Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 72


__ADS_3

Pagi ini suasana di puskesmas cukup ramai karena adanya program imunisasi bulanan yang rutin diselenggarakan setiap awal bulan. Nellie sebagai satu-satunya dokter yang bertugas tampak kerepotan dengan beragam pekerjaan yang menumpuk. Dua perawat dan seorang bidan tentu saja tidak bisa membantu tumpukan pasien yang datang pagi itu, belum lagi pengaturan antrean yang tidak sesuai prosedur membuat suasana semakin kacau. Kondisi puskesmas yang belum memadai setelah peristiwa kebakaran pun menjadi kendala imunisasi hari itu.


Nadia yang pada awalnya akan ikut menjemput nenek dan papanya ke bandara bersama Chandra, mengurungkan niatnya dan memilih untuk membantu staf kesehatan di puskesmas. Paling tidak, Nadia bisa mengendalikan pasien agar duduk sesuai nomor antrean atau membantu menenangkan anak-anak yang menangis di sana.


Kedatangan Nadia disambut baik oleh warga yang datang, anak-anak dan balita pun tampaknya terkesima dengan aura bintang yang dibawa Nadia ke tempat itu. Nadia memang pandai dalam mengubah suasana, ditambah lagi gadis itu juga menyiapkan permen dan camilan kesukaan anak-anak sesaat sebelum memasuki puskesmas.


Nellie menatap Nadia sekilas sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya. Dalam hati, sesungguhnya Nellie merasa tidak pantas jika harus mengganggu Nadia, tetapi... rasa cemburu dalam dirinya terhadap Nadia membuatnya terganggu dan tidak tenang setiap malam. Bagaimana mungkin Nadia masih dapat menunjukkan batang hidungnya setelah ia merebut Chandra dari sisinya?!


Bu bidan yang sudah cukup dekat dengan Nadia pun menghampiri Nadia yang tengah mengistirahatkan dirinya di teras puskesmas. Pekerjaan sudah selesai dan satu per satu pasien kembali ke rumahnya masing-masing.


"Makasih loh, Bu Jenderal sudah membantu kami di sini. Padahal, semalam terserang dismenorea, ya?"


Nadia tersipu mendengar ucapan terima kasih dari seorang bidan yang ramah ini.


"Ah, sudah baikan kok. Berkat Bu Bidan juga yang menitipkan wedang jahe ke suami saya. Saya minum sampai habis, dan itu sangat ampuh," balas Nadia dengan senyum lebar.


"Kalau perlu bantuan, hubungi saya saja langsung. Jangan sungkan ya, Bu Jenderal. Saya senang dengan kehadiran ibu di sini, seperti mengubah banyak hal. Anak-anak di sekolah juga tampaknya semakin semangat belajar ketika Ibu datang ... para orang tua juga senang mendengarkan kuliah kesehatan di balai desa kalau Ibu yang menjelaskan."


Nadia makin tersipu dengan pujian beruntun yang diberikan bu bidan padanya. Terdengar berlebihan, tetapi sangat berhasil membuat Nadia tersenyum amat lebar dibuatnya.


Ya, perempuan tentu sangat senang ketika dipuji.


"Iya, Bu. Saya pasti akan menghubungi Bu Bidan kalau mengalami hal-hal darurat."


"Ah, maaf ya, Bu Jenderal. Saya tidak bisa lama-lama. Saya harus kembali ke belakang." Bu Bidan pamit setelah menyapa Nadia sebentar.


Kini Nadia kembali sendiri sambil menunggu kabar dari Chandra yang mungkin saja sudah sampai di bandara dan bertemu dengan papa dan nenek. Nadia sangat ingin bertemu dengan Nellie dan curhat pada temannya itu, tetapi Nadia khawatir jika respon Nellie akan sama dinginnya seperti tempo hari. Daripada harus sakit hati lagi, Nadia memilih untuk menahan keinginan kecilnya itu sampai Nellie sendiri yang menyapanya.


Saat tengah melamun, justru Vidi yang masih belum stabil keadaannya mengintip Nadia dari balik jendela kamar tempatnya dirawat. Vidi tersenyum miris, saat dia hanya dapat melihat Nadia dari kejauhan.


"Syukurlah, Nad. Kamu baik-baik saja sekarang. Kamu jangan khawatir, aku bakal sembuh kok... kamu jangan sedih," gumam Vidi pada Nadia yang tentu saja tidak akan mendengarnya.


"Nellie ...."


Nadia memanggil Nellie dengan lembut, sedikit senyuman Nadia lemparkan pada dokter cantik tersebut dengan sedikit perasaan cemas yang melanda dirinya.


"Hai ...," balas Nellie dengan senyum dipaksakan. Terlihat sekali kalau Nellie masih menjaga jarak dari dirinya.


"Masih sibuk?" tanya Nadia sambil melangkahkan kakinya ke arah Nellie.


"Ya, sedikit... makasih ya, kamu sudah bantuin staf di sini. Kebetulan, kamu datang di saat jam-jam sibuk."


"Iya, sama-sama. Gimana keadaan kamu sekarang, Nell? Sudah baik seratus persen, kah?"

__ADS_1


"Hm. Saya sudah sehat kembali kok, Nad. Oh iya, kamu tunggu di sini sebentar. Saya mau mengembalikan pakaian kamu yang waktu itu saya pinjam."


Nadia menunggu di lobi ketika Nellie yang tampak terburu-buru kini menuju ke bagian belakang puskesmas untuk mengambil pakaian milik Nadia. Tidak butuh waktu lama bagi Nellie untuk kembali, ia datang dengan membawa satu kantung berukuran sedang berisi pakaian yang hendak ia kembalikan pada pemiliknya.


"Ini... pakaian kamu, dan ... jaketnya."


Dengan berat hati, Nellie menyerahkan jaket beraroma Chandra itu ke tangan Nadia. Nadia menerimanya dengan senang hati, gadis itu juga mencium jaket suaminya dengan senyum di bibir. Nellie memalingkan wajahnya ketika kedua matanya menangkap adegan itu. "Sebenarnya, saya ... masih membutuhkan jaket itu," komentar Nellie datar.


Nadia tersenyum kecil. "Loh, kamu ... tidak punya jaket lagi, Nell? Nanti saya pinjamkan, saya membawa banyak jaket dari Bandung ke sini."


"Ah, iya karena kebakaran itu, dan kejadian yang sangat menyebalkan menimpa saya. Saya tidak memiliki jaket lagi sebagai penghangat."


"Kalau boleh ... Saya mau pinjam jaket itu lagi," tambah Nellie dengan ekspresi sedikit menekan dan memohon. Nellie juga menunjuk jaket dalam pangkuan Nadia secara langsung.


Nadia melirik pada jaket dalam genggamannya, jaket milik Chandra yang berharga, Chandra juga sering memakai jaket itu ke mana pun dia pergi, bahkan Chandra menggunakan jaket itu sebagai selimut untuk Nadia kala dia akan pergi untuk mengurus kebakaran. Jaket itu ibarat jimat yang Chandra titipkan pada Nadia dengan segenap doa keselamatan.


"Hm, maaf ya, Nell. Ini jaket suami saya, dan ... saya merasa kalau kenangan saya dengan jaket ini sangat manis. Hm ... nanti, saya pinjamkan jaket saya yang masih baru untuk kamu."


Nellie mencelos, dan senyum miris di wajahnya yang seputih salju itu. "Ya,


kenangan...."


Padahal dulu jelas-jelas Chandra adalah pria yang selalu memeluknya kala Nellie merasa kedinginan, saat ia merasa tidak aman Chandra akan menjaganya, saat Nellie bersedih Chandra selalu bersedia menjadi sandaran dan tumpahan keluh kesahnya. Namun sekarang, bahkan pakaian pria itu tak dapat Nellie nikmati sama sekali.


"Ah, enggak kok. Saya hanya ... cemburu dengan kamu, Nad. Belakangan ini, kamu kelihatan bahagia sekali. Meskipun hampir dua minggu kita absen bertemu, kelihatannya kamu mengalami banyak hal bagus, ya?"


Nadia tersenyum dan menutup bibirnya. "Ih, cemburu apaan sih, nggak perlu. Saya memang lagi senang-senangnya Nell akhir-akhir ini."


"Nad, menurut kamu ... apa saya harus mengharapkan mantan pacar saya itu?"


Nadia seketika terdiam saat Nellie tiba-tiba dengan serius mengalihkan topik pembicaraan.


"Nell ...."


"Saya sangat kesepian... saya sangat takut akan menghabiskan sisa hidup saya seorang diri.


Saya bahkan tidak sanggup melanjutkan hidup jika tanpa adanya pria itu lagi di sisi saya. Ketika peristiwa kebakaran itu terjadi, saya harap hidup saya berakhir pada malam itu. Namun, harapan muncul lalu padam. Sehingga kegelapan kembali melahap diri saya."


Dengan ekspresi kosong dan tatapan sendu, Nellie mengungkapkan kesedihan dan kekhawatirannya pada Nadia. Nadia hanya dapat menatap sedih dan menjatuhkan elusan lembut di bahu Nellie. Melihat Nellie yang hidup dengan rasa takut dan penyesalan karena kehilangan sosok kekasih tercintanya seperti ini. Membuat seseorang seperti Nadia tentu akan sangat tidak tega menatapnya. Nadia sendiri adalah pribadi yang rapuh dan mudah goyah jika dihadapkan pada situasi seperti ini.


"Nell ... sebenarnya, siapa mantan kekasih kamu, itu? Mungkin, saya bisa membantu kamu kalau saya tahu orangnya ... Saya akan tanyakan pada suami saya."


Nellie tersenyum, gadis itu mendongak ke arah Nadia dan bersedia untuk menyebut satu nama.

__ADS_1


"Sayang ...."


Suara bariton yang tenang itu memanggil salah satunya, tetapi Nadia dan Nellie justru kompak menoleh ke sumber suara. Merasa terpanggil.


Chandra tersenyum hangat ke arah Nadia, dan mengulurkan tangan kanannya untuk Nadia tepat di hadapan Nellie yang langsung membeku. Tatapan Nellie menajam marah.


Nadia membalas senyuman itu, baru beberapa jam berpisah rasa rindu itu terbayar dengan kehadiran Chandra yang sepertinya sudah berhasil menjemput papa dan nenek dari bandara.


"Ayo pulang." Ajak Chandra seraya menarik Nadia agar segera berdiri dan pergi dari tempat tersebut.


Nellie memejamkan matanya dengan keras, ia berharap tidak pernah melihat kemesraan itu lagi, kemesraan yang membuat dadanya seperti dipukul sembilu yang amat menyakitkan.


"Papa sama nenek sudah sampai?" tanya Nadia ketika ia berhasil menyesuaikan dirinya dengan kedatangan Chandra yang tiba-tiba.


Chandra mengangguk. "Heem. Mereka ada di mobil. Membawa sekali banyak barang...."


Nadia tertawa kecil. "Wah, kamu pasti repot sama barang-barang papa dan nenek, apalagi nenek."


"Oh iya, Ne-llie ...." Nadia menoleh ke belakang untuk pamit pada Nellie, tetapi sepertinya gadis itu sudah menghilang dari tempat mereka semua mengobrol.


"Loh, Nellienya udah masuk ke dalam," tambah Nadia dengan raut wajah agak kecewa.


"Ya sudahlah, tidak apa-apa. Sekarang sebaiknya kita segera pulang. Kasihan papa sama nenek, pasti mereka butuh istirahat setelah perjalanan jauh."


"Ehmm... oke deh." Nadia menampilkan senyum terbaiknya pada Chandra, meskipun sesekali ia menoleh ke belakang untuk memeriksa jika Nellie kembali ke tempatnya duduk.


Nadia sangat ingin mengetahui mantan pacar Nellie sampai cerita detail tentang sosok pria yang amat misterius itu. Kenapa juga Nellie harus putus dengan pacarnya, padahal hubungan mereka terdengar harmonis serta terdengar sangat serasi jika Nadia mengakumulasikan semua cerita Nellie sampaikan padanya.


"Kamu memikirkan apa?" tanya Chandra iseng.


Nadia menggelengkan kepalanya buru-buru. "Sayang, apa kamu kenal sama mantan pacarnya dokter Nellie?"


"Saya, kenal."


"Ck, sudah pasti kamu kenal! Nanti ceritain ya, di rumah?"


Chandra memaksakan senyumnya, dan mengangguk kecil dengan permintaan Nadia.


Bersambung ....


5 bab hari ini.


akan ijin nggak besok sampai hari Minggu.

__ADS_1


__ADS_2