Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Mayang


__ADS_3

memasukkan makanan ringan ke dalam tas ransel milik Nadia, beberapa buahbuahan dan minuman kaleng yang sudah setengah beku juga ke dalam tas tersebut. Sementara Nadia sedang bersiap dengan penampilannya untuk jalan-jalan bersama suaminya itu.


Entah ke mana Chandra akan membawanya pergi, tapi Nadia berusaha untuk tampil sangat cantik sore ini. Dia mengikat rambut ke belakang dan membiarkan helaian tipis tersisa di sisi kiri dan kanan wajahnya. Liptint merah maroon ia bubuhkan di bagian dalam bibirnya sehingga memberikan kesan manis dan polos pada wajah cantiknya. Ah, tidak lupa. Nadia juga memberikan sentuhan blush on coral pink pada bagian tonjolan pipinya yang dekat tulang hidung.


"Hm, perfect!" gumam Nadia ceria sambil menatap pantulan dirinya pada cermin.


Nadia menatap punggung suaminya dengan senyum yang tak pernah pudar. Ungkapan cinta waktu itu masih terngiang di telinga Nadia dan membuatnya malu setengah mati setiap memikirkannya lagi. Kalau dibiarkan terus seperti ini, mungkin selamanya Nadia akan tinggal di Flores tanpa mau kembali ke Bandung.


"Hei, lagi apa?" tanya Nadia dari belakang Chandra, gadis itu melonggokkan kepalanya di sisi kanan Chandra.


Chandra kaget, ini pertama kalinya bagi Chandra berduaan dengan Nadia di dapur.


"Eh, ini ... saya, siapkan bekal," kata Chandra gugup.


Hal yang memunculkan kegugupan Chandra itu karena Nadia dengan polos langsung memeluk tubuh jangkung itu dari belakang sambil terkekeh kecil. "Uwu, sekali Jenderal ini." "U-uwu?" tanya Chandra bingung.


Apa lagi sih uwu, kenapa orang-orang selalu punya bahasa aneh.


Nadia tertawa kecil dan melepas pelukannya dari tubuh Chandra. "Uwu, itu sejenis emoticon yang dipakai buat mengekspresikan rasa gemas gitu. Coba deh kamu bayangkan bentuk huruf uwu."


Chandra makin bingung, wajah datar dan dinginnya tampak berpikir keras membayangkan bentuk huruf u, w, dan u jika digabungkan. Nadia tertawa melihat ekspresi bingung itu.


"Saya ... tidak pernah pakai emoticon," jawab Chandra setelah ia menyerah dengan imajinasinya tentang uwu.

__ADS_1


"Hahaha ... Sudahlah, kalau kamu bingung. Kita berangkat sekarang?" tanya Nadia sambil menyambar tas ransel yang ada ditangan Chandra.


"Hm, kalau terlalu sore, kita akan kehabisan perahu."


•••


Flores dalam bahasa Portugis artinya adalah bunga atau tempat berkumpulnya bungabunga indah dalam suatu tempat tertentu. Kata itu sangat sempurna untuk menjelaskan betapa indahnya Flores, terutama lautnya. Nadia duduk di ujung perahu yang melaju dengan tenaga mesin, sambil melihat betapa terbentang luas dan indahnya alam Indonesia. Chandra di depannya memperhatikan gerak-gerik Nadia agar gadis itu tidak sampai jatuh ke air saat mengagumi keindahan laut.


Di situ Nadia mengagumi lautan, sementara di sini Chandra tersenyum karena mengagumi sosok Nadia yang uwu.


Pengemudi perahu itu tidak berani mengganggu jenderal dan istrinya, sejak tadi ia duduk di belakang kemudi untuk mengontrol arah. Pak Dirman, nama pengemudi perahu itu, dan ia sudah 1 tahun mengenal sosok Chandra.


"Wah, kapan-kapan kita diving yuk," seru Nadia mengagumi terumbu karang di bawah sana, air yang biru kehijauan menyajikan pemandangan terumbu karang yang amat jelas, ikanikan mungil bergerombol ke sana ke mari.


"Wilayah ini sudah dilindungi pemerintah. Karena laut sudah mulai tercemar, habitat ikan tidak boleh diganggu oleh aktivitas wisata manusia. Begitu pun terumbu karangnya. Kalau ketahuan kita menyelam, akan dikenakan denda 100 juta rupiah atau hukuman pidana paling lambat 6 bulan," ucap Chandra kecewa, Nadia cemberut.


"Kalau kita beruntung, kita bisa bertemu Mayang di sini." hibur Chandra kemudian.


"Mayang? Siapa Mayang?!" tanya Nadia terkejut.


Chandra tersenyum tipis. "Pak, bisa matikan mesinnya? Mayang ada, 'kan?" ujar Chandra pada pengemudi perahu.


Pak Dirman mematikan mesin perahu, sehingga laju perahu perlahan melambat dan berhenti di tengah-tengah laut dangkal nan tenang.

__ADS_1


Nadia mengerutkan dahinya saat Chandra memasukkan tangan kanannya ke dalam air dan mengetuk bagian bawah perahu.


Tok, tok, tok. .


Chandra mengetuk tiga kali, dan Nadia semakin penasaran dengan sosok Mayang yang akan Chandra tunjukkan.


"Kamu, nggak lagi bercanda, 'kan?" tanya Nadia agak kesal.


Chandra terkekeh. "Tidak ... ke sini, lebih jelas kalau kamu duduk di sini." Chandra menepuk bagian kosong di sisi kanan tubuhnya, Nadia pun menuruti kemauan Chandra dan duduk rapat di sisi suaminya. Chandra merangkul bahu Nadia sambil mengarahkan tatapan Nadia ke arah laut. Tubuh Nadia yang mungil terimpit oleh papan perahu dan tubuh suaminya yang menjaga dengan baik dan hati-hati.


Byur ....


"Waaaah!" Nadia terkejut bukan main saat satu ekor lumba-lumba dengan warna cantik berenang ke arah mereka, lumba-lumba itu meloncat seperti menunjukkan keindahan dirinya pada Nadia yang terkagum-kagum di samping Chandra.


"Ini, Mayang?" Nadia menolehkan wajahnya ke arah Chandra. Chandra mengangguk.


"Hum, lumba-lumba yang habitatnya sudah langkah sekali. Sekarang tersisa 20 ekor yang tersebar di seluruh laut Flores."


Nadia yang semula tersenyum kini menjadi sedih. "Kasihan, Mayangnya," komentar Nadia dengan raut wajah sedih.


Chandra mencubit pipi istrinya itu yang memerah, mengapa Nadia selalu merasa kasihan pada sesuatu yang dirasa sepele, perasaan Nadia yang rapuh dan mudah goyah membuat Chandra justru semakin ingin melindunginya. Mengapa banyak orang yang sering mengomentari dengan kata-kata jahat, ketika faktanya Nadia bahkan menyayangi binatang yang baru ia temui seperti ia menyayangi teman lama.


"Kamu, uwu," ucap Chandra dengan senyum.

__ADS_1


Nadia terkikik, kesedihannya menguap begitu saja saat Chandra mengucapkan kata uwu dengan wajahnya yang datar. Meski tersenyum, entah mengapa ... bagi Nadia sosok Chandra akan terasa lucu jika ia bicara diluar kebiasaannya.


"Uwu?" ulang Nadia sambil memiringkan kepalanya. "Hm. U, w, dan u ... uwu. Hehe."


__ADS_2