
"Seminggu lalu, Liza ke rumah, ia cerita kalau kontrak kerja kamu sama agensi habis tahun depan. Sementara pihak agensi juga belum terima keputusan dari kamu tentang album baru yang lagi kamu kerjain sekarang. Kamu, memang tidak ada komunikasi lanjut dengan Liza?"
Nadia menghela napasnya dengan kasar, hubungannya dengan Liza sangat buruk garagara kedatangan Vidi ke Flores. Namun, bukan hanya itu saja. Liza juga sering memojokkan Nadia dengan spekulasi tidak masuk akal tentang Vidi yang tergila-gila padanya. Liza sering mengatasnamakan fans agar Nadia tidak ikut bertugas bersama Chandra.
"Sudah jarang, Pah. Di sini sinyal jelek banget, Nadia harus ke kantor jaga kalau mau telepon. Nadia juga sudah putusin untuk keluar dari agensi sebelum kontrak habis."
"Kenapa begitu? Bukannya, Liza teman kamu? Apa kalian nggak ngobrol secara pribadi di luar kerjaan?" tanya papa heran.
"Hmm ... nggak kenapa-kenapa, Liza udah berubah sekarang. Gatau deh, Nadia juga udah nggak mau kerja di sana. Nadia mau fokus aja di sini, dan mungkin ... bakal kelola album secara mandiri."
"Yah, kalau itu sudah keputusan kamu. Papa nggak akan ikut campur. Papa senang, lihat Nadia. Di sini ... lebih tenang, dan kamu juga kelihatan agak gemukkan, ya?" Papa memperhatikan tubuh Nadia yang sedikit berisi, apalagi pada bagian wajah, kedua pipi Nadia terlihat tembam dibandingkan saat tinggal di Bandung.
"Hehe ... iya kali, Pah. Oh iya, Pah ... Nadia juga sudah berhenti minum obat dari dokter.
Sekarang, Nadia sudah bisa tidur tanpa obat, Nadia juga udah nggak butuh konseling.
Jadi,
Papa nggak perlu khawatir apa pun. Harusnya, Nadia yang pulang ke Bandung buat ketemu Papa sama nenek. Ini malah nenek yang ke sini."
"Ck, nenek kamu itu ... maksa-maksa terus. Katanya, kangen banget."
Ketika papa dan Nadia asik berbincang sambil membuka koper berisi oleh-oleh yang dibawanya dari Bandung. Chandra tiba di rumah sambil membawa tas ransel yang berisi perlengkapan yang biasa dia gunakan di dalam hutan. Melihat penampilan suaminya yang tampak sudah berganti seragam, Nadia langsung berdiri dari duduknya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nadia dengan ekspresi kaget.
Chandra tersenyum tipis, dengan santai pria itu mengusap wajah Nadia tanpa canggung meskipun di sana ada papa mertuanya. "Ada tugas dadakan. Di luar pulau, saya harus pergi malam ini."
"Hah? Tugas dadakan?! Apaan sih," balas Nadia kecut.
Papa hanya bisa terkekeh kecil melihat reaksi Nadia yang tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dulu, sewaktu papa masih sering keluar kota karena urusan pekerjaan, Nadia sama sekali tidak protes pada papa.
"Iya, komandan yang bertugas sebagai Trainer sekaligus pemimpin pasukan tidak bisa hadir karena masalah kesehatan. Sebagai gantinya, saya yang harus mengisi posisi beliau di Karake."
Nadia mendesah pelan, bibirnya cemberut. Padahal, Nadia mau mengajak Chandra untuk makan malam spesial bersama dengan papa dan nenek.
"Emang nggak bisa ditunda? Atau diganti sama orang lain?" tanya Nadia sembari menggelayutkan tangannya pada lengan Chandra.
Chandra terkikik. "Tidak bisa, Sayang. Kamu tunggu saya di sini, ya. Untungnya kamu ada temannya sekarang, ada Papa dan nenek."
__ADS_1
***
Nadia menyiapkan semua barang bawaan suaminya dan memasukkannya ke dalam tas ransel besar yang selalu Chandra bawa ke mana-mana tiap bertugas. Ini pertama kalinya bagi Nadia untuk melepaskan Chandra bertugas ke luar pulau dan tidak diperkenankan untuk membantah perintah tersebut. Chandra mengatakan untuk memasukkan dua stel pakaian saja, makanan kecil secukupnya dan sisanya tentu peralatan lain yang sudah selesai Chandra kemas.
Selagi Nadia berada di dalam kamar, nenek yang memang sengaja datang ke Flores untuk bicara dengan cucu menantunya itu buru-buru mengendap keluar untuk menemui Chandra. Untungnya, Chandra terlihat sedang tidak sibuk. Nenek segera menghampiri Chandra dan menepuk pelan punggung tegap si Jenderal.
"Loh, Nenek sudah bangun?" tanya Chandra dengan eksepsi agak terkejut.
Nenek tertawa kecil. "Iya, barusan."
"Bagaimana? Nenek suka dengan tempat ini?"
"Lumayan. Di sini sepi, nggak ada suara-suara kendaraan sama tukang somay," kata nenek dengan nada bergurau.
Chandra tertawa mendengarnya. Lalu pria itu kembali dibuat bingung di hadapan nenek yang mungkin saja ingin mengajak berbincang.
"Nenek langsung cerita aja nggak apa-apa ya, 'Nak?" ucap nenek dengan serius, setelah jeda beberapa detik.
Mendengar ucapan nenek membuat Chandra menegang, apalagi ekspresi nenek yang berubah drastis dari sebelumnya seperti hendak menyampaikan perihal penting.
"Nenek ... memangnya, apa yang mau Nenek sampaikan?"
"Nenek dengar dari nenek kamu, kalau mantan pacar kamu yang dokter itu, bertugas di sini juga? Apa betul?"
Chandra menelan ludahnya susah payah. "Hmm, iya, Nek. Tapi saya tidak pernah terlibat apa pun lagi dengan Nellie," kata Chandra tegas, meskipun nada suaranya sedikit bergetar.
Nenek tersenyum kecut. "Yah. Nenek percaya sama kamu, tapi nenek nggak percaya sama orang lain. Chan, Nadia itu sewaktu masih di Jakarta selalu butuh konseling dengan psikiater. Kamu juga pasti tahu kalau dia punya anxiety disorder, 'kan? Nenek tadi dengar kalau Nadia sudah nggak butuh konseling lagi dan berhenti minum obat tidur. Nenek senang sekali dengan kabar itu... mungkin salah satu alasannya karena Nadia sudah tidak mendapatkan tekanan lagi dari media maupun dari perusahaan. Alasannya itu tentunya berkat kamu juga yang membawa Nadia ke sini... Nenek sangat berterima kasih sama kamu. Andai saja nenek tidak bersahabat dengan nenek kamu, mungkin kalian nggak akan saling mengenal. Nadia mungkin masih tidak mau menikah setelah Vidi kena skandal berat kemarin."
Chandra mendengarkan penjelasan nenek dengan saksama, tentu mencerna pula dengan baik setiap kalimat yang nenek sampaikan padanya.
"Nenek tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban saya, dan Nenek tidak perlu khawatir ... saya dan Nadia sudah saling mengenal dan melengkapi satu sama lain. Tanpa Nenek memperkenalkan kami, saya memang sudah tahu siapa Nadia. Saya sangat mengagumi Nadia bahkan sebelum kami secara resmi berkenalan. Saya juga memahami
Nadia, Nadia sering bercerita kepada saya tentang apa yang dirasakannya."
Nenek tersenyum amat lebar, ia kemudian menjatuhkan usapan lembut pada pundak Chandra. Wajah nenek terlihat penuh haru, tampak kedua bola matanya yang hitam pekat berkaca-kaca.
Masih pukul setengah tujuh petang, tetapi langit terlihat sudah gelap dibandingkan biasanya. Mungkin akan turun hujan yang deras nanti. Nadia semakin tidak tega untuk membiarkan Chandra pergi begitu saja ke Karake, NTT.
Namun, Chandra justru tampak penuh semangat, beberapa kali memeriksa barangbarang bawaannya.
__ADS_1
"Emang saya nggak boleh ikut?" tanya Nadia dengan bibir mengerucut.
Chandra terkekeh mendengar pertanyaan konyol itu. "Kalau kamu ikut saya, tentara di sana jadinya nonton kamu. Bukan mau latihan perang. Saya nggak mau, kamu dilihat orang banyak."
"Emang, di sana kamu mau ngapain?"
"Hmm, di sana saya hanya menjadi komando saja, dan mengawasi proses latihan."
Bahu Nadia turun dua inci, membuat Candra menghampirinya dan merangkulnya dengan erat.
"Mau ikut," gumam Nadia pelan ketika Chandra nyaris memeluknya.
"Mau nonton kamu jadi komandan," tambah Nadia sembari memiringkan kepalanya ke arah Chandra.
"Saya juga ingin mengajak kamu, tapi untuk saat ini ... kita LDR dulu, ya? Saya di sana hanya tiga hari, paling lama satu Minggu."
"Kamu hati-hati di sana, jangan capek-capek."
"Hehe, iya."
"Di sana, ada cewek?" tanya Nadia setelah terdiam beberapa saat dalam dekapan Chandra.
"Ada, biasanya tim kesehatan perempuan."
"Ya udah, kamu jangan sampe kena luka, nanti mereka pegang-pegang kamu."
"Hahaha... iya, saya mau jaga tubuh saya baik-baik. Kalau pun kena luka, saya maunya kamu yang obatin," ujar Chandra gemas seraya menjatuhkan cubitan lembut di pipi kanan Nadia.
"Kamu juga, hati-hati di sini. Kalau kamu perlu bantuan apa pun, kamu bisa menghubungi Dio atau Ong dan minta tolong sama mereka."
Nadia mengangguk kecil, sedikit mendongak dan langsung memberikan kecupan lembut di atas bibir Chandra yang baru selesai bicara.
"Uwu ... cepat pulang, ya!"
"Iya."
"Nadia?" panggil Chandra dengan pelan, sempat terlintas pikiran untuk menceritakan Nellie sekarang. Namun, waktunya dirasa kurang pas karena mendadak Chandra harus segera berangkat ke Karake.
"Kenapa?" tanya Nadia heran saat melihat ekspresi suaminya agak gusar, hal itu tentu membuat Nadia merasa tidak enak hati karena Chandra akan pergi malam-malam. Nadia takut terjadi sesuatu yang buruk.
__ADS_1
"Saya, sayang sama kamu," ujar Chandra sambil menggeleng. Kemudian dia mendekap Nadia lagi dan menjatuhkan ciuman amat dalam di puncak kepala Nadia. Chandra merangkul tubuh mungil itu ke dalam dekapannya yang sudah terbalut pakaian dinas yang hangat. Nadia tersenyum, ia melingkarkan kedua lengannya ke belakang tubuh Chandra dan mengusap punggung tegap suaminya itu berulang kali.