Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 7


__ADS_3

Sore sebelum mentari benar-benar tenggelam di ujung Barat. Chandra dan kawan-kawannya telah berhasil mendapatkan kamar resort untuk mereka menginap malam ini. Karena besok adalah hari Sabtu, itu artinya tidak ada jadwal rutin patroli di wilayah perbatasan. Mereka semua bisa bekerja sambil berlibur di danau Kalimutu.


Karena Nadia tidak membawa pakaian ganti, begitu pun Chandra dan yang lainnya. Mereka memutuskan untuk membeli pakaian yang dijual di pasar wisata. Chandra terlihat seperti seorang papa yang memilihkan pakaian-pakaian untuk kelima anaknya, dan tentu saja pria itu membayarkan semua belanjaan mereka. Mereka berlima kompak membeli celana I Love Kalimutu.


Kini giliran Nadia yang belum mendapatkan pakaian, wanita hamil itu memang sangat senang belanja, dan ini pertama kalinya bagi Nadia untuk belanja di pasar wisata. Banyaknya pakaian yang dijual membuatnya sangat bingung untuk memilih, sampai Chandra menghampirinya dengan pakaian yang terlihat lebih santai dibandingkan tadi siang.


Chandra mengenakan kaus hitam polosnya dengan celana batik panjang, Nadia menutup bibirnya terkejut.


"Ya ampun ... ganteng banget, sih!" seru Nadia dengan raut ceria.


Chandra tertawa gugup mendengar pujian yang diberikan Nadia di tempat umum itu, semua orang melirik ke arah mereka berdua dan Chandra menjadi pusat perhatian saat ini.


"Begitu, ya?" tanya Chandra.


"Huum ... serius," ujar Nadia sembari mengangkat jempol tangannya.


"Kamu sudah dapat bajunya?"


Nadia mengendikan bahu. "Belum, dres-nya bagus-bagus. Bingung."


"Ck, kamu ini ... ambil saja semua yang kamu suka, mau yang mana? Nih, yang merah ini bagus?"


Chandra menarik dress berwarna merah polos dan terlihat cukup seksi, Nadia terkikik melihatnya.


"Ih, nggak boleh. Lagi hamil," elak Nadia gemas.


"Kenapa? Memangnya wanita hamil tidak bisa pakai baju merah?" tanya Chandra genit.


Nadia tersenyum geli. "Yang hitam ini gimana?" Nadia menunjukkan dress warna hitam yang panjangnya di bawah lutut dan tanpa lengan.


"Kalau pakai warna itam, jadinya kelihatan kecil badannya," tambah Nadia lagi.


Chandra tampak agak berpikir. "Warna apa saja bagus, kok. Kamu terlihat cantik pakai warna apa pun. Kita ambil warna hitam dan merah?"


"Oke, karena kamu yang pilih!" seru Nadia tanpa banyak komplain. Chandra langsung membawa dua pakaian pilihannya dan Nadia ke bagian kasir, sementara Nadia menggandeng lengan kekar suaminya dengan mesra.


"Kamu nggak beli kaus kayak yang lain?" tanya Nadia penasaran, sebab anggota Chandra semuanya membeli kaus i love Kalimutu dengan kompak.


"Kaus yang mana? Saya beli yang polos ini." Tunjuk Chandra pada kaus hitam pas badan yang dikenakannya saat ini.


Nadia mengerutkan dahinya. "Itu loh yang ada tulisan I Love Kalimutunya. Kamu nggak bosan apa pakai kaus hitam atau putih terus."


Chandra tersenyum tipis. "Kalau saya mau beli kaus I Love Nadia. Saya 'kan cintanya sama kamu."

__ADS_1


"Ih, apaan sih, enggak cinta Indonesia nih ceritanya?"


"Hm... kamu nomor satu."


Petugas kasir ikut tersenyum mendengar obrolan sepasang suami istri itu, Chandra membayar dengan uang tunai karena tempat tersebut tidak menyediakan pembayaran dengan kartu.


***


Karena penginapan di resort itu tidak seperti hotel berbintang pada umumnya, maka tempat tidur pun sangat sederhana. Hanya tersedia ranjang single bed, lemari pakaian kecil dan juga meja serta kipas angin yang ada di sana. Udara malam hari di tempat itu juga relatif panas meskipun berada di wilayah dataran tinggi, hal ini dikarenakan posisi laut yang mengelilingi seluruh pulau. Namun, kelebihannya adalah, tersedia teras yang cukup luas dan dapat digunakan untuk arena api unggun, sehingga kamar yang kecil dan ruangan yang kecil tidak terasa sumpek dengan halaman yang bisa menampilkan pemandangan langit serta alam yang indah.


"Nad, ayo makan dulu!" seru Ong dari balik pintu kamar atasannya itu.


Nadia yang sedang bersiap pun tersenyum menyambut ajakan Ong.


"Okay!"


Terlihat Chandra sedang sibuk dengan bara api yang tengah membakar ikan, pria itu mengipasi ikan laut segar yang disediakan oleh pihak penginapan untuk makan malam besar yang ia rencanakan malam itu. Sementara yang lain sibuk menyiapkan nasi, piring, buah-buahan, dan es jeruk. Nadia menghampiri Chandra yang sepertinya butuh bantuan.


"Udah mateng?"


"Belum, sebentar lagi ...," balas Chandra serius, dia sedikit berkeringat karena asap dari api mengenai wajahnya, kedua mata Chandra juga tampak berair membuat Nadia tertawa geli memperhatikan ketekunan suaminya.


"Kenapa nggak suruh orang lain saja yang bakar ikannya?"


Nadia tersenyum. "Tapi 'kan kamu jadi repot."


Chandra menoleh ke arah istrinya. "'Kan saya bucin, kata Ong sih begitu."


"Nih, aaa ...?"


Chandra menyuapkan secubit ikan bakar pada Nadia setelah meniupnya.


"Hmm ... udah, enak banget Pak Jenderal!" puji Nadia dengan tulus, meskipun ikannya sedikit kurang garam. Namun, daripada protes, Nadia lebih memilih untuk segera makan karena ia sangat lapar setelah seharian ini pergi ke sana kemari.


"Ikutan dong!" Vidi tiba-tiba muncul, membawa dua kantung plastik berukuran cukup besar dan menaruhnya di atas meja makan yang masih menyisakan ruang.


"Wah, bawah apaan nih, Mas Vidi?" tanya Ong penasaran, seraya mengintip isi kantong yang dibawa Vidi.


Vidi tersenyum ketika dia disambut baik oleh kawanan tentara suami Nadia, dan tentu saja Nadia pun sepertinya tidak keberatan dengan kedatangan Vidi saat ini.


"Makanan. Gue ikut makan malam sama kalian, ya?"


"Boleh dong, Kak. Semakin banyak orang 'kan lebih seru." Danil menimpali dengan semangat. Sementara Yuta yang sejak tadi diam langsung menggeser duduknya untuk Vidi agar duduk.

__ADS_1


"Nih, Nad. Aku bawain makanan kesukaan kamu. Sosis bakar, corndog, sama apa lagi sih ini ... oh, ini pasta carbonara."


Vidi menaruh satu persatu makanan yang dibawanya ke atas meja, menyodorkannya pada Nadia yang jujur saja sangat rindu dengan makanan yang dibawa oleh Vidi.


"Wah, banyak ya, yang kamu bawa," komentar Johnny dengan ramah.


Vidi mengangguk. "Iya dong. Gue bawa banyak. Tuh, kalau kalian mau kalian bisa makan kok. Banyak banget!"


Nadia tersenyum melihat jejeran makanan yang ada di hadapannya, terutama corndog dan pasta carbonara yang sangat ia sukai dan rindukan.


Chandra yang membakar ikan tentu saja melirik tak suka pada Vidi yang mengganggu makan malam spesial yang direncanakannya.


"Uhm ... aku lebih suka nasi, Vid. Sama ikan bakarnya enak, loh!"


Vidi cemberut, sementara Chandra menyembunyikan senyum angkuhnya diam-diam.


"Loh, kok gitu, Nad? Pas siang tadi bukannya kamu bilang, kalau kamu kangen pasta carbonara. Makanya, aku langsung minta staf bikinin."


"Kamu salah dengar kali, Vid!" elak Nadia buru-buru. Ia langsung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tanpa beradu pandang lagi dengan Vidi.


"Ibu hamil emang begitu, keinginannya berubah-ubah. Iya 'kan Kak Nadia?" Alif ikut berkomentar.


"Ayo lanjutkan makannya. Jangan sambil ngobrol," perintah Chandra dengan tegas.


.


Selesai dengan makan malam yang sangat ramai dan tentu saja mengenyangkan, Vidi tidak pergi dari teras penginapan Nadia dan suaminya. Melainkan ikut berkumpul bersama para tentara dan mengobrol cukup akrab. Mungkin karena Vidi sempat tinggal di Flores nyaris sebulan lebih sehingga dia dapat dengan mudah beradaptasi dengan anggota TNI yang ada di sini, terutama dengan Ong yang ternyata adalah fans beratnya.


"Dingin?" tanya Chandra dengan lembut pada istrinya.


Nadia menggeleng pelan. "Enggak kok."


"Panas?" tanya Ong pada Vidi dengan nada yang mirip seperti nada bicara Chandra. Ong bahkan mengipasi wajah Vidi yang sedikit berkeringat karena cowok itu duduk dekat dengan pembakaran ikan yang masih panas.


Vidi tersenyum geli pada Ong yang akrab. "Enggak kok. Hahaha ...."


Bersambung ....


**BTW, aku mau promosi nih, jangan lupa mampir di karya baruku ini, ya. Judulnya, Cinta Untuk Lisa.


Sudah ada 5 BAB**!


__ADS_1


__ADS_2