
Perjalanan yang panjang menuju Paris masih membutuhkan waktu yang lama, tiga jam berada dalam pesawat Nadia dan Chandra bercerita banyak hal, tentang satu sama lain, mulai dari pekerjaan sampai urusan keluarga yang tidak pernah mereka diskusikan.
"Ibu pernah ngasih saran ke saya, nanti cuti dulu dari dunia hiburan. Kata ibu, ada baiknya fokus sama keluarga dan mulai berencana punya momongan," ujar Nadia ragu. Sebenarnya ia sangat ingin menyampaikan hal ini pada Chandra sejak awal, tetapi ia tidak mau dianggap sebagai istri yang manja dan suka mengeluh.
Chandra tersenyum menanggapinya. "Hm, bagaimana bisa punya momongan. Kan saya jauh."
Nadia terkikik. "Iya, kamunya sih pergi-pergi terus. Ngeselin!" omel Nadia main-main.
"Kan, sekarang dekat. Kita buat yang banyak, ya? Hehe."
"Ih, nggak gitu. Saya mau punya anak dua aja," protes Nadia dengan pipi memerah padam.
Chandra mengerutkan dahinya. "Sedikit. Hm, bagaimana kalau lima?"
"Boleh. Jarak usianya harus berapa tahun? Kalau sekarang kalau saya hamil tahun ini berarti anaknya akan lahir pas saya umur 29."
"Kembar saja," kata Chandra dengan enteng sembari mencubit hidung Nadia, Nadia tertawa dibuatnya.
"Eh, tunggu. Memangnya, kamu mau saya hamilin sekarang?" tanya Chandra bingung.
"Enggak, ih. Geli!"
Chandra tertawa melihat ekspresi malu-malu yang ditunjukkan Nadia, beruntung mereka berada di kelas bisnis sehingga jarak kursi antar penumpang cukup jauh sehingga obrolan dan tawa mereka tidak akan mengganggu penumpang lain.
__ADS_1
"Tunggu, rambut kamu, kenapa bagian kirinya pitak sih?"
Chandra menyentuh bagian yang disentuh Nadia, dia hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Kenapa, sih?" tanya Nadia heran.
Chandra menarik napasnya. "Em ... ini, waktu di Suriah ada kecelakaan kecil. Jadi, bagian ini kena luka, jadi dokter harus jahit bagian lukanya," jelas Chandra dengan sebaik mungkin.
"Hah?! Kok bisa, kamu ngapain sampai luka begitu? Mana coba lihat?!" ujar Nadia, ia juga memeriksa bagian kiri kepala Chandra yang memiliki luka bekas hitam lumayan panjang.
Nadia meringis saat lukanya masih membekas dan belum ditumbuhi rambut di bagian luka yang dijahit.
Chandra menggigit bibir bawahnya. "Em, ini sudah sembuh."
"Jadi, hanya ... kecelakaan kecil saja."
"Kecelakaan kecil bagaimana? Kamu nggak baku hantam, 'kan?!"
Chandra malah tersenyum polos bak anak kecil. "Hm tidaklah, mana mungkin yang penting kan sudah sembuh, hehe."
Nadia menghela napasnya. "Kamu tuh, jangan suka ngelakuin hal yang aneh-aneh. Saya jadi curiga dan khawatir. Untung lukanya di situ, bukan di wajah. Nanti gantengnya di mana kalau sampai pipi atau dahi kamu yang harus dijahit?"
Chandra menyembunyikan senyum bahagianya dari Nadia yang tersungut-sungut tidak mau kalah dalam berdebat.
__ADS_1
"Kan saya baik-baik saja."
"Chan, kamu kan udah punya saya, nanti kamu punya bayi yang lucu. Kamu jangan terlalu baik sama orang lain. Jangan terlalu defent orang lain dan membahayakan diri sendiri."
"Sayang, saya selalu milik kamu dan kelak akan jadi milik bayi-bayi kita yang lucu. Kalau saya nggak defent orang lain untuk keselamatan mereka, saya juga merasa tidak pantas memiliki kamu dan bayi kita nanti." Nadia cemberut.
"Kamu tahu? Cita-cita bangsa untuk dunia?"
"Emangnya apa?"
Chandra terkikik. "Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."
Nadia tertawa, gadis itu menjatuhkan cubitan lembut di pipi suaminya. "Bawel kamu.
Daripada jelasin asas negara, mending kita ciuman aja, ya?"
"Hm, asal kamu tidak marah."
Chandra memberikan kecupan di bibir Nadia yang menyambutnya dengan lembut dan mesra. Sepertinya mereka benar-benar tidak peduli di mana mereka berada sekarang.
Bersambung ...
Udah lunas, haha ... besok hari Senin, jangan lupa vote ya, eh komen juga.
__ADS_1