Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 45


__ADS_3

Joy sebenarnya tidak enak jika harus mematahkan janjinya kepada Chandra untuk menjaga Nadia. Tetapi pekerjaan membuat Joy tidak bisa menerus tinggal di Jakarta dan menemani kakak iparnya itu melakukan pekerjaan sebagai selebriti.


Nadia juga tidak bisa membiarkan Joy terus menerus berada di sampingnya. Joy adalah seorang karyawan sebuah perusahaan swasta di Bandung dan dia juga tidak bisa mengambil cuti panjang selama lima hari lebih, bosnya hanya memberikan tiga hari cuti dan itu sudah berakhir hari ini.


"Kak, maafin ya. Aku harus balik ke Bandung sekarang," ucap Joy dengan wajah cemberut. Nadia tertawa kecil menanggapi tingkah Joy yang berbanding terbalik dengan tubuhnya yang tinggi.


Meskipun mereka sebaya, tapi Nadia bisa jauh lebih dewasa dibandingkan Joy.


"Ck, nggak papa kok. Kenapa sih, kamu nggak enakan gini. Aku udah biasa kok di sini sendirian. Maaf ya, nggak bisa antar ke Bandung. Salam buat nenek, ayah dan ibu." "Hm, aku pasti sampain," timpal Joy dengan memaksakan senyumnya.


"Ya sudah, hati-hati di jalan," ujar Nadia seraya menyerahkan sebuah bingkisan dalam kantung kepada Joy. Joy lalu memasuki mobil milik Nadia. Mobil itu juga dikendarai oleh seorang sopir pribadi Nadia yang sudah menemani gadis itu sejak menjadi artis."


"Bye, Kak!"


"Hm, bye!" Nadia melambaikan tangannya pada Joy. Lalu gadis itu harus kembali melakukan pekerjaan yang sempat tertunda.

__ADS_1


Sebenarnya sejak pagi tubuh Nadia sedikit tidak enak, selain agak panas Nadia juga merasakan kalau tubuhnya lemas sekali. Seperti tidak ada tenaga, dia juga malas untuk melakukan rahersal yang seharusnya dilakukan satu jam lagi.


Waktu menunjukkan pukul dua siang, matahari semakin terik dan Nadia rasanya tidak kuasa untuk pergi ke gedung acara untuk melatih penampilannya di atas panggung.


[Liza] : Nad, gue ke tempat lu sekarang. Sekalian jemput lu rahersal.


Nadia membaca pesan dari Liza dengan malas. Gadis itu tidak berniat membalasnya namun juga sangat tidak sopan kalau mengabaikan Liza terus menerus.


[Nadia] : Nggak perlu, Liz. Kita ngobrol aja nanti di backstage. Gue bisa pergi sendirian ke sana.


[Nadia] : Enggak, nggak usah baper deh. Pokoknya nanti kita ketemu di backstage aja.


Oh, atau kita ketemu di parkiran aja biar bareng-bareng ke sana.


[Liza] : Awas ya, kalau telat!

__ADS_1


Nadia mengganti pakaiannya dengan celana jeans slim fit dan kaos putih ketat yang semakin membuat bentuk tubuhnya terlihat. Rambut panjangnya ia ikat dengan asal kemudian Nadia juga memoleskan sedikit bedak dan memberikan sentuhan lipstik pada bibirnya sehingga tampak berwarna kemerahan.


Namun, kondisi tubuhnya terasa semakin buruk. Napas Nadia juga terasa panas, lehernya pun merasakan hal serupa. Nadia kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum janji latihan di aula, Nadia masih bisa tidur selama satu jam kemudian ngebut ke tempat acara.


•••


Setelah penerbangan singkat dari Labuhan Bajo ke bandara Soekarno Hatta, akhirnya Chandra tiba dengan selamat di ibukota. Pria itu melihat kembali sms dari Nadia berupa informasi alamat tempat istrinya itu tinggal di Jakarta. Chandra tersenyum kecil saat merasakan suasana kota yang jauh berbeda dengan Flores. Meskipun sama-sama panas, ternyata udara Jakarta terasa begitu berbeda, cukup pekat namun terasa lebih hangat, mungkin karena tempat ini adalah tempat di mana Nadia menghabiskan banyak waktunya, sehingga Chandra dapat merasakan temperatur yang tidak asing.


Chandra menumpang taksi untuk mengantarkannya ke alamat yang dimaksud. Di perjalanan, dia mencoba menghubungi Nadia tapi istrinya itu sama sekali tidak mengangkat panggilan, beberapa kali terus dialihkan pesan suara. Disms pun hasilnya sama.


"Apa mungkin Nadia sedang bekerja, ya?" batin Chandra pada dirinya sendiri. "Saya ganggu ya," tambah Chandra lagi dengan tidak enak.


Tidak butuh waktu lama untuk tiba di apartemen tempat Nadia tinggal. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dan Chandra sudah disambut oleh sebuah gedung apartemen yang sangat megah. Ada 20 lantai, dan Nadia ada di lantai 18. Chandra memasuki gedung tersebut seperti sudah terbiasa keluar masuk dari tempat itu. Pria itu mendapati tatapan orang-orang yang tidak sengaja berpapasan dengannya, beberapa di antaranya saling berbisik seperti mengenalinya, atau bahkan ada yang tampak melongo karena melihat betapa gagah dan tampannya Chandra dengan seragam tentara berpangkat jenderal.


Chandra jadi tersenyum-senyum sendiri, ada rasa bangga karena dia bisa menjadi suami Nadia, seorang artis cantik yang terkenal ramah dan berbakat. Pria itu tiba di lantai 18. Hanya ada dua unit yang ada di lantai tersebut, unit milik Nadia dan satu lagi milik orang lain. Chandra juga tahu kata sandi pintu rumah Nadia, sehingga dia tidak perlu bertanya lagi pada istrinya dan bisa mengirim pesan pada Nadia kalau dia sudah ada di rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG .....


__ADS_2