Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Ekstra BAB 6


__ADS_3

Danau tiga warna Kelimutu yang terletak di Labuan Bajo dipilih oleh Tim produksi untuk menjadikan lokasi pembuatan musik video lagu terbaru Vidi. Awalnya Vidi menginginkan pulau Komodo atau pantai Pink sebagai lokasi pembuatan video klipnya. Akan tetapi perizinan yang sulit dan juga lokasi yang dilindungi negara itu menjadi suatu kendala besar bagi penyanyi bernama asli Hans Bintang Dawud itu.


Masyarakat di penjuru negeri mendukung Vidi dan karirnya yang perlahan kembali menanjak naik, popularitas Vidi pun meningkat pesat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setelah skandal yang sempat memperburuk namanya, pria itu kini diterima oleh masyarakat karena aura positif yang muncul begitu baik.


Karisma Vidi di atas panggung dan wibawanya dalam berbicara membuat Vidi kini menjadi idola kembali di seluruh lapisan masyarakat.


Setengah proses syuting tengah Vidi selesaikan dengan baik, dan dia sudah membuat janji pertemuan dengan Nadia agar mantan kekasihnya itu melihat proses syuting, sebab lirik yang terdapat dalam lagu Vidi dibuat oleh Nadia beberapa waktu dulu.


Sudah hampir empat bulan Vidi tidak bertemu dengan Nadia, rasa kangen akan mantan kekasihnya itu kadang membuat Vidi berdebar tak karuan.


Vidi berjalan cepat keluar dari vannya untuk menemui Nadia yang sudah tiba di lokasi syuting, dan Vidi kaget bukan kepalang menyaksikan penampilan Nadia saat ini.


Nadia tersenyum ceria padanya dengan ditemani oleh Liza, ia mengenakan floraldress dilengkapi sneakers warna putih, membawa sling bag berukuran kecil dan ....


Perut Nadia membuncit besar di balik pakaian yang dikenakannya.


"Scene kamu sudah selesai, Vid?" tanya Nadia sebagai sapaan.


Vidi masih melongo dan belum kembali pada kesadarannya. Nadia menghela napas dan duduk di kursi yang telah disediakan oleh kru.


"Nad ... ini kamu?"


Nadia mengangguk.


"Iya, lu pikir dia siapa?!" sentak Liza jutek.


Nadia terkikik, sementara Vidi tersenyum untuk menutupi rasa kagetnya.


"Kamu ... berhasil dihamilin, Nad?!"


"Kok dihamilin sih, Vid. Iya, aku lagi hamil. Nih, udah mau lima bulan," ucap Nadia sembari menunjukkan ukuran perutnya yang benar-benar membesar.


Vidi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Selamat, ya," ujar Vidi agak sedih.


"Iya, makasih banyak."


"Ngomong-ngomong, kamu ke sini sama siapa?" tanya Vidi lagi.


"SAMA KAMI!"


Vidi terkejut lagi, Nadia dikawal oleh lima orang anggota TNI yang berseragam lengkap dan tiba-tiba dengan kompak muncul di lokasi syuting. Kawanan itu dipimpin oleh Ong, diikuti oleh Alif, Danil, Johnny dan Yuta.


Nadia tertawa geli melihat kelima temannya yang merasa terpanggil oleh pertanyaan Vidi.

__ADS_1


"O-oh, sama kalian ya, hehe ...," ucap Vidi gugup.


"Kalian duduk aja, pasti capek baru selesai patroli udah anterin saya ke sini," pinta Nadia pada kelima anggota tentara itu.


"Kak Nadia ... kita nggak akan istirahat. Mau jalan-jalan dulu di sekitaran danau.


Boleh?" tanya Alif meminta izin.


"Boleh dong," jawab Nadia, tentu saja dengan ramah.


"Kalian kalau mau makan juga bisa ambil sendiri ya, udah disediain prasmanan," beritahu Liza pada kawanan tentara yang mengawal Nadia atas perintah suaminya.


"Asiikkk!" Danil yang doyan makan tentu saja semangat mendengar arahan dari Liza.


Nadia hanya dapat terkikik mendengarnya.


"Yuk, gue anterin," ajak Liza pada kelima anggota TNI tersebut.


Kini tinggal Nadia dan Vidi yang dibiarkan mengobrol berdua. "Kamu nggak ngidam, Nad? Atau mau sesuatu gitu yang belum kesampaian?"


Nadia tampak berpikir. "Hmm ... apa ya, belum ada sih, Vid. Nggak tahu deh, soalnya sebelum minta apa pun, suami aku sudah sediain."


Vidi tersenyum kecil, turut bahagia dengan kabar yang Nadia sampaikan.


"Kok kamu nggak bilang kalau kamu lagi hamil? Aku pasti kasih hadiah, Nad."


"Iya sih ... cuman, aku pengen ikut ngerayain juga kebahagiaan kamu. Aku 'kan mantan terindah kamu."


"Ih, apaan sih, Vid."


"Hehe." Vidi hanya dengan ucapannya pada Nadia. Nadia sendiri tidak mengambil hati ucapan Vidi barusan. Melihat Vidi kembali berkarya dan menjadi idola bagi publik membuat Nadia sangat bangga akan sosok Vidi saat ini, yang dulu sempat tenggelam dan terpuruk.


"Tidak ada mantan terindah. Kalau terindah, tidak mungkin bisa jadi mantan," sabda seorang pria dengan suara baritonnya yang tegas nan teratur.


Nadia tersenyum mendengarnya, Chandra ada di sana dengan seragam rapi dan raut wajah agak ketus menatap ke arah Vidi.


"Siang, Vidi ... sepertinya, kamu sangat pintar merangkai kata-kata hari ini."


Vidi tersenyum kikuk melihat tubuh menjulang Chandra ada di belakang kursi yang didudukinya.


"E-eh, Pak Jenderal. Siang juga, Pak!" balas Vidi dengan hormat seraya berdiri dari duduknya.


Chandra tersenyum kecil ke arah Vidi, melupakan rasa jengkelnya pula pada sosok musisi berbakat itu.

__ADS_1


"Kok pulang? Kamu ke sini langsung dari kantor?" tanya Nadia mesra, ia juga merapikan kerah kemeja Chandra dan lencana suaminya yang agak miring.


Chandra mengangguk. "Iya, saya khawatir dengan keadaan kamu dan anak-anak. Apalagi keadaan bayi."


Nadia terkikik, "Kita baik-baik saja, kok. Anak-anak lagi makan sama Liza."


"Syukurlah, kamu masih mual Sayang?"


"Sudah enggak. Kalau pagi sih, mual."


"Kamu sudah makan?" tanya Nadia pada suaminya.


"Belum, nanti saja di rumah."


Sepasang suami istri itu terus saja mengobrol berdua tidak mengenal tempat, seakan-akan dunia hanya milik berdua dan yang lainnya ngontrak! Vidi yang melihatnya pun hanya bisa menatap dengan tampang kecut sekaligus bingung karena ingin ngobrol lagi dengan Nadia.


"Ini 'kan udah agak sore. Gimana kalau kamu nginap aja di sini, Nad?" pinta Vidi dengan senyum lebar.


Chandra memandang wajah istrinya itu yang tampak masih betah untuk berada di lokasi syuting. Mungkin Nadia kangen dengan masa-masanya menjadi seorang penyanyi, dan juga merindukan liburan di tempat indah seperti tepi danau Kalimutu ini.


"'Kan nggak baik, kamu lagi hamil loh. Pulang pergi pakai mobil, jalanan juga nggak mulus kayak di Bandung atau Jakarta, nanti bayi kamu kenapa-napa," celetuk Vidi lagi, berusaha merayu Nadia agar mau tinggal di resort.


"Sayang, kamu mau menginap di sini?" tanya Chandra pada istrinya.


Nadia cemberut. "Mau ... tapi, kamu besok kerja."


Chandra tersenyum dan mengucek pelan puncak kepala istrinya dengan gemas. "'Kan ada Liza, kamu bisa ada temannya. Saya tidak terlalu khawatir."


Nadia mengusap perutnya. "Tapi, bayi pasti mau ketemu Papa sebelum tidur."


Tawa kecil Chandra terdengar sangat renyah, membuat Nadia ikut tertawa mendengarnya.


"Okay, kita cari kamar yang tersedia di resort. Sekalian anak-anak juga saya minta untuk booking, mereka tidak pernah liburan setelah saya kembali ke Flores."


"Wah, serius? Kamu mau ajak semuanya?" tanya Nadia dengan raut amat bahagia.


Chandra mengangguk dan menjatuhkan kecupan di kening Nadia dengan lembut, sedikit melirik ke arah Vidi dengan senyum agak mengejek sengaja.


"Iya. Semuanya, apa istilahnya, Baby Moon?"


Vidi memutar bola mata jengkel melihatnya, antara cemburu atau ingin melakukan hal yang sama seperti Chandra lakukan pada Nadia.


"Tentara moon kali!" celetuk Vidi dengan kekehan kecil.

__ADS_1


Bersambung....


Ngakak🤣


__ADS_2