah.
__ADS_1
Oiya apakah menurut kalian cerita ini bertele-tele? karena jujur, aku nggak punya story punya Bab sebanyak si Jenderal ini.
oke, give me a gift.