
Nadia kembali ke Bandung tadi pagi, Chandra berada di rumah sendirian, dia melihat seluruh penjuru ruangan dengan sorot mata yang sayu dibandingkan biasanya. Ruang tengah yang kini tampak lebih berwarna karena ada ornamen tambahan yang Nadia pasang berupa vas bunga di sudut ruangan, taplak meja bercorak abstrak dan pas foto pernikahan yang menghiasi dinding. Melihat ke dapur, Chandra juga menyentuh beberapa benda elektronik canggih yang Nadia simpan dan tata dengan rapi di meja, ada blender mungil, rice coocer kecil, kulkas, dan sticky notes di pintu kulkas, yang mungkin saja Nadia pasang sebelum berangkat tadi pagi.
'Ada smoothie di freezer, keluarin aja kalau mau. Bagi-bagi sama yang lain.'
'Bayam kesukaan kamu di rak paling bawah.'
'Susu fullcream plain tante masih belum dibuka segelnya.'
'Kalau listrik mati sosis sama nugget nya langsung digoreng, ekspire-nya 1 minggu
lagi.'
'Saya akan telepon kamu nanti malam kalau sudah di Bandung. Saya nggak bisa banyak bicara semalam, saya sangat terharu karena kamu minta maaf duluan. Padahal, saya juga salah. Chandra, maafkan saya, ya.'
Warna-warni sticky notes itu membuat Chandra merasa terhibur, saat perpisahan mereka yang terasa kelabu justru Nadia dengan pandai menitipkan banyak pesan lewat pintu kulkas.
"Ini pertama kalinya, saya mendapatkan surat cinta," ujar Chandra pada dirinya sendiri. Pria itu lalu memasang kembali sticky notes yang berisi tulisan Nadia ke pintu kulkas, agar bisa dilihat anggota camp-nya.
__ADS_1
Setelah bernostalgia di dapur dan membaca pesan-pesan nan manis itu, Chandra memutuskan untuk pergi bekerja, dia sudah mengenakan seragam lengkapnya, beberapa prajurit terlihat sudah bersiap di teras rumah Chandra untuk segera berangkat menerima perintah. Sebelum memulai pekerjaannya sebagai pemimpin pasukan keamanan perbatasan negara, Chandra melirik dulu ke sisi rumahnya, terdapat jemuran pakaian yang sudah terisi dengan pakaian-pakaiannya di sana. Chandra tersenyum kembali, Nadia mencucikan pakaiannya juga hari ini, dan pakaian yang Chandra kenakan sekarang pun memiliki wangi yang sama dengan Nadia.
"Saya harus semangat!!" ucap Chandra teguh.
•••
Di hadapan Nadia kini ada Liza yang tampaknya sudah mencurahkan semua keluh kesahnya pada sang artis sejak ditinggalkan menuju Flores selama beberapa minggu. Nadia terlihat malas dengan Liza belakangan ini, selain ucapan Liza yang terdengar sarkas juga sikap Liza yang tidak se-friendly biasanya pada Nadia. Daripada memperlakukan Nadia sebagai sahabat, Liza justru memperlakukan Nadia sebagai artis agensinya.
"Ya ampun, tangan lu kasar banget sih, Nad. Kita harus ke salon!" ucap Liza dengan wajah pura-pura kaget saat merasakan telapak tangan Nadia yang memang sedikit kasar.
"Muka lu juga, agak pucat terus kusam gitu. Makanya, pakai sunblock ih!"
Liza terus mengomel sejak kedatangan di studio, tiga jam yang lalu. Bukannya menyambut, Liza justru terus membicarakan soal pandangan masyarakat terhadap Nadia yang kini menjadi kurang diminati publik.
"Lu apaan sih, Liz. Gue baik-baik aja, kok. Pun gue nggak perlu ke salon, biasanya juga gue cuma perawatan di rumah. Lu nggak usah lebay!" balas Nadia setelah lama terdiam.
Liza tersenyum jengkel. "Lu ngerjain kerjaan rumah tangga ya, di sana? Lu nyuci baju, ngepel, cuci piring, nyapu segala macam? Nyetrika juga? Ckck."
__ADS_1
Nadia menghela napasnya. "Ya, terus kenapa? Gue juga masak. Gue juga ngajar dan berkebun di Flores. Kenapa?"
Liza menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Mungkin bakalan beda ceritanya kalau lu nggak nikah sama abdinegara itu, Nad. Suami lu miskin banget apa sampai dia nggak mampu afford lu asisten rumah tangga?!"
"Liz, kok lu lama-lama keterlaluan sih?!"
Liza tersenyum kecut. "Nad, jangan bohongi diri sendiri deh. Lu tinggal jujur ke gue, dan gue bakal urusin semua hal-hal yang selama ini lu pendam dari keluarga lu. Nad, lu nggak bahagia 'kan menikah dengan jenderal itu?" Liza tampak khawatir dengan keadaan sahabatnya saat ini, terlihat dengan wajah Liza yang memelas di hadapan Nadia. Seperti memohon pada Nadia untuk berkata yang sebenarnya.
Nadia seketika terdiam, apa mungkin orang-orang berpikiran sama dengan Liza terhadap pernikahannya dengan Chandra, ya?
"Ada Vidi di Flores, dan gue nggak tahu kenapa dia bisa tahu tempat tinggal gue di sana. Dia juga bicara ngelantur di hadapan gue sama suami gue. Apa lu yang kasih tahu semua tentang gue ke Vidi?!" selidik Nadia dengan pandangan menusuk ke arah Liza.
Liza terlihat tidak gentar sama sekali, gadis itu malah tersenyum kecil. "Tuhkan, apa lu nggak ngerasain ketulusan Vidi selama ini, Nad? Di saat lu sudah punya suami pun, Vidi nggak ada tuh nyerah buat memperjuangkan lu."
Nadia mendengkus. Liza sudah mulai keterlaluan sekarang, dukungannya selama ini ternyata berbuah pahit sekarang. Nadia tersenyum kecut menghadapi sikap sahabatnya itu.
"Setelah acara award itu selesai, gue mau keluar dari agensi." Nadia meraih barangbarangnya di atas meja sebelum akhirnya pergi dari studio miliknya. Liza yang berusaha menahan artisnya itu pun tidak berhasil memanggil-manggil Nadia yang mungkin saja sedang merasakan emosi sesaat.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....