Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 76


__ADS_3

Hilangnya Vidi setelah pria itu dibebaskan dari tahanan atas kasus narkoba yang menjeratnya, membuat publik bertanya-tanya atas sosok Vidi yang tak muncul lagi ke media selama berbulan-bulan. Banyak yang berspekulasi jika Vidi tengah melakukan rehabilitasi secara total di sebuah kota terpencil seorang diri. Namun, yang menjadikan publik semakin penasaran akan hilangnya Vidi, dikarenakan keluarga pun selalu bungkam setiap diminta keterangan. Pihak agensi pun tidak bisa berkomentar apa pun karena itu merupakan privasi Vidi yang tak bisa diganggu gugat.


Akun sosial media Vidi yang biasanya aktif, kini mendadak tidak pernah membuat unggahan baru, dan semua media gosip sibuk membuat rumor atas hilangnya Vidi. Padahal, Vidi sudah berjanji akan merilis album baru selepas dia menyelesaikan hukumannya. Namun, kini dia seolah tidak bertanggungjawab dan meninggalkan banyak pertanyaan para fans.


Vidi yang baru saja menepikan mobil sewaannya ke pekarangan puskesmas, segera saja keluar dari dalam mobil dan menghampiri Nadia yang pada saat itu berjalan dengan lunglai keluar dari puskesmas.


Brakk!


Vidi menutup pintu mobilnya terburu-buru, dan berlari ke arah Nadia sebab dia takut Nadia akan menghindarinya lagi. Dia harus bergerak cepat agar bisa menyampaikan salam perpisahan sementara pada Nadia, sebelum kembali ke Jakarta.


Nadia mengusap air mata yang masih saja menetes pada kedua pipinya, wajahnya sudah begitu sembab dan kedua matanya membengkak tidak bisa terhindar. Nadia juga terus berdeham membersihkan tenggorokannya yang begitu kering. Nadia bahkan merasa jika kedua kakinya tidak menapak pada tanah dengan baik, ia merasa begitu pusing dan pening, dunianya berputar-putar karena insiden mengejutkan yang tak pernah ia bayangkan.


Ucapan Nellie dan sikap manis Chandra padanya begitu bertolak belakang dengan kenyataan. Nadia tidak bisa menerima semua ini dengan sadar atau baik-baik saja. Ia sangat emosi, dan yang bisa Nadia lakukan untuk mengekspresikan rasa sedih dan kecewanya tentu dengan menangis.


"Nadia!" Vidi memanggil, wajahnya panik setengah mati. Vidi yang sudah agak baikan dan memiliki tenaga cukup kuat segera membopong tubuh lemas Nadia ke dalam dekapannya.


Nadia berusaha menepis tangan Vidi dari tubuhnya, tetapi ia tidak sanggup karena terlalu lemah. Pada akhirnya, Vidi berhasil membawa Nadia ke dalam pelukannya.


Beberapa orang yang ada di tempat tersebut melirik ke arah Nadia dan Vidi yang tampaknya sedang bermasalah, ada juga Yang mengenali Nadia sebagai salah satu orang penting desa. Namun, mereka tidak ikut campur karena ekspresi Nadia yang tampak berbeda dari biasanya.


Tangisan Nadia kembali pecah saat Vidi mendekapnya semakin erat. Vidi tidak bicara, tetapi berusaha mencari kejujuran yang terlukis dari wajah mantan kekasihnya itu.


"Kamu nangis kenapa, Nad?! Bilang sama aku! Siapa yang nyakitin kamu?!" tanya Vidi menggebu-gebu, tetapi kata-katanya dilontarkan dengan lembut supaya Nadia bisa segera tenang dan berhenti menangis.


Nadia tentu tidak bisa menjawab, ia sangat malu dengan kedatangan Vidi yang secara mendadak ada di hadapannya. Dengan kondisi yang tentu saja buruk. Nadia tidak mau jika Vidi tahu jika kehidupan rumah tangganya sedang bermasalah. Nadia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan selalu bahagia dengan apa pun yang terjadi, dan tidak akan memikirkannya terlalu berlarut-larut. Padahal, rasanya baru kemarin Nadia bersenda gurau dengan Chandra, menikmati malam berduaan dengan romantis di bawah langit yang indah, tetapi kini Nadia justru harus berada dalam dekapan Vidi di tengah teriknya sinar mentari dan panasnya rasa cemburu dan benci.


"Nad ... udah Nad ... aku nggak bisa lihat kamu nangis kayak gini," bujuk Vidi dengan lembut, pria itu juga merapikan rambut panjang Nadia yang terurai berantakan, beberapa helai bahkan basah karena air mata.


Nadia menepis tangan Vidi lagi, dan memandang Vidi dengan tatapan bergetar, seperti meminta untuk berhenti bertanya.


"Oke, aku diam," kata Vidi lembut.


Sementara Nadia berusaha menghentikan tangisannya, dan Vidi tersenyum mencoba menghibur Nadia. Seorang pria berpakaian kasual tampak membidikkan kamera handphonenya ke arah Nadia dan Vidi. Pria itu tersenyum puas, lalu buru-buru memasukkan kembali handphone ke dalam saku jaketnya saat Vidi beberapa kali melirik ke belakang.


"Ckck, jadi dicari di mana-mana adanya di sini. Vidi, Vidi." Pria itu menggelenggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang menjadi pemandangannya saat ini.


Vidi terlihat merangkul mantan kekasihnya yang sudah bersuami itu dengan mesra. Tentu, itu akan menjadi berita yang sangat besar di industri hiburan yang sudah haus akan skandal para artis. Pria itu juga berhasil menjadikan momen Vidi dan Nadia dengan menggunakan video. Pasti, beritanya akan sangat mahal, dan semua akun gosip serta acara TV akan tertarik untuk membeli berita yang didapatkannya.


***


Karena Nadia tidak berhenti menangis, dan kondisi fisiknya pun kian memburuk. Vidi membawa Nadia untuk masuk ke dalam mobilnya. Vidi ingin membawa Nadia ke tempat yang jauh lebih sepi dan tenang. Vidi punya lokasi menyendiri yang sering dia kunjungi saat di Flores, sepertinya Nadia akan menyukai tempat yang Vidi maksud.


Nadia masih tidak bicara, ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Bahkan, Nadia tidak peduli jika kini dirinya berada di satu mobil yang sama dengan Vidi yang tidak berhenti menatapnya.


Vidi menghentikan mobilnya, mengarahkan bagian depan mobil pada sebuah pantai yang sepi dari sebuah jalan berbukit. Pemandangan yang sangat indah jika dinikmati dengan hati yang bahagia. Namun, bagi Nadia pemandangan itu amat sangat buruk. Nadia tidak bisa melihat dengan jelas karena kedua matanya tergenang air yang siap untuk kembali meluncur deras.


Vidi tersenyum kecut. "Aku nggak tahu, kenapa dan siapa yang udah bikin kamu nangis kayak gini. Tapi, aku nggak bisa lihat kamu kayak gini, Nad."


"Aku jadi ingat saat aku ditangkap polisi di H-7 pernikahan kita. Saat itu meskipun aku dalam kondisi mabuk, aku masih bisa lihat dan bayangin ekspresi kecewa dan sedih karena aku. Aku nggak bisa tidur nyenyak di dalam sel. Wajah sedih kamu selalu terbayang tiap aku tutup mata."


"Nad, i lost my world after i lose you ...."


Vidi malah mengungkapkan perasaannya lagi pada Nadia. Namun, Nadia terlihat tidak bergeming sedikit pun. Nadia sibuk dengan pikiran dan isakannya yang sedu sedan.


Vidi lalu meraih handphone-nya, menyetel sebuah lagu dari pemutar mp3 dengan volume sedang. Musik kemudian mengisi keheningan. Nadia menutup kedua matanya, Vidi memberikannya selembar tisu dan mengusapkan benda lembut itu ke permukaan pipi Nadia yang memerah.


Vidi tanpa sadar ikut menitikkan air mata, betapa dia rindu momen kecil bersama Nadia yang sudah beratus jam dia lewatkan dengan sia-sia. Vidi menangisi penyesalannya yang sangat besar karena sudah kehilangan dan membiarkan Nadia jatuh pada pelukan pria lain.


"Vid, aku mau pulang," gumam Nadia setelah lagu berakhir.


Vidi mengangguk. "Aku anterin, ya."


"Nggak perlu, aku bisa jalan ke mobilku." Nadia hendak keluar dari dalam mobil, tetapi Vidi menarik tangannya.


Nadia melirik ke arah lengannya yang digenggam erat oleh Vidi, sehingga Vidi melepasnya perlahan.


"Aku mau tanya sesuatu dulu!" kata Vidi dengan sedikit memaksa.


"Aku pergi," tolak Nadia dingin.


"Enggak! Tunggu sebentar, aku mohon ...," pinta Vidi dengan memelas.


Nadia pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk turun, dan berusaha menanggapi Vidi. Sebenarnya, terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepala Vidi. Namun ....


"Cepat sembuh." Hanya kata itu yang berhasil diucapkannya.


***


Nadia pulang ke rumah dinas setelah ia berhasil menormalkan sedikit wajah dan kedua matanya yang bengkak dan sembab. Nadia harus segera masuk untuk makan malam dan menghindari adu tatap dengan papa dan neneknya. Kalau sampai kedua orang tuanya tahu tentang masalah ini, Nadia tidak tahu apa yang akan terjadi. Pasti situasi akan sangat runyam, tidak baik juga untuk cerita pada orang lain selain menyelesaikannya dengan Chandra terlebih dahulu.


Papa sejak mulai makan malam tidak pernah melepaskan perhatiannya dari Nadia. Nadia terus mengambil makanan pedas, sampai wajahnya memerah padam. Sementara nenek hanya tertawa kecil melihat sikap Nadia yang selalu saja di luar kebiasaannya.


"Nad, apa nggak pedas?" tanya papa heran.

__ADS_1


Nadia menggelengkan kepalanya. "Enak Pah, Nadia lagi datang bulan. Jadinya, makan yang pedas gini, biar pusingnya hilang."


"Jangan kebanyakan," peringat papa dengan lembut.


Nenek mengusap lengan Nadia yang berada di sampingnya. "Kirain udah isi ... hihi," timpal nenek dengan genit.


Nadia terdiam, dan berhenti mengambil asinan pedas khas Bandung buatan neneknya itu. Nadia menggeleng kecil, teringat lagi dengan Chandra yang pasti sekarang ini sama sekali tidak mengetahui kondisinya.


"Belum dikasih...," balas Nadia pelan.


"Iya, nanti kalau sudah dikasih bakalan jadi cucu pertama dari dua keluarga. Pasti rebutan nih, kita," beritahu papa dengan semangat. Papa sudah membayangkan ingin menimang cucu pertamanya dari Nadia.


Nadia memaksakan senyumannya, kenapa sampai hari ini ia nggak pernah berpikiran untuk punya anak dan merawatnya. Selama ini, Nadia selalu mengandalkan suaminya dalam situasi apa pun. Setelah ada sebuah rahasia pahit yang terungkap, mendadak Nadia sangat takut untuk punya anak. Nadia memejamkan matanya dengan rapat, membayangkan kemungkinan buruk yang tidak boleh jika sampai terwujud.


"Kamu tadi siang ke mana aja? Nenek sampe bingung cari."


"Nadia tadi ... belanja, nyari ... bayam sama kangkung. Tapi ... di pasar nggak dapat apa-apa, hehe."


"Oh, kirain nenek kamunya nyusulin Chandra karena kangen."


"Hmm. Enggak, Nek."


Sementara itu di malam hari saat semua anggota mendapatkan rehat sejenak untuk makan malam. Chandra pergi ke belakang tenda dan memeriksa teleponnya, pria itu agak cemberut karena tidak tersedia jaringan di tempatnya. Padahal, Chandra sangat ingin mendapatkan pesan-pesan galak dan gemas dari istrinya.


"Lagi apa, Dan?!" seru seorang prajurit yang kebetulan mendapati Chandra di belakang tenda.


Chandra langsung menoleh dan tersenyum tipis. "Cek signal. Ternyata, tidak ada sama sekali," keluh Chandra dengan raut tak puas.


"Ah, mau menghubungi istrinya? Ada signal, tapi harus naik bukit dulu. Kalau malam-malam biasanya bisa telepon atau kirim sms."


"Memangnya, tidak bisa WhatsApp?" tanya Chandra sok gaul.


Prajurit yang lima tingkat dibawahnya itu tertawa kecil. "Sudah syukur kalau pun dapat signal emergency, Dan. Saya juga kalau menghubungi pacar di luar kota pasti naik kapal dulu.


Di tengah laut baru lancar."


Chandra manggut-manggut. "Niatnya, saya mau membuat status Whatsapp seperti adik saya, tapi ya sudah, terima kasih informasinya. Saya ke bukit dulu kalau begitu."


Chandra membawa senter darurat, membawa serta handphone-nya dan berjalan menuju bukit yang dimaksud.


Wilayah yang Chandra kunjungi saat ini untuk dijadikan lokasi latihan prajurit pemula kondisinya tidak lebih baik dibandingkan Flores tempatnya bertugas. Masyarakat Karake juga hanya mengonsumsi umbi-umbian karena tanahnya yang gersang dan kering, sehingga beras atau jagung tak dapat tumbuh subur di wilayah ini. Hanya ada umbi gadung yang tumbuh di bawah tanah yang tandus. Chandra merasa miris, tetapi juga bersyukur karena dia membawa Nadia untuk tinggal di Flores, bukan di sini.


Tidak sampai sepuluh menit, Chandra sudah sampai di puncak bukit, dari tempatnya berdiri Chandra bisa melihat api unggun dan tenda-tenda yang berbaris rapi. Pemandangan itu sangat tidak menarik, Chandra ingin pulang ke rumah dan segera memeluk Nadia di atas tempat tidur. Tubuhnya seharian ini sangat lelah tanpa adanya suntikan tenaga, melihat senyuman Nadia rasanya cukup untuk melanjutkan malam.


"Yes!" Chandra bersorak saat dia mendapatkan dua garis kecil sinyal GSM. Itu artinya, dia bisa menerima dan mengirim pesan.


Tring!


Tring!


0853-xxxx-xxxx


Selamat! Kamu mendapatkan hadiah satu unit mobil dari Shopee. Klik tautan berikut :


https.www.shopee//undianberhadiah


0823-xxxx-xxxx


Butuh dana cepat? Hubungi nomor ini. Pencairan kurang dari sepuluh menit. No SMS no telepon. WhatsApp only.


Chandra menghela napasnya dengan kasar. "Loh, kenapa dapat mobil?" tanya Chandra keheranan.


Chandra tersenyum kecil, lalu mengaktifkan jaringan internet. "Bismillah," katanya.


Dan, tring 500x


Ada sinyal 3G di handphone-nya, yang masih bisa digunakan setidaknya untuk menerima pemberitahuan lewat beberapa aplikasi yang menggunakan data.


"Yes!" sorak Chandra lagi bahagia.


Dia kemudian mengabaikan pemberitahuan yang lain, kebanyakan dari aplikasi instagram milik Alif yang sempat dia gunakan untuk stalking dulu. Lalu sisanya adalah WhatsApp yang paling dia nantikan.


Nadia


Tebak, saya punya apa di galeri?!


Taraaa ....


(Sent a picture)


Chandra mengusap foto tangan yang Nadia kirimkan, tangan Nadia yang mungil dan lentik membuat Chandra sangat terkejut dengan ukuran tangannya sendiri.


Nadia

__ADS_1


Ck, pasti telat kirimnya. Harus diulang **


Udah sarapan? Gimana perjalanannya semalam? Kamu sampai jam berapa?


Dingin nggak? Ada nyamuk?


Chandra tersenyum, matanya berkaca-kaca tetapi bibirnya terus menampilkan lengkungan indah, dan lesung pipinya makin menjorok ke dalam. Angin sepoi membuat pesonanya makin ter pancarkan di balik seragam gagah yang dia kenakan.


Chandra melanjutkan membaca pesan teks singkat, tetapi sangat banyak itu. Pria itu tidak berhenti menggeser layar sampai ke bawah dan berharap tidak berhenti sampai di sana.


Nadia


Kangennn ....


(Nadia sent voice note 00.05)


"I miss you... cepat pulang, muach!"


Chandra tertawa. "Iya, saya akan pulang secepatnya," balas Chandra semangat.


Pesan Whatsapp dari Nadia berakhir dengan voice note berdurasi lima detik itu. Kini giliran Chandra membalasnya.


Nadia berusaha untuk terlelap malam ini, di sampingnya ada nenek yang sudah mendengkur halus sambil memeluk sebuah guling. Nadia menatap neneknya dengan tersenyum pahit, ia menjatuhkan usapan lembut di rambut nenek yang sudah hampir semuanya beruban.


"Nenek, Nadia nggak mau kecewain Nenek... apalagi papa, Nadia takut Nek."


Nadia kembali terisak kecil, tetapi ia buru-buru mengalihkan tubuhnya ke arah lain karena takut jika nenek terbangun karena tangisannya, dan mulai bertanya hal-hal mendetail.


Nadia membuka handphone-nya yang sejak tadi bergetar di samping tempat tidur.


Jangan sampai pesan dari Liza yang bisa saja makin memperkeruh suasana hati Nadia.


Tring!


Nadia mendapatkan 17 pesan Whatsapp, dan Nadia sangat terkejut ketika membukanya, semua pesan itu dari Chandra. Entahlah, Nadia harus senang atau sedih saat ini.


Mendadak ia mendapatkan signal internet tidak seperti biasanya.


Nadia membuka pesan itu segera.


Hubby


Saya baru membuka WhatsApp, di sini ada sinyal. Hehe.


Saya naik bukit.


Oh iya, saya sudah makan. Bekal yang kamu masak untuk saya sangat enak.


Semua orang mencicipinya.


Hmm ... apalagi ....


Nadia terkekeh, rasa marah dan bingungnya perlahan sirna membaca semua pesan singkat itu. Dari kalimat yang Chandra tulis, Nadia bahkan dapat membayangkan ekspresi bingung pria itu, seolah ada dan tengah bicara di hadapannya.


Hubby


Saya suka foto yang kamu kirim... tangan kamu cantik.


Enggak, kamu semuanya cantik sih, ehehe....


Saya kangen kamu.


Oh Iya, bulu mata saya tadi jatuh dua saat mengawasi jelajah hutan, tapi nggak bisa saya tepuk-tepuk karena saya bawa senjata.


Jangan-jangan... kamu kangen saya juga, ya? Hehehe ....


"Apaan sih, hiks... hiks...." Nadia tertawa campur menangis. Merasa bodoh dengan tingkahnya saat ini.


Hubby


Malam ini latihan kedua, kamu doakan semuanya lancar tanpa hambatan.


Saya mau cepat pulang. Agar bisa memeluk kamu lagi.


Untuk sementara, kamu peluk guling dulu. Tidak apa-apa, ya? Hehe ....


Di sini, tidak ada yang bisa saya peluk.


Oh, ada ... senjata laras panjang.


(Hubby sent voice note 00.06)


"Sleep thight, Nadia. Miss you more!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


BERI AKU LIKE


__ADS_2