Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
HT (Walkie Talkie)


__ADS_3

Sudah lewat jam makan malam, tapi Chandra belum juga pulang. Nadia jadi khawatir kalau Chandra mungkin saja pingsan di hutan atau di serang kawanan monyet, karena hari sudah semakin gelap. Apa mungkin ada babi hutan yang menghadang Chandra di perjalanan pulang. Ya, pikiran Nadia mungkin selalu parno sejak ia pergi ke Flores tapi rasanya itu adalah hal yang wajar. Di tempat yang jauh dari perkotaan ini, Nadia tidak memiliki siapa pun selain Chandra.


Nadia dengan cepat segera mengenakan sweter dan menyalakan lampu dari handphonenya, dia akan menyusul Chandra bagaimanapun caranya, dia akan meminta bantuan Johnny untuk menemaninya ke hutan.


Baru saja langkah Nadia sampai ke batas pagar, seorang pria tinggi sudah berjalan ke arahnya tersenyum kecil sembari mengarahkan senter ke jalanan yang ada di hadapannya. Nadia mematikan senter handphone-nya dan menunggu di pagar itu dengan senyum lega.


"Kamu mau, ke mana?" tanya Chandra saat sudah sampai di hadapan Nadia. Melihat Nadia membawa handphone dan mengenakan pakaian tertutup begini membuat Chandra keheranan.


Nadia menggaruk tengkuknya. "Saya ... mau telepon nenek," jawab Nadia asal, dan tentu saja bohong karena niat awalnya bukan demikian.


"Ah, kalau begitu mari saya antar. Ayo, ke sana sama-sama," ajak Chandra sembari menarik lengan istrinya, terapi Nadia menolak kebohongannya, bisa membuat Chandra capek.


"Enggak jadi deh, hehe. Nggak usah, kita masuk ke dalam saja."


"Kenapa?" tanya Chandra heran. Nadia mendorong punggung suaminya itu agar memasuki pagar rumah sambil terkekeh.


"Nggak, nggak jadi pokoknya. Hehe, saya bohong sih, sebenarnya saya nungguin kamu."


Chandra tertawa kecil dan menuruti Nadia untuk masuk ke dalam rumah yang pastinya menyajikan kesederhanaan sekaligus rasa nyaman bagi para penghuninya.


"Oiya, saya punya hadiah untuk kamu."


Chandra mengeluarkan sesuatu dari dalam koper miliknya, dan Nadia yang sedang membaca buku tampak penasaran dengan benda yang Chandra katakan adalah sebuah hadiah.


"Wah, apa, itu?" tanya Nadia sambil melonggokkan kepalanya ke arah benda yang Chandra keluarkan dari sebuah kotak.


"Hm, sepertinya ini akan berguna untuk kamu."


Ternyata sebuah HT atau walkie talkie yang terlihat masih sangat baru. Nadia tersenyum sangat lebar dan wajahnya tampak senang menerima benda komunikasi di hadapannya itu. Chandra memiliki dua HT dan menyerahkannya satu pada Nadia.

__ADS_1


"Karena di tempat ini sulit sinyal, kamu bisa menggunakan HT ini untuk berkomunikasi dengan saya."


"Wah, ini pertama kalinya saya punya walkie talkie sendiri," seru Nadia bak anak kecil mendapatkan hadiah yang diidam-idamkannya, membuat Chandra tersenyum hangat ke arahnya.


"Bagaimana cara pakainya?" tanya Nadia keheranan, dia sudah menyalakan HT-nya tapi tidak tahu bagaimana cara menggunakan benda itu.


"Fungsi benda ini sama seperti radio. Disalurkan melalui gelombang elektromagnetik, dan hubungannya bisa dua arah atau lebih, tergantung jarak pengguna. Hm, model ini jaraknya bisa lima belas kilometer maksimal."


"Oh, coba-coba. Kita ngobrol pakai ini. Saya ke kamar, ya," seru Nadia sembari berlari kecil menuju kamar dan menutup pintunya. Sementara Chandra dibiarkan duduk di teras dengan walkie talkie miliknya.


Chandra menghubungi Nadia duluan, dia menekan tombol merah dan langsung mengirimkan pesan suara.


"Chandra kepada Nadia, bisa dengar?"


Nadia tertawa kecil, gadis itu seperti melihat benda ajaib yang dapat mengeluarkan suara Chandra dengan jelas. Gadis itu keluar dari kamarnya dan melonggokkan kepalanya pada Chandra yang juga menatap ke arahnya.


***


"Saya sudah pernah cerita 'kan, tentang teman baru yang profesinya dokter itu sama kamu?"


Chandra mengangguk, tapi raut wajahnya berubah drastis saat Nadia kembali membahas tentang Nellie padanya. Chandra semalam sangat ingin bicara jujur tentang Nellie, tapi ternyata hubungan Nadia dan Nellie sudah cukup jauh, mana bisa Chandra menjelaskan masa lalunya pada Nadia kalau keadaannya begini.


"Ternyata, Nellie pernah ketemu sama pacarnya yang sudah melamar dia itu. Tapi mereka 'kan gagal menikah karena Nellie yang nolak lamarannya. Nellie nyesel banget sekarang, dia juga kelihatan murung banget waktu saya ikut untuk telepon nenek."


Chandra tidak menanggapi ucapan Nadia, karena sebenarnya lelaki yang Nadia maksud adalah dirinya.


"Emm. Apa sebaiknya, kamu tidak perlu memikirkan orang lain terlalu jauh seperti itu?" Nadia mendongak ke arah Chandra, yang tersenyum kepadanya.


"Maksud, kamu?"

__ADS_1


"Hmm. Maksud saya, kamu jangan terlalu memikirkan masalah orang lain."


Nadia tersenyum masam. "Saya kasihan sama Nellie. Dia mungkin masih sangat mencintai pacarnya itu. Juga, Nellie sama pacarnya itu 'kan belum ada kata putus. Mereka hanya gagal menikah saja, 'kan? Berarti hubungan mereka sebenarnya belum berakhir."


Nadia menghela napasnya gusar, Chandra merangkul bahunya dan mengusapnya dengan lembut. "Padahal cocok banget kalau Nellie menikah dengan pacarnya. Nellie seorang dokter, dan pacarnya perwira tinggi, pertemuan mereka juga di Iran," keluh Nadia lagi sembari cerita Nellie dan mengulangnya lagi pada Chandra.


Chandra terdiam, haruskah Chandra memberitahu Nadia masa lalunya bersama Nellie? Tapi ... apakah Nadia akan menganggap Chandra sebagai lelaki jahat karena sudah mengabaikan wanita sebaik Nellie?


Nadia mengatakan padanya sebelum mereka memutuskan untuk menikah, bahwa Nadia tidak mau menangis lagi, tidak mau kehilangan lagi, dan tidak mau dikecewakan lagi. Juga, Chandra sudah berjanji tidak akan melakukan tiga hal itu terhadap Nadia.


"Hm, Chandra. Kamu, keberatan tidak kalau satu bulan lagi kita pergi ke Jakarta untuk menghadiri undangan acara penghargaan musik?"


Chandra membulatkan kedua matanya, wajahnya yang kaku tampak lucu karena berekspresi kaget begitu.


Nadia beberapa kali mencoba mengatakan hal tersebut tapi dia baru berani bicara pagi ini saat dirinya dan Chandra menjadi guru bantu di sekolah pelosok.


"Satu bulan lagi, ya?" ulang Chandra agak berpikir.


"Ya, satu bulan lagi. Sebenarnya, saya tidak mau pergi ke sana, tapi meneger saya meminta saya untuk datang. Juga, saya pun tidak bisa pergi tanpa izin kamu."


"Kenapa kamu tidak mau pergi ke sana?" tanya Chandra pada Nadia sembari memainkan helaian rambut panjang istrinya yang tertiup angin.


"Saya, tidak mau melihat kamera atau menghadapi wartawan," ucap Nadia putus asa dan menunduk.


"Kita pergi," ucap Chandra dengan senyum hangat di wajahnya. "Saya akan melindungi kamu di tempat itu. Sebagai suami kamu, sekaligus pengawal kamu selama kita berada di sana."


Dengan lembut, Chandra mengelus sisi kanan wajah Nadia, dan senyuman wajahnya disertai lesung pipi dalam itu membuat Nadia terhanyut dengan perasaan yang tidak biasa. Perasaan yang bahkan tidak pernah diberikan oleh Vidi atau papanya sekalipun. Ini sangat berbeda, membuat Nadia nyaris ambruk kalau saja dia tidak memegang lengan suaminya itu.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2