Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 15


__ADS_3

Hari ini Charles menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di ruang kerjanya, ia disibukkan oleh pekerjaannya dan terus menerus berkomunikasi melalui telepon dengan Ken yang sedang mengurus bisnisnya di Dubai.


Sedangkan Flora ia sedang merasa bosan, karena seharian ini ia tidak diberi izin oleh Charles untuk keluar dari penthouse. Terpaksa ia harus bolos kerja, ia benar-benar jengkel kepada pria itu.


Andai Flora diberi kekuatan lebih, rasanya ia ingin sekali menghajar habis-habisan pria itu hingga tidak berdaya lagi.


Yang dilakukan Flora saat ini hanyalah terduduk di sofa panjang dekat jendela berkaca besar yang berada di ruang keluarga. Ia mengamati kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.


Drrrttt, drrrttt, drrrttt ....


Tiba-tiba dering ponsel Flora bersuara, menandakan ada panggilan telepon masuk. Flora pun mengambil ponselnya lalu menatap layar ponsel, ingin mengetahui siapa gerangan yang menelepon.


Mama Calling ....


Flora tersenyum, senang karena mamanya menelepon. Entah sudah berapa lama ia tidak menelepon mamanya. Flora pun mengangkatnya.


"Halo, Flora?" Suara Nadia terdengar dari seberang sambungan.


"Ma, i miss you," kata Flora yang hampir saja ingin menangis, betapa rindunya ia pada mamanya.


"I miss you to, kenapa tidak menelepon, Nak? Kamu baik-baik saja, 'kan? Mama khawatir kepikiran terus sama kamu, Flo," kata Nadia.


Flora terdiam, memang ia sudah lama sekali tidak memberi kabar pada keluarganya setelah Charles mengganggunya. Apakah ia harus memberitahu mamanya tentang Charles?


"Ah, Flora baik-baik aja kok Ma, jangan khawatir. Bagaimana kabar Mama sama papa? Langit dan Bintang apa kabar?"


"Syukurlah, Mama sama papa baik-baik aja. Adik-adikmu juga, dan tahun ini mereka sudah masuk Akmil."


"Papa di mana, Ma?" tanya Flora penasaran, ia ingin sekali berbicara dengan papanya.


"Papamu masih di kantor."


"Oiya, rencana kalau papa dapat cuti, Mama sama papa mau ke NY jenguk kamu," tambah Nadia yang membuat Flora terkejut.


"E-eh, papa sama Mama tidak usah repot-repot, nanti Flora yang akan ambil cuti lalu pulang ke Indonesia." Flora gelagapan menjawab perkataan mamanya.


"Ah, Ma, Flora tutup dulu ya, nanti Flo telepon lagi, i love you!" Flora menutup sambungan telepon, sebelum Nadia menjawabnya.


"Huft ...," desah Flora, lalu merenung ia tidak akan mau membicarakan soal Charles pada mamanya, walaupun ia ingin. Karena kalau papanya sampai tahu dengan masalah Flora dengan Charles, pasti Flora tidak akan diizinkan lagi melanjutkan kuliahnya. Dulu, saat Flora mengatakan ingin sekolah di luar negeri papanya sangat tidak mengizinkannya.


"Nona, apakah ada yang nona inginkan?"

__ADS_1


Flora menoleh ke arah suara yang telah membuyarkan lamunannya.


"Bibi," lirih Flora.


"Aku ingin keluar dari sini, Bi!" sambungnya.


"Maaf Nona, saya tidak bisa membantu jika masalah itu, karena sudah pasti Tuan muda tidak akan mengizinkannya," sahut Rose.


Flora hanya membuang napasnya secara kasar, dan kembali mengalihkan perhatiannya pada luar jendela.


"Maafkan saya Nona." Rose merasa sangat bersalah.


"Tidak apa-apa Bi." Flora tersenyum manis.


Rose pun hendak pergi meninggalkan Flora, sebelum Flora memanggilnya kembali.


"Bi, di mana pria itu?"


Rose yang mengerti dengan pertanyaan Flora pun hanya tersenyum.


"Tuan muda sedang berada di ruang kerjanya, Nona."


Rose pun dengan senang hati menuntun Flora untuk membawanya ke ruangan Charles, ketika mereka sudah berada di depan pintu ruang kerja pria itu, Rose berpamit untuk pergi ke dapur.


Tanpa aba-aba Flora menerobos masuk ke ruang kerja pria itu, Charles terlihat terkejut melihat Flora yang masuk ke ruangannya. Dia hampir saja akan memarahi orang yang berani-beraninya menorobos masuk ke ruangannya.


"Aku ingin pergi dari sini, Charles!" ucap Flora to the point


Sedangkan Charles kembali memfokuskan diri kepada berkas yang ada di tangannya. Flora menggebrak meja pria itu karena dia kesal diabaikan olehnya.


"Aku ingin pergi!" geram Flora penuh penekanan di setiap katanya.


Namun, lagi-lagi Charles terdiam tidak menjawab ucapan Flora.


"Oh ****! Go to hell, Charles!" teriak Flora kesal, sebelum pergi meninggalkan Charles, dan membanting pintu dengan sangat keras.


Charles hanya menatap sejenak ke arah pintu, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya.


***


Anin melangkahkan kakinya ke arah pintu karena dari tadi seseorang terus menerus mengetuknya.

__ADS_1


Ia membukakan pintunya, dan ia terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya.


"Hai A-Anin," sapa seseorang.


"Renatta? Kau mabuk? Sialan! Kenapa kau datang ke sini di saat kau sedang mabuk seperti ini, hah?!" teriak Anin kesal.


Renatta tidak mempedulikan perkataan Anin, dia menorobos masuk ke dalam apartment temannya itu dengan langkah gontai menuju ke arah sofa.


Sedangkan Anin hanya menggelengkan kepalanya, karena ia harus menyiapkan telinganya untuk mendengarkan ocehan Renatta di saat perempuan itu sedang mabuk.


Renatta menjatuhkan tubuhnya secara kasar ke sofa.


"Minumlah ini, agar kau tidak terlalu mabuk." Anin memberikan minuman penawar mabuk kepada Renatta yang langsung diminum oleh wanita itu.


"Ada apa lagi sekarang?" tanya Anin yang ikut duduk di sampingnya.


Renatta terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia mengeluarkan air matanya. Hal itu membuat Anin mengernyit tidak mengerti.


"Aku merindukan Charles. Sangat."


Anin dibuat tercengang oleh perkataan temannya.


"Aku merasakan perasaan yang buruk, belakangan ini Charles berubah padaku. Dia jarang mengabariku, dia pun tidak pernah menyentuhku lagi walaupun itu hanya sebuah kecupan," lirih Renatta yang terus menerus mengeluarkan air matanya.


Anin masih terdiam, seketika ia mengingat kejadian kemarin di mana Charles mencumbu Flora secara habis-habisan di hadapannya.


"Kau tahu? Aku benar-benar mencintainya Nin, selama ini aku belum pernah mencintai seorang pria sedalam ini. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya, pria yang telah membuat aku mencintainya dan bertekuk lutut kepadanya, sehingga aku selalu merasakan ketakutan jika aku tidak ada di sampingnya. Oleh karena itu aku ingin cepat-cepat menikah dengan Charles, aku ingin memiliki dia seutuhnya," jelas Renatta yang membuat dada Anin terasa sakit karena ia baru pertama kali melihat temannya seperti ini, ia tahu jika dulu Renatta bukanlah tipe wanita serius yang bisa setia pada satu pria. Namun, setelah dia bertemu dengan Charles, Renatta menjadi orang yang berubah drastis.


"Sudahlah, kau pasti akan menikah dengan Charles." Anin mencoba menenangkan temannya itu dengan mengusap-ngusap punggungnya.


"Maafkan aku Re, tapi aku tidak yakin jika kau bisa menikah dengan Charles," batin Anin.


"Tentu Nin, aku akan menikah dengannya. Kau dan Flora akan menjadi bridesmaidku." Renatta menatap Anin dengan senyumannya.


Sedangkan Anin merasa bingung harus bagaimana, dia merasa bersalah kepada Renatta karena menutupi perilaku Charles terhadap Flora.


"Of course," kata Anin sambil tersenyum manis.


Bersambung ....


Mama Nadia dulu, nanti papa Chandra nyusul.

__ADS_1


__ADS_2