Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 88


__ADS_3

Chandra tengah berkumpul dengan prajurit lain yang berasal dari berbagai negara untuk mengatasi krisis radikalisme yang terjadi di Suriah. Tempat itu tidak buruk seperti bayangan Nadia, tetapi tidak cukup baik juga untuk dijadikan tempat tinggal.


Senjata berupa senapan laras panjang selalu pria itu sampirkan di bahu kirinya, sementara pistol revolver berada di kedua pinggangnya, dia harus terus bersiap siaga untuk menjaga lingkungan tempat mereka mengamankan wilayah tinggal perempuan dan anak-anak. Serangan ******* bisa saja muncul tiba-tiba tanpa adanya aba-aba sama sekali. Karena Chandra adalah pasukan angkatan darat khusus yang dikirim oleh Republik Indonesia sebagai bala bantuan. Maka tugasnya cukup berat, selain menjaga keamanan dia juga ditugaskan untuk memeriksa pijakan dari ranjau-ranjau aktif agar tidak membahayakan penduduk.


Setelah apel malam selesai dan melakukan sterilisasi wilayah, Chandra mengistirahatkan tubuhnya ke dalam barak, di sana ada prajurit tentara yang berasal dari berbagai macam negara, tetapi lebih didominasi oleh anggota tentara USA, bisa dikatakan jika orang militer USA adalah penguasa di tempat keamanan itu.


"Hei, Indonesian Man. Come here!" panggil salah satunya pada Chandra yang memisahkan diri. (Hei, pria Indonesia. Kemari).


"Is it yours?" tanyanya sembari mengacungkan dompet berbahan kulit berwarna hitam ke udara. (Apakah ini milikmu).


Chandra menajamkan penglihatannya di dalam barak, dan buru-buru mendekat ketika dia menyadari jika dompet miliknya hilang di saku celana.


"Oh, yes. That's mine," jawab Chandra dengan senyum tipis. (Oh ya. itu milikku).


Chandra pun mendekat ke arah perkumpulan kecil tersebut. Dalam satu barak diisi 7 anggota yang berasal dari berbagai negara.


Chandra meraih dompetnya setelah dia mengucapkan terima kasih pada prajurit yang menemukannya. Di dalam dompet itu selain tersimpan beberapa lembar uang, juga tersimpan foto pernikahannya dengan Nadia, ada foto Nadia yang Chandra selipkan di bagian paling depan dompet tersebut.


Chandra tersenyum lega ketika kedua foto itu tersimpan rapi di tempatnya.


"You look happy when you look inside your wallet." (kau terlihat senang saat melihat isi dalam dompetmu).


Chandra terkekeh mendapati pertanyaan salah satu prajurit. "Sure, there is a photo of someone I care about the most." (Tentu, ada foto seseorang yang paling kusayangi).


"Who? Your son?"


Chandra menggeleng. ""No, maybe next year we have one. I saw my wife's photo." (Bukan, mungkin tahun depan kami memilikinya satu. Aku melihat Foto istriku).


Chandra lalu membuka dompetnya dan memperlihatkan foto pernikahannya ke temanteman satu baraknya.


"Wow ... you must be a newlywed couple, huh?"


"Not really, we've been married for almost a year." (Tidak juga, kami sudah hampir satu tahun menikah).


"Yes, that's relatively new, bro. Be patient .. distance makes us love each other even more." Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan itu, dia mengaminkan dalam hati. (Ya, itu terhitung baru, bro. Bersabarlah.. jarak membuat kita makin mencintai satu sama lain).


***


Nadia sampai di rumahnya dengan keadaan kusut, wajahnya sedikit bengkak dan make upnya sudah lama luntur sejak pertemuannya dengan Vidi tadi siang. Namun, Nadia memaksakan memasang wajah ceria ketika ia bertemu dengan ayah dan ibu mertuanya yang kini menyambut kedatangannya sore itu.


"Nad, nggak baik loh kamu pulang pergi Jakarta Bandung sendirian," peringat ibu saat Nadia baru saja duduk di sofa.


Nadia tersenyum lemah. "Hm. Maaf, Bu, tadi Nadia ada urusan penting buat urus rahersal."

__ADS_1


Sikap ibu belakangan ini sangat berubah, sejak kepergian Chandra ke Suriah untuk melakukan tugas skorsing ibu justru bersikap dingin, tetapi tak jarang juga sangat banyak mengatur aktivitas Nadia seperti ini.


Ayah yang ada di samping ibu hanya bisa tersenyum tipis ke arah menantunya itu.


"Sudahlah, Nadia pasti capek, istirahat aja dulu."


"Makasih, Yah."


"Nad, bantuin masak yuk."


"Eh?"


Ibu tersenyum kecil saat melihat wajah bingung Nadia. "Bantuin ibu masak. Ibu tadi udah belanja sama bu Susi buat makan malam, Joy ulang tahun."


"Bu, Nadianya kan baru datang. Kok, disuruh masak?!" ujar ayah tak terima.


Nadia buru-buru bangkit dari duduknya dan menyanggupi ajakan ibu untuk memasak.


"Ayah ini, Nadianya aja mau. Iya kan, Nad?" tanya ibu pada Nadia. Nadia hanya bisa mengangguk kecil dengan senyum kaku di wajahnya.


"Hehe ... iya, Yah, Bu, Nadia mau kok, sekalian belajar masak."


Menikah tidak mudah, menikah juga tidak selalu bahagia seperti perkiraan Nadia ketika dulu. Menikah bukan hanya menyatukan dua orang yang siap untuk menjalin kehidupan rumah tangga, tetapi menikah juga menyatukan dua kepribadian, dua kebiasaan yang berbeda, dan lebih lanjut lagi adalah menyatukan dua keluarga yang semula sama sekali tak terikat untuk menjadi satu visi yang sama.


Nadia yang tengah mengaduk adonan kue dengan mixer pun langsung menoleh ke arah ibu dengan terkejut. Di saat seperti ini, ibu justru bercerita tentang sesuatu yang tidak mau Nadia dengarkan sama sekali. Nadia memilih untuk tidak menanggapinya, semoga saja ibu mengerti.


"Via telepon sih, nggak pernah ketemu langsung. Tapi kedengarannya anaknya baik, ya?" Nadia tidak tersenyum, tidak juga menanggapi ekspresi apa pun pada ibu mertuanya itu.


"Hm, biasanya Tentara ini menikahnya sama Bidan atau profesi yang kebanyakan ada di rumahlah, yang bisa ngurus suami sama keluarga full seratus persen gitu, Nad," tambah ibu semangat, seperti Nadia tidak diharapkan oleh ibu, Nadia hanya bisa membatin dalam hati.


"Ya, ngapain kalau nikah sama Bidan, atau sama Dokter atau sama ibu rumah tangga biasa, kalau anaknya nggak sreg. Sukanya sama artis, harus diapain?"


Nenek tiba-tiba muncul di dapur, merangkul bahu Nadia dengan erat dan memeluk tubuh gadis itu bak malaikat tanpa sayap. Nenek tersenyum ke arah Nadia, senyum yang damai dan justru membuat Nadia tanpa sadar menjatuhkan air matanya di dapur. Nadia buru-buru menghapus air matanya, takut jika ibu melihat.


"Eh, ada Ibu. Enggak, ini kan cuma intermezo aja Bu. Biasalah, perempuan kalau di dapur kan suka ngobrol. Iya kan, Nad?"


"Ck, Nadia cucu mantu. Sana naik dulu ke atas, mandi, terus istirahat. Nanti nenek minta bibi untuk anterin makan malamnya ke kamar kamu."


Nadia merasa lega sekali karena nenek memperlakukannya dengan sangat baik di rumah ini, Nadia tersenyum lebar ke arah nenek dengan mata berkaca-kaca.


"Bu, Nadia udah selesai ngaduk adonannya. Nadia ke kamar dulu, ya." Nadia segera pamit pada ibu mertuanya, dan memberikan anggukan kecil pada nenek yang masih memandangnya dengan senyum lembut.


Setelah mandi dan berganti pakaian dengan piama, Nadia membuka lemari milik Chandra. Di sana, ia tidak menemukan warna lain selain hitam dan putih berderet rapi di dalam lemari. Nadia tersenyum kecut, ia menggigit bibir bawahnya karena hendak menangis lagi.

__ADS_1


Nadia mengambil kaus hitam polos dari dalam tumpukan baju, dan memeluknya.


Aroma Chandra masih tersimpan di serat pakaian itu, setiap malam Nadia akan tidur dengan pakaian Chandra di sampingnya, lalu bercerita sangat banyak pada pakaian suaminya tentang kegiatan yang ia lakukan sehari-hari. Mungkin, malam ini Nadia akan banyak sekali mengeluarkan isi hatinya dan kesedihannya pada kaus hitam itu.


Nadia mengambil handphone-nya, lalu menulis pesan pada Chandra lewat aplikasi Whatsapp.


Terakhir dilihat dua bulan yang lalu.


Nadia mencelos, Chandra tidak pernah bisa dihubungi lagi, handphone-nya mungkin tidak digunakan dan disimpan di suatu tempat yang tidak mungkin dia bawa untuk bertugas. Pihak pusat juga mengatakan bahwa para tentara yang ada di Suriah tidak diperbolehkan berkomunikasi menggunakan telepon pribadi.


Nadia to Hubby Kamu kapan pulang?


Apa kamu nggak kangen?


Nadia menutup handphone-nya kembali karena saat ia mengirimkan pesan-pesan itu, Tidak ada satu pun yang berhasil tersampaikan.


Nadia meremas kaus milik Chandra, ia lalu membenamkan benda itu pada dadanya dan memeluknya erat-erat.


"Chan... cepat pulang, kamu bilang cuma sebulan di sana ...."


Tok


Tok


Tok


"Neng, sudah tidur?"


Nadia yang terisak buru-buru menghapus air matanya, itu suara nenek yang memanggilnya dari luar.


"Nenek?"


"Iya, ini nenek bawain makanan."


Nadia bangkit dari tempat tidur dan segera membuka pintu yang terkunci itu. Ketika nenek ada di hadapannya, Nadia langsung berhambur ke pelukan nenek.


Nenek tersenyum pahit, ia membalas pelukan Nadia dengan tangan kirinya karena di tangan kanannya ada sepiring makanan yang ia siapkan untuk Nadia.


"Hiks, Nenek ...." Nadia menangis di dalam pelukan nenek, tubuhnya sedikit gemetar.


Nenek membawa Nadia perlahan untuk masuk ke dalam kamar.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


Tadi jaringannya ngajak ribut, jadi baru bisa up malam ini. Oiya, mungkin aku baru bisa up hari Kamis atau Jumat.


__ADS_2