Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Episode 56


__ADS_3

Playlist : Make It Right (BTS ft Lauv)


"C-charles," lirih Renatta saat melihat Charles yang baru saja masuk ke ruangannya.


Hal itu pun membuat Arland dan Ana membulatkan kedua matanya. Mereka terkejut dengan kedatangan Charles. "SIALAN!" Arland menghampiri Charles dan berniat untuk melayangkan pukulan. Namun, pukulan itu segera ditahan oleh Charles.


Charles menatap Arland dengan sangat tajam. Begitupun juga Arland. Mereka saling tatap dengan penuh amarah yang menggebu.


"Kau pria sialan, Charles! Karena kau, Putriku menjadi seperti ini!" geram Arland.


Charles segera menghempaskan tangan Arland sebelum merapikan jas miliknya. Ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Renatta yang sedang berbaring, mengabaikan ucapan Arland.


Terlihat rasa takut dari kedua bola mata Renatta, walaupun wanita itu berusaha untuk menutupinya, tetapi tetap saja ketakutan itu bisa terlihat.


"Aku dibuat terkejut oleh tingkah Flora yang bisa berbuat seperti ini terhadapmu." Charles berkata dengan dingin.


"Sekarang kau sudah tahu, bagaimana marahnya seorang calon ibu yang tersakiti. Kau pun sudah mengetahui bagaimana orang baik ketika ia sudah tidak dapat menahan lagi amarahnya."


Renatta masih setia dalam keterdiamannya.


Entah apa yang ada dipikiran wanita itu.


"Aku akan melaporkan wanita itu pada polisi. Lihat saja Charles. Aku serius dengan perkataanku!" sela Arland.


"Aku akan membuat Istrimu menderit-"


Tiba-tiba Charles tertawa dengan sangat lantang. Membuat Arland mengernyitkan keningnya.


"Silakan saja. Lakukan apa pun yang kau inginkan! Begitu pun denganku. Aku akan menyeret Puterimu ke kantor polisi. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Istriku!"


"Apa maksudmu, Charles?!" sela Ana.


"Apa kalian belum tahu dengan apa yang telah Puteri kesayangan kalian perbuat?" Charles menaikkan satu alisnya.


Arland dan Ana hanya terdiam, tidak menjawab.


"Baiklah, sepertinya kalian belum mengetahuinya. Puterimu telah membuat Istriku menderita. Dia telah menghancurkan harapanku dan Flora untuk bertemu dengan calon anak pertama kami."


"Dia telah membunuh calon anakku. Dia telah melenyapkan Anakku! Dan dia pun telah membuat Flora koma selama beberapa hari. Itu semua akibatnya! Dan luka yang dia terima saat ini, itu tidak sebanding dengan apa yang kami rasakan!" sambung Charles dengan dada yang kembang kempis.


Ana terlihat sangat terkejut. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dengan mata yang melebar. Sedangkan Arland terlihat biasa-biasa saja.


"Jadi, silakan saja jika kau ingin membawa Flora ke kantor polisi. Karena akupun tidak akan segan untuk membawa wanita ini ke penjara! Karena, hal itulah yang aku inginkan dari dulu. Tapi karena Flora yang selalu melarangku, maka dengan terpaksa aku harus menurutinya. Namun saat ini, aku tidak perlu menuruti perkataan Istriku, karena aku serius dengan ucapanku untuk mempenjarakannya jika kau berani mengusik Istriku!" jelas Charles yang saat ini sedang menatap Arland.


"Kau benar-ben-" ucapan Arland tergantung karena suara ponselnya.


Charles tersenyum tipis dan menyuruh Arland untuk menjawab panggilannya. Arland pun segera menjawab panggilan itu setelah ia tahu siapa orang yang telah menelponnya.


"Ada apa?!" bentak Arland.


"Maaf jika telah mengganggu waktumu, Sir. Namun saya memiliki kabar buruk. Kau harus melihat berita saat ini juga, Sir!" ucap seseorang di seberang sana.


Arland pun segera meraih remote yang berada di nakas sebelum menyalakan televisi. Sangat kebetulan memang saat ini sedang menayangkan sebuah berita. Arland membulatkan kedua matanya.


"Mo-Morgan!" gumam Renatta yang juga sedang melihat tayangan yang ada ditelevisi.


"Kau sangat beruntung Re, karena kau pernah bercinta dengan sosok penulis yang sangat terkenal di Amerika!" bisik Charles.


"Ja-jadi dia adalah Antho-nio?" tanya Renatta entah pada siapa. Charles hanya tersenyum smirk.


"RoD baru saja menerbitkan sebuah berita yang mengungkap sosok Anthonio yang sebenarnya. Hal itu sangat menggemparkan seluruh masyarakat, Sir. Dan itupun membuat perusahaan-perusahaan jurnalis merasa gelisah. Karena semua orang saat ini terfokus pada RoD. Termasuk orang-orang yang telah menanamkan saham maupun orang yang mau menanamkan sahamnya pada perusahaan kita, beberapa dari mereka telah mencabut kembali sahamnya. Dan itu membuat perusahaan kita rugi sebanyak puluhan juta dolar."


Arland mengeratkan genggamannya pada ponselnya. Wajahnya memerah menahan amarah yang sudah memuncak pada dirinya.


"Apa yang harus kita lakukan, Sir?"


Arland segera mengakhiri panggilannya. Lalu ia menoleh ke arah Charles dengan tatapan yang sangat menusuk.


"Sepertinya beberapa hari ini kau akan sangat sibuk. Kau harus mengurus Puterimu, dan kau pun harus mengurus perusahaanmu yang mungkin sedang dalam masa collaps!" kekeh Charles.


"Kau ingin menghancurkanku, hah?" tanya Arland.

__ADS_1


"Tentu! Tentu saja tidak. Aku hanya ingin menghancurkan Puterimu melalui apa yang dimiliki oleh Daddynya. Dan saat ini perusahaanmu merasakan apa yang perusahaanku rasakan saat itu." Charles menyeringai.


"Oh dan ada satu hal lagi. Aku dengan sangat berbaik hati untuk menyarankan padamu, agar menjauhkan Putrimu dari New York."


"Apa sebenarnya yang kau inginkan, Charles?" tanya Ana.


"Aku ingin Putrimu meninggalkan New York. Karena, jika aku mengetahui dia masih berusaha untuk melukai Flora kembali, maka aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkannya. Saat ini aku memberinya kesempatan. Namun ini adalah kesempatan terakhir. Maka, lebih baik dia pergi dari New York agar hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan dia pun tidak lagi merasakan sakit hati karena aku!" kata Charles.


Charles pun menolehkan wajahnya kepada Renatta yang sedang menatapnya.


"Kau bisa kembali ke New York, jika kau benar-benar sudah bisa menerima semua kenyataan!" sambungnya.


Renatta tidak menyangka jika Charles menginginkan hal seperti itu. Ia hanya bisa terdiam tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.


"Aku tidak mungkin membiarkan Renatta pergi dari New York." Ana berkata dengan tegas.


"Jika kau sayang padanya, seharusnya kau melakukan hal yang aku katakan, karena jika dia masih saja di sini, itu akan berdampak tidak baik untuknya. Dia pasti akan selalu melakukan hal yang buruk. Bahkan hal yang lebih buruk dari ini!"


Arland dan Ana diam membisu. Mereka tidak bisa mengatakan hal lain. Charles pun segera keluar dari ruang rawat Renatta.


Arland mencoba untuk memikirkan perkataan Charles yang memang tidak ada salahnya jika dia menjauhkan Renatta dari Charles. Charles sangat berbahaya bagi Putrinya.


- Charles's Mansion, Manhattan - NYC | 11.02 AM -


Flora sedang terduduk di sofa panjang dekat jendela kamarnya. Ia memeluk lututnya seraya menatap kosong pada jendela tersebut.


Pikirannya sangat kacau. Ia benar-benar merasa hancur. Hancur dalam segala hal. Flora selalu berharap jika kehidupannya itu bisa bahagia. Namun, ia selalu merasakan kebahagiaan yang hanya sekejap, dan selalu merasakan banyak kesedihan.


Mentalnya mulai menurun. Begitupun rasa percaya dirinya.


"Sedang apa?" Flora merasakan adanya kecupan pada puncak kepalanya. Sebelum tubuh mungilnya didekap dari arah belakang.


Flora menolehkan wajahnya pada sumber suara itu. Wajah Flora yang terlihat lesu dan pucat membuat siapapun yang melihatnya merasa kasihan. Terutama Charles. Ia selalu merasa sakit jika melihat Flora yang kehilangan semangatnya.


Flora mengelus rahang Charles yang tegas. Lalu ia tersenyum tipis.


"Kau selalu tampan, Charles."


Charles tahu jika Flora sedang terpukul saat ini. Wanita itu selalu berusaha untuk baik-baik saja. Walaupun pada akhirnya, Flora tidak bisa menyembunyikan rasa kesedihannya di hadapan Charles.


"A-ku serius dengan perkataanku. Aku ingin pulang ke Indonesia. Aku ingin bertemu Mama dan Papa!" sahut Flora.


"Besok kita pergi ke Indonesia."


Flora menggelengkan kepalanya. "Aku ingin hari ini, Charles!"


Charles terdiam sejenak. Untuk berpikir.


"Baiklah, nanti malam kita akan pergi ke Indonesia. Aku akan menyuruh Ken untuk membatalkan beberapa meetingku hari ini.“


Flora menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kau tidak boleh meninggalkan tanggung jawabmu Charles! Biar aku saja yang pergi!"


"Aku memang tidak akan meninggalkan tanggung jawabku. Tanggung jawab terhadapmu! Tanggung jawab seorang suami untuk menjaga Istrinya. Aku lebih memilih untuk meninggalkan pekerjaanku dari pada membiarkanmu pergi sendiri."


Flora tersenyum bahagia seraya menghambur kepada Charles untuk memeluknya.


"Makasih," lirih Flora. Charles hanya mengangguk dan mengecup kembali puncak kepalanya.


- Kediaman Chandra, Bandung - Indonesia | 15.20 WIB


"Maafkan Papa dan mama yang tidak bisa ada di sampingmu di saat kamu terpuruk, Flo. Jujur, papa ikut bersedih dengan apa yang menimpamu. Charles meyakinkan papa jika dia bisa merawat dan menjagamu, ia pun menahan papa dan mama untuk tidak perlu terbang ke New York. Papa sempat kesal padanya, walaupun papa mengerti dengan maksudnya. Tapi yang harus kamu tahu, doa papa dan mama selalu menyertaimu!" ungkap Chandra seraya mengelus rambut Flora yang berada dipelukan Nadia.


"Kau jangan berlarut dalam kesedihan. Percayalah, di balik ini semua pasti ada hidayah dan kebahagiaan yang sedang menantimu," gumam Nadia. Mencoba untuk menenangkan Flora.


Charles hanya diam memperhatikan Istrinya itu. Dia merasa sesak setiap melihat Flora bersedih ataupun menangis. Jiwanya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh wanitanya.


"Charles, kau sudah mengurus semuanya?" tanya Chandra. Menatap Charles yang berada di seberangnya.


"Sudah, Dad. Aku pastikan wanita itu tidak akan pernah memunculkan lagi wajahnya di hadapanku ataupun Flora."


Chandra menganggukkan kepalanya. "Bagus. Saya pun telah membicarakan tentang perbuatan Rogan kepada Ayahnya. Bersyukurlah, karena Ayahnya pun berpihak kepadaku. Jadi dia akan mengirim Rogan ke Jerman untuk menetap di sana."

__ADS_1


Charles dan Chandra memang sudah merencanakan ini semua. Mereka memang berniat ingin menjauhkan Renatta dan Rogan dari jangkauan Flora. Mereka takut jika kedua orang tersebut dapat menyakiti Flora kembali. Chandra adalah salah satu alasan kenapa Charles tetap membiarkan Renatta dan Rogan untuk tetap hidup. Karena seperti yang selalu Chandra ucapkan, jika dia tidak ingin Suami dari Putrinya itu adalah seorang pembunuh. Oleh karena itu, Charles lebih menuruti perkataan Chandra dibandingkan dia harus kehilangan Flora.


"Aduh eta aya saha?"


Flora menoleh ke arah sumber suara. Dia tersenyum bahagia. Dan beranjak dari duduknya.


"Enin!" Flora berlari ke arah wanita yang sudah lanjut usia itu, tetapi wanita itu terlihat masih cantik dan segar. Flora pun segera memeluknya.


"Si geulis, Incu enin kamana wae? Naha nembe mulang ayeuna? Tos hilap ka Enin, huh?" (Si cantik, cucu nenek ke mana aja? Kenapa baru pulang sekarang? Udah lupa sama nenek, huh?).


Charles hanya terbengong melihat sosok yang sedang berbicara dengan Flora. Ia tidak mengerti dengan bahasa yang mereka ucapkan. Bahasa yang menurutnya sangat aneh di pendengarannya.


"Itu neneknya Flora. Ibu saya," bisik Chandra. Ia mengerti dengan keterdiaman Charles yang bertanya-tanya akan sosok wanita tua itu.


Charles menganggukkan kepalanya, akhirnya ia mengetahui siapa orang tersebut.


"Abdi nembe aya waktu luang ayeuna, Nin. Flora sono pisan ka enin!" jawab Flora dengan manja. Flora memang sangat dekat dengan Enin. Flora pun menjadi cucu yang sangat disayang dan dimanja oleh Enin. Karena Flora adalah satu-satunya cucu perempuan di keluarganya. (Aku baru ada waktu luang, Nek. Flora kangen banget sama Nenek).


Enin terkekeh mendengar ucapan cucunya itu. Namun, tatapannya terkunci pada Charles yang sedang menatapnya dengan canggung.


"Itu saha? Caroge?" tanya Enin.


Flora menoleh ke arah Charles sekilas. Lalu menatap Enin kembali sebelum menganggukkan kepalanya. Seraya tersenyum.


"Aduh gusti, meuni kasep pisan!" Enin melangkahkan kakinya ke arah Charles. Charles pun beranjak dari duduknya.


"Jabaning meuni gagah kieu! Saha namina, Jang?"tanya Enin kepada Charles.


Charles hanya menaikkan kedua alisnya. Ia benar-benar tidak mengerti.


"Atuh moal ngartoseun, Bu. Ai ditaros ku basa Sunda mah!" sela Nadia. (Dia tidak akan mengerti, Bu. Kalau ditanya pakai Bahasa Sunda!).


"Oh enya nya. Hilap. Terus ku bahasa naon atuh?" tanya Enin kembali.


"Indonesia, Nin. Ngartoseun da." Flora menjawab pertanyaan neneknya itu.


Enin menganggukkan kepalanya mengerti. "Siapa nama kamu?"


Charles tersenyum bahagia. Akhirnya ia mendengar perkataan yang dia mengerti. "Charles Alamo, Nek. Senang bertemu denganmu!" Charles mengulurkan tangannya.


Enin langsung menjabat tangan Charles. Ia berpikir jika Charles adalah pria yang sopan dan memiliki sifat yang baik.


"Kamu sangat tampan sekali. Aku senang Flora memiliki suami sepertimu!" puji Enin.


"Terima kasih, Nek."


"Aku titipkan cucuku kepadamu. Jangan pernah menyakitinya atau membuatnya bersedih. Dia adalah cucu kesayanganku!" Enin memegang kedua bahu Charles untuk meyakinkan pria itu.


"Tentu saja, tidak perlu khawatir. Itu sudah menjadi kewajibanku!" Charles berkata dengan lembut dan penuh hormat. Hal itu semakin membuat Enin menyukainya.


"Lihat saja, jika kamu berani menyakiti cucuku sedikit saja. Maka saya tidak akan segan-segan untuk menyunatmu!" ancam Enin.


Charles mengerutkan keningnya. Sedangkan Enin menoleh ke arah Flora.


"Tos disunat acan, Neng?" bisik Ira.


"Ibu!" ucap Nadia.


"Cik keheula. Ibu mah ngan hoyong apal, eta budak geus disunat acan!" Nadia menggelengkan kepalanya. Sedangkan Chandra mencoba untuk menahan tawanya.


"Kumaha, Neng? Atos acan?" Enin menoleh ke arah Flora. Ia benar-benar penasaran akan hal itu.


"Nin," gumam Flora malu. Seraya menoleh ke arah Charles yang sedang menatapnya dengan penuh penasaran.


Enin terus saja menanyakan hal itu. Ia tidak bisa diam sebelum Flora menjawabnya.


"Sudah!" jawab Flora pelan. Hal itu membuat Enin tersenyum dan kembali menatap Charles dengan penuh teliti.


"Aduh waas engke budak Neng pasti gareulis atau karasep. Kolot na ge meuni kasep jeung geulis kieu. Upami enin masih keneh ngora, jiga na enin bakal bogoh ka si Ujang bule. Tuh tingali otot na meuni gagah kieu, Gusti! Teu tahan enin mah!" oceh Enin seraya mengelus lengan Charles. (Aduh, pasti nanti anakmu cantik atau ganteng, orang tuanya aja ganteng sama cantik. Kalau nenek masih muda, kayaknya nenek bakalan cinta sama anak bule ini. Lihat ototnya gagah sekali, ya Tuhan! Nggak kuat nenek).


Chandra tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa dengan sangat lantang, disusul oleh kekehan Flora. Sedangkan Nadia menggelengkan kepalanya, melihat tingkah ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Bersambung ....


Sebenarnya ini udah dari bulan lalu mau up, tapi entah kenapa malas aja gitu, padahal tinggal up aja. Oiya, aku ini agak merasa antara mau selesaiin dan berhenti di sini aja. Huh, maafkan.


__ADS_2