
Flora beranjak dari tidurnya menatap tajam Anin yang sedang menatapnya juga.
"Saya sedang di apartment, apa Anda mencari Renatta?"
"Renatta tidak sedang bersama kita," ucap Anin.
Flora menggelengkan kepalanya cemas. Mengisyaratkan Anin untuk tidak memberitahu jika ia sedang bersamanya.
"Oh saya sedang bersama dengan beberapa teman kelas saya," bohong Anin.
"Flora? Tidak, dia sudah pulang dari tadi. Katanya dia ingin mencari tempat tinggal baru untuknya."
Flora menganggukkan kepalanya bernapas lega. Dengan kedua tangannya yang saling bertaut.
"Tidak apa, baiklah."
Anin mengakhiri panggilannya, lalu menatap tajam Flora.
"Kau berhutang penjelasan padaku Flo, aku memakai baju terlebih dahulu." Anin melangkahkan kakinya ke ruangan walk in closet.
Sedangkan Flora tidak percaya jika Charles akan mencarinya, bagaimana jika Anin curiga? Namun, sepertinya wanita itu memang sudah curiga kepadanya.
Apa yang harus ia jelaskan kepada Anin, apakah ia akan memberitahu semuanya? Flora bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan temannya itu.
Tubuh Flora menegang ketika melihat Anin keluar dari ruangannya menatap Flora secara intens.
Anin naik ke atas tempat tidur dan duduk berhadapan dengan Flora. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kau terlihat cemas ketika Charles menelponku?
"Ti-tidak apa-apa, hanya, hanya...." Flora terlihat gugup, ia tidak tahu apakah akan menjelaskannya pada Anin atau tidak.
"Kau menganggapku sebagai sahabatmu kan, Flo? Berceritalah kepadaku," ujar Anin.
"Ta-tapi a-aku."
"Kau berselingkuh dengannya?" tebak Anin secara lantang.
Flora membulatkan matanya karena terkejut.
"Tidak, aku tidak berselingkuh." Flora menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Aku tahu jika Charles menelponku bukan berniat untuk mencari Renatta, tapi dia mencarimu. Yang menelponmu dari tadi itu Charles, kan? Jujurlah padaku, Flo." Anin menggenggam kedua tangan Flora menatap wajahnya untuk meyakinkan agar Flora dapat bercerita kepadanya. Namun, Flora masih terdiam menatap takut kepada Anin.
"Aku melihatmu tadi keluar dari mobil Charles, Flo," kata Anin jujur dengan suara rendah dan lembut.
"A-apa?" Flora sangat terkejut dengan perkataan temannya.
"Awalnya aku kira itu hanya mobil yang mirip dengan punya Charles, tapi jika aku pikir-pikir lagi mobil Charles itu hanya diproduksi beberapa di dunia ini. Dan sepertinya mustahil jika aku dengan mudahnya menemukan orang yang memakai mobil edisi terbatas seperti itu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memiliki mobil tersebut," tutur Anin.
"Renatta, apa dia tahu soal ini?" tanya Flora cemas.
__ADS_1
"Tidak, aku sedang tidak bersama Renatta saat melihatmu."
Flora bernapas lega mendengar jawaban dari Anin. Ia tidak mau Renatta tahu tentang kedekatannya bersama Charles.
"Ayo Flora, berceritalah kepadaku. Jelaskan semuanya." Anin berusaha membuat Flora untuk membuka mulut.
Flora terdiam beberapa menit. Ia memikirkan tentang keputusannya untuk bercerita kepada Anin.
"Baiklah mungkin ini sudah waktunya kau tahu,“ ucap Flora pasrah.
Flora pun menjelaskan semuanya kepada Anin, tidak ada yang ia tutup-tutupi termasuk saat Charles menyentuhnya. Karena Flora percaya kepada sahabatnya ini, Anin memang yang paling mengetahui semua tentang Flora begitupun sebaliknya.
"Oh My God!" teriak Anin terkejut, seraya menutup mulut dengan kedua tangannya.
Sedangkan Flora terisak mengingat perbuatan Charles kepadanya.
Anin memeluk tubuh Flora yang bergetar, ia sangat mengetahui jika Flora memang sangat menjaga tubuhnya, tidak ada satu pria pun yang boleh menyentuh tubuhnya. Dia berpacaran pun hanya sebatas ciuman tidak lebih dari itu.
Oleh karena itu Anin ikut merasakan ketakutan yang Flora rasakan.
Anin mencoba untuk menenangkan temannya, ia mengusap punggung dan rambut Flora. Secara tidak sengaja Anin melihat bercak merah di leher Flora.
Anin memilih untuk diam, karena ia sangat tahu apa yang terjadi dengan temannya ini.
"Aku mohon jangan ceritakan ini semua kepada siapapun terutama Renatta!" Flora memohon dan menangkup kedua bahu Anin.
Kenapa dia memperlakukanmu seperti ini Flo, apakah dia mencintaimu?
***
Flora yang baru bekerja 3 hari di restaurant ini sudah dapat bekerja dengan baik. Selama 3 hari itu pula Flora terbebas dari Charles.
la tahu jika Charles akan mencarinya di kampus, oleh karena itu Flora dengan sengaja memindahkan jam kuliahnya menjadi malam hari setelah pulang kerja.
Tentunya Flora dan Anin merahasiakan ini dari Renatta, Flora dan Anin terpaksa berbohong kepada Renatta untuk mengatakan jika dirinya sedang cuti kuliah dan pulang ke Indonesia. Itu semua ia lakukan agar Charles tidak mengetahui keberadaannya.
"Flora istirahatlah, dari tadi kau terus bekerja," ucap Glen.
"Nanti saja jika aku sudah merasa lelah pasti aku akan beristirahat," balas Flora seraya tersenyum.
"Kau ini. Ya sudah, ingat jika kau lelah maka beristirahatlah." Peringat Glen sebelum memasuki ruangannya yang diangguki oleh Flora.
Beruntung sekali Flora memiliki orang-orang baik di sekitarnya seperti Anin dan Glen. Mereka berdua bagaikan sebuah anugerah untuknya.
***
"Charles, kapan kau akan menikahi Renatta?" tanya La Fransisco Alamo.
Charles hanya diam tidak menjawab sedikit pun pertanyaan Frans, pikirannya beberapa hari ini sedang kacau. Dan itu semua gara-gara Flora yang sampai saat ini belum bisa ia temukan.
__ADS_1
Mereka saat ini sedang duduk di ruang keluarga, Charles memutuskan untuk menemui orang tuanya atas permintaan sang Ibu. Dan tentunya ia tidak bisa menolak permintaan Marline karena ia sangat menyayangi dan mencintai Marline.
"Charles, kau tidak mendengar apa yang Daddymu katakan?" sahut Marline sambil mengelus lengan Charles.
"Apa yang Daddy inginkan?" tanya Charles tanpa menatap Frans.
"Aku tanya, kapan kau akan menikahi Renatta?" ulangnya.
Charles menatap Frans, dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Aku hanya akan menikahi wanita yang aku cintai," ujar Charles tegas.
"Apa maksudmu, Charles? Bukankah kau mencintai Renatta?" kata Marline yang terlihat bingung.
"Dia hanya jala**ku."
"Charles!" teriak Frans.
Marline membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh putranya itu.
"Siapa yang sebenarnya mencintai Renatta? Apa aku pernah mengatakan jika aku mencintainya? Pertunangan itu terjadi karena keinginan Daddy, bukan keinginanku!" ucap Charles dengan santai.
"Charles," kata Marline sedih.
"Kau harus tetap mengikuti keputusanku Charles, kau harus segera menikahinya. Apa pun itu!" Frans menatap anaknya dengan penuh tekanan.
"I don't care!" Charles beranjak dari duduknya meninggalkan kedua orang tuanya dan mengabaikan teriakan dari Frans.
Charles melangkahkan kaki ke kamarnya. Kamar yang dulu sering ia tempati.
Sesampainya di kamar, Charles segera merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya. la menekan beberapa angka sebelum suara seseorang terdengar di seberang sana.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Charles tanpa basa-basi.
"Kami masih belum bisa menemukannya Tuan." Charles menghela napasnya secara gusar.
"Apa kau sudah mencari di negara asalnya? Renatta bilang jika Flora sedang berada di Indonesia."
"Saya akan menyuruh seseorang untuk mencarinya di sana Tuan."
"Baiklah, tetap kabari jika terdapat informasi tentangnya."
"Baik Tuan."
"Tuan, saya sudah menyiapkan semua berkas dan kebutuhan Tuan untuk selama di Dubai. Besok kita flight pukul 7 pagi, dan semuanya sudah siap. Tuan Darrell pun sudah mengetahui tentang itu," sambungnya.
Charles memijat pelipisnya. "Terima kasih, Ken."
Charles hampir saja lupa jika esok hari dia akan terbang ke Dubai untuk perjalanan bisnisnya selama satu minggu. Semenjak Flora pergi, entah kenapa Charles tidak pernah sekalipun fokus terhadap sesuatu, pria itu selalu memikirkan Flora. Rasanya sangat tersiksa ketika ia tidak bisa bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1