Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 66


__ADS_3

Suasana senyap dan langit gelap masih menyelimuti pulau kecil nan indah itu, hujan gerimis yang semula mengguyur langit kini telah berhenti dan menyisakan hawa sejuk di udara. Nadia merasakan tidur nyenyaknya harus berhenti ketika ia tidak mendapati pelukan erat melingkar pada tubuhnya lagi, dengan panik gadis itu segera menyambar handphone di samping tempat tidur dan menyalakan penerangan darurat di sana.


Dengan mata sedikit membengkak, ia mencari Chandra di dalam ruang kamar, suaminya itu sudah tidak ada di tempatnya semula. Bekas tempatnya berbaring sedikit agak kusut. Pintu kamar juga tertutup rapat.


"Ih, ke mana sih," gumam Nadia malas, meskipun dirinya sedikit panik karena takut jika Chandra tiba-tiba meninggalkannya karena perintah darurat.


Risiko menjadi istri seorang abdi negara, Nadia harus ekstra waspada dan benar-benar memahami pekerjaan serta tugas-tugas kewajiban suaminya. Di tambah, Chandra itu orangnya sangat disiplin dan tidak mau menyusahkan orang lain. Baginya pantang membangunkan Nadia yang sedang tidur hanya untuk pamit bertugas.


Nadia pun segera mengenakan gaun tidurnya kembali yang semula tersampir di kepala ranjang, dan keluar dari kamar guna memastikan keberadaan suaminya.


Nadia bernapas lega ketika Chandra ada di ruang tengah sedang menghadap sebuah laptop dibantu penerangan dari sebuah lampu darurat.


"Kok, nggak bilang-bilang," ujar Nadia sambil berjalan menghampiri Chandra yang duduk serius.


Chandra mendongak dan tersenyum ketika mendapati istrinya itu bangun dini hari begini. "Sini ...." Chandra menepuk-nepuk bantal duduk di sampingnya meminta Nadia untuk duduk di sana.


Nadia dengan sigap menduduki tempat tersebut dan langsung saja menyandarkan kepalanya pada bahu Chandra.


"Ck, kirain pergi ... saya nyariin tahu!" omel Nadia, masih dengan suaranya yang agak bergumam.


"Kamu tidur nyenyak, saya pikir kamu kelelahan," balas Chandra dengan lembut sembari terus membaca sesuatu yang sangat rumit di layar komputer.


Nadia mengerutkan alisnya dan mencoba membaca tulisan dalam layar, tetapi matanya agak silau karena ia baru saja bangun tidur. "Ngerjain apaan?"


"Oh, ini laporan audit per enam bulan yang diminta oleh pusat. Saya harus memeriksanya sebagai ketua pengesahan."


"Wow, kamu hebat!" Nadia mengacungkan jempolnya, dan merangkulkan tangannya pada lengan Chandra.


Chandra tersenyum mendapat pujian manis itu. "Kamu sebaiknya tidur lagi, nanti sakit kalau ikut begadang seperti ini."


Nadia menghela napasnya sambil mengedikkan kedua bahunya. "Enggak ah ...."


"Nakal kamu Nad," balas Chandra dengan lucu sembari menjatuhkan sebuah usapan lembut pada puncak kepala Nadia. Nadia terkikik mendapatkan sentuhan kecil itu, apalagi omelan Chandra yang mengatakan kalau dirinya nakal.


"Hihi ... mau kepo dong, boleh?"

__ADS_1


"Hm, kamu mau tanya apa?"


Chandra sekarang sudah lebih pintar dalam memahami bahasa gaul. Meskipun matanya fokus pada laporan audit, tetapi telinganya dengan saksama bisa meladeni Nadia.


"Gaji kamu berapa, sih?" tanya Nadia.


Chandra mengulum senyumnya. "Serius, kamu baru penasaran sekarang?"


Nadia mengangguk. "Iya, saya baru tanya sekarang. Sebenarnya, penasaran dari awal kenal sih, tapi kayaknya nggak pantes aja kalau langsung nanya penghasilan. Nanti kau ngiranya saya matre."


"Kalau dibandingkan dengan penghasilan seorang artis sih, penghasilan saya jauh di bawah kamu."


Nadia agak berpikir, dan ia kembali mengingat semua barang yang dikenakan suaminya lumayan bermerek, bahkan saat acara award pun Chandra membeli banyak pakaian dengan uang pribadinya sendiri yang nominalnya lumayan fantastis.


"Kalau kamu mau saya belikan sesuatu, kamu bisa mengatakannya pada saya. Tidak perlu sungkan."


Lamunan Nadia buyar dengan kalimat Chandra tersebut.


"Bentar deh, kalau penghasilan kamu kecil ... kamu kok bisa pakai jam rolex sih, itu mahal banget."


Chandra lagi-lagi tersenyum. "Ah, jam tangan itu hadiah dari kedutaan besar Afganistan. Sewaktu ada kunjungan Afganistan ke Iran, tiba-tiba ada serangan mendadak. Dan kebetulan, saya beserta tim Indonesia berada di sana dan menyelamatkan tempat tersebut dari serangan. Sebagai tanda kehormatan, saya diberikan hadiah berupa jam tangan dan juga gelar kehormatan."


"Wiih, hebat banget. Sayang banget, saya belum jadi istri kamu waktu itu," ucap Nadia sambil memanyunkan bibirnya. Chandra hanya bisa tertawa mendengar ucapan istrinya yang menggemaskan.


"Kalau kamu sudah menjadi istri saya pada waktu itu, saya pasti akan sangat hati-hati untuk tidak terluka. Mana mau saya membiarkan kamu yang cantik ini menangis karena khawatir." Chandra menjatuhkan cubitan kecil pada pipi Nadia yang tampak merona malam itu.


Nadia terkikik. "Apa sih, gombalnya jago banget ya sekarang. Mentang-mentang!"


Chandra pamit sebentar ke kamar dan kembali sangat cepat dengan membawa sebuah map di tangannya. Nadia mengerutkan dahinya ketika suaminya itu menyerahkan map tersebut kepadanya.


"Ini apa?"


Chandra mengeluarkan satu persatu dokumen dalam map tersebut, Nadia tersenyum kecil melihat empat buku tabungan berbagai macam bank dan dua master card yang sudah pasti milik Chandra.


"Sekarang ini punya kamu, saya mau keuangan kita kamu yang mengelola dan menyimpannya. Oh iya, ini tabungan saya dan penghasilan saya ketika masih pendidikan AKMIL. Ini deposito saya untuk membangun rumah kalau saya sudah menikah, kalau ini dana keluarga yang diberikan kakek dan nenek untuk saya. Nah, yang terakhir ini rekening dari penghasilan saya selama sepuluh tahun terakhir. Kamu bisa menggunakannya, ini semua untuk kamu."

__ADS_1


Nadia membulatkan kedua matanya ketika melihat jejeran angka nol yang sangat panjang di dalam buku tabungan milik suaminya itu.


"Sayang, selama ini kamu makan dari mana?"


Chandra terkikik, "Kenapa tanya begitu?"


"Kamu irit banget, ini nyaris nggak ada pengeluaran atau pengambilan uang sama sekali."


"Karena saya mendapat tunjangan makan dan lain-lainnya selama bertugas. Ditambah lagi, saya sekarang sudah beristri ada hak kamu dalam penghasilan saya," jawab Chandra lagi dengan lembut, Nadia tanpa sadar tersenyum amat lebar dengan keputusan Chandra yang kini telah mempercayakan seluruh keuangan padanya.


Nadia kemudian kembali diam dan duduk di samping suaminya tanpa banyak bicara.


Chandra pun kembali sibuk dengan pekerjaannya untuk mengecek hasil final auditnya.


"Saya selalu bayangin... kalau punya suami kantoran atau pengusaha. Hehe," gumam Nadia lagi dengan suara kecil.


"Wah, sayangnya... bayangan kamu tidak jadi kenyataan ya?"


Nadia mengangguk, tersenyum agak kecut. Chandra tertawa kecil menanggapinya.


"Tapi saya senang, nikah sama kamu ... banyak kejutannya!" seru Nadia sembari menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Chandra yang ia peluk erat-erat.


•••


"Kamu serius, mantan pacarnya cucu mantuku ada di sana?" tanya neneknya Nadia pada neneknya Chandra yang kini sudah menjadi besan hampir delapan bulan lamanya.


Nenek tentu saja sangat terkejut ketika mendengar kabar seperti itu, bahkan nenek pun mendapatkan kabar dari Nadia kalau Vidi mendatanginya hingga ke Flores. Hal ini tentu membuat keluarga Nadia dan Chandra dilanda kepanikan luar biasa. Apa lagi hubungan Nadia dan Vidi pun hampir melangkah ke jenjang pernikahan, begitu pula hubungan Chandra dan Nellie yang sudah berada pada tahap lamaran.


Nenek Merry mengangguk kecil, wajahnya menyiratkan kebingungan dan rasa khawatir. "Kita semua baru tahu, kalau mantan pacarnya cucuku juga tugas di sana. Sudah hampir tiga bulan dokter itu bertugas di sana, dan ada di wilayah yang dikomandani cucuku."


"Chandra sendiri yang bilang waktu telepon kemarin," tambah nenek Merry dengan gusar.


Nenek hanya bisa menghela napasnya. "Kalau seperti ini ceritanya, kapan kita dikasih cicit sama mereka. Ini nggak bisa dibiarin. Saya akan samperin Nadia sama Chandra besok lusa," ujar nenek tak mau kalah dalam perdebatan.


Nenek awalnya mengira kalau Nadia sudah tahu perihal hubungan masa lalu Chandra dengan seorang dokter militer, ternyata cucunya itu tidak tahu apa pun persoalan tersebut. Di satu sisi nenek merasa senang karena Nadia bisa menikahi cucu sahabatnya, tetapi di sisi lain nenek pun merasa bersalah terhadap Nadia karena tidak pernah menceritakan tentang detail mengenai Chandra padanya.

__ADS_1


Bersambung ....


Kalau sempat, nanti tengah malam aku up lagi. Jangan lupa komen ya, karena jujur, aku suka baca komenan kalian.


__ADS_2