Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 87


__ADS_3

Vidi mengintip dari luar jendela studio milik Nadia ketika lelaki itu baru saja tiba di gedung agensi. Setelah menjalani rehabilitasi selama dua bulan, kini Vidi sudah dinyatakan sembuh dan normal tanpa adanya kontaminasi obat-obatan terlarang dalam tubuhnya.


Nadia terlihat sangat cantik dengan pakaian sederhana, aura selebriti yang Nadia pancarkan selalu membuat Vidi merasa berdebar-debar tiap kali mendengar atau tidak sengaja melihat Nadia di TV. Padahal, Vidi sedang mencoba untuk move on, tetapi selalu saja gagal. Mungkin cara Vidi yang salah, karena sampai detik ini pun dia belum bisa melupakan Nadia walau dalam tidurnya.


Merasa ada yang memperhatikan, Nadia keluar dari studionya dan menghampiri Vidi yang terlanjur kepergok tengah diam di samping pintu.


"Kamu ngapain sih, Vid?"


Vidi nyengir sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Hei, Nad?! Hehe."


Vidi tidak mengerti kenapa Nadia mengajaknya makan siang bersama di kafetaria kantor siang ini. Namun Nadia terlihat biasa saja dan tidak peduli dengan beberapa orang yang nampak berbisik-bisik membicarakan mereka berdua. Vidi yang diketahui mantan kekasih Nadia tentunya belum terbiasa dengan keadaan begini. Sebisa mungkin, Vidi selalu ingin melindungi Nadia dari gosip apa pun.


"Nad, kok kamu baik banget sama aku. Kamu sehat, 'kan?" tanya Vidi gugup.


Nadia tersenyum kecil menanggapinya. "Sehat kok, Vid. Kamu sendiri bagaimana?


Setelah rehabilitasi kemarin?"


Vidi merasakan pipinya terlalu panas karena malu, pertanyaan Nadia membuat Vidi bahagia tanpa alasan.


"Sehat, Nad. Kamu tahu nggak? Aku dapat penghargaan sebagai pasien rehab terbaik dan produktif," celoteh Vidi bangga. Nadia mengangguk senang mendengarnya.

__ADS_1


"Selamat, Vid. Aku juga dengar dari manajer kamu, kalau kamu berhasil tulis dua pulau lagi selama kamu rehabilitasi."


"Hehe iya, Nad. Aku hebat, ya," ucap Vidi dengan kedua mata berkaca-kaca, penglihatannya tidak jelas saat menatap Nadia yang tepat berada di hadapannya.


"Hm. Kamu hebat, Vid. Aku percaya sama kemampuan kamu."


Vidi menggaruk tengkuk lehernya, karena kegugupan yang menguasainya kala itu.


"Nad, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Hm, Apa?"


"Vid?!"


"Kamu pasti benci sama aku, Nad. Kalau aku cerita ini sekarang."


"Iya, apa yang mau kamu sampain?!" tekan Nadia tak sabar. Sebab Nadia sudah mengenal


Vidi cukup lama, bukan setahun atau dua tahun, tentu ia sudah dapat menebak jika gelagat Vidi memang tidak beres sejak pria itu kembali ke agensi seminggu lalu. Vidi yang diam-diam memperhatikan Nadia di studio membuat Nadia sebenarnya sangat takut.


"Reporter yang waktu itu viral di internet. Sebenarnya, aku yang hajar dia di pesawat." "Apa?"

__ADS_1


Nadia sangat terkejut, sementara Vidi menatap Nadia dengan pandangan berembun.


"Aku nggak tahan, Nad. Dia hina kamu di depan aku! Dia bilang, dia bakal bas dendam dan sumpahin kamu! Aku emosi saat itu, dan aku juga masih dalam pengaruh obat. Sampai ...


aku hilang kendali dan hajar reporter itu secara membabi buta."


"Vidi! Apa kamu tahu apa akibatnya dari tindakan kamu itu?!" Nadia berdiri dari duduknya, emosi membuat Nadia tidak peduli dengan keadaan sekitar yang mulai memperhatikannya dan Vidi.


"Aku nggak peduli apa akibatnya! Yang jelas, aku mau lindungi kamu terus, Nad. Gimana pun caranya. Aku nggak mau kamu terluka lagi!" balas Vidi tak mau kalah. Memandang Nadia nanar dengan harapan dia bisa mendapatkan pelukan kasih sayang dari mantan kekasihnya itu.


Kedua tangan Nadia mengepal, dan tangisan yang tidak pernah Nadia tampilkan di hadapan orang lain selain suaminya kini pecah juga di kafetaria siang itu.


"Aku nggak perlu perlindungan kamu, Vid! Kamu siapa?!"


"A-aku ...." Vidi menggantung kalimatnya. Sementara Nadia masih melihatnya dengan marah, dan Vidi tidak dapat membaca ekspresi itu, selain perasaan takut kehilangan Nadia lagi dia tidak bisa memikirkan apa pun.


"Gila kamu, Vid!"


BERSAMBUNG ....


Maaf kalau pendek, nanti kalau ada kesempatan aku up lagi. Oiya, jangan lupa vote, ya?

__ADS_1


__ADS_2