
Chandra berbaring ke samping, menarik Nadia lagi ke dalam pelukan, menghapus keringat di dahi istrinya itu dan menjatuhkan ciuman di kening sedalam-dalamnya.
Nadia menunjuk bibirnya, membuat Chandra mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Cium di sini," pinta Nadia lemah. Chandra terkekeh lalu menjatuhkan kecupan berulang, Nadia tertawa kecil saat mereka kembali berpandangan.
"Gara-gara saya, kamu pasti menderita. Ibu pasti kambuh asma karena lihat berita di TV ...."
"Shh ... Saya tidak pernah peduli dengan pemberitaan media. Saya hanya peduli pada kamu dan keluarga kita," elak Chandra lembut.
"Tetap saja, kamu juga nggak akan kena skorsing kalau nggak kena skandal itu. Pokoknya, kamu setuju atau enggak, saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum. Saya nggak terima."
"Nad, saya marah kalau kamu menuntut orang itu," ujar Chandra sembari mengeratkan pelukannya.
"Nggak peduli!"
"Manusia itu jahat, dan harus dikasih pelajaran! Sampai kapan mereka mau makan dengan hasil fitnah orang lain!"
"Kasihan." Hanya satu kata yang keluar dari bibir Chandra, membuat Nadia mematung dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Chandra tersenyum hangat. "Manusia berbeda-beda, kalau untuk memberikan pelajaran dengan cara menghukum mereka, itu tidak akan mengubah keadaan. Orang itu pasti punya keluarga untuk dinafkahi sehingga pekerjaannya hanya satu-satunya cara untuk bertahan."
"Daripada membalas fitnah dengan dendam, lebih baik kita biarkan saja mereka.
Pembalasan mungkin terdengar hebat, tetapi senjata paling ampuh dalam situasi seperti ini adalah kelembutan."
"Nad, saya jatuh cinta dengan kamu karena kamu adalah sosok gadis yang lembut, tidak tegaan, rapuh, manja, mandiri, tegas, tetapi tegas yang menggemaskan. Ah, saya tidak bisa jelaskan lebih jauh lagi bagaimana isi hati dan kepala saya untuk kamu."
Nadia mengusap air mata di pipinya yang lagi-lagi turun, Chandra mencubit pipi tembam istrinya itu karena gemas.
"... kamu kenapa baik banget?"
__ADS_1
Chandra agak terisak, tanpa sadar dia juga menitikkan air mata karena melihat Nadia menangis. Dia menjadi emosional karena hendak berpisah dengan Nadia.
"Karena saya peduli sama kamu, ayah, ibu, nenek, Joy, semuanya. Kalau saya menjadi orang yang tidak peduli, siapa yang akan menjaga kamu dan keluarga jika kamu tidak ada?"
"Kita tidak boleh jadi manusia egois." Chandra memeluk Nadia lagi, tiga kali lebih erat hingga tangis Nadia kembali pecah. Gadis cengeng itu telah menemukan pelukan yang tepat untuk bersandar, dan itu adalah sosok suaminya saat ini.
"Jangan ngomong gitu! Karena, kamu akan selalu ada untuk saya, 'kan? Kamu sudah janji!"
Nadia memutuskan untuk tidak tidur, ia membuat cokelat panas untuk Chandra. Ia juga menemukan biskuit dalam lemari yang masih layak untuk makan. Chandra duduk di sofa sambil menikmati lantunan musik lewat piringan hitam saat Nadia muncul dari dapur. Nadia menggunakan gaun besar berwarna hitam, rambutnya ia gulung dengan asal, sangat cantik sekali.
Chandra menepuk bagian sofa yang masih kosong agar Nadia duduk di sampingnya. Nadia memperhatikan ke sepuluh jari suaminya yang kini berada di atas bantal sofa, ada yang kurang di sana.
"Cincin kawin, di mana?"
"Hm, saya simpan di dompet."
"Kenapa nggak dipakai?!" tanya Nadia. "Pakai dong, itu kewajiban tahu!" seru Nadia dengan bibir mengerucut.
Nadia kemudian bangkit dari duduknya, gadis itu menuju sebuah lemari di ruang tengah tempatnya menaruh berbagai macam aksesoris. Nadia mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan isinya.
"Sini cincinnya," pinta Nadia pada Chandra.
Chandra menaruh cincin pernikahannya di atas telapak tangan Nadia. Nadia memasukkan cincin itu pada sebuah kalung rantai yang berukuran kecil, tetapi terlihat begitu kokoh.
"Cincinnya kamu masukin ke sini saja, kamu pakai dan jangan dilepas."
Chandra tersenyum kecil, Nadia memasang kalung itu pada lehernya sehingga cincin pernikahan tersebut menjadi hiasan tambahan pada tubuhnya.
"Apa tidak aneh, laki-laki memakai kalung?"
"Enggak dong, kamu cocok pakai apa aja tau." Nadia bersandar pada bahu Nadia dan memeluk lengan pria itu.
__ADS_1
"Saya mau kayak gini terus sama kamu. Di Jakarta atau di Bandung. Kamunya jangan pergi-pergi," kata Nadia sembari mengencangkan pelukannya pada lengan Chandra.
Chandra mencuri pandang ke arah Nadia yang begitu bahagia bisa berada di sisinya malam ini, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengucapkan maksudnya. Meskipun hal ini pada awalnya akan Chandra rahasiakan pada Nadia, tetapi Chandra akan berusaha untuk jujur dan meminta pengertian Nadia satu kali lagi pada pekerjaannya.
"Nad, besok saya mau pergi."
"Ke mana? Saya anterin, ya?" ucap Nadia antusias.
Chandra memaksakan senyumnya, dia membelai pipi Nadia dan menatap lekat-lekat kedua iris gelap milik istrinya.
"Saya akan pergi ke Suriah. Kamu, untuk sementara tinggal dulu di Bandung. Kamu juga boleh punya kegiatan lain selama saya di sana."
Seketika senyum cerah nan ceria milik Nadia terganti dengan raut sedih, kedua sudut matanya tampak berair dan hidungnya terasa pedih saat menarik napas. Chandra menjatuhkan tangan kanannya di bahu Nadia, dan tangan kirinya ia gunakan untuk membelai leher jenjang gadis itu.
"S-Suriah?" tanya Nadia terbata.
"Hm ... tidak akan lama, mungkin hanya sekitar tiga bulan atau paling lambat enam bulan. Pekerjaan saya di sana juga tidak berhubungan dengan senjata, saya hanya menjaga anak-anak dan balita yang para orang tuanya terpapar paham radikalisme. Selagi orang tua mereka mendapatkan rehabilitasi, saya bertugas untuk menjaganya."
"Sayang ...."
Nadia tidak menjawab penjelasan suaminya, baru saja rasanya ia terbang bebas di angkasa, Chandra justru menjatuhkannya ke dasar jurang atas kalimat perpisahan ini.
"Apa kamu tidak bisa menolak tugasnya?"
Chandra menggeleng, dan Nadia mencelos. "Komandan di atas saya sudah mempercayakan tugas ini. Sebab saya adalah salah satu anggota berpengalaman dengan negara Timur Tengah."
"Maaf, seharusnya saya mendiskusikan ini terlebih dahulu dengan kamu. Namun, dalam dunia militer, saya tidak bisa melibatkan kamu terlalu jauh. Nadia Sayang, hanya sebentar, saya janji, saya akan kembali dengan sehat tanpa kurang sesuatu apa pun."
"Kamu ... mau kan, menunggu saya?" Dengan sangat terpaksa dan berat hati, Nadia mengangguk sekali lagi atas permintaan Chandra.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Aku up kalau dapat hospotan lagi.