
Setelah acara usai, kini sepasang suami istri berbeda profesi itu kembali ke rumah dinas. Chandra banyak melamun ketika ia tiba di rumah, pria itu beberapa kali membuka puluhan berkas dari laci meja kerjanya untuk diperiksa, hal itu membuat Nadia bingung dan bertanya-tanya.
Senja di Flores saat itu terlihat sangat indah meski disertai gerimis kecil. Nadia mendekat ke arah Chandra membawakan segelas teh chamomile hangat yang ia siapkan.
"Periksa apa?"
"Oh, Sayang ... ini, berkas tugas," jawab Chandra, agak terhenyak karena pria itu terlalu fokus pada apa yang di hadapannya.
"Berkas tugas? Apa ada tugas pelatihan lagi? Atau kunjungan?"
Chandra menggeleng, pria itu menggeser duduknya dan menarik Nadia dengan lembut agar duduk di sisinya. Chandra juga merengkuh pinggang ramping Nadia agar mereka bisa lebih rapat.
"Bukan ... tapi berkas peralihan tugas."
Dahi Nadia berkerut. "Kenapa?"
Chandra menghela napasnya. "Saya jadi memikirkan ucapan Alif, tentang ada bayi di basecamp TNI."
Nadia tersenyum. "Kenapa emangnya?"
"Fasilitas medis, suasana dan juga tempat di sini ... saya rasa kurang pas untuk kamu melahirkan bayi kita," ujar Chandra serius.
Nadia cemberut, dan Chandra menyadari hal itu.
"Ini bukan Bandung. Saya tidak mau ambil risiko. Di sini jarak menjadi masalah. Mungkin kamu bisa bersalin di puskesmas atau berangkat ke rumah sakit saat usia kandungan kamu menginjak genap sembilan bulan. Tapi saya tidak mau melakukan itu," jelas Chandra dengan lembut dan penuh penekanan, dia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Nadia apalagi ketika wanita tercintanya itu melahirkan buah cinta mereka.
"Terus ... kamu mau gimana?"
"Rencananya saya akan pindah tugas kalau memungkinkan, tetapi hal tersebut terbentur kontrak resmi dan masa bakti saya sebagai Komandan tertinggi di tempat ini," jawab Chandra.
"Saya bisa melahirkan di rumah ini, di rumah sakit atau puskesmas sekalipun," tekan Nadia keras kepala.
"Ya, saya yakin dan percaya kalau kamu bisa melakukan itu. Namun, bayi kecil kita? Kamu juga pasti kerepotan mengurus bayi seorang diri. Kalau kamu tinggal di Bandung, di sana ada ibu dan nenek, ada Joy, papa kamu ... dan teman-teman kamu yang akan merawat kamu."
"Jadi kamu ngusir saya?!" tanya Nadia serak.
Chandra menggigit bibirnya. "Bukan begitu, Sayang."
"Ck, udahlah!"
"Nadia dengarkan saya dulu ...."
Nadia menepis tangan Chandra dari bahunya dengan kasar, mendengar penjelasan suaminya yang lembut, tetapi menusuk itu membuat Nadia tidak ingin lagi mendengar celoteh manis yang dibalut perhatian keterlaluan itu lagi.
__ADS_1
"Bilang saja kalau kamu nggak mau ikut repot urus bayi, dan kamu mau buang saya ke Bandung!"
"Sayang ...," balas Chandra lemah dan tentunya penuh rasa sabar. Bicara dengan Nadia seperti melangkah di atas lapisan es tipis yang kapan saja bisa membuatnya terperosok kalau-kalau dia tak memilih kalimat yang tepat.
Nadia yang sensitif ditambah keadaan mengidam yang membuatnya mudah marah dan menangis pun menjauh dari suaminya. Ia memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam. Membiarkan Chandra diam di balik pintu dengan sebelah mata yang mengintip lewat lubang kunci untuk memastikan kalau Nadia baik-baik saja.
Nadia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, ia menangis dengan sebab yang dibuat oleh suaminya sendiri. Wanita itu meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri sambil berbisik kecil pada sosok janin yang berada dalam rahimnya.
"Bayi ... hiks ... besok kita ke Bandung."
"Hiks ... papa kamu jahat!"
"Sayang ... saya masuk, ya?"
"Nggak usah!" bentak Nadia ke arah pintu membuat Chandra kembali mundur.
"Saya sudah buatkan susu."
"Nggak mau!"
"Saya mau bicara dengan bayi."
"Nggak boleh!"
saya mau lihat kamu."
Nadia tak menjawabnya dan masih betah dengan dirinya sendiri di dalam kamar.
"Nadia ... saya mau cubit pipi kamu."
Nadia tersenyum mendengar ucapan gemas suaminya.
Dua menit menunggu tak ada jawaban, Chandra tersenyum-senyum di hadapan pintu tertutup itu. Merayu Nadia bukan perkara mudah, tetapi dia merasa konyol dengan dirinya sendiri saat ini. Saat Nadia lebih sulit dijinakkan ketimbang ranjau darat di perbatasan. "Nadia, saya masuk ya, Sayang?"
Klik ....
Chandra membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia miliki, pria itu duduk di tepi ranjang tepatnya di samping kaki jenjang istrinya yang tidak mengenakan selimut. Chandra menaikkan kaki Nadia ke atas pangkuannya dan memijatnya pelan. Nadia masih acuh tak acuh, betah dengan pandangannya ke arah jendela yang mulai menunjukkan sorot bulan sabit.
"Nad, saya juga tidak mau berpisah dengan kamu. Saya mau kamu ada di samping saya begitu pun sebaliknya."
Nadia mengusap air matanya, sesekali mencuri pandang ke arah Chandra yang menatapnya intens. Chandra tersenyum.
"Tidak apa-apa kamu marah. Saya memang pantas dimarahi."
__ADS_1
Nadia mengubah posisinya, menjadi duduk dan menekuk kedua kakinya sembari menghadap Chandra. Chandra kini lebih nyaman karena Nadia mau berhadapan dengannya lagi setelah menolaknya mentah-mentah.
"Kamu orang terpenting dalam hidup saya, Nad."
"Terus ... kenapa kamu mau saya pergi?"
"Ya, karena itu. Saya juga mau segala halnya matang untuk kamu."
Nadia lagi-lagi cemberut. "Dengan berpisah? Kamu pikir saya bisa mengatasi semuanya sendirian tanpa kamu?"
"Di Bandung ada ayah dan ibu. Saya jauh lebih percaya melihat kamu bersama keluarga. Nenek dan papa kamu ... mereka sangat berpengalaman."
"Apa artinya kalau kamu nggak ada," balas Nadia dengan pelan, tetapi berhasil membuat Chandra menunduk menyesal.
"Kamu pernah bilang, kalau sedetik setelah kamu menikahi saya. Saya tidak boleh bergantung pada orang lain selain kamu, saya tidak boleh meminta apa pun pada orang lain selain kamu. Kamu juga bilang, tugas utama kamu bukan lagi soal negara, tetapi soal bagaimana membuat saya bahagia."
"Saya bahagia kok. Saya siap di mana pun melahirkan bayi kita. Kenapa kamu berpikir terlalu jauh untuk sementara berpisah demi 'kebaikan' yang kamu maksud itu?"
"Nad ...." Chandra mencubit kedua pipi Nadia dengan lembut, pria itu tersenyum hangat sehingga Nadia meraih kedua tangan besar miliknya untuk digenggam.
"Chan ... saya tidak mau si bayi yang mengalami nasib yang sama seperti saya."
"Maksud kamu?" tanya Chandra lirih.
Nadia memaksakan senyumnya, bulir bening jatuh dari kedua matanya yang tampak berkaca-kaca. Chandra mencelos dan mengusap cairan itu dengan kedua ibu jarinya.
"Shhhh ...."
"Saya tidak pernah melihat wajah mama, bahkan ketika dilahirkan ... mama sudah lebih dahulu wafat di meja operasi ... untuk itu, saat bayi hadir di dunia ini, saya mau bayi melihat wajah kamu untuk pertama kalinya. Sebagai Papanya, dan sebagai orang yang paling menyayanginya di dunia ini."
Chandra meraih tubuh Nadia ke dalam pelukannya, pria itu menangis tersedu dan Nadia menikmati pelukan terlampau hangat itu dengan tangis pedih yang baru kali ini ia keluarkan terkait almarhumah sang mama yang sudah 29 tahun pergi meninggalkannya menuju surga.
Selama hidupnya, Nadia tidak pernah mengeluh bahwa ia merindukan sosok mama pada siapa pun selain pada Chandra suaminya. Pada papa dan nenek, Nadia tidak melakukan itu, sebab menceritakan atau bertanya tentang mama mungkin akan mengungkit rasa sakit lama yang coba papa dan nenek obati dan lupakan.
"Kenapa kamu baru katakan sekarang?"
Nadia menggeleng kecil. "Saya takut, kamu tidak berada di sisi saya untuk menguatkan saya dan bayi."
"Tolong, jangan minta saya pergi... saya mau di sini bersama kamu, bagaimanapun keadaannya."
Bersambung ....
dapatkah kalian merasakan kesedihan Nadia?
__ADS_1
Oiya, tadi nyaris aja nggak log-in ke akun.