Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 15


__ADS_3

Nellie merapikan kamar yang akan ditempatinya selama tinggal di Flores, rumah dinas Nellie berada di belakang puskesmas yang letaknya cukup strategis. Di sini Nellie juga memiliki telpon rumah, televisi dan perawatan dapur yang sudah siap pakai. Mungkin, karena rumah ini belum lama ditinggalkan oleh dokter sebelumnya, maka Nellie tidak begitu kesulitan untuk merapikannya. Nellie tersenyum kecil saat tak sengaja menatap tangan kirinya, di mana sebuah cincin emas putih dengan satu permata bening tersemat di jari manisnya.


Melihat cincin itu membuat Nellie semakin merindukan sosok pria yang telah memberikannya cincin indah tersebut. Pria yang selama setahun lebih ini sudah tidak Nellie lihat lagi wajahnya. "Ah, pasti semakin ganteng!" ucap Nellie sambil membayangkan wajah pria tersebut.


Nellie lalu menaruh pas foto di sisi tempat tidur, gadis itu lagi-lagi tersenyum gemas saat tatapannya tertuju pada si pemilik kedua mata bulat dan rambut ikal yang berantakan. Meski hanya sebuah foto, pipi Nellie justru bersemburat tiap kali di hadapkan pada sosok mempesona itu.


•••


Chandra menaruh tas ransel perlengkapan latihannya ke sebuah posko yang tidak jauh dari tempat latihan, sementara Nadia di belakangnya mengikuti dengan langkah yang amat lamban. Sesekali, Nadia juga meringis ketika pijakannya terlalu kuat di atas tanah.


"Sudah sore, sebaiknya kita pulang," ujar Chandra setelah menyimpan tasnya ke dalam sebuah lemari besi dan mengunci posko kecil itu dengan rapat.


Nadia mendongak keheranan. "Loh, katanya kamu mau patroli dulu? Enggak Jadi?"


Chandra mendekat ke arah Nadia dan membawa gadis itu dengan lembut untuk duduk di atas bangku kayu yang ada di depan posko.


Nadia tertegun, dan Chandra justru berjongkok di hadapannya.


"Sore ini tidak ada patroli, saya tidak bisa mengajak kamu keliling hutan."


Nadia tersenyum tipis. "Nggak papa kok, saya mau jalan-jalan!" seru Nadia dengan ceria.


Tapi Chandra justru berbuat diluar dugaan Nadia, suaminya itu melepas sepatu yang dikenakan Nadia dan membuat Nadia meringis kecil merasakan perih pada bagian tumit dan sisi luar kakinya.


"Aw," ringis Nadia sambil menggigit bibir bawahnya.


Chandra mendongak, wajah datarnya sedikit membuat Nadia takut.


Chandra menarik napas dalam-dalam. "Kaki kamu lecet, saya juga perhatikan kamu jalan sangat lamban dan kesakitan."


Nadia cemberut, tapi bukan karena kesal sudah ditegur begini, Nadia cemberut karena merasa gemas pada sikap Chandra yang diam-diam ternyata memperhatikan hal kecil yang menimpa dirinya.


"Ternyata benar, 'kan? Lihat." Chandra menyangga kaki kanan Nadia dan memperlihatkan luka di tumit dan sisi luar kaki Nadia yang memang tampak memerah dan lecet.


Nadia mengangguk. "Tapi nggak berasa kok."


"Hmm. Tidak boleh begitu, ini harus segera diobati. Di rumah ada salep dan cairan antiseptik. Kita harus segera pulang," balas Chandra dengan tegas sambil menggelengkan kepalanya.


Nadia menyembunyikan senyumnya saat Chandra membuka sepatu di kaki kiri Nadia, luka yang sama pun terlihat sangat jelas.


"Ayo pulang," ajak Chandra sambil menghadapkan punggungnya ke arah Nadia. Nadia kembali terdiam.


"Ah, saya berat!" tolak Nadia halus, tapi Chandra tampaknya tidak akan mengizinkan Nadia pulang dengan keadaan kaki lecet atau memakai sepatu yang sudah dilepasnya.

__ADS_1


"Setiap saya latihan, saya pasti membawa tas ransel yang bobotnya 80kg. Kalau kamu lebih berat dari tas ransel itu, maka saya akan segera menurunkan kamu."


Nadia terkikik sambil menaiki punggung tegap suaminya tanpa berani membantah satu kata pun.


Dengan tubuh mungil Nadia yang amat ringan berada di gendongan punggungnya, Chandra diam-diam tersenyum dan mulai berjalan melewati hutan ilalang. Nadia melingkarkan kedua lengannya, nyaris memeluk tubuh bagian atas Chandra, dengan gugup Nadia juga mengatur napasnya agar Chandra tidak menangkap rasa gugupnya yang pasti akan sangat jelas sekali.


"Kamu pasti tidak terbiasa berjalan jauh dengan sepatu itu, ya? Sepatunya kelihatan masih baru," ujar Chandra memulai percakapan pada Nadia.


"Ehm. Iya, sepatunya masih baru. Hehe, baru pertama kali dipakai ke sini."


"Kenapa tidak pakai sepatu lama yang sudah sering digunakan? Itu pasti lebih nyaman." beritahu Chandra sambil menapaki bebatuan dan berjalan agak menanjak.


"Sengaja, saya beli sepatu ini khusus untuk bertemu kamu, hehe." kekeh Nadia lucu.


Chandra tersenyum sambil menikmati angin sore yang sejuk menerpa wajahnya.


"Oiya, kamu bilang tas ransel untuk latihan itu beratnya 80 kilo? Pasti punggung sama pundak kamu sakit, ya?"


"Tidak, sudah biasa kok. Karena sudah terbiasa, ya saya baik-baik saja."


Nadia mendekatkan wajahnya ke arah Chandra. "Ah yang benar?"


Chandra sedikit mengelak karena napas Nadia mengenai telinganya, membuat Nadia terkikik. "Mm, ya. Serius."


"Tidak perlu, hari ini kamu harus beristirahat."


•••


Setelah merapikan koper yang banyak dengan ukuran yang besar, Nadia akhirnya bisa merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang ukurannya cukup untuk 2 orang. Tempat tidur itu berseprai polos tanpa corak berwarna krem. Nadia memejamkan kedua matanya dan merenggangkan kedua tangannya, mengelus halus tempat tidur itu untuk merasakan nyaman. Kasur itu cukup nyaman meski tidak se empuk tempat tidur Nadia dan Chandra yang mereka miliki di Bandung.


Kamar itu juga tidak begitu luas, hanya cukup untuk menyimpan satu tempat tidur, lemari pakaian dan meja kecil yang fungsinya masih Nadia belum tahu untuk apa. Ada satu cermin yang menempel pada lemari pakaian. Klasik sekali, persis seperti isi rumah-rumah dinas yang pernah Nadi tinggali dulu saat kakeknya masih hidup.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam, dan Chandra baru selesai melakukan pindahan darurat untuk Ong dan Dio yang mulai malam itu tidak akan tinggal di rumahnya lagi, melainkan harus pindah ke asrama bersama kawan-kawan yang lain. Sebenarnya, baik Nadia maupun Chandra tidak masalah jika Ong dan Dio masih berada di rumah mereka, tetapi mereka sendiri yang meminta untuk pindah agar Nadia bisa merasa nyaman menjalani kehidupan barunya di Flores.


Ceklek!


Pintu terbuka dari luar saat Nadia sedang asik menikmati gummy jelly bear kesukaannya di atas tempat tidur, karena Nadia belum makan sejak kedatangannya ke rumah dinas gadis itu setidaknya membutuhkan cemilan manis sebelum makan malam, dan gummy jelly ini adalah makanan yang tepat untuk mengganjal perut kosongnya.


Chandra melonggokkan kepalanya ke dalam kamar, dan tersenyum kecil saat tatapannya bertemu dengan Nadia yang menatap polos ke arahnya.


"Hei," sapa Nadia dengan gugup, lalu perlahan bangkit untuk duduk.


"Kamu sudah selesai pindahan Ong sama Dio?"

__ADS_1


"Ya, barang-barang mereka sebagian masih ada di sini. Mungkin diselesaikan besok saja." Chandra duduk di samping Nadia dan masih memperhatikan istrinya itu dengan wajahnya yang non ekspresif.


Nadia mengangguk-anggukkan kepalanya, buntu sekali pikiran Nadia setiap melihat Chandra mengubah penampilannya. Tadi siang sampai sore Chandra mengenakan seragamnya yang gagah, dan malam ini suaminya itu mengenakan setelah tidur casual yang membuatnya tampak keren, otot dada dan lengan Chandra pun tampak menyembul dibalik kaos hitam yang dikenakannya.


"Oiya, kamu mau?" tawar Nadia sambil menyerahkan bungkus jelly ke arah Chandra.


"Apa ini?" tanya Chandra sambil mencomot gummy jelly itu dengan jarinya.


"Gummy bear, ini jelly rasa buah-buahan. Gimana, enak?"


Chandra mengunyahnya dan tersenyum. "Hum, seperti makanan anak-anak," ujar Chandra dan mengambil lagi gummy bear lain.


Nadia terkikik.


"Oiya, kenapa kamu datang ke sini sendirian? Kita belum sempat membicarakan hal ini."


Nadia menghela napasnya. "Seminggu lalu, saya diundang ke acara persit Kartika Chandra Kirana. Di sana, saya diminta untuk tampil bernyanyi. Dan kamu tahu nggak? Sepulang dari sana, ada surat permohonan agar saya ikut bersama suami untuk tinggal di rumah dinas. Pihak persit juga memberikan saya tiket dan surya tugas agar saya segera kemari. Karena waktu cuti kamu tidak bisa diambil lagi untuk tahun ini. Maka dari itu, saya diharuskan tinggal bersama kamu selama masa-masa pengantin baru. Oh, kartu keluarga juga sudah selesai di proses, tinggal kamu tanda tangani sebagai kepala keluarga," jelas Nadia dengan rinci pada Chandra yang menikmati gummy bear dengan senyum.


"Hm, jadi begitu? Harusnya kamu mengabari saya sebelum pergi ke sini. Bandung ke Flores itu jauh."


Nadia tertawa kecil. "Ah, nggak usah dipikirin. Saya udah kok pergi ke mana-mana sendiri."


"Tapi ... kamu sama sekali tidak keberatan harus berada di sini bersama saya? Kita belum membicarakan perihal ini sebelumnya."


Nadia menggelengkan kepalanya dan meraih tangan kanan Chandra. "Saya baik-baik saja kok. Memang, pada awalnya saya mau menemui kamu, papa dan nenek saya juga meminta hal yang sama. Saya juga tidak enak karena harus berpisah dengan suami saya sendiri," jelas Nadia lagi.


Chandra tertegun, wajah datarnya benar-benar tak bisa ditebak setelah senyumnya sirna.


"Dan ... saya juga kangen sama kamu," tambah Nadia dengan ceria. Chandra menoleh ke arahnya, senyumannya kembali lagi dan membuat Nadia gugup. Senyum suaminya yang tidak berlebihan tapi cukup untuk membuat Nadia merasakan jantungnya berdetak amat kencang.


"Nadia, boleh saya minta lagi?" tanya Chandra pelan.


Nadia menyerahkan gummy bear ditangannya kepada Chandra. "Ambil saja, kenapa minta izin sih."


Namun, Chandra menepis bungkus menggemaskan itu dan tersenyum pada Nadia. "Bukan itu ...."


"Hm, terus ... minta apa?" ujar Nadia dengan ekspresi linglung.


Belum sempat Nadia mendapatkan jawaban dari Chandra, suaminya itu dengan cepat meraih wajah mungil Nadia sebelah tangannya, dan mendekatkan wajah mereka hingga Nadia langsung memejamkan matanya dengan gugup. Chandra tersenyum tipis saat merasakan betapa hangatnya permukaan bibir Nadia yang kini menempel dengan bibirnya, Nadia merasakan kecupan kecil yang mengirimkan banyak kehangatan untuk tubuhnya yang benar-benar tidak bergerak sama sekali di atas tempat tidur.


Bersambung


Persit Kartika Chandra Kirana adalah persatuan istri tentara.

__ADS_1


__ADS_2