Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 56


__ADS_3

Nadia tersenyum riang menyapa semua orang yang ada di puskesmas, dengan membawa bingkisan di tangannya. Gadis itu berjalan memasuki ruang dokter dan perawat yang ada di sana. Karena sudah mengenal Nellie dengan baik, tentu Nadia pun kenal dekat dengan bidan dan para perawat yang bertugas di sana.


"Ya ampun, Nad. Saya baru lihat kamu lagi ... hampir dua minggu ya, di Jakarta?"


Nellie dengan ceria pun menyambut kedatangan Nadia, teman barunya yang cantik dan berprofesi sebagai artis.


"Iya, saya agak lama di sana, Nell, karena sekaligus liburan sama suami."


Nadia tersenyum sembari menutup bibirnya, kalau ingat peristiwa dua hari ke belakang maka ia akan tergila-gila dan mau mengulangnya lagi. Namun, Nellie justru melihat tangan kanan Nadia membiru di bagian pergelangan.


"Loh, Nad, tangan kamu ini ... kenapa?" Tunjuk Nellie sambil menyentuh tangan Nadia.


Nadia dengan santai melirik ke arah pergelangan tangannya yang agak membiru dan tersenyum kecil. "Ah, ini nggak kenapa-napa kok, hehe."


"Serius?" tanya Nellie lagi.


"Iya, Dok, ini baik-baik saja. Oh, iya, Nell, hubungan saya sama suami sekarang sudah semakin baik. Kami juga liburan ke tempat wisata, dia keluar dari zona nyamannya selama ini dan mau mengikuti keinginan saya."


Melihat Nadia yang sangat bahagia tentu saja Nellie pun ikut senang. Namun, mulai muncul rasa cemburu pada kehidupan Nadia yang berhasil memisahkan diri antara profesinya dan statusnya sebagai istri seorang perwira. Hal itu membuat Nellie kembali menyesali keputusannya dan tentu terbayang akan masa lalu.


"Saya ikut senang, Nad. Jadi, kamu pasti sudah kepikiran dong untuk mengikuti program memiliki bayi tahun ini?"


Kedua pipi tembam Nadia tampak memerah seketika, saat Nellie menyinggung soal program bayi. Ah, pikiran Nadia jadi melayang ke mana-mana kalau sudah bersama Nellie.


"Hmm ... kayaknya, saya nggak perlu merencanakan itu deh, Nell. Suami saya pasti akan senang kapan pun kami dikaruniai bayi."


"Maaf ya, Nad. Saya tidak bisa menonton acara penghargaan kamu itu. Di sini televisinya rusak, dan sinyal saya juga jelek untuk melakukan streaming karena di sini diguyur hujan terus, mungkin besok atau nanti malam saya akan sempatkan menonton penampilan kamu."


"Ah, nggak perlu repot-repot, Nell. Toh, kita bisa ngobrol dan kamu juga bisa melihat saya secara langsung sekarang."


Nellie terkikik mendengar ucapan Nadia. "Saya sangat penasaran Nad, gimana penampilan kamu dan suami kamu di TV. Kamu pasti sangat berhasil mengubah watak suami kamu itu. Saya kagum sama kamu, Nad."


Nadia terdiam, tetapi senyum manis itu tidak pernah hilang dari bibirnya. "Saya tidak mengubah dia, Nell. Kami ... sama-sama mengubah satu sama lain ke arah yang lebih baik. Dia, pria yang layak untuk saya cintai seumur hidup saya."

__ADS_1


Deg!


Nellie kembali tertohok dengan ucapan Nadia. Entah kenapa semua kalimat Nadia itu seperti ditunjukkan kepadanya di masa lalu. Andai saja Nellie bisa seperti Nadia yang sedikit saja bersabar dan mau mengalah. Andai saja Nellie pada saat itu tidak takut dalam mengambil keputusan, sehingga hidupnya tidak akan berakhir kesepian seperti ini.


Kini, Nellie hanya dapat memaksakan senyumannya di hadapan Nadia. Nadia memang gadis hebat, yang bisa keluar dari zona nyamannya, dan berganti dunia yang awam baginya.


•••


Chandra semangat sekali untuk sampai ke rumah secepat mungkin. Hal ini kembali menunjukkan spekulasi baru di antara para anak buahnya, yang kini hanya dapat melihat betapa cepatnya langkah kaki panjang Chandra dalam menapaki tanah untuk segera tiba di rumah.


"Dan, hari ini kita makan malam, bareng?!" teriak Yuta yang kebetulan baru saja tiba di lokasi camp setelah bertugas di pusat untuk menyerahkan laporan bulanan.


Chandra menoleh sekilas ke arah Yuta yang sudah lima hari lebih tidak ditemuinya.


"Iya Dan, kita syukuran ... kan Nadia habis dapat award sebagai penyanyi favorit."


"Betul, kak Nadia juga pasti bawa makanan enak dari Bandung!"


"Nah iya, Nadia juga bilang sama saya kalau dia mau bawa oleh-oleh dari Jakarta."


Raut wajah Chandra membeku dan ketus, pria itu menghela napasnya dan memegangi pelipisnya, pura-pura sedikit dipijat agar akting pertamanya ini sukses.


Anak-anak tampak mengerutkan dahinya ketika melihat Chandra yang semula sehat walafiat kini berubah menjadi kuyu, malah sambil pijat pelipis segala.


"Malam ini, kalian makan di camp saja ya. Soalnya, saya tidak enak badan. Nadia juga butuh istirahat setelah perjalanan."


Anak-anak kompak menghela napasnya, apalagi Alif yang kelihatan kecewa berat karena tidak jadi makan masakan Nadia lagi.


"Yah, cepat sembuh deh, Dan!"


"Ck, ada-ada aja sih, biasanya Ayah itu nggak cengeng kayak sekarang," ejek Ong sambil berjalan melewati Chandra yang masih pura-pura lemas.


"Kalau ada apa-apa, hubungi saja kami," timpal Dio yang masih saja bersikap formal dan tegas.

__ADS_1


Chandra melambaikan tangannya ke arah empat pemuda yang hari ini mengajaknya makan malam, minus Johnny yang harus menemani Danil karena lelaki itu sedang sakit dan masih mendapatkan perawatan di puskesmas.


Saat mengetuk pintu rumah, Nadia langsung menyambutnya dengan senyum yang cantik dan menenangkan. Gadis itu mengenal floral dress warna putih dengan corak bungabunga merah yang cerah, wajahnya dipoles make up tipis dan rambutnya dibiarkan tergerai.


"Wah, sudah pulang? Pulang cepat, ya?!" sapa Nadia dengan nada ceria, ia langsung menerima uluran tangan Chandra dan menciumnya sebagai tanda hormat kepada suami. Chandra tidak berhenti menatap pada wajah istrinya. Seluruh rasa lelah yang semula membebani tubuhnya mendadak sirna ketika ia menyaksikan Nadia di depannya, berdiri cantik dan tidak lupa juga aroma wangi membuat semangat Chandra di sore hari kembali memuncak ke ubun-ubun.


"Saya sudah masak banyak banget. Anak-anak ke mana?" tanya Nadia dengan semangat. Memang sih, Chandra juga sudah dapat mencium aroma lezat dari arah dapur.


Chandra terdiam, sementara Nadia langsung sibuk merapikan meja untuk makan malam.


"Emm ... mereka, tidak makan di sini dulu."


"Loh? Kenapa ... terus, makanannya gimana? Padahal, mereka mau gepuk khas Bandung. Saya sudah janji sama mereka kalau balik ke sini bakal bawain gepuk."


"Sepertinya ... mereka lupa," timpal Chandra dengan wajah berpaling ke sana kemari. Nadia cemberut. Chandra buru-buru pergi ke kamar mandi tanpa berniat membahas lagi perihal anak-anak yang memang sengaja tidak ia undang dulu untuk makan malam. Hal ini Chandra lakukan semata-mata karena pria itu ingin menikmati waktunya berdua bersama Nadia saja, dan lagi ... Nadia juga harus beristirahat. Kalau ada anak-anak, terutama Ong, pasti mereka akan mengajak Nadia ngobrol atau mewawancarai Nadia tentang perayaan award kemarin.


Masih terbilang sore untuk tidur, tetapi Chandra sudah mendudukkan dirinya di atas tempat tidur dengan mata yang terasa berat karena mengantuk. Pria itu dengan terpaksa mengantarkan makanan ke camp Ong dkk sekitar tiga puluh menit lalu atas permintaan Nadia. Sebenarnya, Nadia meminta suaminya untuk tidak tidur dulu karena gadis itu sedang mendinginkan sheetmask di dalam kulkas selama lima belas menit, tetapi rasanya Chandra tidak bisa menunggu lagi karena dia benar-benar kelelahan hari ini.


Yah, gagal sudah niat untuk bermesraan yang sudah ia rencanakan sejak istirahat jam siang. Ah, Chandra tidak tahan lagi melawan kantuk yang menyerangnya. Pria itu pun lama kelamaan terlelap dengan posisi masih duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


Nadia melihat suaminya yang tertidur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa lucu. "Katanya nggak tidur tiga hari juga kuat. Ck, ditinggal lima belas menit sudah tepar!" seru Nadia dengan nada pelan sambil tertawa kecil.


"Sayang ...," panggil Nadia dengan lembut sembari menepuk-nepuk pipi Chandra.


Chandra membuka sedikit kedua matanya, dan samar-samar melihat Nadia berada di hadapannya. Nadia tersenyum. "Udah tidur, ya?"


"Eh, tidak kok!" ujar Chandra sembari membuka matanya lebar-lebar, wajahnya, wajahnya agak sembap karena sudah hampir memasuki alam mimpi. Nadia tertawa melihat ekspresi itu.


"Ngaku aja deh, kamu sudah tidur kan barusan?" "Hm, sedikit," jawab Chandra malu-malu.


Nadia mengambil sheetmask dinginnya di atas meja, hendak menggunakan benda itu, tetapi Chandra memeluknya dari belakang dengan sangat erat, membuat Nadia urung melakukan itu.


Nadia terkekeh saat Chandra bernapas di tengkuk lalu menjatuhkan kecupan kecil di sana, pria itu juga menyampirkan dagunya di bahu Nadia.

__ADS_1


Nadia meraih tangan Chandra yang melingkar di pinggangnya, dan menolehkan wajahnya ke samping kanan di mana Chandra menempatkan wajahnya di sana. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja, sangat dekat dalam posisi Chandra yang memeluknya erat seperti sekarang. Bersambung.


kalau banyak typo maaf banget, karena aku langsung up aja nggak revisi.


__ADS_2