Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 41


__ADS_3

Hujan kembali turun, setelah ratusan hari pancaroba dilalui dengan berat oleh masyarakat Flores. Nadia menikmati waktunya seorang diri di rumah dinas yang berukuran minimalis tersebut. Beruntung, rumah ini menyediakan sedikit ruangan sehingga Nadia tidak perlu takut tinggal di sini sendirian. Untuk menikmati hujan, Nadia juga memutar musik lewat handphone-nya.


Sepulang dari sekolah tadi, Nadia juga menelepon papa dan neneknya yang ada di Bandung.


Tidak lupa juga Nadia berbincang dengan Joy untuk sekedar curhat. Sekarang, perasaan Nadia menjadi jauh lebih lega dibandingkan tadi siang. Nenek mengatakan untuk tidak terlalu memikirkan cekcok rumah tangga, karena kebersamaan itu bisa membuat masalah dengan sendirinya terselesaikan. Nadia harus menjadi lebih dewasa dan pandai mengontrol emosinya.


Ya, Nadia harus mengalah. Keadaan sekarang adalah, keteledoran Nadia yang tidak pernah memikirkan kedatangan Vidi, dan apa yang akan dikatakan oleh lelaki itu pada Chandra. Wajar jika Chandra memiliki kesalahpahaman padanya, dan juga Vidi. Namun, sebagai wanita, Nadia pun memiliki gengsi yang cukup tinggi untuk merasa benar.


Saat melamun, Chandra justru datang dengan pakaian basah kuyup, pria itu membuka sepatu di teras dan merapikan barang bawaannya yang bernasib sama seperti dirinya.


Chandra menghela napas, tetapi ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik hari ini. Bahkan sampai nyaris pukul sembilan pria itu baru tiba di rumah.


Nadia yang sebenarnya masih jengkel pada Chandra membawakan handuk untuk suaminya itu, dan menyerahkannya pada Chandra yang sedikit terbengong ketika mendapatkan sambutan dari Nadia.


"Kenapa kamu baru pulang jam segini?" tanya Nadia setengah bergumam, wajah gadis itu juga tidak berani tengadah untuk melihat Chandra secara langsung.


Chandra tersenyum, tetapi Nadia tidak melihat senyumnya. "Ada sedikit masalah, makanya saya terlambat pulang. Keadaan di rumah baik-baik saja, 'kan?"


Nadia mengangguk, sekarang wajah datar itu menular pada Nadia. "Hem, sebaiknya, kamu mandi saja, saya akan siapkan makan malam."


Chandra mengangguk, dia segera menuju kamar mandi sesuai dengan permintaan Nadia, tanpa banyak bicara. Mungkin, kalau dia sudah bersih dan sudah makan, dia akan mulai mengobrol dengan Nadia dan meminta maaf atas ucapannya kemarin malam.


Nadia kemudian memanaskan masakannya di atas kompor, gadis itu juga membuat telur dadar sebagai tambahan lauk untuk Chandra. Tak lupa, dia juga menyajikan cokelat panas instan ke dalam cangkir untuknya dan Chandra.


Saat Nadia sibuk dengan masakannya, Chandra keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh segar dan bugar tentunya. Pun jangan lupakan juga bahwa pria itu hanya mengenakan handuk di bagian pinggang sampai lutut, tanpa maksud pamer, Chandra hanya membiarkan bagian dadanya terekspose begitu saja.

__ADS_1


"Ah, panas!!" ujar Nadia sambil meniup tangannya ketika tidak sengaja ia menyentuh gagang panci. Chandra yang sejak tadi memperhatikan, buru-buru menghampiri istrinya itu karena khawatir.


"Kenapa?" tanya Chandra yang kini berada di sisi Nadia.


"Eh!" Nadia terkejut bukan main, mereka sedekat ini saat Chandra justru baru selesai mandi. Karena gugup, Nadia juga tidak sengaja menyenggol cangkir berisi coklat yang akan diseduhnya hingga cangkir itu jatuh ke lantai dan pecah berhamburan.


"Kamu kenapa?" tanya Chandra sambil berjongkok, dan bersiap merapikan pecahan beling di lantai.


Nadia memalingkan wajahnya, dia tidak fokus gara-gara Chandra. Gadis itu menelan ludahnya susah payah sambil menepis tangan Chandra yang berusaha membantunya.


"Enggak, kok. Nggak apa-apa."


Chandra mencelos. "Hati-hati ... kamu, melamun, ya?"


"O-oh, iya ... k-kamu, hati-hati." Chandra bicara terputus-putus sambil berlalu menuju kamarnya.


•••


Chandra selesai dengan makan malamnya, kini pria itu berdampingan dengan Nadia di ruang tengah rumah mereka. Nadia sejak tadi tidak bisa berhenti berpikir untuk memulai percakapan dengan Chandra, dan Chandra juga tidak banyak bicara lagi sejak kejadian di dapur.


Chandra menarik napasnya, dia menoleh ke samping hanya untuk melihat wajah cantik istrinya yang tampak pucat. "Maafkan saya," ujar Chandra dengan lembut dan tulus.


Nadia merasakan pipinya panas, dia pasti akan menangis sekarang.


"Maaf, saya sudah melanggar janji saya. Kamu pasti sangat marah dengan saya karena perihal kemarin. Semalam, saya mendengar kamu menangis, pekerjaan saya pun tidak terselesaikan seperti biasanya, sampai saya terlambat pulang hari ini."

__ADS_1


Napas Nadia rasanya memburu ketika Chandra menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat. "Saya sangat marah kemarin ...," tambah Chandra gugup.


Nadia memaksakan senyuman, tetapi air mata justru turun dengan deras begitu saja, sampai rasa hangatnya air bening itu bisa Nadia rasakan dengan jelas membasahi pipinya. "Saya sangat keterlaluan," ucap Chandra dengan nada amat bersalah.


"Chandra, saya mau pulang ke Bandung."


Sepasang mata Chandra membulat, pandangannya menjadi bergetar ketika Nadia justru mengucapkan satu kalimat izin yang membuat perasaan Chandra terguncang. Apakah, permintaan maaf Chandra kurang tulus?


"Kenapa?" tanya Chandra hati-hati. Melihat wajah Nadia yang sembab dan bersimbah air mata pastinya ucapan Chandra masih membekas pada Nadia, meskipun ia telah meminta maaf.


"Saya, pasti sudah benar-benar membuat kamu marah," tambah Chandra sembari mengusap lembut air mata di wajah istrinya itu. Suhu tubuh Nadia sedikit hangat membuat Chandra makin dihinggapi rasa bersalah.


"Tidak, bukan karena saya marah," elak Nadia dengan suara bergetar, gadis itu memaksakan senyumnya. "Saya, memang berencana ingin pulang ke Bandung kalau sudah beberapa waktu di sini. Ada pekerjaan di sana."


Chandra mengangguk kecil, Nadia pasti berbohong. "Saya tidak masalah kalau kamu marah sama saya, Nad. Saya tidak masalah sama sekali. Justru kalau kamu marah, saya makin ingin belajar, bagaimana caranya membuat kamu bahagia dengan cara saya."


"Tapi, sepertinya bisa, ya?"


Nadia terkekeh pelan, air matanya tidak berhenti turun. Nadia menutupi wajahnya dengan perasaan campur aduk. Chandra meraih tubuhnya ke dalam pelukan yang erat.


"Kalau begitu, besok saya akan mengantarkan kamu ke bandara. Salam ya, untuk semua keluarga." daripada perpisahan suami istri, ucapan Chandra itu lebih terdengar seperti perpisahan dengan sesama rekan kerjanya.


BERSAMBUNG ....


HELLO EVERYONE, I'M BACK. JANGAN LUPA KASIH LIKE, KOMEN, &VOTENYA. THANKS.

__ADS_1


__ADS_2