
Nadia tersenyum canggung. "Ya, saya mau tahu tentang kamu. Jam berapa kamu bangun, kegiatan apa yang kamu lakuin di hari libur, terus ... apa kesukaan kamu, apa yang kamu nggak suka, saya mau tahu semua itu. Kata kamu, kita semua sedang berproses, saya mau melakukan proses itu."
Tangan kanan Chandra menyentuh lembut bahu Nadia, Nadia masih menatap ke arah suaminya dengan ragu-ragu dan kaku.
"Saya bangun jam 3 pagi. Lalu, saya membaca buku selama satu jam. Saya melakukan olahraga dan aktivitas rutin lainnya yang sama setiap hari. Sekarang, yang saya sukai ... melihat kamu berada disisi saya."
Chandra tersenyum, ada kekehan yang manis terdengar keluar dari mulutnya. Pria itu juga mengusap pipi Nadia dengan ibu jarinya. Nadia bengong, tidak dapat menanggapi jawaban Chandra yang sama sekali tidak ia prediksi akan seperti itu.
"Ayo tidur," ujar Chandra sambil berbenah.
•••
Apa-apaan sih Chandra itu. Orang yang tidak bisa ditebak. Semalaman, Chandra bisa bersikap sangat dewasa dan penyayang, seharian dia bisa begitu cuek dan tidak banyak bicara, dan tadi malam pria itu juga bersikap diluar kebiasaannya.
Ya, Nadia tahu dia belum mengenal Chandra dan tidak tahu banyak tentang kebiasaan pria itu. Tapi Chandra memang benar-benar tidak bisa ditebak. Dia berbeda dengan lelaki yang Nadia kenal sebelumnya. Merasakan sikap Chandra yang semakin hari semakin random, Nadia menjadi ragu dengan penjelasan Joy tentang kakak satu-satunya itu.
Atas undangan sepupu Nadia untuk acara ulangtahun anaknya yang ke tujuh, akhirnya Chandra bersedia diajak jalan-jalan oelh istrinya. Rumah sepupu Nadia dari pihak mamanya itu berada di wilayah kabupaten, sehingga Nadia dan Chandra harus berangkat lebih pagi agar tidak kena macet, apalagi di hari libur begini jalanan ke wilayah luar kota selalu padat dengan para wisatawan.
Mereka sampai di tempat tujuan, Vila sederhana dengan sebuah kolam ikan di bawah vila tersebut menjadi pemandangan yang cukup menyegarkan mata. Nadia berdiri di samping suaminya dengan senyum dibibir.
"Flores pasti panas, 'kan? Kalau di sini seger, dingin lagi. Banyak pohon-pohon," tanya Nadia pada Chandra yang fokus pada penglihatannya menuju undak-undak bukit, sawah yang menghampar dan tanaman sayuran yang tertata rapi di sana.
__ADS_1
"Iya, di Flores ada hutan, tapi hutan gelap. Tidak seperti di sini, kebun. Natural, seperti kata kamu," jawab Chandra tanpa mengalihkan perhatiannya.
Nadia terkikik, dengan gugup gadis itu kemudian meraih tangan kanan Chandra dan menggenggamnya. "Mau masuk sekarang?"
Chandra melihat ke bawah di mana tangannya digenggam oleh Nadia, pria itu membalas genggaman Nadia tidak kalah erat. "Ayo."
Chandra yang kaku, pendiam, non ekspresi nyatanya mau menyanyikan selamat ulangtahun bersama dengan Nadia, bersama dengan anak-anak yang menghadiri pesta ulangtahun Anna, Anna adalah putri kecil dari pasangan Adrian dan Reina yang sudah menikah selama sepuluh tahun lamanya. Ya, Adrian adalah sosok sepupu yang mengundang Nadia bersama suaminya itu.
Terlihat Adrian dan Reina berada di tengah-tengah pesta ulangtahun, tersenyum ceria menghibur Anna dan kawan-kawan sekolahnya dengan kue dan balon.
"Om, kata papa Anna ... kalau Om itu Army, ya?" tanya Anna polos dan menggemaskan pada Chandra, wajahnya sangat kecil dan cantik, perpaduan antara Adrian dan Reina memang bukan main hasilnya.
"Iya, om Army," jawab Chandra kaku dan datar.
Anna bertepuk tangan, sementara Nadia tertawa kecil memperhatikan tingkah suaminya yang sok akrab bersama si Anna.
"Woah, beneran Om Army? Sama dong kayak Anna. Bias Om siapa? Kalau Mia suka sama Kookie, oppa Kookie itu ganteng, Om. Terus lucu banget. Kalau udah besar Anna mau punya pacar kayak oppa Kookie."
Chandra menoleh ke arah Nadia karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan bocah itu. Nadia tertawa di tempat duduknya, tawa yang keras dan ceria. Tawa yang baru pertama kalinya juga Chandra dengar dari Nadia semenjak gadis itu dipersunting olehnya 10 hari lalu.
"Anna, Sayang. Omnya bukan Army penggemar BTS loh. Omnya ini Army tentara," jelas Reina yang membantu Chandra untuk menjawab kebingungan anaknya.
__ADS_1
Chandra tersenyum kaku ke arah Anna yang kini cemberut.
"Yah, kirain Om Army beneran," keluh Anna.
Di perjalanan pulang, Nadia masih tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingat kejadian antara Anna dan Chandra tadi. Sementara Chandra menyetir, istrinya itu masih menertawakan bagaimana ekspresi bingung Chandra di hadapan anak kecil.
"Saya senang, kamu terlihat bahagia hari ini," ujar Chandra tiba-tiba.
Nadia menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum. "Hm, puas banget. Saya masih nggak habis pikir sama Anna. Gimana mungkin sih cowok tinggi dan kekar kayak kamu jadi fansnya BTS."
"Namanya juga anak-anak. Saya juga suka dengan Anna, anaknya pintar dan cerdas. Saya jadi ingin punya anak."
"...."
Menyadari ucapannya, Chandra langsung berdehem untuk menghilangkan kecanggungan. Sementara Nadia langsung menoleh ke arah jendela dan menikmati pemandangan di luar sana yang mulai berubah-ubah, dari pematang sawah menjadi perkebunan strawberry.
'Kenapa juga saya bahas masalah anak," gumam Chandra dalam hati.
Tadi juga Chandra sempat mengobrol dengan Adrian, dan pria itu menawarkan salah satu vilanya untuk dipakai menginap oleh Nadia dan Chandra. Tapi Chandra menolak karena dia tidak membawa pakaian ganti begitupun Nadia. Tawaran itu mungkin akan diambil ketika Nadia dan Chandra memiliki hari libur lain untuk dihabiskan berdua.
•••
__ADS_1