Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 50


__ADS_3

Vidi tidak pernah merasakan hawa yang amat dingin menyerang tubuhnya seperti malam ini. Hampir sepuluh hari tinggal di Flores dengan tujuan yang salah, lelaki itu habiskan dengan mengunjungi setiap hari tempat tinggal Nadia dan suaminya, tetapi tampaknya tempat itu tidak memiliki tanda-tanda kehidupan sama sekali.


Di tengah hujan rintik-rintik, dan sinyal yang nihil, Vidi melamun di kursi tepatnya di teras rumah yang dipenuhi oleh segala jenis tanaman bunga. Ah, Vidi jadi ingat teras belakang rumah Nadia yang sama persis seperti ini.


Dulu kalau apel pasti disuguhi pemandangan serupa, Vidi pun tersenyum getir menyesali kebodohannya. Memang sih, kedatangannya ke Flores hanya memperkeruh suasana, tetapi setidaknya biarkan Vidi berharap ikut senang atas kehidupan Nadia dengan sedikit mengganggunya lantaran rasa rindu. Delapan tahun saling kenal dan menjalin hubungan bersama selama enam tahun bukanlah waktu yang singkat dan mudah untuk dilupakan. Sial!


Itu satu-satunya alasan dan moto hidup Vidi saat ini.


"Hei, ngapain di situ?!" teriak seorang yang berpakaian kaos dan celana training tentara, di belakang orang itu juga ada orang lain yang berpakaian serupa. Vidi yang menekuk bibir langsung bangun dari duduknya dan berdiri siap dan tegak.


"Eh, e-nggak ... s-saya c-cuma ...." ucapan Vidi terbata. Sudah bisa ditebak, kalau pasukan tentara ini pasti anak buah lelaki songong yang sekarang sudah jadi suami Nadia.


Dio yang sementara memimpin pasukan selagi Chandra tidak ada dengan berani menegur Vidi yang entah sejak kapan diam di teras rumah jenderal. Dari penampilannya pun, Dio sudah menebak kalau Vidi bukanlah pemuda yang berasal dari sini.


Ong menerobos Dio dan menutup mulutnya ketika menyadari ada artis di sana. "Sh ... Bang, itu artis!" Beritahu Ong pada Dio.


Dio menghela napas. Tidak peduli, lalu berjalan makin dekat ke arah Vidi diikuti Alif dan Johnny yang ada di belakang. Mereka bergerombol karena baru saja melakukan kerja bakti untuk pembangunan salah satu rumah warga yang mendapatkan dana bantuan dari pemerintah setempat.

__ADS_1


Ong tersenyum ramah pada Vidi, dan langsung saja duduk di kursi. "Ayo duduk," ujar Ong menawarkan.


Alif dan Johnny saling pandang dan bertanya pada Ong dengan alis mereka yang bertaut bingung tentang siapa sosok asing yang kini ada di hadapan mereka.


"Ada perlu apa kamu di sini?!" sentak Dio.


Vidi tersenyum canggung, tetapi masih dalam batasan ramah dan tentu saja segan dengan tatapan membunuh Dio.


"Anu, s-saya ... mau bertemu dengan pemilik rumah ini." Akhirnya, Vidi bicara juga.


"Bukan!" sanggah Vidi sambil mengangkat tangannya. Malas banget dia bertemu lagi dengan Chandra.


"Lalu?" tanya Dio dengan nada menyelidik.


"Saya, temannya Nadia."


"Loh, memangnya, kamu nggak tahu kalau Nadia sama jenderal sedang ke Jakarta untuk menghadiri acara penghargaan musik."

__ADS_1


Vidi mencelos, jawaban dari Ong membuat bahunya serasa lemas sekali. Ah, tahu begini Vidi mungkin mau terima undangan itu agar mereka bisa bertemu.


"B-begitu, ya?" tanya Vidi terbata, dan tentunya sambil menahan rasa kecewa.


"Iya, jenderal kami baru saja pergi sehari yang lalu. Kalau tidak ada urusan lagi, sebaiknya kamu segera pulang ke habitat kamu. Jangan diam di sini, itu hanya memunculkan kecurigaan warga setempat." Beritahu Dio dengan nada sopan untuk meminta Vidi pergi.


Vidi menghela napasnya, dia menatap pada kakinya yang terbalut sneakers yang sudah cukup lusuh karena tanah pun hanya memandang udara.


"Galak benar sih, Bang Dio," ujar Alif merasa prihatin pada Vidi.


Ong mengangguk setuju. "Iya, kasih minum dulu kek. Mukanya pucat banget kayak lagi sakit."


"Jomblo sih," timpal Johnny berani, Dio melirik dengan sadis ke arah tiga pemuda itu dan membuat ketiganya sekaligus bergidik ngeri.


"Diam kalian. Sebaiknya segera susul Danil di puskesmas, dan lihat bagaimana keadaannya," ujar Dio dengan nada tegas, mata bulat dan kepala bulatnya sangat serasi sekali kalau sudah memberi perintah begini.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2