Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 18


__ADS_3

Charles memasuki kamarnya, di dalam sana ia bisa melihat Flora yang sedang duduk di sofa dekat jendela dengan posisi memeluk lututnya. Charles melangkahkan kakinya menghampiri Flora yang terlihat sedang melamun.


Setelah Charles menenangkan diri di ruang kerjanya, ia mulai berani untuk menemui Flora, dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Flora sepertinya sudah membersihkan tubuhnya.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Charles lembut seraya mengusap puncak kepala Flora.


Flora masih setia dalam kebisuannya, hal itu membuat Charles kesal. Namun, pria itu berusaha untuk tenang.


"Hey, look at me." Charles meraih dagu Flora agar menatapnya.


"Lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini," pinta Flora dengan lirih.


Seketika Charles menjauhkan tangannya dari dagu Flora, ditatapnya secara lekat gadis di hadapannya itu.


"Aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan!"


"Jika kau menyuruhku untuk tinggal di sini, aku merasa terkurung Charles, kau tidak membiarkan aku keluar, sedangkan aku ini orang yang bebas. Apalagi saat ini aku harus bekerja, dan semua itu karena kau! Aku tahu kau dengan sengaja mencabut beasiswaku kan? Aku tidak masalah Charles, aku bisa membiayai kuliahku tanpa beasiswa itu. Jadi kumohon biarkan aku pergi dari sini," jelas Flora.


"Tidak!" lirih Charles menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak pergi darimu. Aku hanya tidak ingin tinggal di sini bersamamu, kita masih bisa bertemu Charles, jika kau memaksaku untuk tetap tinggal di sini aku yakin suatu saat nanti aku akan terus menerus mencoba kabur darimu dan mungkin akan menjauh darimu." Tidak ada kebohongan yang terlihat di mata Flora.


"Dan satu lagi, jangan jauhi Renatta. Kau bersikap lah seperti biasa, aku mohon jangan buat dia sedih," mohon Flora dengan tulus.


Charles terdiam, dia hanya menatap Flora yang sedang memohon kepadanya dengan datar.


"Bagaimana? Kau akan membiarkan aku pergi dari sini?" sambungnya.


Cukup lama Charles tidak menjawab pertanyaan Flora. Setelah beberapa menit kemudian, dia baru membuka mulutnya.


"Bagaimana jika aku merindukanmu?" tanya Charles sedikit memelas.


"Kau bisa menemuiku." Flora tidak menyangka jika ia bisa mengucapkan hal itu, pikirnya ia hanya ingin Charles yakin kepadanya dan membiarkannya pergi.


"Kau janji tidak akan menghindar dan menjauhiku?"


"Ya, aku janji." Yang penting kau bisa melepaskan Raline terlebih dahulu Charles.


Charles menghela napasnya, ia bingung harus memutuskan seperti apa.


"Baiklah, dengan syarat kau harus tinggal di apartment yang aku pilih, dan kau tidak perlu bekerja. Aku akan menanggung semua biaya perkuliahanmu."


"Tidak Charles, aku akan memilih tempat tinggalku sendir-"


"Aku bilang tidak! Kau harus tinggal di apartment yang aku pilih. Biaya apartment itu biar aku yang tanggung." potong Charles, keras kepala.


Flora mengembuskan napasnya secara kasar. Susah sekali melawan pria yang keras kepala seperti Charles.


"Baiklah. Baiklah. Tapi aku akan tetap bekerja."


"Tid-"


"Tidak ada tapi-tapian. Jika kau masih ingin bertemu denganku, maka jangan berani-beraninya mengekangku!"


Charles mengusap wajahnya secara kasar, ia tidak mengerti jalan pikir gadis ini.


"Aku akan mengembalikan beasiswamu."


"Terserah! Punya jabatan itu dipakai dengan benar. Jangan mentang-mentang punya jabatan, kau bisa dengan mudahnya menindas orang lem-"


Cupp!

__ADS_1


Flora membelalakkan matanya ketika Charles mengecup singkat bibirnya.


"Kau terlalu banyak bicara, Sayang. Aku akui, aku kalah. Sekarang diamlah, nikmati malam terakhir kita bersama di sini." Charles menggendong Flora membawanya ke tempat tidur dan menidurkannya.


Flora hanya terkekeh mendengar perkataan Charles.


"Tidurlah, aku sudah mengantuk!" pinta Flora lembut.


Charles menjatuhkan tubuhnya secara kasar di samping Flora.


"Ouhh Flora, hanya kau lah yang bisa menolakku seperti ini!" desah Charles frustrasi.


"Tidurlah."


"Arrgghhh... aku tidak bisa! Aku harus menuntaskan ini terlebih dahulu. Rasanya sangat menyakitkan!" Charles beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke dalam kamar mandi.


Flora hanya bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi Charles yang berusaha menahan gairahnya. Jujur saja, dia terlihat begitu menggemaskan.


***


Setelah pindahan ke apartment baru yang sudah dipilihkan oleh Charles, Flora bergegas pergi ke kediaman Anin. Itu semua dia lakukan setelah Charles kembali ke kantornya.


la pun sudah bilang kepada Glen jika hari ini dia tidak bisa masuk kerja pagi karena pindahan, Flora akan bekerja kembali pada siang hari dan tentu saja Glen memberi izin kepadanya.


Flora mengetuk pintu apartment Anin, dan terbukalah pintu tersebut. Anin menatap kaget Flora.


"Flora!" teriak Anin histeris.


Dipeluknya Flora terlebih dahulu sebelum ia menarik tangan gadis itu untuk masuk ke dalam apartmentnya. Anin membawa Flora untuk duduk di sofa.


"Flora, kau tidak apa-apa? Apa Charles tidak melakukan hal yang aneh-aneh terhadapmu?" tanya Anin cemas.


"Oh my god, lihatlah lehermu penuh dengan kissmark. Apa dia memperkosamu?" Anin mengelus lembut leher Flora yang penuh dengan tanda. Flora memang menggunakan baju bermodel turtleneck, tetapi Anin sengaja menurunkan kain yang menutupi leher gadis itu, karena ia tahu jika Flora menutupi tanda itu dengan bajunya.


"Kau berbicara apasih, Nin?!" decak Flora dengan wajah yang memerah.


"Jadi benar? kau bercinta dengannya? Sekarang kau sudah tidak virg-"


"Stop! Seperti yang pernah aku ucapkan jika aku hanya akan memberikan itu kepada suamiku kelak. Hanya dia yang pantas menerima itu."


"Benar kau tidak akan menyesal? Dia Charles Alamo, Flo. Dan kau masih mempertahankan egomu untuk menjaga itu padahal di hadapanmu ada pria seksi dan tampan seperti Charles. Jika aku menjadi kau, aku pasti akan hanyut olehnya!" kata Anin.


"Sayangnya aku bukan orang sepertimu.” Flora tersenyum miring yang disusul oleh gelak tawa Anin.


"Kau tahu Flo, waktu itu sebelum kau bertemu dengan Renatta, Renatta mabuk berat. Dia frustrasi karena Charles belakangan ini tidak mengabarinya."


Senyum yang menghiasi wajah Flora tiba-tiba menghilang, ia mengingat temannya itu.


"Apa aku jahat kepadanya?" lirih Flora.


"Kepada Renatta?" jelas Anin yang diangguki oleh Flora.


"Charles lah yang mengejar-ngejarmu, bukan dirimu Flo," ujar Anin.


"Tapi aku tidur dengannya, aku berciuman dengannya dan aku pernah tinggal bersama dengannya. Aku bingung harus berbuat apa. Aku ingin menjauhi Charles, tapi aku tidak bisa. Pria itu terlalu dominan!" ungkap Flora merasa bersalah.


Anin memeluk tubuh Flora, ia sangat mengetahui sifat gadis itu yang sebenarnya lemah walaupun ia sering memperlihatkan sifat cuek, itu semua hanya untuk menutupi kelemahannya.


"Apakah kau mencintai Charles?" tanya Anin yang masih memeluknya.


Flora menggelengkan kepalanya. "A-aku tidak mencintainya."

__ADS_1


"Kau yakin?" Anin memastikan jawaban temannya itu.


"Aku tidak mencintainya, tapi terkadang aku selalu merasa nyaman saat bersamanya. Bahkan saat kita tidak bertemu, a-aku sedikit merindukannya!" jujur Flora.


"Kau hanya belum menyadari perasaanmu yang sesungguhnya, suatu saat nanti kau pasti menyadari perasaanmu itu, Flo." Anin mengelus kepala Flora


"Lalu sekarang kau tinggal di mana? Kau kembali tinggal di tempat Charles?"


Flora menjauhkan tubuhnya untuk menatap temannya.


"Aku tinggal di apartment yang Charles belikan untukku. Aku meminta bahkan memaksanya agar aku tinggal sendiri, dan dengan terpaksa dia mengikuti keinginanku."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Anin kembali.


"Dia melarangku untuk bekerja, tapi aku mengancamnya jika dia melarangku aku akan pergi lagi darinya," kata Flora tersenyum.


"Kau mengancamnya? Mengancam seorang Charles Alamo? Waw... kau sangat menakjubkan, Flora." Anin bertepuk tangan, sedangkan Flora hanya terkekeh. Ia pun tidak menyangka jika Charles akan takluk kepadanya.


***


Setelah Flora pulang dari tempat Anin ia langsung pergi bekerja, dan saat ini ia baru saja pulang dan berniat untuk membersihkan tubuhnya.


Sebelum itu ia mengecek ponselnya terlebih dahulu dan terdapat belasan panggilan tidak terjawab dari Charles. Ia tahu jika Charles mendadak harus pergi ke Brooklyn untuk bertemu kedua orang tuanya.


Flora tidak ingin mengiriminya pesan atau menelponnya balik, ia lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sesaat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.


Dia tidak menyangka jika Charles sudah menyiapkan ini semua untuknya, Charles membelikan apartment mewah untuk Flora tempati ditambah dengan peralatan-peralatan yang mewah untuk melengkapi isi apartment ini.


Tiba-tiba perhatian Flora teralihkan ketika terdengar suara ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur dan meraih ponsel itu. Charles. Lagi-lagi pria itu menelponnya.


"Hallo."


"Hallo, Flora ke mana saja kau seharian ini? Aku menelponmu berkali-kali dan kau tidak menjawabny-"


"Aku bekerja, Charles. Ya Tuhan, kau sangat cerewet sekali." Flora memutar kedua bola matanya.


"Setidaknya kau menghubungiku, aku mencemaskanmu."


"Lebay sekali."


"What? Apa yang kau katakan? Berbicaralah dengan bahasa yang aku mengerti."


"Tidak. Sudahlah aku tutup dulu telponnya, aku ingin membersihkan tubuhku. Aku baru saja pul-" Flora terbengong dengan tingkah Charles yang tiba-tiba mematikan telponnya.


Ia hanya menggelengkan kepalanya, dan bergegas melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti oleh dering telepon di ponselnya dan sekarang video call dari Charles.


"Hey, apa yang kau lakukan? Aku bilang aku akan mandi terlebih dahulu." Flora kesal pada Charles.


"Oh Babe, aku merindukanmu." Charles menghela napasnya, ia tersenyum menatap gadis yang ada di layar ponselnya.


Flora hanya memutar kedua bola matanya.


"Kau memainkan matamu padaku, Sayang?" Charles menatap tajam pada Flora.


"Sudahlah Charles, badanku sudah lengket, aku matikan dulu tele-"


"No! Jangan kau matikan! Mandilah sana, aku ingin melihatmu," ujar Charles seraya menyeringai.


Bersambung ....


Banyak yang nyuruh Flora pulang ke Indonesia. Maaf ya, sebenarnya ini udah selesai, tinggal nunggu jadwal up aja. Kalau aku rombak cerita dari awal, cerita yang lain yang belum end akan lama lagi untuk up karena draft-nya, berbeda dengan cerita ini yang memang udah tamat.

__ADS_1


__ADS_2