Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 16


__ADS_3

Karena sudah menjadi seorang ibu, pola hidup Nadia berubah dengan sangat banyak juga drastis. Nadia yang biasanya mandi dengan durasi sekitar 30 sampai 60 menit kini bisa menyelesaikan mandi dan berdandan hanya dalam kurung waktu 15 menit, itupun sudah lengkap dengan berpakaian rapi serta tas yang sudah dipersiapkan dengan berbagai macam bawaan.


Karena ini weekend dan juga awal bulan, itu artinya sudah memasuki jadwal untuk belanja bulanan dengan maksud mengisi kulkas serta memenuhi bahan sembako dapur. Chandra memutuskan untuk mengajak Nadia serta Ola untuk berbelanja di salah satu swalayan terbesar di kota Bandung. Chandra mengemudikan mobilnya sendiri sementara Nadia memangku Ola yang sudah bangun dari tidurnya. Usia Ola sudah menginjak 8 bulan di mana ia sudah bisa duduk tegak, merangkak dan memakan makanan pendamping ASI seperti olahan berbagai jenis bubur, buah-buahan yang berstektur lembut serta biskuit susu yang menjadi makanan favoritnya.


Sekarang Ola memperhatikan jalanan dengan mata bulatnya yang berbinar cantik, tangan kanannya menggenggam biskuit dan bibirnya agak belepotan oleh remahan biskuit. Chandra menoleh ke sisi Ola dan Nadia meskipun kedua tangannya fokus pada setir kemudi.


"Ini pertama kalinya Ola ke mall, ya?"


"Iya, kalau Minggu kemarin Ola diajak kakek nenek di alun-alun, pulang-pulang segala dibawa balon Upin Ipin, boneka kucing, sampai bubble shot. Padahal Ola belum ngerti tapi ayah sama ibu udah nekat beliin. Katanya biar Ola senang."


"Joy juga beliin Ola mainan rumah Barbie. Pulang dari mall kita diminta mampir dulu ke rumah buat ambil rumah berbie-nya," timpal Chandra pada Nadia.


"Waw? Beneran? Haha ... Paling mainannya diacak-acak aja sama Ola."


"Tuh banyak yang sayang sama Ola, ya? Ola senang, ya?" Ola tersenyum seperti memahami ucapan Nadia yang ditujukan padanya.


"Hommamamam."


"Eh, eh, Ola sudah bisa ngomong?" tanya Chandra terkejut seraya menepikan mobilnya ke parkiran pusat perbelanjaan.


"Mamamamahhh."


Bibir kecil Ola yang menggemaskan mengucapkan kata mama dengan sangat jelas dan fasih, bayi itu tersenyum dan terkikik menatap Nadia, tangan mungilnya juga mencapai wajah Nadia seakan memberitahu kalau Ola memanggilnya mama.


"Mamamamam."


"Ola laper Sayang? Nanti papa belikan lagi biskuit ya sama smoothie strawbery kesukaan Ola."


Nadia agak berkaca-kaca, melihat itu Chandra menjatuhkan kecupan di kening Nadia dan pipi Ola secara bergantian.


"Senang dipanggil Mama?"


Nadia mengangguk. "Iya ... Nggak nyangka."


Chandra mengulum senyum dan mengusap pipi dengan amat lembut. "Kan saya bilang apa. Kamu itu selalu berhasil menjadi apa pun yang kamu mau. Termasuk, jadi istri saya ...."


"Ih, apaan sih, genit kamu," omel Nadia seraya mencubit pipi Chandra dengan gemas.


"Hahaha ... Sini, Ola biar saya yang gendong. Kita sudah sampai."


Nadia menyerahkan Ola ke pangkuan Chandra, dan keluar dari mobil terlebih dahulu. Nadia juga menyiapkan gendongan kangguru untuk dipakai Chandra agar lebih ringan untuk menggendong Ola.


Keluarga kecil dengan satu anggota baru yang amat menggemaskan itu memasuki mall dengan santai, Ola berada dalam gendongan kangguru dan kaki anak itu bergelayut di atas perut Chandra sementara kedua tangannya meremas biskuit yang sudah hampir habis, rambutnya yang dipasangi tudung telinga beruang bersandar pada dada bidang papanya. Chandra menggenggam erat tangan Nadia dan bahunya disampirkan sebuah tas yang isinya perlengkapan Ola semua.


"Siapa sih yang bakal ngira kalau kamu itu Jenderal pasukan khusus yang suka tugas ke Timur tengah," ucap Nadia tiba-tiba saat mereka masih berjalan untuk menuju bagian sembako.

__ADS_1


Chandra terkekeh, "Memangnya kenapa?"


"Ya, kamu sekarang bawa tas bayi dan gendong bayi kayak gini. Hihi ... Yang biasanya bawa ransel 80kg sekarang bawa bayi yang beratnya 7kg."


"Heem, tapi saya cocok kan sama Flora?" tanya Chandra sembari berpose keren dengan Ola yang digendong di depan.


Nadia mengacungkan jempolnya. "Banget! Meu coba difoto?"


"Boleh. Nanti saya jadikan status wa sama snapgram."


"Hahaha ...."


Nadia mengabadikan momen kecil itu antara Chandra dan Flora yang berfoto di depan sebuah toko boneka di dalam mall. Flora tampak cemberut karena camilannya habis sementara papanya terlihat begitu kaku dalam foto.


***


"Pertama kali Flora makan es krim ...."


Ola melotot, tetapi setelah dua kecapan eskrim terasa oleh lidahnya, anak itu merengek meminta lagi eskrim strawbery yang diberikan oleh Nadia padanya. Chandra memotret itu dengan kamera polaroid miliknya.


"Huu ... Mamammm...," rengek Ola dengan mata berkaca-kaca. Chandra tertawa gemas melihat itu dan Nadia bermain-main dengan bayinya agar Ola mau memohon.


"Minta dulu minta dulu ... Mama Ola mau eskrim ... Ayo mana tangannya kasih Mama," pinta Chandra sembari menirukan pose meminta kepada Ola, dua tangan dihadapkan pada Nadia. Ola menatap wajah papanya dan meniru apa yang papanya katakan barusan.


"Mamaaa... Taa."


"Tangan bagus dong Sayang," ujar Nadia seraya menarik lembut tangan kanan Ola untuk menirukan Chandra.


"Enak es krimnya?" tanya Chandra. Ola tak mempedulikan pertanyaan papanya, bayi itu sampai belepotan menikmati eskrim yang sangat lembut dengan bibirnya yang mungil.


***


Malam tiba dan Flora tertidur setelah mendapatkan ASI, bayi itu terlelap dengan tubuh miring ke arah papanya, dua tangan saling menangkup dan disimpan di bawah pipinya yang gembul. Chandra memperhatikan anaknya dengan sangat gemas, pandangannya berbinar-binar kagum. Nadia yang selesai menyiapkan makan malam memperhatikan dua orang paling berharga dalam hidupnya itu dengan seksama.


"Lihat ... Tidurnya Flora sama seperti kamu."


"Oh iya? Mirip kamu ah ... Ola tidurnya cepet. Persis kamu," ejek Nadia dengan mata mendelik. Setahu Nadia Ola itu mirip papanya kalau urusan tidur, sangat cepat sampai tidak perlu repot dimomong.


Chandra tersenyum. "Posenya, bukan proses menjelang tidurnya."


"Oh, haha ... Kenapa? Lucu ya, tidurnya sampai kamu liatin terus." Nadia ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menghadap Chandra dan hanya terhalang oleh Flora yang masih belum mengubah posisinya.


"Iya dong, kamu sama Flora itu hak patennya saya. Jadi, harus saya perhatikan terus."


***

__ADS_1


Chandra menikmati makan malam yang disiapkan oleh Nadia dengan tenang. Nadia memasak sederhana seperti biasanya dan mbak Tina untuk sementara menjaga Flora dulu di kamar, sehingga ruang makan hanya diisi oleh pemilik rumah saja.


"Kamu tidak makan?"


Nadia cengengesan, "hehe ... udah kok, tadi makan salad."


Chandra mendongak, tidak jadi menyendok nasi. "Kenyang?"


"Kenyang, soalnya ditambah dada ayam."


"Kamu diet, Sayang?"


Nadia menggigit bibir bawahnya, sementara Chandra menaruh sendok ke atas piring dan berusaha untuk fokus pada Nadia yang sepertinya hendak mengungkapkan sesuatu.


"Aku nggak diet, cuman ... lagi kurangin Karbo aja hehe."


Chandra menarik napas dalam-dalam lalu menarik kursi yang diduduki Nadia hingga hanya berjarak beberapa sentimeter saja, diperlakukan begitu, Nadia jadi degdegan.


"Flora masih kecil loh, dia butuh ASI kamu. Saya juga lebih suka kalau badan kamu berisi seperti ini."


"Tapi ... kalo aku balik ke panggung dengan keadaan gemuk gimana? Pasti kena hujat, dibilang nggak bisa ngurus badan sama penampilan."


Chandra terkikik, pria itu memberikan cubitan lembut pada cuping hidung Nadi yang persis seperti Flora, mancung dan kecil.


"Kan ada saya sama Flora. Fans nomor 1 nya kamu. Jadi ... kamu lebih suka menyenangkan penggemar dibandingkan menyenangkan saya nih?"


"Ih enggak gitu Jenderal," balas Nadia dengan senyum malu-malu. Nadia juga melingkarkan kedua lengannya di leher Chandra. Pipi Nadia yang tersipu tak kalah menggemaskan dengan pipinya Flora yang masih bayi.


"Ya sudah, makan ya, temani saya. Kasihan kan kamunya sudah masak tapi hanya saya yang makan."


"Iya iya bawel."


"Hehe ... Aaaa?"


"Hemm ... Masakan aku enak banget ya?" Kekeh Nadia dibuat berlebihan setelah ia mencicipi hasil masakannya yang disuapkan oleh Chandra.


"Iya enak sekali. Bertambah enak karena kamu makan sambil melihat wajah tampan saya."


"Ya ampun, uwu banget sih kamu ... Haha ...."


Bersambung ....


Wah, maaf banget kalau aku baru up, kira-kira ada seminggu lebih ya aku nggak up? Wkwkwk, nggak nyangka juga.


Give me a gift please.

__ADS_1


__ADS_2