
Liza, si gadis cantik yang berprofesi sebagai tim manajemen artis dari sebuah agensi di Jakarta kini melangkahkan kakinya untuk memasuki kawasan komplek militer. Gadis itu membawa tas jinjing yang berisi surat-surat penting yang ia bawa jauh dari Jakarta untuk diserahkan pada Nadia. Namun, tampaknya Liza tidak begitu menyukai suasana Flores yang panas, ia terus mendengkus dan berusaha menutupi kulit putihnya dari teriknya sinar matahari siang itu.
"Sial deh. Gara-gara nggak bisa dihubungi, gue sampai jauh-jauh ke sini," gerutu Liza jengkel.
Wajahnya memerah karena terkena panas yang tidak biasanya.
"Mana lagi, rumahnya Nadia!" Dengkus Liza lagi sembari mengabsen satu-persatu bangunan yang ada di komplek militer. Semua bangunan terlihat sama, dan Liza tidak bisa bertanya karena gengsinya yang tinggi.
Tiba-tiba di tengah pencariannya, pria berseragam tentara, berambut cepak rapi menghampiri Liza. Liza berusaha memasang tampang sedingin mungkin ketika pria itu menghampirinya.
"Ada keperluan apa diam di sini?!" tanya pria bermata bulat itu.
Liza tersenyum jengkel, pria itu terlihat galak dan tidak memandang Liza dengan takjub seperti laki-laki kebanyakan. Liza yang cantik dan berpakaian modis justru dipandang galak oleh pria di hadapannya ini.
"Rumah Nadia Adriana, di mana?" tanya Liza malas.
Dio, kebetulan sekali yang sedang berjaga di asrama adalah sersan Dio. Sial sekali Liza harus disambut oleh Dio yang datar dan galak.
"Anda siapa? Dan ada keperluan apa dengan istri komandan?"
Liza menghela napasnya. "Gue manajernya. Jauh dari Jakarta, mau nyerahin surat kontrak buat Nadia."
Dio mengangguk kecil. "Sudah ada janji sebelumnya?"
"Bagaimana bisa buat janji. Ditelepon aja nggak bisa. Lagian, gue manajernya Nadia."
Dio memperhatikan Liza, dan bagaimana perempuan itu berbicara, sedikit tidak sopan dan kelihatan sekali kalau Liza adalah seorang amatir yang tidak pernah bepergian seorang diri.
"Rumahnya berjarak satu kilometer dari sini. Kamu tinggal berjalan menaiki bukit kecil ini, di sana ada satu-satunya rumah dinas milik komandan, bangunannya berbeda dari rumah penduduk. Bercat putih dan pagarnya terbuat dari kayu setinggi 70 sentimeter."
Liza menganga mendengar penjelasan Dio, berjarak satu kilometer, itu sangat jauh untuk Liza yang tidak terbiasa berjalan kaki di tengah hutan seperti ini.
"Gila. Serius, satu kilo?"
Dio mengangguk. "Iya, satu kilometer."
Liza mendesah pelan, wajahnya agak memelas. "Ada kendaraan? Apa ... lu bisa anterin gue ke sana?"
Dio tersenyum miring, dan Liza melotot melihat respon itu, membuat Liza mengeratkan kepalan tangannya.
"Bukannya kamu manajernya Nadia. Bagaimana mungkin kamu bisa me manage seorang artis besar, sedangkan kamu sendiri tidak bisa me manage diri sendiri. Sudah ya, saya hanya bisa membantu menunjukkan jalan. Sisanya, kamu bisa pergi sendiri ke sana."
***
Setelah genap seminggu dari pertengkaran yang diakibatkan oleh kesalahpahaman yang terjadi antara Nadia dan Chandra. Kini kondisi tubuh Nadia kemarin sempat drop karena demam pun mulai membaik. Nadia tidak melakukan kegiatan di luar sama sekali, ia hanya diam di rumah dan beristirahat sampai sekali menulis lagu yang sempat tertunda.
Siang itu setelah memakan obat, Nadia keluar untuk memeriksa teras rumahnya dan menyiram tanaman bunga. Dengan kondisi yang masih lemas dengan tubuh yang agak kurus, Nadia masih berusaha untuk melakukan kegiatannya sebaik mungkin.
Bahkan selama seminggu ini pula seorang reporter berita gosip masih membuntutinya tanpa sepengetahuan Nadia sama sekali. Reporter itu tampaknya sudah siap membuat berita dengan lancar menggunakan foto-foto yang tersimpan dalam handphone-nya.
"Nadia jadi kurus sejak ketahuan masih ketemu sama Vidi. Apa jangan-jangan, Nadia stres ya karena sudah selingkuh dengan mantannya. Atau suaminya tahu soal perselingkuhan
Nadia dan bersikap temperamental. Hm ... bagus Nad, saya akan ambil foto kamu terus."
Klik, klik, klik.
Reporter itu tersenyum dengan sangat puas, mungkin setelah selesai membuntuti Nadia, dia akan mencari Vidi lagi untuk menggabungkan kedua foto artis besar itu.
"Aduh ... kalau saja sinyalnya bagus, bisa langsung di posting nih, di instagram. Lumayan buat artikel kecil. Ah, tapi nggak papa, hehe. Kalau semakin banyak foto maka semakin bagus buat booming news."
Liza menghela napasnya kasar setibanya ia di teras sebuah rumah dengan pagar bercat putih setinggi 70 sentimeter menyambut kedatangannya di sana. Nadia yang tengah duduk diam di teras, samar-samar dapat melihat kedatangan Liza yang secara ajaib di Flores.
__ADS_1
"Loh, Liza!" seru Nadia dengan senyum di bibir. Meskipun sikap Liza cukup menyebalkan, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Nadia sangat bahagia bisa mendapati kehadiran Liza di tengah-tengah kebahagiaannya.
Liza pun sama seperti Nadia. Meskipun jengkel dengan keputusan Nadia yang akan segera meninggalkan agensi, sebagai teman lama tentu Liza bahagia bisa menyaksikan Nadia penuh senyum menyambutnya seperti sekarang. Liza dan Nadia saling berhambur pada pelukan masing-masing, kedua gadis sebaya itu saling menatap kagum, terutama Nadia yang terlihat penuh haru yang melihat Lisa semakin cantik dari ke hari.
"Nadia ... i miss you so much!" pekik Liza sambil tidak bisa diam, memeluk Nadia sembari berjingkrak ceria, Nadia membalas pelukan Liza tak kalah erat, tetapi reaksi Nadia jauh lebih santai dibandingkan Liza.
"Sama, Liz. Lu ke sini sendirian? Berangkat jam berapa dari Jakarta?"
Nadia melepas pelukan Liza dan mengajak gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Liza tak segera menjawab pertanyaan Nadia, melainkan ia memperhatikan seluruh isi rumah dinas yang isinya sangat sederhana, terbilang sempit malah, hanya ada satu set sofa, dan kursi kayu serta meja persegi yang dihiasi vas bunga.
"Liz, lu sendirian?"
Nadia menepuk pelan lengan sahabatnya itu, membuat Liza terkekeh kecil. Nadia masih menatap Liza dengan lembut.
"Iya, gue sendiri, Nad. Dari Jakarta pagi, terus cari tumpangan deh pas sampai bandara.
Travel-nya ngaret. Oh iya, gue juga sudah booking hotel."
Nadia tersenyum. "Kok repot-repot ke sini? Mau minum dulu?"
Liza menggeleng dan memandang ke arah Nadia. "Nad, serius. Lu betah tinggal di hutan kayak gini? Sepanjang jalan gue cuma nemuin pohon doang."
"Haha ... apa sih, Liz, gue betah. Betah banget di sini. Kayaknya, ini emang tempat tinggal impian gue, deh."
Liza cemberut. "Ya, syukurlah kalau lu betah. Gue belakangan ini nyesel Nad sama ucapan gue ke lu. Papa lu cerita sama gue, kalau dia sudah tenang ngelihat kehidupan lu di sini bahagia banget. Jadi, gue merasa bersalah."
Nadia tersenyum hangat, ia kembali memeluk tubuh Liza membuat Liza kaget.
"Liz, gue udah maafin lu, kok. Nggak usah merasa bersalah begitu, gue juga emang agak keras kepala dan egois. Wajar kalau lu khawatir, lu kan manajer gue."
Liza mengangguk kecil. "Jadi sedih ...." Kedua mata Liza tampak berkaca-kaca mendengar perkataan Nadia padanya, begitu pun Nadia yang merasa sudah lama sekali tidak seakrab ini dengan Liza.
Sementara itu reporter yang semula memotret di balik pepohonan dekat rumah dinas, kini semakin dekat ke area teras, reporter laki-laki itu tampak semakin bersemangat sekaligus penasaran dengan kedatangan manajer Nadia yang secara tiba-tiba ada di Flores. Reporter itu tersenyum, video dan foto mengenai Nadia dan Vidi semakin banyak dan tentu akan menghasilkan banyak uang yang tidak sedikit dari berita asal yang dibuatnya.
Chandra yang sejak setengah jam lalu memperhatikan pria asing yang bersembunyi di dekat rumahnya pun mendekati pria itu, dengan pakaian dinas yang masih lengkap melekat di tubuh Chandra mengintip di belakang punggung reporter itu.
"Apa yang sedang Anda lakukan di rumah saya?!"
Brak!
Reporter itu kaget bukan main, hingga dia menjatuhkan kamera dari tangannya ke
tanah. "Eh, anu ...."
Chandra memungut kamera milik pria itu, dan melihat isinya tanpa izin. Chandra menelan ludah kasar dan terlihat begitu marah dengan foto-foto yang ada di dalam kamera tersebut. Reporter itu tampak gemetar dan hampir saja lari terbirit-birit karena kini seorang tentara tengah memegangi benda keramat miliknya.
"Kenapa Anda mengambil foto-foto istri saya tanpa izin?"
"S-saya... saya... reporter...."
Chandra tersenyum miring. "Reporter gosip?"
Reporter itu tak berani menatap Chandra, dia sangat takut diserang atau dihajar di tempat ini.
"Sebaiknya Anda pergi dari tempat ini. Oh Iya, sebelum Anda pergi, saya akan ambil memori card dalam kamera ini, dan serahkan juga gambar lain yang sudah Anda ambil tanpa izin kepada saya."
"Hah? Menyerahkan? Saya sudah susah payah mengumpulkan ini, dan Anda pasti sangat kaget. Nadia berselingkuh dengan mantan kekasihnya, Vidi. Apa Anda sudah tahu?
Mereka diam-diam bertemu di puskesmas. Hahaha ...."
Brak!
__ADS_1
Reporter itu melotot, terkejut, takut, dan gemetar.
Chandra menarik dengan kasar tas ransel yang dikenakan reporter sehingga tubuh reporter itu nyaris terjungkal ke belakang. Chandra juga melempar kamera yang semula dia pegang ke tanah hingga lensanya tampak retak.
Chandra tersenyum tipis, seolah perbuatannya itu bukan apa-apa.
"Apa Anda merasa bangga dengan pekerjaan kotor seperti ini?" tanya Chandra dengan nada rendah, membuat reporter itu seketika merinding.
"Hubungan saya dengan istri saya sangat baik-baik saja, dan tidak ada di antara kami yang saling berkhianat satu sama lain."
"M-maaf."
Mendengar suara keributan di luar, Nadia dan Liza yang sedang mengobrol pun memeriksa keadaan teras. Nadia yang melihat suaminya tampak bersitegang dengan orang asing pun spontan langsung menghampiri Chandra, dan menahan lengan suaminya itu yang terangkat hendak memukul.
Liza menutup mulutnya, tidak berani berkomentar. Sementara Chandra menarik napasnya dalam-dalam, dadanya terasa bergemuruh karena dia marah dan nyaris saja tidak dapat menahan dirinya kalau saja Nadia tidak ada di sana.
"Chan, ada apa?" tanya Nadia lembut.
Chandra menoleh ke arah Nadia dan tersenyum dengan lembut pada sosok istrinya itu, sementara si reporter masih berada dalam posisi punggung yang dicengkeram erat oleh Chandra.
"Mbak Nadia," ucap reporter itu lirih, seperti meminta tolong. Nadia hanya menatap heran kepada pria asing itu.
"Chan, udah lepasin, kamu kenapa?" tanya Nadia khawatir sembari menarik lengan Chandra agar melepas cengkeramannya.
Perlahan Chandra melepas cengkeramannya pada punggung pria brengsek itu, dan beralih pada Nadia dengan memperlakukan istrinya itu amat lembut.
"Kamu siapa, ya?" tanya Nadia pada reporter itu.
Pria itu tidak menjawab, dan hanya menatap takut ke arah Chandra.
"Sebaiknya, Anda segera pulang dari tempat ini. Kalau saja satu headline berita buruk tentang istri saya muncul, maka saya tidak akan segan untuk melaporkan Anda kepada pihak berwajib atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik."
"B-baik!"
Tanpa memperpanjang urusan, Chandra yang sudah memiliki kartu memori dari kamera dan file-file lain yang diserahkan reporter itu, Chandra pun membiarkan orang itu pergi dari rumahnya. Meskipun Nadia masih bingung dengan apa yang terjadi sebelumnya. Itu adalah pertama kalinya Nadia melihat suaminya semarah itu bahkan hampir memukul orang lain. Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah orang itu lakukan hingga Chandra murka.
Chandra berusaha menenangkan dirinya, dia juga merasa tidak enak karena sudah bersikap diluar kendali. Nadia merangkul lengannya mesra, meskipun ekspresi Nadia menunjukkan rasa takut yang bercampur bingung.
"Maafkan saya," ujar Chandra dengan nada pelan, wajahnya terlihat pucat saat itu.
Nadia tersenyum kecil dan mengusap pipi suaminya itu, dengan kaki agak berjinjit ia berhasil melakukannya. "It's okay. Kamu, udah makan? Kita masuk aja ke dalam."
"Sudah. Saya mau ambil barang yang tertinggal, dan akan kembali lagi ke bukit.
Latihan anak-anak belum selesai," jawab Chandra.
Nadia tersenyum khawatir. "Serius?"
"Iya, dua rius," jawabnya bercanda. Nadia terkikik.
"Oh, kita kedatangan tamu dari Jakarta Liza. Kamu belum ketemu dia lagi setelah kita menikah, 'kan?"
Liza berdiri canggung di dekat pintu, ia tersenyum kaku ke arah Chandra dan merasa malu juga karena tempo hari mereka pernah berdebat saat Nadia tidak bisa datang ke rahersal acara penghargaan karena sakit. Bukannya menemani Nadia, Liza justru menekan Nadia agar datang. Juga Chandra yang baru tiba di Jakarta justru merawat Nadia dengan baik hingga sembuh. Liza sangat malu bertemu dengan suaminya Nadia ini.
"Oh, kami sempat bertemu, hm ... sepertinya, sebelum acara penghargaan itu," timpal Chandra pada Nadia seraya menyapa Liza dengan senyum tipisnya.
"Apa kabar?" tanya Chandra pada Liza.
Liza mengangguk kecil. "Baik."
Melihat betapa mesranya Nadia dengan suaminya. Liza semakin merasa bersalah, tetapi juga ia sangat bangga dan kagum dengan sosok Chandra yang selalu berusaha melindungi dan menjaga Nadia. Nadia juga terlihat sangat bahagia. Berarti selama ini, cerita orang-orang tentang Nadia yang belum move on dari Vidi itu hanya gosip yang awalnya Liza percayai
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
Oke yeolebun, ini hari terakhir aku up dulu ya, masalahnya kuota aku tinggal 40 MB. Dan makasih banyak yang udah suka akan story ini sampai-sampai ada 99+. Ini udah senang banget. Oiya, jangan kangen ya.