Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 81


__ADS_3

Vidi akhirnya memutuskan untuk pulang ke Jakarta, itu pun karena permintaan ibunya yang kini sudah mengetahui keberadaan Vidi yang selama ini menghilang. Vidi juga cukup mengkhawatirkan keadaan fisiknya, menurut Nellie selaku dokter yang memeriksa dan mengetahui riwayat withdrawal syndrome-nya Vidi, Vidi membutuhkan obat khusus dan rehabilitasi yang tepat agar segera pulih.


Tekad Vidi untuk sembuh tentu bukan semata-mata untuk dirinya saja, melainkan Vidi ingin melanjutkan hidupnya, mengulangi lagi kesuksesan karirnya, dan tentu saja berharap mungkin dia bisa mendapatkan kesempatan agar bersama Nadia.


Vidi duduk dengan nyaman di kursi penumpang sebuah pesawat untuk mengantarnya ke Jakarta, lalu saat Vidi asik melamun seorang lelaki duduk di sampingnya sembari mendengkus jengkel.


Vidi buru-buru menyembunyikan wajahnya dengan masker, takut jika orang itu mengenalinya di saat seperti ini.


"Sia-sia kerja seminggu di sini. Nggak dapat apa-apa. Mana memori card disita juga! Ah, sial banget! Harusnya memori card di handphone nggak usah ikutan dikasih juga!" ujar lelaki itu jengkel.


Vidi yang sejak tadi memperhatikannya pun mulai tertarik dengan apa yang lelaki itu ucapkan.


"Kalau saja sinyal di sana bagus. Gue pasti bikin berita perselingkuhan Nadia booming."


"Apa maksud lu?!" Saat Vidi mendengar nama Nadia disebut, spontan dia langsung menodong lelaki di sampingnya itu dengan pertanyaan sentakan disertai tampang garang.


Vidi menurunkan masker yang menutupi wajahnya, agar lelaki yang terus menerus mengeluh itu dapat mengenalinya.


"Loh, V-Vidi?"


***


"Farawell concert?" Chandra mengerutkan kedua alisnya saat Nadia membahas tentang sebuah konser yang akan ia gelar bersama agensinya. Rencananya konser itu akan promotori oleh agensi tempat Nadia bekerja, konser tersebut juga akan menjadi konser terakhir yang akan Nadia lakukan bersama agensinya ini.


Nadia mengangguk kecil, senyum di bibirnya terbentuk sempurna saat ide cemerlang dari Liza itu ia ceritakan pula pada Chandra.


"Iya, kamu kira-kira bisa datang, nggak? Cuma sehari di sana, tapi saya mau kamu jadi tamu spesial."


Chandra tersenyum, dan menjatuhkan elusan di atas puncak kepala Nadia. "Saya bisa saja datang, tapi kalau saya jadi tamu nanti apa yang saya akan lakukan di panggung?"


Nadia terkikik mendengar ucapan polos suaminya. "Hm, mungkin atraksi tembak jarak jauh?"


Chandra melotot, kaget dengan pernyataan Nadia. "Emang boleh?"


"Haha, enggak lah. Pokoknya, saya mau kamu temani saya di panggung, ya?"


Chandra mengangguk, dia sangat senang bisa melihat sikap Nadia yang ceria lagi. Chandra juga merasa sedih saat ini, dia masih bisa melihat kedua mata Nadia yang agak membengkak, dan wajahnya masih menyisakan rona pucat. Pasti Nadia menangis karena kesalahpahaman kemarin.


Nadia terdiam, pipinya bersemburat saat Chandra memperhatikannya seperti ini, pria itu memandangnya tanpa berkedip dan juga tak berkata apa pun lagi. "Kenapa?"


Chandra mengangkat tangannya, dan menyentuhnya jemarinya yang panjang ke atas pipi Nadia, lalu mencubitnya dengan lembut dan tersenyum kecil.


"Kamu sudah tidak marah?"


"Enggak."


"Masih sedih?"


Nadia tersenyum, pipinya semakin mengembang dan Chandra mencubitnya lagi.

__ADS_1


"Enggak ih!"


"Betul?"


"Udah ah, malu. Kamu jangan lihatin saya kayak gitu!" tolak Nadia dengan suara merajuk kepada Chandra yang sejak tadi terus memandangnya dengan senyum tipis di bibir, dan justru membuat Nadia malu.


"Nad, saya boleh cium kamu tidak?"


Nadia mengangguk kecil, dan suaminya menjatuhkan kecupan di kening Nadia. Mereka malam ini kembali menghabiskan waktu di atas bukit sambil menyalakan api unggun kecil yang Chandra buat dari tumpukan kayu. Nadia baru ingat sesuatu yang sempat mengganggu pikirannya tadi siang, Chandra tampak begitu marah ketika dia berhadapan dengan seorang lelaki asing yang ada di dekat rumah dinas.


"Oh iya, laki-laki tadi siapa?" tanya Nadia dengan raut penasaran.


Chandra hanya mengedikkan bahu, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pakaian yang dia kenakan.


"Katanya, dia seorang reporter yang sudah mengumpulkan banyak foto kamu dan Vidi. Saya tidak tahu apa isi foto tersebut. Semuanya ada di dalam kartu memori ini." Chandra menaruh kartu memori itu di atas telapak tangannya.


Nadia menunduk, ia merasakan sesuatu yang tidak beres mungkin akan terjadi. Entah itu pertengkaran, atau mungkin kesalahpahaman yang akan terjadi antara dirinya dan Chandra.


Nadia ingat betul bahwa ia sempat bersama Vidi saat Chandra tidak ada.


"Chan, maafin saya," kata Nadia dengan suara pelan.


Chandra mengangguk dan tersenyum lagi, tanpa ada raut marah sedikit pun tergambar pada wajahnya.


"Nad, saya tidak berani melihat foto itu. Saya takut cemburu, saya tidak akan marah sama kamu. Tapi saya bisa saja hilang kendali saat merasakan cemburu itu lagi. Sudah cukup untuk saya merasa kekanak-kanakan tiap saya membaca artikel lama tentang kamu dan mantan-mantan kamu di internet. Mereka, memperlakukan kamu begitu baik. Tidak seperti saya, yang sangat datar. Bahkan tidak bisa ekspresif di depan kamu. Saya yang kikuk, dan mungkin sangat kaku."


Nadia terdiam, tetapi kedua matanya menatap teduh pada Chandra yang kini berusaha menjelaskan isi hatinya. Dia adalah pria paling polos yang pernah Nadia temui di dunia ini. Meskipun penampilannya sangat dewasa, tetapi ternyata dalam hal kisah cinta, suaminya ini justru sangat mementingkan hal-hal sepele seperti remaja.


Chandra menggelengkan kepalanya, lalu dia melempar kartu memori di tangannya itu ke api unggun yang masih membara.


"Saya tidak sanggup dilanda cemburu semalaman suntuk. Saya percaya sama kamu," balas Chandra dengan senyum di bibir, dia lalu menarik Nadia ke dalam dekapannya. Nadia tidak membalas kalimat suaminya lagi. Mungkin selama ini Chandra sudah berusaha dengan keras untuk menahan dirinya dari Vidi dan sikap Liza yang buruk padanya, atau mungkin Chandra juga selalu bersabar dengan komentar netizen di portal berita yang masih mengharapkan Nadia akan kembali ke Vidi.


"Sekarang, semuanya sudah aman. Reporter gadungan itu tidak akan menyebarkan berita buruk tentang kamu. Seperti janji saya, saya akan menjadi suami sekaligus pelindung kamu dari orang-orang jahat," ujar Chandra bangga, membuat Nadia tertawa dalam pelukan besar suaminya.


"Hihi... jangan ngomong gitu."


"Kenapa?"


"Saya makin cinta"


"Nad, ekspresi senyum kamu itu sangat ... uwu."


***


Hampir satu Minggu Nellie tidak melihat wajah Nadia sejak pertemuan terakhir mereka, pertemuan yang isinya perselisihan dan sikap tidak mau mengalah satu sama lain. Nellie menyadari bahwa sikapnya saat itu sangat keterlaluan. Meski Nellie tahu itu perbuatan buruk dan diluar kendalinya, tetapi Nellie pun tidak bisa menahan diri untuk tidak bersikap egois. Ia masih mengharapkan Chandra, hubungan mereka masih belum ia anggap berakhir.


Dan kini, langkah Nellie semakin lambat saat ia hendak memasuki komplek militer untuk menyerahkan obat-obatan anti demam berdarah dan malaria. Nellie tidak berani bahkan untuk sekedar mengetuk pintu, gadis cantik dengan pakaian dokter itu beberapa kali mengurungkan niatnya untuk bertugas, tetapi ....


"Nellie!"

__ADS_1


Nellie sangat terkejut. Nadia ternyata ada di belakangnya, menyapa dengan wajah ceria meski tanpa senyum. Hari minggu pagi seperti ini Nadia sudah berada di luar rumah sembari menjinjing sebuah keranjang mungil berisi benih bunga-bunga.


"Ada apa kemari?" tanya Nadia dengan lembut. Nadia sudah melupakan peristiwa tempo hari, meski ia masih menyimpan rasa jengkel terhadap Nellie, tetapi rasanya tidak baik jika Nadia terus menerus mengungkit masa lalu yang coba Nellie lupakan. Toh, Chandra lebih memilih untuk menjadi suaminya.


"Nellie, kenapa kamu melamun? Ayo masuk dulu ke dalam."


"Nad ...."


"Iya, kenapa? Ayo, di sini panas." Nadia menarik lengan Nellie untuk ikut dengannya masuk rumah. Lalu, sesampainya di teras, Nellie dipersalahkan duduk di kursi. Nellie tampak bingung, sementara Nadia justru bersikap seperti tuan rumah pada umumnya, gadis itu menuju ke dalam dan membawa sebuah cangkir beserta poci berisi teh yang sepertinya sudah ia siapkan sebelum pergi.


"Ini, minum... mumpung masih hangat," kata Nadia sembari menyajikan minuman ke dalam cangkir.


Nellie mendongak ke arah Nadia, lalu tersenyum dipaksakan. Ia juga memperhatikan


Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tampak sekali kalau Nadia adalah gadis manja yang tentunya tipikal yang amat disukai banyak pria. Namun, bukannya Chandra lebih tertarik pada wanita mandiri seperti Nellie, ya?


"Oh iya, ada perlu apa kemari?" tanya Nadia lagi.


Nellie membuka tas hitam yang sejak tadi berada dalam jinjingannya, ia kemudian mengeluarkan satu paket obat yang masih disegel rapi. "Ini, obat untuk kamu dan warga sekitar. Pencegahan demam berdarah dan malaria karena kita akan menghadapi musim panas. Dimasukkan ke dalam bak mandi, ya."


Nadia tersenyum kecil. "Hm, terima kasih, Nell."


"Sayang ... handuk!"


Senyum Nadia kembali terukir di bibir. Nellie melebarkan kedua matanya saat mendengar suara panggilan itu sampai juga pada telinganya.


Chandra sepertinya sedang mandi dan berteriak minta diambilkan handuk.


"Nell, sebentar, saya tinggal dulu."


Nadia membawa handuk ke kamar mandi, ia lihat suaminya sudah membuka sebagian kecil pintu sambil tersenyum kecil. "Ada tamu?" tanya Chandra dengan wajah masih basah kuyup.


"Iya, dokter," jawab Nadia jahil.


Chandra terkejut. "Nellie?"


"Hm, kenapa? Mau ketemu juga?" tanya Nadia dengan ekspresi dibuat sedikit marah.


Chandra buru-buru menggeleng dan mengambil handuk yang ada di tangan Nadia untuk dia segera pakai.


"Tidak ... kamu, mau saya mandiin? Hehe ...."


"Ih, apaan sih! Hahaha."


Nellie mendengar tawa dua orang yang terdengar begitu lepas dan riang di dalam sana. Sesekali ia melirik ke dalam rumah, yang justru membuat perasaannya makin hancur berantakan. Nellie tersenyum pedih, kemudian ia pergi dari rumah itu setelah menyelesaikan tugas kecilnya di minggu pagi yang cerah.


"Kamu sudah banyak berubah ya," gumam Nellie dengan tubuh dan juga raut wajah yang sudah tidak bersemangat lagi.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


Alhamdulillah. Ajaib, walaupun aku dah nggak punya kuota, tapi masih bisa main NT. Pokoknya si Jenderal harus tamat bulan ini.


__ADS_2