
Saat satu sisi lain belahan bumi terang benderang, satu sisinya lagi maka akan dipenuhi dengan kegelapan. Akan tetapi, di tengah kegelapan itu Nadia menemukan hal lain dari sosok suaminya, wajah Chandra sangat bercahaya dan pria itu tidak lagi memasang tampang datar seperti kebiasaannya. Ada banyak senyum di wajahnya malam ini, dan Nadia pun melakukan hal yang sama.
Nadia menyandarkan kepalanya pada punggung polos Chandra, tangan gadis itu juga mengusap lembut bekas-bekas luka cakaran yang memanjang menghiasi punggung lebarnya. Chandra tersenyum meskipun dia merasakan sedikit perih ketika Nadia melakukan itu.
"Jadi, ini luka bekas perang di mana?" Nadia menyentuh bekas luka memanjang di punggung bawah Chandra, bekas lukanya cukup dalam dan sangat parah.
"Hm, yang itu saya lupa di mana. Tapi, sepertinya itu karena kami sempat dicegat oleh bandit kelaparan sewaktu berpindah lokasi mengungsi."
Nadia cemberut. "Jahat banget orangnya? Ini ... disabet pakai apa?"
"Senjata sejenis celurit. Tapi berkat adanya tim medis, saya bisa diselamatkan dan tidak mengalami kehilangan banyak darah."
Nadia meringis ngeri dan berhenti membayangkan hal tersebut. Nadia pun melingkarkan tangannya ke dada Chandra dan mencium punggung polos suaminya dalamdalam, membuat Chandra enggan dan malas untuk beranjak dari tempat tidur mereka.
"Untung kita belum kenal waktu itu. Saya nggak bisa bayangin bagaimana takutnya saya kalau sampai tahu kamu diserang pakai celurit!" omel Nadia kemudian.
Chandra terkekeh dan membalikkan tubuhnya jadi berhadapan dengan Nadia. Chandra menarik kepala Nadia agar menjadikan lengan kekarnya sebagai bantal, dan Nadia tersenyum diperlakukan begitu. Dia merasa aman setelah pertarungan menguras energi terjadi di antara mereka di atas tempat tidur.
"Kamu ... nggak takut emangnya? Kalau sekarang ... tiba-tiba kamu dapat perintah tugas keluar lagi, kamu mau?"
Chandra mengulum senyum, menjatuhkan kecupan di dahi Nadia lembut. "Dulu saya tidak punya rasa takut, Nad. Sebaliknya, saya hidup semau saya. Adrenalin saya rasanya sangat tinggi waktu itu, sampai saya tidak tenang sewaktu diminta kembali ke Indonesia. Saya maunya terus bekerja dan mendedikasikan diri saya sebagai seorang yang berguna sebagaimana profesinya."
Nadia tersenyum dipaksakan, suaminya ngeri juga.
"Kalau sekarang ... jujur, saya sangat takut bahkan untuk pergi satu jam saja tanpa kamu."
__ADS_1
"Ih, jangan gombal!" ucap Nadia pura-pura marah. Chandra tertawa kecil dan memainkan helaian rambut istrinya itu sebagai ungkapan gemasnya.
"Saya serius," timpal Chandra dengan lembut.
"Sejak kita menikah, dan kamu menyusul saya ke Flores waktu itu. Rasanya, itu titik balik hidup saya ... wajah kamu yang panik saat saya cerita perihal babi hutan selalu terbayang terus setiap kali saya bekerja. Hal-hal sepele yang kamu khawatirkan membuat saya ikut merasakan hal yang sama seperti kamu. Awalnya, saya pikir tidak ada orang yang takut kehilangan saya, atau bahkan peduli pada apa yang menimpa saya. Tapi kamu ... bahkan saat tangan saya luka sedikit saja, kamu seperti hampir menangis karena panik."
Tampa sadar air mata tampak menggenang di pelupuk kedua mata Nadia, dan Chandra segera mengusapkan ibu jarinya di bawah mata Nadia, mengelus pipi istrinya itu dengan lembut agar tangisan itu teredam. Chandra tersenyum sangat hangat, dia memusatkan seluruh atensinya pada Nadia, bahkan sel-sel otak pria itu masih bekerja dan berpikir bagaimana caranya untuk memuaskan Nadia dengan apa yang ia miliki.
"Jujur, untuk sekarang, saya sangat takut pergi ke mana pun. Kalau itu bisa menyebabkan kamu ketakutan, panik, bahkan kecewa karena eksistensi saya yang semu dalam kehidupan kamu. Saya ... selalu ingin dilihat kamu Nad, saya ingin kamu bisa melihat saya di sisi kamu ketika kamu membuka mata di pagi hari."
Nadia mengerucutkan bibirnya, seperti ada sedikit penyesalan yang terlihat dari raut wajahnya saat ini, dan Chandra mencubit kecil pipi tembam istrinya itu sambil tersenyum.
"Kenapa kita baru ketemu, sih? Kenapa nggak dari awal aja saya kenal kamu," keluh Nadia pada suaminya.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, maka hanya satu jam lagi waktu menuju keberangkatan mereka ke bandara untuk melangsungkan penerbangan pertama dari Bandung ke Labuan Bajo.
Kini Chandra membawa seprai kotor ke lantai satu untuk mencuci kain yang ternoda itu seorang diri, pria itu juga menyiapkan detergen serta menyalakan air ke mesin cuci. Sementara itu Nadia sedang menyiapkan pakaian yang akan mereka kenakan untuk pergi nanti.
"Kamu lagi ngapain malam-malam begini?"
Chandra nyaris saja lompat dari tempatnya berdiri ketika ibu tiba-tiba muncul di ruang mencuci dengan pakaian tidur berwarna putih polos. Chandra mengelus dadanya dengan cepat dan mengatur napasnya, ibu tertawa melihat sikap anaknya yang tampak beda dari biasanya.
"Ngapain? Nyuci?" tanya ibu lagi sembari memperhatikan pekerjaan Chandra dengan mesin cuci menyala.
Chandra mengangguk kaku. "Hm, iya ...."
__ADS_1
"Cuci apa malam-malam begini? Padahal simpan aja di kamar, nanti biar si mbak yang nyuciin. Kamu kan harus berangkat nanti jam dua."
"Itu ... seprai ... tidak apa-apa kok, Bu. Saya memang niatnya mau membersihkan kamar dulu bersama Nadia."
Ibu tersenyum, dengan mata yang masih bengkak karena mengantuk, wanita paruh baya itu menepuk pelan pundak putranya. Chandra menoleh ke arah sang ibu dengan pandangan heran.
"Kamu ... bahagia sudah menikah?"
Senyuman tiba-tiba muncul di wajah Chandra, dan Chandra mengangguk dengan cepat atas pertanyaannya itu.
"Syukurlah, kita jarang ngobrol Nak, ibu merasa kehilangan kamu sejak dulu."
Benar apa yang Nadia katakan, kalau Chandra itu seperti robot yang tidak punya emosi. Bahkan dengan ibunya saja, Chandra tidak pernah lagi bicara santai seperti ibu dan anak kebanyakan.
"Maafkan saya, Ibu. Saya mungkin terlihat canggung dan kaku. Tapi, setiap saya berada di luar rumah, sosok pertama yang saya ingat pasti Ibu."
Ibu terkekeh pelan. "Ck, ya sudah. Kamu naik aja ke atas, beres-beres, biar ini besok pagi si mbak yang jemur."
Chandra mengulum senyum dan tiba-tiba saja pria itu memeluk ibunya dengan erat. Ibu tertegun ketika Chandra memeluknya, itu adalah pelukan pertama setelah sepuluh tahun berlalu di antara mereka. Ibu tersenyum, namun rintik air mata tampak menuruni pipinya. "Ibu, saya akan selalu menjadi anak yang berbakti. Saya janji!"
Bersambung ....
Sudah 800 lebih yang baca, tapi yang kasih like cuma delapan orang. Emang sih, untuk author famous ini emang sedikit, tetapi untuk aku yang baru nulis di sini ini itu sudah banyak. Reader bisa aja nuntut untuk up tiap hari, tapi author juga berhak minta ke kalian buat ninggalin jejak walaupun cuma sekedar like. Terima kasih.
__ADS_1