Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair Episode 37


__ADS_3

"Oh my God! This is so beautiful!" ucap Anin. Dengan matanya yang berbinar melihat sebuah tas dengan merk ternama, yang terpampang di magazine yang sedang ia pegang.


Anin dan Renatta sedang sibuk melihat koleksi-koleksi tas dan pakaian bermerk edisi terbaru. Sedangkan Flora, ia sedang sibuk dengan bukunya yang sedang ia baca. Sesekali ia menyeruput orange juice miliknya, walaupun ia harus sedikit meringis saat meminumnya.


"Flo, apa kamu tidak ingin melihat ini?" tanya Renatta. Yang dijawab oleh gelengan kepala Flora. Ia tidak berminat untuk melihat hal semacam itu.


"Flora," panggil seseorang. Yang membuat Flora mendongakkan kepalanya.


"Jo," gumam Flora.


Pria itu memilih duduk di samping Flora setelah menyapa Anin dan Renatta.


Jonathan menatap wajah Flora secara intens, sehingga membuat Flora salah tingkah.


"Apa yang terjadi? Siapa pria yang semalam berbicara denganku?" tanya Jonathan. Membuat perhatian Anin dan Renatta teralih kepadanya.


"Apa benar, dia calon suamimu? Apa benar, kamu akan segera menikah?" tanya Jo kembali.


Flora terkejut. Ia segera menoleh ke arah kedua temannya, yang sedang menatapnya juga.


"What? Menikah?" teriak Renatta. Yang mendengarnya. Ia sangat kaget dengan ucapan Jonathan.


"A-ti-tidak. Bu-kan. Itu salah paham. Dia hanyalah temanku Jo. Maafkan dia, karena semalam dia sedang memiliki masalah dan ingin aku untuk menemaninya. Oleh karena itu aku tidak dibiarkan untuk pergi. Maafkan aku Jo, aku telah membuatmu kecewa!" bohong Flora. Namun, dia benar-benar merasa tidak enak kepada Jonathan.


Semalam Charles benar-benar mengurungnya. Pria itu terus saja mencumbunya secara habis-habisan, sehingga membuat bibir Flora terasa perih dan ngilu hingga saat ini. Karena Charles memang melakukannya dengan sangat agresif. Andai Chandra tidak mengetuk pintu kamar, mungkin Charles tidak akan melepaskan cumbuannya.


Terlihat seulas kelegaan di wajah Jonathan, tetapi itu tidak menutupi raut kekecewaan di wajah pria itu.


"Lalu kapan kita memiliki waktu untuk bersama?" Jonathan menatap Flora dengan penuh harapan.


"Emm... Aku tidak tahu, karena beberapa hari ke depan aku sedang disibukkan oleh suatu pekerjaan," bohong Flora kembali.


Anin hanya tersenyum geli melihat kebohongan Flora. Sedangkan Renatta masih saja penasaran dengan pembicaraan kedua orang di hadapannya.


"Baiklah jika begitu, aku harap suatu saat nanti kau memiliki waktu untukku." Jonathan beranjak dari kursi, berniat untuk pergi.


Flora hanya tersenyum dan mengangguk untuk menjawab perkataan Jonathan.


Ketika Jonathan akan membalikkan tubuhnya, ia teringat akan sesuatu. Dan kembali membenarkan posisinya untuk berhadapan dengan Flora.


"Oh iya, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Morgan. Pria itu sedang dihajar habis-habisan oleh beberapa orang pria yang berpakaian jas hitam formal. kondisinya cukup mengkhawatirkan!" ungkap Jonathan.


Hal itu membuat Flora dan kedua temannya membulatkan matanya dengan sempurna. Apalagi Renatta, dia sangat terkejut mendengar hal itu. Dia baru mengetahui jika Morgan ternyata sudah kembali ke New York.


"A-APA?" ucap Flora dengan nada tinggi.


"Aku bertemu dengannya di parkiran club malam. Awalnya aku hanya berniat untuk menolongnya, tapi saat aku tahu dia adalah Morgan. Jadi sepertinya aku harus memberi tahumu tentang hal ini. Walaupun dulu aku pernah sangat membencinya!" kata Jonathan.


"Lalu sekarang dia di mana?" sahut Renatta terlihat panik.


"Entahlah, mungkin sekarang dia sudah pulih. Tapi waktu itu aku membawanya ke rumah sakit terdekat, setelah aku mengurus administrasinya, aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengannya. Karena tidak mungkin jika aku harus merawatnya."


Flora termenung. Pantas saja belakangan ini dia tidak melihat ataupun mendengar kabar tentang Morgan. Jujur saja, masih ada sedikit kekhawatiran di hatinya saat mendengar apa yang terjadi dengan Morgan. Namun dia pun bingung harus melakukan apa, apakah dia perlu untuk bertemu dengan pria itu untuk mengetahui kondisinya?!

__ADS_1


"Flo, kamu ingin bertemu dengannya?" tanya Renatta. Flora mendongakkan wajahnya untuk menatap Renatta. Dia bingung harus melakukan apa. Dia sudah tidak ingin berurusan dengan Morgan, tetapi disisi lain dia ingin mengetahui kondisi pria itu.


Anin menatap Flora penuh penasaran. Dia ingin tahu, apa yang akan Flora lakukan. Dan Anin tidak akan melarangnya.


"Aku akan melihatnya!" jawab Flora.


***


Hening. Hanya keheningan yang menyelimuti apartemen ini. Ya, saat ini Flora, Renatta dan Anin berada di apartemen Morgan. Mereka sedang duduk di ruang tamu.


Morgan sangat terkejut dengan kedatangan Flora dan Renatta. Hal itu membuatnya mengingat kembali kejadian bodoh beberapa tahun yang lalu.


"Hai, apa saat ini kau baik-baik saja?" tanya Renatta canggung. "Seperti yang kau lihat," jawab Morgan. Dingin.


Morgan memang sudah terlihat membaik, hanya terdapat beberapa bekas luka yang berada di wajahnya.


Pria itu tidak mengalihkan tatapannya dari Flora. Jujur, dia sangat bahagia melihat Flora datang ke apartemennya. Dia sungguh merindukan gadis itu, gadis yang masih dia cintai. Jika diperbolehkan, dia sangat menginginkan untuk bisa memeluk tubuh Flora.


Dia merindukan aroma tubuh gadis itu yang selalu menenangkannya. Hal itu kembali membuat Morgan sangat menyesal, karena dulu dia pernah mengkhianati dan menyakiti gadis yang paling berharga baginya.


Andai waktu bisa diulang, dia tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu. Jika dulu dia tidak melakukan hal itu, mungkin saat ini dia sudah bahagia dengan Flora. Mungkin saja mereka sudah menikah, karena dulu Flora pernah mengatakan jika dia tidak ingin jarak antara pertunangan dan pernikahan itu berjarak jauh. Karena dia takut akan ada masalah yang menimpa hubungan mereka. Dan ternyata, sebelum pertunangan itu terjadi pun mereka sudah mendapatkan masalah besar dalam hubungannya, yang membuat mereka harus berpisah. Sungguh menyedihkan!


"Re, temani aku untuk membuatkan makanan!" ajak Anin. Dia hanya ingin memberi waktu untuk Morgan dan Flora berbicara.


Renatta pun menerima ajakan Anin, mereka segera pergi ke dapur. Morgan memang sudah sangat dekat dengan kedua teman Flora, oleh karena itu Anin sudah tidak sungkan dengan pria itu. Begitupun sebaliknya.


"Apa kabar?" Morgan membuka obrolan.


Flora yang awalnya tidak berani menatap Morgan pun, terpaksa ia harus menatapnya. Ia selalu merasa sakit, ketika melihat wajah pria itu.


"Syukurlah, aku senang jika kamu baik-baik saja." Morgan masih memperhatikan Flora. Dia tidak akan pernah bosan untuk menatap gadis itu.


Flora berusaha untuk melenyapkan memory buruk yang terjadi antara dirinya dan Morgan. Dia ingin berteman dengan pria itu, dia tidak ingin kenangan buruknya selalu menghantui kehidupannya. Dia sudah lelah.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Flora.


Morgan tersenyum. Ia sangat senang, karena Flora bertanya kepadanya.


"Tidak ada apa-apa. Ini bukan sesuatu hal yang perlu diperbesarkan."


"Apa kamu waras? Lihatlah dirimu, ini semua pasti ada yang tidak benar! Apa kamu tidak ingin bercerita lagi padaku?" Flora memelankan suaranya di ujung ucapannya.


Morgan tertawa terbahak-bahak. Entahlah, rasanya Flora terlihat lucu jika sudah banyak berbicara seperti itu. Dan Morgan selalu menyukainya.


Flora mengerutkan keningnya. "Apa ada yang lucu?"


"Kamu. Kamu sangat lucu!"


Flora mendengkus kesal. Dan melipatkan tangannya di dada.


Suasana pun menjadi hening kembali.


"Rasanya sangat sulit untuk melepaskanmu、Flo. Jika aku diizinkan, aku ingin mengurungmu bersamaku. Aku ingin berusaha untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Sungguh, aku masih mencintaimu. Dan aku rasa, ini akan bertahan dengan lama!" ucap Morgan dengan nada yang lirih.

__ADS_1


Tubuh Flora tiba-tiba merasa dingin. Dia benci dengan dirinya yang mudah terbawa suasana. Dia terlalu lemah dan perasa. Terbukti saat ini ia merasa matanya mulai memanas, entah kenapa rasanya dia sangat sedih mendengar perkataan yang keluar dari mulut Morgan.


"Aku memang pria bodoh. Sangat bodoh! Karena aku harus mematahkan hatimu di saat detik-detik menuju hari bahagia kita. Padahal kita sudah membangun banyak mimpi untuk kehidupan kita di masa mendatang. Namun, dengan bodohnya aku merusak semua itu. Aku sangat menyesal Flo. Aku tidak akan pernah melupakan kebodohanku itu seumur hidupku."


"Aku ingin sekali egois. Egois untuk memaksamu hidup denganku. Namun, aku mencintaimu, Flo. Aku tidak ingin lagi menyakitimu. Sudah cukup luka yang aku torehkan dihidupmu. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Sekarang, biar aku saja yang menanggung semuanya. Biar aku saja yang menanggung rasa sakit ketika kenyataannya kamu bukanlah untukku. Biar aku saja yang menanggung rasa rindu yang teramat dalam dan besar ini. Sekarang, sudah waktunya untuk kamu berbahagia!" lanjutnya.


Flora tidak bisa menahan lagi air matanya, untuk pertama kalinya ia menangis di hadapan Morgan. Selama dia memiliki hubungan dengan Morgan, ia tidak pernah sekalipun menangis di hadapan pria itu. Morgan yang menyadari hal itu pun, segera bangkit dari duduknya. Dan memilih untuk menghampiri Flora, dan duduk di samping gadis itu.


Morgan menarik secara lembut dagu Flora, untuk menatapnya. Flora terisak, ia tidak bisa menahan air matanya. Rasanya, saat ini ia sedang menumpahkan semua kesakitan yang ia pendam selama ini.


Morgan segera mendekap tubuh Flora, ia memeluk Flora penuh dengan kasih sayang. Ia tidak ingin melepaskan gadis ini. Itu sangat sulit baginya.


"Maafkan aku. Maafkan aku karena telah menjadi lelaki pengecut dan bajingan. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu! Tapi, kebahagianmu itu lebih penting bagiku. Jika suatu saat nanti, pasanganmu menyakitimu, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi pria itu. Siapapun dia! Cukup aku saja yang menyakitimu. Tidak ada lagi yang boleh atau berhak menyakitimu sedikitpun!"


Flora secara spontan melingkarkan tangannya pada tubuh Morgan. Ia memeluk erat pria itu. Morgan pun tidak kalah erat untuk memeluk Flora.


"Berbahagialah, Flo. Semoga pernikahanmu dengan Charles berjalan dengan lancar!" gumam Morgan.


Tubuh Flora menegang. Ia berniat untuk melepaskan pelukannya, tetapi Morgan menahan tubuhnya. Ia tidak mau mengakhiri pelukan itu.


"K-kamu tahu?" tanya Flora dengan sangat gugup dan takut.


Dari mana Morgan mengetahui semua itu? Apa yang akan terjadi jika Morgan mengatakan hal itu kepada Renatta? Sungguh, Flora belum siap untuk menghadapi kenyataan itu.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun." Morgan masih dalam posisi memeluk tubuh Flora.


Sedangkan Flora terdiam. la termenung. Sebelum ia tersadarkan oleh getaran ponsel miliknya yang berada di saku celananya. Morgan hanya melonggarkan pelukannya, Tidak berniat untuk melepaskan pelukan itu. Dan syukurnya, Flora tidak memberontak.


Flora meraih ponselnya, dan ia melihat di layar ponsel, jika Charles memanggilnya.


"Ini Charles," ucap Flora.


"Angkatlah. Aku hanya ingin memelukmu. Anggap saja ini adalah pelukan terakhir dariku, sebelum kamu resmi menjadi istrinya."


"Ha-Hallo," jawab Flo.


"Flora, kamu sedang di mana sebenarnya? Thomas berkata jika kamu belum keluar?!" tanya Charles khawatir.


Flora terdiam sejenak. Dia bingung harus menjawab apa. Karena memang benar, tadi ia kabur dari pengawasan Thomas. Tentu saja itu semua atas bantuan kedua temannya.


"Flora!" panggil Charles dengan nada tinggi. Karena Flora tidak menjawabnya.


"A-aku-Oh ya, tadi aku memang sedang buru-buru. Aku sedang bersama Anin dan Renatta, kita sedang menyiapkan kejutan untuk teman kelas kita yang sedang berulang tahun. Sebentar lagi acaranya selesai, nanti aku akan segera pulang!" bohong Flora. Morgan hanya terkekeh dalam pelukannya. Hal itu membuat Flora kesal.


"Kenapa kamu tidak minta antar saja kepada Thomas? Dia kan bisa mengantarmu!'


"Tidak ара-ара Charles. Lagi pula aku ikut dengan Anin. Jadi kamu tenang saja. Sudah dulu ya, nanti aku kabari lagi ketika aku pulang!"


"Flo," ucapan Charles terpotong, karena Flora segera mengakhiri panggilannya. Dan mematikan ponselnya.


"Kamu sangat lucu ketika sedang berbohong," kekeh Morgan.


Dengan sekuat tenaga, Flora mendorong tubuh pria itu agar melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Flora menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Rasanya sangat mendebarkan ketika ia mencoba berbohong kepada Charles.


__ADS_2