
"Onty ... Ola bisa main ini!"
Ola menunjukkan permainan puzzle pada Joy yang sedang bermain dengannya, dahi Ola masih dipasang kompresan instan yang diperuntukkan bagi balita dan anak-anak yang demam.
Joy tidak tega melihat Ola yang belum tahu kalau papanya sedang pergi tugas, Ola baru bangun tidur jadi perhatiannya sedikit teralihkan karena ada tantenya juga nenek buyut serta kakeknya di rumah.
"Ih, Ola pintar banget ... Onty kasih Ola puzzle lagi, ya?"
"Hu um! Onty pajelnya yang banyak!"
"Iya, mau yang mana Ola puzzle-nya?"
"Gambal Esla!" Flora terlihat ceria, dan anak itu menyebut nama tokoh utama kartun Frozen dengan sangat lantang walaupun salah.
Seharusnya Elsa, tetapi Ola menyebutnya Esla.
"Flora ... Mainnya sudah dulu ya, sini mamam dulu." Nadia membawa satu mangkuk bubur bertekstur encer dari dapur, Nadia sudah memasak sehingga menitipkan Flora pada Joy dulu untuk sementara.
"Mama ... Papa mana?" tanya Ola pada Nadia dengan bibir mengerucut, pandangan Ola juga terarah pada kamar terus, mungkin mencari papanya yang sejak bangun tidur tak tampak batang hidungnya.
"Papa lagi beli boneka dulu. Katanya Ola mau boneka Elsa?" ucap Nadia dengan lembut sembari mengaduk bubur untuk disiapkan pada Ola.
"Bomneka Esla?" Suara khas balita yang baru bisa bicara itu terdengar sangat bening. Nadia terkadang masih tidak mempercayai dirinya sendiri bahwa ia berhasil melahirkan bayi seperti Ola ke dunia ini.
"Boneka, Ola Sayang. Ih, gemesh banget sih!" Joy terkekeh geli saat mendengar Ola selalu saja mengeluarkan kata baru setiap bicara.
Nadia tertawa kecil, "Emang Joy. Ola ini kebalikan papanya banget. Kalo papanya selalu ngomong pake EYD, kalo Ola asal bunyi aja terserah dia. Entah orang ngerti atau enggak."
"Onty nggak boleh ketawa!" omel Ola pada Joy, tetapi Joy tetap saja tertawa karena larangan bocah kecil itu.
"Biarin, wlee."
"Nanti papa tembak Onty loh, doll...!" Suara cadelnya membuat Joy benar-benar gemas sekali sampai ingin mencubit pipi tembam Ola.
__ADS_1
"Hahaha ... Ih, serem ...."
"Mam dulu ya ... nanti habis mam kita samperin papa ... aaaa?"
Ola membuka mulutnya dengan pelan, dan menerima satu suapan kecil dari mamanya.
"Enak, Nak?"
"Hu um! Enyak!"
***
Seperti yang disiarkan diberita nasional dalam negeri, bencana banjir bandang ini terjadi cukup parah dibandingkan sebelum-sebelumnya. Dikarenakan curah hujan tinggi yang terjadi selama beberapa minggu terakhir.
Chandra merasa ngeri dan tentunya miris sekali ketika ia sampai di lokasi bencana alam. Tepatnya Chandra berkunjung pada posko pengungsian.
Pria itu tidak tega ketika melihat anak-anak dan balita yang sementara harus kehilangan tempat tinggalnya karena bencana ini.
Chandra mengangguk setuju pada laporan seorang ajudan yang ikut dengannya dari Bandung.
"Betul Pak, tapi saya masih lega karena tim pengawasan di sini cukup cepat tanggap."
"Saya juga terima kasih banyak sama Bapak Jenderal dan istri karena sudah menyumbang sembako dan segala macam kebutuhan sandang pangan dan papan untuk para korban," ujar salah satu bapak yang mewakili kepala daerah yang terkena bencana.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah sepantasnya bagi setiap orang untuk membantu. Ayo Pak kita lanjutkan lagi kunjungannya ke posko pengungsian lain," ajak Chandra dengan ramah pada ajudan yang menemaninya untuk menuju lokasi posko lain.
"Tim medis di sini sudah siaga dengan perlengkapan prokes?" tanya Chandra.
"Oh, kalau itu tidak perlu khawatir Pak, kami sudah kedatangan dokter pagi ini yang mengatur segala halnya."
Chandra mengangguk senang, ternyata kekhawatirannya kali ini bisa terselesaikan dengan baik berkat tim medis yang solid.
"Syukurlah ...."
__ADS_1
"Pak Jenderal pasti kenal dengan dokter Nellie. Beliau pernah bertugas di Flores setahun lalu, bukannya Pak Jenderal juga sampai bertugas di sini?"
"Oh, dokter Nellie? Iya, saya kenal dengan beliau."
Nellie duduk dengan gugup di hadapan Chandra yang memberikannya satu kotak makanan siap santap. Sudah hampir tiga tahun mereka tidak dipertemukan secara intim begini, hal itu membuat Nellie merasa terkejut karena ia tidak menyangka akan dipersatukan dengan Chandra dalam momen yang sama, tentunya tanpa kehadiran Nadia atau orang lain.
"Terima kasih Nell, kamu sudah bersedia datang ke sini. Pasti berat ya, jadi dokter relawan selagi pandemi?"
"Ya, lumayan. Kamu sendiri atau datang dengan tim kamu?"
Chandra menggeleng. "Tidak, saya sudah lama pindah tugas ke Bandung sebagai pimpinan satuan komandan militer di kantor cabang. Saya bersyukur bisa pulang ke tempat kelahiran saya."
Chandra tampak datar sekali, seolah tak ada rasa dalam obrolannya dengan Nellie. Nellie menyadari bahwa kini jantungnya tak lagi berdebar walau sedekat ini dengan Chandra. Iya, Nellie hanya gugup karena ia sudah lama tak bertemu.
"Oh ... Syukurlah ... Mmm... Gimana keadaan Nadia? Saya sudah lama tidak lihat dia di televisi."
Saat mendengar nama Nadia disebut entah mengapa Chandra tersenyum. "Baik, Saya, Nadia, dan anak kami baik. Nadia memang sudah vakum dari dunia hiburan, dia fokus merawat saya dan Flora."
"Namanya cantik sekali, anak kalian namanya Flora?"
"Iya, nama lengkapnya Flora Ruby Negara ... Nadia yang membuatkan nama itu."
Nellie tersenyum hangat, dia jadi merindukan Nadia dan mengobrol dengan wanita itu.
"Berapa umurnya sekarang?"
"2 tahun 1 bulan, dia mirip sekali dengan Nadia. Kalau ada waktu, saya dan Nadia menunggu kedatangan kamu ke Bandung, Nell."
"Hmm ... Tentu, selamat ya."
"Terima kasih... kamu juga Nellie," ucap Chandra dengan lembut.
Nellie mendongak ke arah Chandra ketika pria berseragam itu bangkit dari duduknya. "Saya akan pergi ke titik posko pengungsian lain. Kamu hati-hati di sini."
__ADS_1