Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 19


__ADS_3

"Mama ... Papa ke mana ...?"


Flora terus merengek bertanya soal keberadaan papanya yang pergi tanpa pamit. Nadia jadi bingung sendiri untuk menjelaskannya, sekarang pukul 2 pagi dan Ola masih belum tidur nyenyak karena tidak ada papa di sisinya.


"Papa kan lagi ambil boneka Elsanya buat Ola ...."


"Ola nggak mau Esla ...."


"Aduh Sayang, maunya apa dong?"


"Mau papa!"


Tangisan Ola kembali pecah, sampai papa Nadia yang tidur di kamar sebelah masuk ke dalam kamar karena khawatir.


"Kenapa Nad, Ola nya?"


"Akeeeee ...." Ola merengek dan kedua tangannya terangkat ketika melihat sosok kakeknya yang berdiri di ambang pintu. Nadia tersenyum lesu, dia memangku Ola dan menyerahkannya pada sang papa.


"Nanyain papanya, dari tadi kebangun terus," beritahu Nadia pada papa.


"Aduh ... aduh ... Sayang cucu kakek ... kakek gendong-gendong ya, Nak?"


Ola terdiam, tetapi tangisannya masih belum berhenti, balita itu baru kali ini demam dan sangat rewel, mungkin karena tidak ada papanya.


"Kamu tidur aja Nad, Ola biar papa yang jagain."


"Enggak Pah, aku juga nggak bisa tidur. Baru sekarang ditinggal Chandra lagi."


Papa terkekeh kecil, "Nanti sakit loh. Papa ke sini buat jagain kamu sama Flora."


"Hehe ... Enggak, Nadia bikin susu dulu buat Flora ya, Pah." Nadia menyiapkan dot dan juga susu formula untuk Flora, sejak usia 13 bulan Flora memang sudah tidak meminum ASI ekslusif dari mamanya sehingga kini kebutuhan nutrisinya dibantu dengan susu formula dan juga makanan bertekstur lebih padat.


Setelah susu selesai dibuat, Nadia membawa kembali Flora ke atas tempat tidur dan memberikan dot itu untuk anaknya. Flora mengisap dotnya dengan tenang walau sepasang matanya sembab. Nadia meraih ponselnya yang sejak semalam dibiarkan begitu saja di atas meja, sejak punya anak Nadia jarang sekali memeriksa ponselnya apalagi dengan keadaan Flora yang sakit seperti sekarang ini, semuanya serba terbatas untuk dilakukan.


"Flora mau telepon papa?"


"Pikol?" tanya Ola sedetik setelah dot terlepas dari mulutnya, Nadia tertawa kecil dan mengecup gemas kening Flora.


"Iya, video call, mau Nak?"


Flora mengangguk kecil.


"Papa di mana?"


"Nanti Flora ngobrol sama papa ya," beritahu Nadia, ia pun mendial WhatsApp suaminya itu dengan fitur video call. Flora menunggu sembari menatap wajahnya sendiri di layar ponsel.


"Mama tatiiikk," ujar Flora sambil menunjuk wajah Nadia.


Nadia tersenyum. "Ola juga sakit."


Tidak perlu menunggu waktu lama, panggilan video call itu tersambung dan Chandra menampakkan wajahnya yang terlihat masih segar bugar walau sudah dinihari begini. Flora tersenyum dan langsung menjerit kecil saat melihat wajah sang papa.


"Papaaaa...."


"Halo Flora ... Belum tidur Sayang?"


"Papaaaa ...!"

__ADS_1


Chandra tersenyum pedih, belum genap 24 jam


berpisah dengan Flora dan Nadia, tetapi rasa rindu dan merasa bersalah dalam dirinya makin membuncah. Flora yang sedang sakit tampak ceria menatap padanya di pagi buta begini.


"Ola nggak bica tidul ...."


"Angen papa ...."


"Papa beli bomeka Esla."


Ola berceloteh, seolah mengadu pada papanya yang justru tidak kunjung pulang. Nadia sendiri memegangi ponselnya agar Flora dan Chandra bisa terus saling pandang. Beruntung NTT kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik dengan koneksi internet yang memadai, sehingga sinyal tidak putus-putus.


"Iya Sayang ... papa belikan boneka Elsa buat Flora."


"Atiiikkk...."


Ola bertepuk tangan, membuat Chandra gemas sekaligus dan Nadia mewakili kegemasan Chandra dengan menghadiahi Flora kecupan di puncak kepala.


"Flora tidur dulu ya, besok papa pulang."


"Nyanyi ...," pinta Ola manja.


Chandra jadi salah tingkah.


"Hanya disuruh nyanyi nih sama princess nya, masa papa nolak," ejek Nadia yang sejak tadi tidak bicara apa pun.


"Nyanyi apa? Papa kan nggak bisa nyanyi. Minta ke mama."


"Bocen ...," rengek Ola.


Maksudnya Flora bosan dengerin Nadia mamanya nyanyi.


Nadia terkikik, tetapi setelahnya ia pun setuju untuk membantu Chandra menyanyikan lagu lullaby untuk putri pertama mereka.


"Your my honey bunch sugar plum, pumpy umpy umpkin ....


You're my sweety pie ....


Your my cuppy cake, gumdrops,


Snoogumsboogums you're the Apple of my eyes and i love to sing sweet songs to you because you are so dear ...."


Jadilah duet singkat yang dilakukan Nadia dan Chandra pun tercipta lewat video call tersebut. Flora mendengarkannya dengan mata terkantuk-kantuk, tetapi senyuman manis masih tercipta di bibir mungilnya. Jemari kecil Ola menggenggam erat tangan Nadia yang berada di sisi tubuhnya.


"Mama atuk."


"Bobo Sayang ... Sini sama mama peluk, ya?"


"Umm ...." Flora bergeser makin rapat ke arah Nadia dan memeluk tubuh mamanya itu dengan erat, Nadia susah payah membenahkan posisi tidur anaknya sembari memegangi ponsel yang masih tersambung dengan video call.


Chandra memperhatikan tanpa banyak berkomentar apa pun.


"Kamu sih ... enggak tidur, ya?" Nadia langsung bicara pada inti masalah. Suaminya ia tegur malam itu.


Chandra malah nyengir, "Tidak enak kalau saya tidur. Di sini keadaannya masih belum kondusif, masyarakat pengungsi khawatir ada banjir susulan."


Nadia cemberut. "Tempat tinggal kita dulu aman, kan?"

__ADS_1


Chandra mengangguk. "Hmm, tempat rumah dinas kita tidak terkena musibah serupa. Tapi curah hujannya tinggi, ada beberapa titik rawan longsor."


"Ya ampun ... Kalau Flora sudah besar, saya mau ke Flores lagi, dan berkunjung ke rumah dinas lama kita."


"Ya, kalau Flora sudah berusia tiga tahun."


"Sayang ... kamu harus tidur, ya? Kasihan. Wajah kamu pucat, pasti karena Flora rewel." Chandra mengalihkan obrolan. Nadia tersenyum lemah menanggapinya.


"Jadi udah bosan teleponan, nih?"


"Tidak ... Kalau kamu sakit siapa nanti yang rawat saya? Saya kan tidak bisa makan masakan orang lain selain kamu."


Nadia terkikik, gombalan suaminya sudah bisa masuk level nasional kalau terus dilakukan setiap hari.


"Uluuhh ... Uwu banget jenderal bucin kita ini."


"Hahaha ... Saya suka julukan itu."


"Narsis," ejek Nadia pura-pura geli. Chandra tidak peduli, dia menatap sayang pada sosok istrinya yang malam itu terlihat sangat cantik sekali. Sudah lama mereka tidak melakukan panggilan video sehingga kesannya terasa lebih berbeda.


"Video call seperti ini jadi ingat masa-masa sebelum kamu jatuh cinta sama saya," kenang Chandra dengan senyum maut khas miliknya.


Nadia membulatkan kedua matanya. "Masa-masa sebelum jatuh cinta?"


Chandra mengangguk sembari menyangga dagunya yang tegas. "Ya, masa awal menikah."


"Ih, kok ngomong gitu sih ... enggak lah. Dari awal ketemu juga aku udah jatuh cinta ... cuman ... nggak ngomong aja."


"Oh iya? Kok tidak terasa ya? Perempuan itu memang mahkluk yang pintar menyembunyikan perasaan, kecuali cemburu."


Nadia tertawa kecil, suaminya ini makin malam makin asik juga.


"Ya siapa ya nggak jatuh cinta. Kamu ganteng, tinggi, perhatian, baik hati, terus polos."


Senyum Chandra makin melebar mendapatkan pujian tersebut, Flora yang sedang tidur sedikit terusik karena mendengar obrolan orang tuanya yang justru bernostalgia lewat telepon.


"Pokoknya pas awal ketemu itu, kamu bikin kaget soalnya langsung ngajak nikah ... kayak orang gila, tapi anehnya aku juga mau, haha ...."


"Ya, kan saya sudah tergila-gila dengan kamu."


"Ih, geli banget sih omongannya."


"Nadia sayang ... di sini sudah mau subuh, sudahan ya teleponnya."


Nadia mengerucutkan bibirnya, Chandra melakukan hal yang sama, tetapi jika diteruskan bertelepon maka Nadia tidak akan tidur sama sekali.


"Hmm, iya deh, kamu juga ... jangan lupa minum suplemennya ya."


"Iya cantik ... saya titip kamu ya, jangan capek-capek."


"Heemmm bawel ... jadi makin kangen."


"Saya tutup ya ...."


"Iya bebiiii."


"Byee ... selamat tidur cinta."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


Wah ... Aku minta maaf karena jarang up dan membuat kalian menunggu. Aku jarang up karena setiap hari tugas di sekolah makin bertambah, ditambah dengan ulangan harian, serta aku harus mempersiapkan diri untuk ikut lomba dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN).


__ADS_2