Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 55


__ADS_3

Nadia sudah membersihkan dirinya, mengenakan pakaian sederhana namun tetaplah cantik jika dikenakan olehnya. Gadis itu juga merapikan buku-buku bacaan milik Chandra yang akan ia bawa ke Flores sebagai temannya dalam kebosanan. Chandra muncul lagi di kamar, sembari membawa satu piring roti panggang mentega dengan satu wadah kecil selai strawberry.


Nadia tersenyum melihatnya.


"Wah, bawa apa?"


"Roti sama selai. Kamu harus makan dulu, biar tidak sakit perut," kata Chandra sembari menyerahkan roti ke tangan Nadia. Nadia menerimanya dengan baik dan langsung mencicipi makanan khas sarapan itu di pagi buta begini.


"Kamu, sudah baikan?" tanya Chandra sembari memperhatikan Nadia yang menikmati rotinya. Nadia tersenyum dengan pipi mengembung, membuat suaminya itu mengerutkan dahi.


"Udah, tapi masih ngilu sedikit."


Ekspresi Chandra berubah jadi khawatir dan itu sangat menggemaskan.


"Lalu ... apa sebaiknya kita ke dokter dulu? Saya punya kenalan dokter di komplek ini, kamu harus diperiksa."


"Hahaha ... apa sih, enggak usah ...," tolak Nadia dengan halus, tetapi tetap saja suaminya itu masih memasang tampang khawatir berlebihan.


"Kalau diperiksa, malah saya malu. Jadi ... nggak papa, nanti juga sembuh." Nadia menunduk dan terlihat pipinya bersemburat merah. Chandra pun merasakan rasa malu yang sama seperti Nadia, hanya saja pria itu tidak terlalu menunjukkannya.


"Udah ... jangan dipikirin lagi," ucap Nadia ketika melihat suaminya melamun seperti sekarang. Nadia menyentuh pipi Chandra dan mengusapnya, Chandra mengangguk dan menjatuhkan kecupan di kening Nadia dalam-dalam.

__ADS_1


"Setelah ini kamu jangan dulu banyak beraktivitas, harus beristirahat. Kamu juga belum tidur sejak kemarin," peringat Chandra dengan nada lembut.


"Ih, kamu juga kan belum tidur dari kemarin." Nadia merajuk.


"Kalau saya sudah tidak tidur sehari atau bahkan tiga hari. Kalau kamu, tidak boleh seperti itu ...." Chandra mengambil tangan Nadia dan mengecup punggung tangan istrinya itu.


Nadia merasa gemas dengan sikap suaminya ini.


"Kamu harus sehat. Kalau kamu sakit, siapa yang akan merawat saya?"


"Iya iya, Sayang ... kamu juga harus sehat!" timpal Nadia tak mau kalah. Chandra kembali menjatuhkan kecupan ke wajah Nadia, kali ini bukan di kening melainkan tepat pada bibir kemerahan istrinya.


***


Selesai upacara, Chandra kembali pada barisan untuk memulai patroli dan latihan seperti biasanya. Mungkin setelah jam istirahat siang, Chandra juga akan mengajak pasukannya mengajar di sekolah sekaligus melanjutkan kerja bakti yang sempat tertunda.


Alif si anggota paling muda tampak mengikuti langkah Chandra dan menyusulnya sehingga mereka berjalan berdampingan. "Kenapa, Alif?" tanya Chandra.


Mark tersenyum kecil. "Enggak, Dan, apa ... Komandan sedang tidak sehat, ya?"


Chandra menghentikan langkahnya dan mengulum senyum. "Saya ... baik-baik saja, Alif. Memang kelihatannya bagaimana? Sampai kamu mengira saya tidak sehat?"

__ADS_1


Alif jujur saja kaget ketika melihat Chandra justru tersenyum lebar pagi-pagi begini. Padahal jelas-jelas saat hendak melakukan upacara tadi, semua pasukannya terlambat lima menit.


"Eh, enggak sih, Dan ... hehe, saya cuma heran aja kenapa Komandan matanya sembab dan matanya memerah begitu," jawab Alif dengan nada pelan.


"Hahaha ... Saya baik-baik saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya."


"Komandan habis nangis, ya?"


Kedua mata Chandra membulat, dan Alif menciut di tempatnya berdiri.


"Tidak. Mana mungkin saya menangis Alif, ada-ada saja kamu ini. Ayo kita lanjutkan perjalanan!" seru Chandra sambil merangkul bahu Alif dengan erat untuk melangkah bersamanya.


Ong dan Dio saling sikut dan berbisik satu sama lain. "Kamu jangan senang dulu Ong, pasti ada yang tidak beres dengan sikap Jenderal hari ini," ucap Dio dengan tatapan tajam menyelidik ke arah Chandra yang tampak riang di depan mereka.


Ong mengangguk setuju. "Batul! Bang, gue nggak akan tertipu dengan raut penuh senyum itu. Apalagi kalau sampai ayah tahu kalau Vidi semalam datang ke rumahnya, bisabisa ribut!"


"Memangnya, Vidi itu siapa?"


Ong menepuk keningnya dan mengadu dengan keterlambatan Dio dalam membaca situasi. "Mantan pacarnya Nadia, tapi belum move on." Dio manggut-manggut. "Oh ...."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


PLEASE KASIH AKU LIKE, VOTE, DAN KOMENNYA


__ADS_2