Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair Episode 23


__ADS_3

"Dia berkhianat padamu, Flora! Dengarkan aku, dia berkhianat kepadamu! Dengan jalangnya dia menyerahkan tubuhnya pada Morgan pria berengsek itu. Dan kau masih saja peduli kepadanya? Di mana pikiranmu?!" sentak Charles lalu beranjak dari sofa.


"Stop, Charles. Stop! Kumohon hentikan! Aku tidak mau mendengar hal itu. Tidak, aku tidak mau!" teriak Flora yang sudah mengeluarkan air matanya dengan begitu deras.


"Kumohon hentikan! Jangan membahas hal itu lagi. Aku tidak mau Charles, aku tidak mau," lirih Flora.


Charles menghampiri Flora dan memeluk tubuh gadisnya yang gemetar dengan hebat, mengabaikan pukulan bertubi-tubi dari Flora, ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku membencimu Charles, aku membencimu!" ujar Flora sambil terisak.


Charles merasa hatinya diremas melihat Flora menangis seperti ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Flora pada waktu itu, mungkin dia sangat tertekan dan frustrasi.


***


Flora baru saja sampai di New York, dia sangat bersemangat untuk segera menemui kekasihnya. Flora sengaja tidak memberitahu Morgan jika dirinya hari ini kembali dari Indonesia.


Flora berjalan keluar dari bandara dengan menenteng satu buah koper besar dan satu buah tas miliknya. Flora tidak henti-hentinya mengumbar senyuman di wajah cantiknya, karena dia merasa terlalu bahagia saat ini.


Brukkkk!


Langkah Flora terhenti ketika terdapat seorang lelaki paruh baya yang tiba-tiba pingsan tepat di hadapannya. Hal itu sontak membuat Flora terkejut dengan langkah tergesa Flora menghampiri orang itu yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.


"Oh My God, help! Help me!" teriak Flora mencari bantuan.


"Sir, wake up!" Flora menepuk-nepuk pelan pipi lelaki itu, sehingga membuat lelaki paruh baya tersebut sedikit membuka matanya, tetapi tidak lama kemudian pria itu kembali tidak sadarkan diri.


Orang-orang pun berkumpul dan segera membantu. Sedangkan Flora bergegas menghubungi ambulance untuk membawa lelaki paruh baya itu ke rumah sakit.


Setelah Flora mengantar pria itu ke rumah sakit dan membayar uang administrasi pengobatan, Flora kembali pada tujuannya untuk menemui kekasihnya. Saat ini ia berada di dalam taxi menuju apartment Morgan.


Flora sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon tunangannya itu. Ya, mereka akan bertunangan satu bulan lagi. Tujuan Flora pulang ke Indonesia selain untuk melepas rindu kepada kedua orang tuanya, ia pun memberitahu kedua orang tuanya tentang pertunangan yang akan dilaksanakan bulan depan. Dan hal itu tentu menjadi kabar baik untuk kedua orang tua Flora.


30 menit kemudian Flora sudah sampai di apartment Morgan. Dia segera keluar dari taxi, dan memasuki apartment itu. Flora menaiki lift dan menekan tombol angka 11 di mana kamar Morgan berada.


Ting!


Pintu lift terbuka dan ia pun melangkahkan kakinya keluar. Flora berniat akan memberi kejutan kepada kekasihnya, dia tahu jika saat ini Morgan sedang tidak ada di apartment. Karena saat di bandara, Flora sudah terlebih dahulu menelepon Morgan dan pria itu mengatakan jika dirinya sedang berada di kantornya.


Setelah sampai di depan pintu apartment Morgan, Flora memasukkan sandi pada tombol pintu itu. Ya, Flora memang mengetahui password pintu apartment kekasihnya, karena Morgan sendiri yang memberitahunya.

__ADS_1


Flora melangkahkan kakinya menuju sofa untuk merebahkan tubuhnya terlebih dahulu, ia memejamkan matanya sesaat sebelum ia mendengar sesuatu. Flora bangun dari tidurnya dan duduk di sofa tersebut. Dia menajamkan pendengarannya untuk memastikan suara tersebut berasal dari mana.


"Ouhh Mor-ghannn...."


Tubuh Flora menegang, detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa dingin, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya. Dengan tubuh yang gemetar Flora bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya secara perlahan menuju sumber suara yang berada tepat di dalam kamar kekasihnya itu.


Sialnya pintu kamar tersebut tidak ditutup sama sekali, oleh karena itu Flora dengan sangat jelas bisa melihat keadaan di dalam sana.


"Damn! Kau sangat menggairahkan!"


Flora diam mematung saat melihat aktivitas kekasihnya itu dengan wanita lain, Flora hanya melihat punggung Morgan yang telanjang. Karena posisi mereka yang membelakangi pintu kamar, sehingga mereka tidak menyadari kehadiran Flora.


Mata Flora memanas dan memerah, dia mencoba untuk menahan tangisannya, tetapi dia tidak bisa, air mata kesakitan itu merembes di kedua pipi mulusnya. Dia benar-benar merasakan sesak dan sakit di dadanya terlebih ketika Morgan mengatakan sesuatu.


"Oh Flora, kau milikku, sayang!"


"Kau sangat hebat, Re!" ucap Morgan dengan napas yang tidak beraturan.


Hati dan pikiran Flora benar-benar hancur saat ini, ia tidak menyangka dengan perbuatan kedua orang yang selama ini dia percaya dan sayangi ternyata di belakangnya mereka telah mengkhianatinya.


Morgan dan Renatta masih belum sadar dengan kehadiran Flora, sebelum Flora mengatakan sesuatu.


Hal itu sontak membuat kedua orang yang sudah memadu kasih itu bangun dari tidurnya. Morgan dan Renatta sangat terkejut mendapati Flora yang sudah duduk di sofa yang tidak jauh dengan tempat tidur.


"Sa-sayang!"


"Flora."


Flora hanya menatap datar ke arah kedua orang yang masih telanjang di hadapannya. Renatta segera menutupi tubuhnya dengan selimut, dan Morgan turun dari tempat tidurnya untuk memakai boxer dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Flora dengan wajah yang tegang.


"Stop!" pinta Flora lirih, untuk memberhentikan langkah kaki Morgan yang berada beberapa meter di hadapannya.


Namun, Morgan tidak peduli dengan ucapan Flora, ia terus mengikis jarak dengan kekasihnya itu.


"Aku bilang stop!" teriak Flora hilang kendali yang berhasil membuat Morgan benar-benar berhenti melangkahkan kakinya.


"Sayang, aku mohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu," mohon Morgan memelas.


Sedangkan Flora mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedang menatapnya dengan tubuh yang bergetar

__ADS_1


"Hai Re, apa kabar?" sapa Flora tersenyum manis.


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya." Morgan mensejajarkan tubuhnya dengan Flora dan menggenggam kedua tangan kekasihnya itu.


"Kau terlalu berani untuk menggenggam tanganku, Sayang," sarkas Flora. Penuh penekanan dalam setiap katanya.


Morgan pun melepaskan genggamannya dari tangan Flora, dia benar-benar merasa bersalah kepada kekasihnya itu.


"Re, terima kasih kau telah membantu untuk meyakinkan diriku jika pria ini bukanlah pria yang pantas untuk mendampingiku." Flora menatap sendu ke arah Renatta. Sedangkan Renatta tidak sadar telah menitikan air matanya.


"Kau tahu kan jika aku tidak bisa marah? Apalagi kepadamu teman dekatku. Jujur, aku kesal padamu Re, tapi percayalah hanya dengan memberiku waktu untuk tidak muncul di hadapanku beberapa waktu, aku akan kembali merasa baikkan."


Tangis Renatta semakin pecah, dia benar-benar bersalah karena telah menyakiti teman baiknya. Dia merasa bodoh karena telah dipengaruhi nafsunya untuk mendapatkan kepuasan dari Morgan.


"Flo, a-aku minta m-maaf," ucap Renatta dengan terbata.


Morgan mengusap wajahnya frustrasi menyalahkan sikap bodohnya yang berakibat menyakiti kekasihnya, calon tunangannya, wanita yang dicintanya. Morgan sangat mengetahui jika saat ini kekasihnya itu sedang menahan air matanya, karena Flora memang tidak pernah menangis di hadapan orang lain termasuk dirinya. Wanita itu terlalu kuat untuk menahan kesedihannya.


"Untuk saat ini aku belum bisa memaafkanmu, Re. Namun aku berjanji jika kau sudah bisa berubah, datanglah kepadaku dan aku dengan senang hati akan menyambutmu. Aku akan memaafkanmu. Aku hanya tidak ingin kau terus menerus bersikap seperti ini dan kau harus menghadapi kekasih pria lain yang bercinta denganmu, tapi wanita itu berbeda denganku. Aku tidak ingin kau menjadi orang yang disalahkan dan dihina." Flora berucap tanpa kebohongan, dia benar-benar ingin temannya itu berubah.


"Dan untukmu," Flora menatap Morgan.


"Kau harus bertanggung jawab atas perlakuanmu, kau sudah tidak bisa mempertahankan hubungan kita."


"Sayang, aku mohon dengarkan aku." Morgan bersimpuh di hadapan Flora, sedangkan Flora menatap datar pria itu.


"Kita selesai."


Morgan menatap kaget kekasihnya, berkali-kali ia menggelengkan kepalanya.


Flora sudah tidak kuat, dia sudah tidak bisa menahan tangisannya. Oleh karena itu ia memilih bangkit dari duduknya berniat untuk pergi dari tempat ini.


"Sayang, aku mohon jangan seperti ini, jangan meninggalkan aku. Aku mohon," pinta Morgan dengan mata yang sudah memerah.


"I'm don't with you!" keputusan Flora tidak bisa diganggu gugat.


Bersambung ....


Oke, ada adegan klise, maafin.

__ADS_1


__ADS_2