Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 73


__ADS_3

Nenek dan papa Nadia kini sudah tiba ditepat pekarangan rumah dinas tempat Nadia tinggal selama beberapa bulan ini. Hanya sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu yang dicat cokelat tua, serta tanaman bunga rambat menghiasi pagar, suasana yang asri meski sedikit panas membuat rumah dengan ukuran minimalis itu tampak cukup nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.


Namun, jika mengingat bagaimana kehidupan glamor Nadia sebagai seorang selebriti di Jakarta, tentu saja rumah dinas ini tidak sebanding. Wajar saja jika papa Nadia amat khawatir dengan kesejahteraan putri satu-satunya itu dan papa memang memiliki niat sejak beberapa bulan ke belakang untuk mengunjungi Nadia ke Flores.


Papa melirik ke arah Nadia yang sedang sibuk membantu suaminya untuk mengeluarkan barang-barang yang dibawa papa dan nenek dari bagasi. Anak gadisnya itu tampak bahagia sekali, tidak ada rasa khawatir yang muncul dalam benak papa ketika Nadia amat berbanding terbalik dengan perkiraannya.


"Ya ampun, Nenek sama Papa padahal nggak perlu bawa banyak barang gini. Pasti kena charge tambahan ya," beritahu Nadia saat menatap barang bawaan papa dan neneknya yang berjumlah lebih dari enam koper, ukurannya amat sangat besar.


Papa tersenyum kecil. "Ah, kamu ini ... gapapa, ini sengaja Papa sama nenek bawain.


Buat oleh-oleh tetangga kamu sama prajuritnya Chandra," timpal nenek.


Nadia tersenyum amat lebar. "Hehe, iya deh."


"Terima kasih ya, Nenek dan Papa... pasti nanti saya akan sampaikan pada tetangga dan anak-anak mengenai oleh-olehnya," tambah Chandra pada nenek dan papa dengan sopan.


"Eh, tapi di sini sama sekali nggak ada tetangga? Rumah dinasnya cuman satu kalau dilihat-lihat," ujar papa heran. Kini mereka sudah berjalan masuk ke dalam rumah dan segera duduk di ruang tamu yang juga hanya berisi satu set kursi dan sebuah sofa panjang, meja persegi yang dihiasi satu vas bunga segar.


"Iya, emang cuma satu Pah, rumah dinasnya. Karena ini wilayah kecil, jadinya cuma butuh satu komandan dalam satu pulau. Tapi ada sih, camp yang lumayan gede, itu anak-anak buah tinggalnya di sana."

__ADS_1


Papa menganggukkan kepalanya dan kembali merangkul bahu Nadia dengan erat. "Pintar banget Nadia, beberapa bulan di sini sudah hafal betul, ya?" Nadia terkikik mendengarkan pujian kecil dari papanya.


"Ih, Nadia kangen banget sama Papa. Apalagi sama Nenek, pagi-pagi di sini tuh, udah nggak ada yang bawel... Nadia kangen bawelannya Nenek hehehe." Nadia beralih pada neneknya dan memeluk sang nenek tak kalah erat.


Nenek mengusap puncak kepala Nadia dan tersenyum hangat sembari melirik ke arah Chandra yang sejak tadi masih sibuk dengan koper yang dia angkut ke dalam.


"Apalagi nenek, kangen banget sama Neng. Makin cantik aja sekarang," puji nenek sembari tertawa kecil.


***


Chandra tentu tidak bisa diam saja ketika dia melihat bagaimana sikap Nellie yang perlahan menunjukkan rasa geramnya. Sebelum pria itu memutuskan untuk berangkat kerja, dia sengaja meminta izin atas keterlambatannya kepada Dio yang pada saat itu bertugas sebagai absensi patroli. Hal ini akan Chandra gunakan sebagai kesempatannya untuk menemui Nellie dan menjelaskan segala hal pada wanita itu, juga meminta pengertian Nellie agar tidak membahas kisah masa lalu bersama Chandra pada Nadia.


Terutama masa lalunya bersama Nellie yang bisa dikatakan cukup romantis di negeri orang.


Itu hanya masa lalu, mestinya Nellie tak perlu ngotot untuk terus mengenangnya. Sekarang, Chandra sudah memiliki istri dan sudah berjanji tidak akan membuat gadis yang telah dia nikahi itu menangis karena kesedihan.


Dengan langkah tegap, Chandra langsung menghampiri Nellie yang kebetulan tidak memiliki pekerjaan apa pun setelah kegiatan imunisasi selesai. Terlihat Nellie cukup terkejut dengan kedatangan Chandra yang lebih cepat dari dugaannya.


"Ikut saya...," ucap Chandra sambil mendahului Nellie untuk ke bagian belakang puskesmas di mana tempatnya jauh lebih tenang, dibandingkan aula puskesmas yang bisa saja ada beberapa orang yang mengenali sosok keduanya, dan menyebarkan rumor negatif.

__ADS_1


Nellie menghela napasnya saat Chandra memintanya untuk duduk. Wajah pria itu sangat serius, tetapi Nellie masih bisa melihat gurat kasih sayang yang begitu kental dari figur mantan kekasihnya. Pakaian rapi yang dikenakan Chandra, dan aroma parfumnya yang bercampur bersama wangi Nadia membuat Nellie merasa sedih, tergambar senyum kecut di bibir kemerahan milik Nellie.


"Saya tahu bagaimana hubungan kamu dengan Nadia, kalian berteman, bahkan Nadia menganggap kamu sebagai sahabat barunya di tempat ini. Awalnya, saya merasa cukup senang karena di tengah kesepiannya di tempat saya bertugas, Nadia bisa mendapat sosok teman yang tidak pernah ia miliki seumur hidup. Namun, saya jadi tidak bisa menerima jika teman yang Nadia maksud adalah kamu," ucap Chandra memulai maksudnya pada Nellie.


"Saya mohon Nellie ... saya sangat berharap kalau kamu berhenti mengenang masa lalu kita. Itu sudah cukup lama berakhir ...."


"Chandra!" potong Nellie dengan nada sedikit memekik, saat pertama kali Chandra bicara Nellie justru tidak bisa menghentikan guguran air mata jatuh membasahi pipinya. Kedua tangan gadis itu bergetar hebat, tidak berani membantah, tetapi isi hatinya sudah tak dapat terbendung.


"Apa salah bagi saya, saya hanya merindukan kamu, sehingga ... saya ingin terus bicara tentang kamu pada orang lain!"


"Iya, itu salah. Kamu menceritakannya pada orang yang salah," timpal Chandra tak peduli.


Nellie semakin terisak di hadapan Chandra, tubuhnya yang kecil tampak bersembunyi di balik kesedihan yang amat besar.


"Cepat atau lambat ... saya yakin, Nadia akan tahu mengenai hal ini. Namun, saya hanya ingin menegaskan sama kamu. Kalau saya, tidak memiliki perasaan apa pun lagi terhadap kamu. Pada awalnya, saya pun merasa sulit karena kehilangan kamu. Namun, seiring berjalannya waktu kini perasaan saya baik-baik saja, saya tidak merasa sakit ketika melihat kamu, saya juga tidak keberatan dengan kehadiran kamu ... bukankah itu artinya saya sudah benar-benar lupa sama kamu, Nell?"


"Saya yakin, kamu bisa melupakan saya. Banyak pria yang luar biasa dan jauh lebih baik dibandingkan saya untuk kamu."


"Tapi saya hanya mau kamu!" balas Nellie, air mata tak kunjung berhenti mengalir, ucapan Chandra yang membuat Nellie merasa tersudut dan terhina.

__ADS_1


"Cukup, Nell. Saya selalu berharap yang terbaik untuk kamu." Chandra menutup obrolan dengan senyum tipis di wajahnya, pria itu langsung pergi tanpa terlebih dahulu membuat Nellie sedikit lebih baik. Malah, kedatangan Chandra justru membuat kondisi Nellie semakin rapuh.


__ADS_2