Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 44


__ADS_3

Seseorang mengatakan pada Vidi. Bahwa meskipun telah ada sebuah titik, kita masih bisa menyambung kalimat baru dengan sebuah kata setelah jeda. Setelah jeda sementara, kita pun masih bisa membuat sebuah alinea baru, ketika alinea habis kita bisa memulai lagi paragraf demi paragraf dengan kalimat-kalimat lain.


Lalu, setelah paragraf ke sekian puluh masih ada lembaran baru untuk diisi dengan sebuah kisah berupa tulisan. Tapi sialnya, kalimat itu disampaikan oleh Nadia pada Vidi saat mereka dulu sempat putus, tetapi beruntung hubungan itu bisa kembali diperbaiki. Meski pada akhirnya harus kembali berakhir dengan titik yang masih menggantung.


Vidi heran setengah mati, untuk apa suami tentara Nadia itu mengajaknya bertemu di sebuah rumah makan yang letaknya tidak jauh dari tempat penginapan Vidi saat ini. Vidi masih di Flores, sudah hampir sepuluh hari dia terdampar di sini dengan sakaw yang menyerang setiap malam. Siang ini, Vidi agak pucat tapi sebenarnya dia baik-baik saja dan sangat dekat.


Vidi menunggu disalah satu meja dan dia juga sudah disuguhi makanan berupa sagu dan sup daging sapi yang menjadi menu andalan selain hidangan seafood yang ada di sana. Namun, Vidi tentu tidak berselera makan. Dia lebih berselera untuk bertemu Nadia atau diberikan waktu satu jam saja untuk mengobrol dengan mantan pacarnya itu, hanya untuk mengungkapkan rasa rindu dan penyesalan.


Chandra datang menggunakan pakaiannya yang membuat 100 kali lipat jauh lebih gagah dibandingkan Vidi, apalagi kalau bukan mengenakan seragam lengkap beserta lencana jenderal yang membuat semua orang tampak segan menatapnya. Chandra tersenyum pada pemilik rumah makan, sepertinya sudah saling kenal dan bahkan Chandra pun yang melakukan reservasi untuknya dan Vidi hari ini.


Vidi mendesah pelan ketika pria tinggi itu duduk di kursi yang ada di hadapannya. "Selamat siang, apa kamu, menunggu lama?"


Vidi terkekeh kecil, kesal sekali melihat Chandra yang sangat ramah padanya.


"Lumayan, mau ngapain?" kata Vidi dengan ketus.


Chandra menarik napas dalam-dalam saat melihat hidangan di atas meja masih belum disantap. "Hm, sebelum saya menyampaikan maksud dan tujuannya. Apa sebaiknya kita makan dulu. Saya belum makan siang."

__ADS_1


"Ck, sudahlah. Nggak usah basa-basi, maksud lu apa sih?!" Gertak Vidi pada Chandra.


Chandra tersenyum, dua pria tampan itu saling menatap sekilas, dan Vidi langsung mematahkan pandangan tersebut dengan wajah gusar sekali.


"Oh, apa kamu tahu bagaimana caranya makan sagu? Jadi, harus menggunakan alat seperti sumpit ini, digulung-gulung, lalu dimakan langsung ketika masih hangat. Nah, celupkan ke dalam supnya." Chandra malah melakukan intermezzo pada Vidi dan menikmati hidangan dengan tenang. Vidi menghela napasnya kasar, tidak habis pikir dengan suami Nadia yang ada di hadapannya.


'Bagaimana mungkin, Nadia suka dan mau menikah dengan laki-laki seperti tentara ini?!' Selain perawakannya yang tinggi dan besar begitu, profesi sebagai seorang tentara juga sering dipandang sebelah mata. Karena, biasanya mereka terkenal dengan temperamen yang buruk. Sangat jauh dengan tipe ideal Nadia yang menyukai laki-laki imut seperti Vidi, bisa memainkan instrumen dan tentunya memiliki banyak hobi yang sama.


"Ekhm, saya langsung bicara saja."


"Bicara aja, dari tadi udah gue tungguin!" Beritahu Vidi malas.


Vidi mendecih, senyum pedih tergambar di wajah tampan musisi itu.


"Saya ... hanya ingin berterima kasih kepada kamu, Vidi. Karena, selama ini kamu sudah menjaga Nadia dengan sangat baik, menjaga dia sesama rekan selebriti, dan tentunya menghibur Nadia di hari-hari sulitnya."


"Heh, maksud lu apa sih ngomong begini? Lu sengaja manas-manasin gue biar makin semangat ngejar Nadia? Lu mau syukurin penderitaan gue setelah Nadia jadi istri lu, begitu?!" sentak Vidi marah, tapi masih dalam batas yang cukup wajar.

__ADS_1


Chandra justru tersenyum tenang, seperti sebuah ejekan untuk Vidi.


Bayangin, pacaran enam tahun nikahnya sama orang. Vidi selama ini hanya jagain jodoh orang.


"Kamu laki-laki yang baik."


Vidi yang tadinya hendak marah, justru terdiam mendengar ucapan Chandra barusan.


"Saya cemburu dan saya sangat marah ketika kamu datang lagi menemui Nadia. Saya pikir, Nadia goyah saat dia dipertemukan lagi dengan kamu. Saya sangat ketakutan, takut tanpa alasan. Meski saya sudah menikahi Nadia, tetapi saya masih menganggap kalau kamu adalah saingan terberat saya di hati Nadia. Saya masih berpikir, kalau masih ada tempat untuk kamu dihati Nadia."


Tanpa sadar, Vidi merasa dadanya sakit sekali. Penyesalan semakin menumpuk didadanya, membuatnya sesak. Vidi mengusap wajahnya dengan terburu-buru, khawatir jika air mata jatuh di hadapan rival-nya.


"Gue. Gue nggak ikhlas!" tekan Vidi pada Chandra.


"Sampai kapan pun ... gue nggak ikhlas, kalau ada laki-laki lain yang bikin Nadia nangis!"


Chandra menepuk bahu Vidi dengan cukup kuat, membuat Vidi menggigit bibir bawahnya. Rasanya sangat canggung sekali di antara mereka, tapi ternyata Chandra tidak begitu menyebalkan meskipun Vidi sangat marah.

__ADS_1


"Saya janji, tidak akan membuat penyesalan kamu semakin besar. Saya akan menjaga Nadia!"


BERSAMBUNG ....


__ADS_2