
Flora bangun dari tidurnya karena ia merasa haus, ia melihat di sampingnya terdapat Charles yang sedang tertidur memeluk tubuhnya dengan posesif.
Flora bergidik mengingat perlakuan Charles kepadanya. Ia melihat jam yang menempel di dinding memperlihatkan pukul 1 dini hari, dengan perlahan Flora menyingkirkan tangan kekar Charles dari tubuhnya, setelah itu ia beranjak dari tempat tidur dengan menutupi dadanya dengan kedua tangan. Ia pergi ke ruang walk in closet untuk mencari pakaiannya yang ia tinggal waktu itu. Flora tidak mau memakai baju milik Anin yang tergeletak di lantai, karena ia lebih nyaman memakai kaus dari pada baju tidur sexy itu.
Ternyata semua baju Flora masih tersimpan dengan rapi pada tempatnya, Flora memilih untuk memakai kaus longgar setelah memakai branya kembali. Setelah itu ia keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya untuk mencari dapur sebelum ia mendengar suara seseorang.
"Nona, ada yang perlu saya bantu?"
Flora sontak membalikkan tubuhnya dan ia melihat sosok wanita paruh baya tersenyum ramah kepadanya.
"Saya mencari dapur, saya ingin minum," ucap Flora.
"Tunggulah di sini Nona, akan saya bawakan minum untuk Anda," kata wanita itu dengan sopan.
"Tidak perlu, beritahu saja di mana dapurnya biar saya sendiri yang membawanya."
"Baiklah, mari ikuti saya Nona." Wanita paruh baya itu berjalan di depan Flora menuju dapur.
"Nona duduklah, biar saya yang membawa minumannya," kata wanita itu.
Flora pun duduk di kursi mini bar.
"Nona mau minum apa?"
"Air mineral saja," jawab Flora yang diangguki oleh wanita itu.
"Perkenalkan nama saya Rose kepala pelayan di sini. Jika Nona membutuhkan sesuatu panggil saja saya," kata Rose ketika menyimpan gelas berisi air di hadapan Flora.
"Oh ya, saya Flora. Senang berkenalan denganmu Mrs. Rose." Flora tersenyum manis kepada Rose.
"Nona, panggil saja Rose," pintanya.
"Emm... boleh kah saya memanggil Bibi?" tanya Flora.
"Bibi?" Rose mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Bibi itu panggilan yang diperuntukan kepada orang-orang seperti Anda. Itu bahasa Indonesia," jelas Flora yang disambut oleh senyuman Rose.
"Tentu saja boleh nona," ujar Rose dengan sangat ramah.
"Bibi kenapa belum tidur?" Flora merasa penasaran.
"Saya baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan saya Nona," jawabnya.
"Kalau begitu Bibi istirahatlah, ini sudah malam."
"Baik Nona, setelah Nona kembali ke kamar."
__ADS_1
"Saya tidak ingin kembali ke kamar Bi."
"Kenapa Nona?" Rose memasang wajah bingung.
Flora menghela napasnya, dan ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Nona, Anda sangat beruntung bisa dicintai oleh Tuan muda. Saya pun merasa lega jika wanita yang Tuan muda pilih itu adalah Anda. Dari awal Nona datang ke sini entah kenapa saya menyukai Nona dan berpikir jika Nona lah yang pantas untuk Tuan muda."
"Aku bukan siapa-siapanya Charles, Bi. Bibi kan tahu jika Charles sudah memiliki tunangan." Flora menegak air minumnya.
"Iya saya tahu, tapi Nona lah wanita pertama yang dibawa Tuan muda ke penthouse ini dan Nona lah orang pertama yang boleh menempati kamarnya," ujar Rose.
Flora mengerutkan keningnya. Dan terdiam sejenak. "Renatta belum pernah ke sini?"
"Belum nona, Tuan muda tidak pernah membawa Nona Renatta ke sini. Bahkan mungkin nona Renatta tidak tahu tentang penthouse ini. Yang perlu Nona tahu bahwa Tuan muda itu benar-benar mencintai Anda. Saya bisa merasakan itu, karena saya sudah sangat mengenali Tuan muda. Bahkan tidak ada satu pun yang boleh masuk ke dalam kamarnya kecuali saya yang harus membersihkannya. Tetapi dia dengan begitu mudah membiarkan Nona untuk tidur di kamarnya. Apalagi jika Tuan muda tidak mencintai Anda Nona?" jelas Rose tersenyum, menatap Flora lembut.
Berbeda dengan Flora yang terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Rose.
Tidak mungkin pria berengsek itu mencintainya! "Bibi Tidurlah, saya ingin di sini terlebih dahulu.“ Alih Flora.
Rose yang mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Flora pun mengundurkan diri untuk pergi ke kamar.
Flora melangkahkan kakinya ke daerah sofa di ruang tamu, ia pun merebahkan dirinya di sana. la masih memikirkan perkataan Rose tadi, tetapi Flora langsung menggelengkan kepalanya.
***
Charles mengerjapkan matanya, lalu ia mengalihkan tatapannya yang masih kabur ke samping kanannya. Ia menyadari jika Flora tidak ada di sampingnya. Hal itu membuat Charles segera bangun dari tidurnya dengan kondisi yang masih belum sadar sepenuhnya.
Charles melangkahkan kakinya ke arah toilet yang tertutup dan mengetuk pintunya.
"Flora, apa kau di dalam?" Charles terus mengetuk pintu kamar mandi, ketika tidak ada sahutan ia membuka pintu itu dan ternyata tidak terkunci dan kosong.
Tubuh pria itu menegang. "Flora!" Charles berlari ke arah walk in closet namun sama, ia tidak menemukan wanita itu.
"****!' umpat Charles lalu keluar dari kamarnya, ia membanting pintu dengan sangat keras.
"Flora! Kau di mana?!" teriakan Charles berhasil membuat semua pengawal dan pelayannya berkumpul.
"Ada apa Tuan muda?" tanya Rose yang melangkahkan kakinya ke arah Charles.
"Flora, apakah di antara kalian ada yang melihatnya?" tanya Charles dengan rahang yang sudah mengeras.
Semua pengawal dan pelayan saling tatap. "Tidak Tuan," jawab mereka seraya menggelengkan kepalanya.
"Sialan! Apa pekerjaan kalian, hah?! Flora tidak ada di kamar! Bagaimana bisa tidak ada satu pun di antara kalian yang melihatnya?!" bentak Charles murka, dengan jari yang menunjuk ke semua pengawalnya.
"Semalam saya sempat berbicara dengan Nona Flora Tuan, dia kehausan dan saya membawakan minuman untuknya. Saya berniat untuk menemaninya namun dia menolak, dia ingin menyendiri," sahut Rose.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, kalian harus mencari gadisku sampai ketemu. Jika tidak, kalian semua akan aku pecat!" ancam Charles penuh amarah yang langsung diangguki oleh pengawal dan pelayannya sebelum mereka berpencar untuk mencari Flora.
Charles mengusap wajahnya dengan kasar, serta menjambak rambutnya frustrasi. Dia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
Berbeda dengan Rose, dia sedang tersenyum melihat nona yang dikhawatirkan tuannya itu sedang tertidur lelap di atas Sofa.
Rose kembali menghampiri tuannya yang sedang gelisah. "Tuan, Anda tidak perlu khawatir, nona Flora tidak pergi kemana-mana," ucapan Rose sontak membuat semua orang mengalihkan perhatian kepadanya.
"Apa maksudmu?" tanya Charles menatap Rose secara tajam.
"Mari ikuti saya," pinta Rose dan Charles pun mengikuti pelayannya itu.
Charles mendapati gadisnya sedang meringkuk seperti bayi di atas sofa. Semua pengawal dan pelayan pun terkekeh gemas melihat nonanya itu.
Sedangkan Charles tidak suka jika gadisnya ditatap seperti itu oleh orang lain, terutama oleh lelaki termasuk pengawalnya.
"Lanjutkan pekerjaan kalian!" usir Charles dan semua orang pun pergi ke tempatnya masing-masing.
Charles duduk di sisi sofa, ditatapnya secara lekat gadisnya. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Flora dan merengkuh tubuh wanita itu yang membuat Flora bangun dari tidurnya.
"Good morning," sapa Charles tersenyum.
Flora hanya terdiam tidak ingin berbicara, dia masih kesal kepada pria yang ada di hadapannya. Namun, la akui jika Charles memang benar-benar tampan dalam kondisi apa pun.
Flora mencoba untuk mendorong tubuh Charles, tetapi ia tidak bisa. Tenaga pria itu memang sangat kuat.
"Bisakah kau melepaskan aku? Aku ingin pergi dari sini." Flora memberanikan diri untuk menatap mata Charles.
"Tidak."
"Charles, kau hargai perasaan Renatta. Dia tunanganmu! Dan kau akan menikah dengannya."
"Aku tidak akan menikahinya," sahut Charles dingin.
Flora hanya menggelengkan kepalanya. "Jangan berani-beraninya kau mempermainkan perasaan Renatta. Dia temanku, Charles!"
Ketika ia merasa tenaganya sudah terkumpul, dengan sekuat tenaga Flora mendorong tubuh Charles sehingga pria itu terjatuh dari sofa.
"Arrgh ...," rintih Charles.
Sedangkan Flora menatap sinis pria itu, ketika Flora akan pergi dengan cekatan Charles menarik tangan gadis itu.
"Lepaskan!" Flora mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman Charles.
"Kau akan ke mana?"
"Bukan urusanmu!" jawab Flora ketus yang masih saja berusaha untuk menarik tangannya.
__ADS_1
"Kau tidak bisa ke mana-mana, Flora!" kata Charles dengan suara dalamnya.
Pria ini benar-benar sangat licik, apa hak dia melarang Flora untuk tidak pergi? Sungguh berengsek!